Sawah Lunto

Jejak Mutiara Hitam dari Negeri Kuali

| dilihat 1481

SAWAHLUNTO, AKARPADINEWS.COM | Julukan kota kuali dan kota wisata tambang selalu melekat bagi Sawahlunto-Sumatera Barat. Sebuah kota di daratan cekung alam Minangkabau yang memang eksotis. Diperlukan waktu tiga (3) jam perjalanan dari Bandara Internasional Minangkabau ke kota ini.

Jalan yang curam dan himpitan jurang harus dilewati setiap kendaraan menuju kota yang memiliki kontur geografis menyerupai kuali karena dikelilingi oleh  kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kabupaten Sijunjung ini.

Sesampainya di Sawahlunto terlihat nostalgia jejak wajah masa lalu dengan bangunan arsitektur khas Belanda. Setiap pagi dan sore terdengar suara sirine yang bergaung ke seluruh kota sebagai refleksi dimulai dan berakhirnya pekerjaan para kuli tambang

Merunut kilas balik sejarah kota ini dapat terefleksikan melalui tiga museum yang menjadi saksi bisu kota ini di antaranya: Info Box- Lubang Mbah Soero yang mengisahkan perburuhan orang rantai di lorong-lorong batubara, Museum Goedang Ransoem sebagai tempat pengolahan makanan yang menampung 6000 pekerja, dan Museum Kereta Api Mak Itam sebagai sarana transportasi pengangkutan batubara.

Ketiga tempat ini menjadi rujukan dan terkait erat antara perburuhan, teknologi makanan, dan transportasi atas kisah Sawahlunto di masa lalu sebagai kota kecil yang dibangun khusus untuk memfasilitasi tambang Batubara.  

Awalnya, Sawahlunto hanya sebuah daerah kecil yang terisolir dan dikelilingi hutan rimba. Tahun 1871,  W.H. de Greve, seorang geolog muda asal Belanda melaporkan catatannya tentang kandungan potensi batubara di perut bumi Sawahlunto sebesar ca. 205 juta ton di kawasan Sungai Durian, Sigakut, Lapangan Sugar dan dapat ditambang hingga 200 tahun.  Pada masa tersebut -- bahkan hingga saat ini -- batubara merupakan potensi tambang yang sangat berharga untuk bahan pembakaran mesin uap, peleburan logam dan fungsi utama lainnya di dunia industri.

RANTAI PENGIKAT KAKI PEKERJA TAMBANG SAWAH LUNTO

Lantaran berharganya mutiara hitam ini bagi Belanda, sejak tahun 1887 hingga masa kejayaan pada tahun 1930-an, mereka membangun peradaban baru khas kolonialisme seperti pemukiman pegawai tambang, penjara orang rantai, gedung pemerintahan,  gereja St. Barbara dan Sekolah St. Lucia hingga Gedung Kesenian yang disebut Rumah Bola (sekarang Gedung Pusat Kebudayaan Sawah Lunto), Hotel Ombilin termasuk fasilitas jalur kereta api dibangun  di atas kota kecil di Sumatera Barat ini untuk mengeruk kekayaan alam Sawahlunto demi memenuhi kebutuhan batubara secara global, tidak hanya di Eropa namun di dunia.

Kisah tentang orang rantai, sebutan untuk tahanan politik dan kriminal yang didatangkan dari seluruh nusantara khususnya Jawa, Sulawesi, Medan dan Padang menjadi refleksi politik perkulian penjajahan. Demi mendapatkan para pekerja dengan biaya murah, orang rantai dimanfaatkan dengan sistem kerja paksa, bahkan jatah makanan yang diberikan lebih sedikit dibanding kuli kontrak.

Sebagai manusia kebebasan orang rantai seumur hidupnya pun terbelenggu, setiap pagi hingga matahari terbenam mereka dikeluarkan dari penjara yang dikelilingi duri menuju tempat lubang tambang dengan rantai besi di leher, tangan dan kakinya, berat bola rantai mulai dari 5 sampai dengan 10 kg per orang dan saling terikat satu sama lain sehingga kecil kemungkinan untuk melarikan diri. Hanya ketika bekerja di dalam lubang, rantai tersebut dilepas agar tidak membatasi gerak kerja mereka dengan diawasi seorang mandor yang kerapkali melakukan kekerasan.

Dengan menjadi  orang rantai identitas mereka sebagai manusia pun turut terenggut, nama asli digantikan dengan nomor pekerja hingga akhir hayatnya, terlihat dari nisan kuburan orang rantai di mana hanya tercantum nomor tanpa asal-usul identitas. Jejak penderitaan orang rantai masih terlihat jelas di lubang tambang Mbah Soero sebagai lubang tambang pertama batubara di lembah Soegar.

