Kepandiran

| dilihat 706

MUSQILA menutup wajahnya yang lelah. Ia rebah di kursi panjang. Niatnya menonton Indonesia Lawyer Club di salah satu stasiun televisi batal. Maka luputlah dia menonton acara politictainment itu. Padahal, dia sudah menyiapkan dirinya menyaksikan acara diskusi yang dopandu Karni Ilyar setiap Selasa malam itu.

Di tempat lain, Bothata, sahabat Musqila menyaksikan acara itu. Ketika dua pembicara yang selama ini pandai nyinyir di media sosial bicara, Bothata lebih banyak terkekeh, Maklum, kedua pembicara tamu yang nampak tak menguasai masalah dan tak menguasai medan diskusi, itu di mata Bothata lebih pas dikasih panggung lawak, katimbang acara talkshow yang banyak dipujikan itu.

Keesokan harinya, kala jumpa Musqila di tukang sablon, Bothata bercerita apa saja yang dia lihat. Terutama ketika dua badut di acara ILC itu berkutat dengan pikiran sendiri yang cenderung cenderung keukeuh dengan fantasi gelapnya, katimbang menyampaikan pemikiran segar dan kritis atas aksi Reuni 212 yang menjadi topik bahasan.

“Menurut sampeyan sendiri, apakah kedua bocah jalanan yang pernah mengaku sebagai ustad dan penulis, itu layak dan patut ditampilkan di acara itu?” tanya Musqila.

“Ah.. kalau soal itu sebaiknya kau tanyakan langsung kepada Karni Ilyas. Menurutku sih boleh-boleh saja untuk mengetahui, seberapa jauh media sosial kita selama ini banyak berisi fantasi gelap kaum otak sedikit,” jawab Bothata.

Ketika keduanya bercakap, datanglah Inkinga.

“Pasti sampeyan-sampeyan sedang membicarakan acara ILC-nya Karni Ilyas, ya..?” tanya Inkinga.

“Koq tahu?” balas Musqila.

“Ya tahulah.. tak ada kepandiran yang paling lucu di penghujung tahun ini, kecuali tampilnya dua tukang ngoceh di medsos itu,” jawab Inkinga.

“Apa yang lucu?” balas Musqila.

“Ya kepandiran itu sendiri. Saya jadi paham, ketika orang-orang pandir bicara, ya kelucuanlah yang kita peroleh,” jawab Inkinga tangkas.

“Tuh kan? Pendapat Inkinga sama kan dengan pendapatku?” cletuk Bothata.

Tiba-tiba Musqila terbahak, membuat Inkinga dan Bothata terpana.

“Kenapa tiba-tiba sampeyan terbahak?” tanya Inkinga.

“Lucu... lucu.. ocehan kepandiran yang pasti lucu?” jawab Musqila, sambil menjelaskan, dia harus tertawa, meskipun terlambat. “Tapi, sayang eee.. aku gak isa ngeliat.. tertidur..,” sambung Musqila.

Sambil angkat kaki sesuka hatinya, Musqila menjelaskan, kelucuan yang ditimbulkan oleh kepandiran orang pandir sangat istimewa. Terutama ketika kepandiran itu menyadarkan kita, bahwa ternyata begitu banyak orang pandir menjadi corong untuk melakukan pembenaran, meskipun sering dengan cara yang kurang benar.

Bothata dan Inkinga mengangguk. “Di tengah kehidupan yang penuh tekanan karena bermacam masalah, kepandiran diperlukan, supaya manusia bisa bercermin, termasuk bercermin dalam gelap,” lanjut Musqila.

Kini giliran Bothata dan Musqila yang tertawa. Keduanya menganggap lucu dengan istilah Musqila, “bercermin dalam gelap.”

“Kepandiran dan kegelapan memang lucu dan kelucuannya boleh menjadi cara untuk melakukan introspeksi. Kadang, di tengah kehidupan sosial kita, orang memberikan support bagi kepandiran untuk menutupi berbagai persoalan yang sesungguhnya tak bisa dipecahkan oleh siapa saja yang mempunyai kekuasaan dan alat untuk memecahkan persoalan,” ungkap Musqila.

Bothata tiba-tiba mengambil sikap setengah sempurna. Dari mulutnya meluncur rangkaian kalimat yang puitik:

Orang-orang pandir senantiasa merasa cerdik-cendekia. Orang-orang cerdik cendekia lupa pada kepandirannya. Mereka mengubah kecendekiaan menjadi kelicikan. Orang-orang licik berjuang menjadi pandir, karena kepandiran adalah keyakinan utama keculasan. Orang-orang culas, menyulap kepandiran untuk menebar kepandiran semesta, pembebalan yang sengaja..

Musqila dan Inkinga bertepuk tangan. Dia tak menyangka, Bothata yang selalu merasa pandir itu, sesungguhnya cerdas. Tak seperti orang pandir yang merasa dirinya cerdas. Ehem..  

Editor : sem haesy
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 772
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 536
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 541
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 680
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2609
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 643
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1078
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya