Ihwal Pemblokiran Bandara Turarelo Soa-Bajawa

Bupati Mengemis, Merpati Tak Peduli, Bandara pun Diblokir

| dilihat 1010

KUPANG, AKARPADINEWS. Com- Bupati Ngada Marianus Sae tak menyembunyikan fakta di balik peristiwa pemblokiran bandar udara Turarelo Soa di Kabupaten Ngada yang dipimpinnya. Pemblokiran yang terjadi Sabtu (21/12) pagi itu memang dilakukan oleh petugas satpol PP unit Sekretariat Daerah Ngada di Bajawa, atas perintahnya.

Marianus kesal. Saat sedang memburu waktu untuk pulang ke Bajawa, menghadiri Sidang Paripurna DPRD untuk pengesahan APBD 2014, Sabtu, dia beroleh kesempatan untuk ikut terbang bersama Merpati. Marianus mengaku, dia sudah mohon berkali-kali untuk mendapatkan tiket, tapi petugas menjawab pesawat sudah full. Meski sudah menjelaskan siapa dirinya, petugas Merpati di bandara El Tari – Kupang, tetap saja menolak harapannya. Padahal, masih ada tiga kursi kosong.

Seperti diberitakan Antara, Marianus mengaku, ia berada di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menerima DIPA (Daftar Isian Proyek Anggaran) 2014. Salah satu proyek yang berada dalam DIPA itu adalah pembangunan infrastruktur, termasuk pengembangan bandara Turarelo Soa.

“Saya sama sekali tak dihiraukan. Malah dilempar ke sana ke mari. Mereka tak peduli, meski saya jelaskan saya Bupati dan mengapa meminta bantuan mereka untuk memperoleh tiket.”

Atas tindakannya itu, Marianus bersedia dihukum. “Saya siap jika harus dihukum untuk kepentingan rakyat,” ungkapnya kepada wartawan, Minggu (22/12) malam. Dalam jumpa pers itu Marianus yang terkenal keras, itu marah bukan karena minta diistimewakan. Ia marah karena pelayanan Merpati yang dinilainya buruk.

“Saya kan tidak pernah mencari tahu bagaimana Merpati memperoleh pendapatan bisnis dari bandara yang kami bangun. Dan saya minta mereka memberikan tiket tidak untuk kepentingan pribadi saya, tetapi untuk kepentingan yang nanti juga akan mereka nikmati,” kata Marianus kemudian kepada wartawan di Bajawa.

Dikatakannya, pemblokiran bandara ditempuhnya untuk memberi pembelajaran terhadap manajemen Merpati agar tidak melakukan perbuatan serupa. Apalagi Merpati itu merupakan badan usaha milik negara. “Kami naik Merpati itu tidak gratis. Kami bayar, walaupun kadangkala harga tiket sangat mahal,” ungkap Marianus.

Bupati yang terkenal spontan dan blak-blakan itu menunggu lima jam untuk mendapatkan informasi kepastian jadi atau tidak berangkat. Mereka baru memberitahu, setelah Marianus membeli tiket TransNusa yang terbang sore hari. Pemblokiran itu tidak akan terjadi, katanya, bila pihak Merpati memberikan kepastian kepadanya. Sekalipun, misalnya, harus ada izin dari Menteri Perhubungan di Jakarta.

Akibat pemblokiran itu, menurut Kepala Distrik Merpati Kupang, Denny DJ Dehoog di Kupang, pesawat Merpati berbaling – baling itu harus mendarat di Ende. Denny mengatakan, pesawat yang membuat Bupati Ngada berang, itu memang sudah full. “Kami akan bicarakan masalah ini dengan bupati sehingga penerbangan ke bandara itu normal kembali,” katanya.

Sedangkan, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Bruno Kupok, melalui Kabid Udara, Donatus Mite, bisa memaklumi kemarahan bupati karena yang bersangkutan sedang ditunggu DPRD Ngada untuk mengikuti sidang paripurna penetapan anggaran pembangunan daerah itu. Bupati Marianus Sae berada di Kupang untuk menerima DIPA yang diserahkan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. |

Editor : Nur Baety Rofiq
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1457
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1150
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 1134
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 319
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 173
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
08 Sep 19, 19:47 WIB | Dilihat : 165
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat
Selanjutnya