
Ibarat pedagang mabuk yang sedang dirundung masalah dengan dirinya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengirim surat tarif ke 14 negara termasuk Korea Selatan, Jepang, Malaysia, dan Bangladesh. Kebijakan Tarif Trump menunjukan politik dagang AS yang dolak dalik: menarik dan menekan.
Senin (7/7/25) Gedung Putih merilis lembar fakta yang mengatakan, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperpanjang jeda tarif.
Penghentian sementara tersebut awalnya dijadwalkan berakhir pada hari Rabu (9/7/25) untuk tarif 'Hari Kemerdekaan,' yang awalnya diumumkannya pada tanggal 2 April. Namun, suami Melania yang mantan model Slovenia-Amerika, itu memberlakukan penghentian sementara tarif timbal balik yang tinggi tersebut selama 90 hari, dari semula 9 April.
Trump memperpanjang jeda tarif resiprokal (timbal balik)- nya yang menyeluruh hingga 1 Agustus mendatang. Selama periode ini, sebagian besar mitra dagang AS menghadapi tarif tetap sebesar 10 persen.
'Surat tariff' Trump juga dikirim ke beberapa negara, sambil memperingatkan, mereka akan dikenakan tarif baru jika gagal mencapai kesepakatan perdagangan dengan AS pada batas waktu yang baru.
Tak kurang dari 14 negara menerima surat tarif dari Trump. Negara-negara ini menghadapi tarif baru jika mereka gagal mencapai kesepakatan dagang dengan AS paling lambat 1 Agustus.
Indonesia terkena tarif 32 persen, sama dengan tarif yang sudah diberlakukannya pada 2 April lampau. Senafas dengan ancaman yang dilayangkannya, bila Indonesia konsisten mendukung sikap BRICS -- yang baru saja melakukan konferensi tingkat tinggi di Rio de Janeiro -- akan ditambah 10 persen.
Indonesia merespon surat itu dengan mengirim lagi tim negosiasi yang dipimpin Menko Perekonomian Airlangga. Indonesia memanfaatkan peluang negosiasi yang diterakan juga oleh Trump dalam suratnya.
Apa yang bakal berlaku bagi Indonesia, sangat bergantung pada bagaimana negosiasi itu dilakukan. Menurut Trump, hubungan dagang Indonesia - AS belum sepadan. AS masih mengalami defisit.

Tarif 32 Persen bagi Indonesia
Akankah Indonesia manut kepada maunya Trump? Mulai dari pengusaha Indonesia membangun pabrik di AS, meniadakan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response code Indonesia Standard) -- sistem pembayaran yang menggunakan kode QR untuk memfasilitasi transaksi. QRIS dikembangkan Bank Indonesia dan ASPI (Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia) untuk menyatukan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran. Selain itu Indonesia juga kudu meninjau ulang sertifikasi halal, perhitungan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri), dan berbagai hal lainnya.
Lewat unggahannya di platform Trust Social, Trump menulis, "Telah bertahun-tahun kami membahas hubungan perdagangan dengan Indonesia dan menyimpulkan AS harus menjauh dari defisit perdagangan jangka panjang yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif dan non tarif Indonesia serta hambatan perdagangan."
Dalam upaya menjauhkan AS dari defisit itu dan demi perdagangan yang adil, menurut Trump, AS bakal mengenakan tarif impor 32 persen kepada Indonesia. Sejumlah negra lain, Trump juga mengirim 'surat ajuk' -- surat berisi 'rayuan paksa' -- berisi besaran tariff,
Jepang 25 persen (pada 2 April, 24 persen); Korea Selatan 25 persen (sesuai dengan tarif 2 April); Afrika Selatan 30 persen (sesuai dengan tarif 2 April); Kazakhstan 25 persen (turun dari 27 persen tarif 2 Apri); Laos: 40 persen (turun dari 48 persen tarif 2 April); Malaysia: 25 persen (naik dari 24 persen tarif 2 April); Myanmar 40 persen (turun dari 44 persen tarif 2 April); Tunisia: 25 persen (turun 28 persen dari tarif 2 April); Bosnia dan Herzegovina 30 persen (turun dari 35 persen tarif 2 April); Bangladesh 35 persen (turun dari 37 persen tarif 2 April); Serbia 35 persen (turun 37 persen dari tarif 2 April); Kamboja 36 persen (turun dari 49 persen dari tarif) 2 April; Thailand 36 persen (sama dengan tarif 2 April).
Ancaman Trump nampak pada suratnya tersebut. Jika negara-negara mengenakan tarif balasan, mereka dapat menghadapi tarif yang lebih tinggi lagi dari AS.
Trump memungkas semua suratnya dengan, “Tarif-tarif ini dapat dimodifikasi, naik atau turun, tergantung pada hubungan kami dengan Negara Anda. Anda tidak akan pernah kecewa dengan Amerika Serikat.”