“Lubang ini dibuka pada tahun 1898 dan ditututp 1920-an karena rembesan air dan kadar gas yang meningkat. Nenek moyang kita dari Sabang sampai Merauke bekerja di sini terutama orang rantai. Panjang lubang ini 138 km tapi aslinya bisa berkilo meter,” tutur Kiplik, guide yang mengantar para wisatawan memasuki lubang tambang yang baru kembali dibuka pada tahun 2007.

TUNGKU PEMBAKAR BATUBARA

Sebutan Mbah Soero diambil dari salah satu mandor yang bernama Soero yang tegas, pekerja keras dan memiliki ilmu kekebalan. Meskipun telah dipasang lubang angin untuk ventilasi udara, suasana lembab dan pengap karena minimnya udara terasa selama berpetualang menyusuri lubang. Terdapat lubang yang sengaja ditutup karena menurut pengakuan Kiplik di dalam lubang tersebut terdapat tulang belulang manusia khususnya tulang kaki para orang rantai.  Pertarungan secara fisik baik antar mandor dan buruh kerap kali terjadi di masa lalu dan lorong hitam yang masih meninggalkan sisa-sisa batubara menyiratkan penderitaan nenek moyang kita akibat penjajahan.

Selanjutnya tidak jauh dari Loebang Mbah Soero terdapat Museum Goedang Ransoem yang berdiri tahun 1984, yaitu dapur umum yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan makanan seluruh pekerja dan buruh tambang yang mencapai sekitar 6000 orang.  Gudang makanan ini memperlihatkan teknologi pengolahan makanan yang modern pada era satu abad lebih yang lalu dan betapa besar aktivitas memasak setiap harinya. Kuali, wajan hingga alat dapur berukuran raksasa terpajang utuh di dalam museum. Untuk memasak makanan terdapat dua buah gudang besar dan tiga tungku pembakaran uap raksasa (power stoom) yang tersalur ke tempat pemanasan makanan. Lebih dari 100 pekerja di tempat ini memasak kurang lebih 69 pikul setiap hari atau 3900 kg nasi. Di salah satu ruangan museum memperlihatkan antrian panjang para kuli dan foto anak-anak yang membantu pengolahan makanan dengan imbalan sepiring nasi.  

Sedangkan kecanggihan transportasi pengangkutan batubara terlihat di Museum Kereta Api yang diresmikan pada 17 Desember 2005. Bangunan ini awalnya merupakan stasiun Kereta Api yang dibangun pada tahun 1912 yang mengangkut batubara ke Padang. Icon museum ini adalah kereta api “Mak Itam” (Paman Hitam) sebagai kereta api uap E 10 60 buatan Jerman sebagai saksi bukti kecanggihan teknologi dan infrastruktur transportasi di masa lampau yang menghubungkan

Ketiga bangunan arkaik ini tidak hanya menjadi trademark wisata Sawahlunto dan daya  pukau wisata kota tua dengan memanfaatkan eksotisme dan nostalgia peninggalan kolonialisme, namun dapat menjadi saksi atas kisah kehidupan masa lalu. Bahwa perbudakan atas dasar eksploitasi batubara terjadi di negeri Minangkabau dan sebuah kota kecil yang melahirkan tokoh Muhammad Yamin sebagai konseptor pancasila dan sastrawan Indonesia.

Kota kecil yang menghubungkan batubara pada perekonomian dunia. Kisah orang rantai yang didatangkan dari seluruh penjuru negeri turut pula membentuk kebudayaan kota ini menjadi ruang pertemuan yang multikultural, seolah tidak ada identitas etnik yang lebih unggul di kota ini dan hal inilah yang menjadi ciri khas dan membedakan Sawahlunto berbeda dengan kota-kota lain di Sumatera Barat. Selain refleksi sejarah kerja paksa perburuhan manusia Indonesia yang tidak bisa dilupakan. | Ratu Selvi Agnesia

Editor : Web Administrator
 
Budaya
18 Mei 19, 01:58 WIB | Dilihat : 252
Gubernur Anies di Sela Ifthar Bamus Betawi
24 Mar 19, 21:09 WIB | Dilihat : 384
Sepercik Ihwal Kelembagaan Kebudayaan
11 Mar 19, 08:08 WIB | Dilihat : 364
Hermawan Kertajaya Memandang Betawi sebagai Peradaban
Selanjutnya
Seni & Hiburan
19 Mei 19, 23:20 WIB | Dilihat : 115
Peter Seeger Suara Lirih Di Tepian Sungai Hudson
25 Mar 19, 17:31 WIB | Dilihat : 626
Dangdut dan Betawi dalam Minda Musika Chrisye
12 Mar 19, 13:09 WIB | Dilihat : 493
Mengenang Chrisye Merawat Cinta di Ancol
Selanjutnya