Negosiasi dan Pembalasan terhadap AS
Pada Ahad (6/7/25), Trump juga mengancam blok BRICS dengan tarif tambahan 10 persen, lantaran anggota blok ini (termasuk Indonesia, Mesir, Iran, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab), selama pertemuan puncaknya yang ke-17 di Rio de Janeiro - Brasil, secara tak langsung mengkritik perang dagang AS, serta serangan militernya baru-baru ini terhadap Iran.
Lewat platform Truth Social, Trump menggesa, “Negara mana pun yang bersekutu dengan kebijakan anti-Amerika BRICS, akan dikenakan Tarif tambahan 10 persen.”
Sejumlah negara, memilih jalan membalas kebijakan tarif Trump, seperti Tiongkok. Sejumlah negara lainnya, seperti Inggris Raya, Vetnam, Indonesia, memilih jalan negosiasi. Selama jeda 90 hari, Inggris dan Vietnam sudah mencapai kesepakatan.
Dengan Inggris, kesepakatan berlangsung 8 Mei, yang menetapkan tarif 10 persen (turun dari 27,5 persen) atas ekspor Inggris ke AS. Sesuai kesepakatan tersebut, 100.000 kendaraan pertama yang diimpor ke AS dari Inggris setiap tahun akan dikenakan tarif 10 persen. Kendaraan tambahan yang diimpor setiap tahun akan dikenakan tarif 25 persen.
Dengan Vietnam, pada tanggal 2 Juli, Trump mengumumkan telah bersepakat, memberlakukan tarif minimum 20 persen sebagai imbalan atas pembukaan pasarnya bagi AS.
Pengiriman barang dari negara ketiga melalui Vietnam bakal dikenakan tarif sebesar 40 persen, sedangkan produk AS tak akan dikenakan tarif apa pun di Vietnam. Penurunannya memang signifikan dibanding tarif yang dikenakannya 2 April, sebesar 46 persen.
April lalu, selepas pengumuman tarif Trump, Penasehat Perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro mengemukakan kepada Fox Business, AS sedang mengupayakan lebih banyak kesepakatan perdagangan. Dikatakannya, selama 90 hari AS akan menjalankan 90 kesepakatan. Tapi, Trump justru pesimis tentang potensi kesepakatan perdagangan dengan beberapa mitra AS.
Trump menyatakan telah berunding dengan Jepang, namun pada 1 Juli lalu, dia menyatakan ragu, akankah mencapai kesepakatan dengan Jepang. Sesuka hati dan terkesan kesal Trump menyatakan, "Mereka dan negara-negara lain begitu dimanjakan karena telah menipu kami selama 30, 40 tahun, sehingga sangat sulit mencapai kesepakatan."
Berbeda dengan Trump, para petinggi administratur AS telah mengindikasikan bahwa kesepakatan sementara dengan India dan kemungkinan Uni Eropa akan segera tercapai. Jepang dan Korea Selatan telah menyatakan pada hari Selasa (8/7/25),mereka akan mencoba mencapai kesepakatan dengan Trump untuk mengurangi dampak tarif AS terhadap perekonomian mereka.

Sikap Jepang, Korea Selatan dan Afrika Selatan
Menteri ekonomi Jepang, Ryosei Akazawa, pada konferensi pers pada hari Selasa itu menyatakan, ia sedang mencari konsesi bagi industri otomotif Jepang, tetapi tidak akan berkompromi pada sektor pertaniannya. Hal ini serupa dengan sikap Jepang dalam negosiasi perdagangan dengan AS. "Tidak ada gunanya mencapai kesepakatan dengan AS tanpa kesepakatan mengenai tarif otomotif," kata Akazawa.
Sektor pertanian secara tradisional merupakan blok suara yang signifikan bagi Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, dan pemilihan majelis tinggi parlemen Jepang dijadwalkan pada 20 Juli.
Akazawa mengatakan ia telah berbicara dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan sepakat melanjutkan negosiasi. "Kedua negara harus membangun kepercayaan melalui dialog yang tulus, dan mencapai titik temu langkah demi langkah. Melalui proses tersebut, tugas saya sebagai negosiator adalah menyepakati paket lengkap sesegera mungkin," kata Akazawa.
Sikap Jepang tersebut wajar, karena AS merupakan pasar ekspor terbesar Jepang, dan menurut Observatory of Economic Complexity (OEC) telah menyumbang 19,1 persen dari total ekspor Jepang pada tahun 2023, Ekspor mobil Jepang ke AS sendiri menyumbang sekitar 1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Jepang pada tahun 2023.
Korea Selatan juga menyatakan bakal mengintensifkan perundingan perdagangan dengan AS. Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (8/7/25) telah melansir keterangan berencana memanfaatkan perundingan sebagai peluang meningkatkan sistem dan regulasi domestik, guna mengatasi defisit perdagangan yang menjadi kepentingan utama AS.
Tidak demikian dengan Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, yang lebih kritis terhadap tarif 30 tarif Trump atas negaranya, dan menganggapnya 'unilateral' seperti unggahannya di akun X kepresidenan pada hari Selasa.
Unggahan dalam akun Kepresidenan Afrika Selatan, itu menyatakan, “Afrika Selatan berpendapat bahwa tarif timbal balik 30 persen bukanlah representasi akurat dari data perdagangan yang tersedia. Dalam interpretasi kami terhadap data perdagangan yang tersedia, tarif rata-rata barang impor yang masuk ke Afrika Selatan adalah 7,6 persen.”
Bahkan, pernyataan tersebut menambahkan, 77 persen barang AS memasuki pasar Afrika Selatan dengan tarif nol persen. Karenanya, Afrika Selatan bakal melanjutkan upaya diplomatiknya menuju hubungan perdagangan yang lebih seimbang dan saling menguntungkan dengan Amerika Serikat. "Kami menyambut baik komitmen pemerintah AS, bahwa tarif 30 persen dapat dimodifikasi setelah negosiasi kami dengan Amerika Serikat selesai,” ungkap pernyataan itu.
Sikap Afrika Selatan juga jelas mencerminkan ketegangan hubungannya dengan AS yang telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pada pertemuan dengan Ramaphosa di Gedung Putih pada akhir Mei, Trump menuduh Afrika Selatan melakukan 'genosida' terhadap warga kulit putih Afrikaner, yang kontan dibantah oleh Ramaphosa dan telah didiskreditkan secara luas.
Sebelumnya pada bulan Mei, sejumlah warga kulit putih Afrika Selatan terbang ke AS sebagai bagian dari rencana relokasi yang dirancang governa Trump.

Volume Perdagangan Indonesia - AS Naik
Di bursa sikap Trump tak mendapat respon baik. Saham AS, berdasarkan tiga indeks utama, turun pada hari Senin (7/7/25). Dow Jones Industrial Average turun 0,94 persen; S&P 500 yang melacak kinerja saham 500 perusahaan terkemuka AS, turun 0,79 persen; dan Nasdaq Composite mengalami penurunan 0,92 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia mencatat volume perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) mengalami tren peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Menurut Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rilis BPS (Senin, 21 April 2025), “Sejak tahun 2015 hingga 2024 total nilai perdagangan Indonesia dengan AS secara umum mengalami tren yang meningkat.”
Peningkatan tersebut, ungkap Amalia melalui rilis tersebut, didorong oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Terkait dengan hal tersxebut, untuk neraca perdagangan migas, Indonesia masih mengalami defisit.
Berdasarkan data BPS neraca perdagangan Indonesia dengan AS pada 2015 tercatat sebesar USD8,65 miliar. Angka ini meningkat menjadi USD8,84 miliar pada 2016, kemudian USD9,67 miliar pada 2017, namun turun menjadi USD8,26 miliar pada 2018 dan kembali naik menjadi USD8,58 miliar pada 2019.
Selanjutnya, nilai surplus perdagangan Indonesia dengan AS terus meningkat menjadi USD10,04 miliar pada 2020, USD14,54 miliar pada 2021, dan mencapai puncaknya pada 2022 sebesar USD16,57 miliar. Setelah itu, nilainya menurun menjadi USD11,97 miliar pada 2023, lalu naik kembali menjadi USD14,34 miliar pada 2024.
Sedangkan secara kumulatif, yakni pada periode Januari-Maret 2025, neraca perdagangan Indonesia-AS sebesar USD4,32 miliar. “Surplus neraca perdagangan tertinggi dengan Amerika Serikat terjadi pada tahun 2022 yakni sebesar USD16,57 miliar,” paparnya.
Selama Januari–Maret 2025, komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia ke AS antara lain: Mesin dan perlengkapan elektrik: USD1,22 miliar (16,71 persen); Pakaian dan aksesori rajutan: USD629,25 juta (8,61 persen); Alas kaki: USD657,90 juta (9,01 persen); Pakaian dan aksesori bukan rajutan: USD568,46 juta (7,78 persen); Lemak dan minyak hewan/nabati: USD507,19 juta (6,94 persen); Perabotan dan alat penerangan: USD410,48 juta (5,62 persen)
Keterangan tersebut menyebutkan, komoditas utama impor nonmigas Indonesia dari AS mencakup mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, biji dan buah mengandung minyak, mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, ampas dan sisa industri makanan, serta instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis.
Sedangkan komoditas utama impor migas dari AS adalah minyak mentah seperti crude petroleum oils, dan hasil minyak seperti liquefied propane, liquefied butanes, dan sejenisnya. Sepanjang Januari-Maret 2025, tidak terdapat ekspor migas dari Indonesia ke AS. | delanov