Peradaban Undur Undur

| dilihat 253

bang sém 

Kekuatiran James Martin - guru besar Universitas Oxford (2007) tentang ketimpangan antara keterampilan (skill) dengan kearifan (wisdom) yang teramat merisaukan dari sisi etik, kian menjadi kenyataan hidup sehari-hari.

Ketidak-mampuan manusia melayari transhumanisma yang disebabkan oleh meluasnya kebergantungan manusia pada kecerdasan buatan (artificial intelligent), serta terus melemahnya pengendalian frekuensi yang terus mempersempit bandwidth di saat gaya hidup internet on think menjadi keperluan dasar, kian mengancam eksistensi manusia dan peradaban.

Pandemi global nanomonster Covid 19, yang senyatanya sudah menimbulkan krisis kesehatan dan resesi ekonomi, tidak ditaklukan secara bersungguh-sungguh. Bahkan, dalam banyak hal menjadi pertarungan bisnis baru global.

Rapuhnya kapitalisme global dan sosialisme mondial yang sesungguhnya menunjukkan deglobalisasi, tidak direspon dengan aksi serempak untuk mempraktikan universe prosperity sebagai suatu sistem yang sungguh membuat manusia kembali berbudaya dan beradab.

Dalam banyak hal, di berbagai belahan dunia, ternyata kemerosotan etik di hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Demokrasi sebagai suatu sistem kehidupan yang semula dipilih sebagai tata kelola kehidupan untuk mencapai harmoni kebangsaan dan dunia, tereduksi hanya menjadi cara perebutan kekuasaan (sosial, ekonomi, dan politik).

Proses regenerasi tidak berlangsung baik di sebagian terbesar simpul peradaban, baik komunitas, organisasi, dan bahkan negara. Kemampuan manusia berselisih tanpa meninggalkan harmoni, kian surut dan berganti dengan kesenangan bertikai dengan menanggalkan akalbudi. Akibatnya manusia tak lagi mampu untuk bermusyawarah dan bermuzakarah.

Kualitas manusia yang disiapkan Tuhan dengan instrumen nalar, naluri, nurani, rasa, dan dria tidak bergerak sebagaimana mestinya. Akibatnya, manusia, seperti diisyaratkan Tuhan, jatuh ke jurang ilusi dan fantasi, lantas tak pernah sadar menjadi khayawan an nathiq alias hewan yang berakal.

Machiavelli, dalam salah satu karya monumentalnya di abad ke 16, The Prince, menyerap pandangan ini, lantas menawarkan asumsi dan gambaran gelap tentang sifat manusia yang ekstrim dan sungguh menempatkan eksistensi manusia sebagai hewan.

Pemikir Italia, ini berpandangan, kodrat manusia adalah egois dan selalu memikirkan kepentingan diri sendiri seperti massa yang menginginkan keselamatan dan keamanan, penguasa menginginkan kekuasaan. Untuk mendapatkan dan menaklukkan motif mereka, manusia sangat egois.

Pandangan Machiavelli ternyata tak terbantahkan, sampai lima abad kemudian, setelah peradaban manusia melintasi era perburuan, agraris, industri, informasi, digital dan konseptual. Karena sedikit sekali bangsa-bangsa di dunia menempa dirinya sebagai masyarakat pembelajar (learning society).

Bahkan, di abad ke 21, percepatan pengembangan gadget sebagai bagian dari cepat tumbuh dan berkembangnya teknologi informasi, yang membuka ruang multimedia dengan multi channel, dan multi platform proses interaksi - komunikasi antar manusia, tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas keadaban.

Akibatnya, perwadulan (gosip - rumors - hoax - fitnah) kian merajalela, sekaligus menebar komunikasi buruk dengan segala ujaran kebencian.

Sensitivitas manusia tidak lagi dilandasi oleh hal-hal asasi -- termasuk ideologi -- karena sudah sedemikian lemah dibekap oleh pragmatisme dan transaksionalisme di segala lapangan kehidupan. Di berbagai ajang kehidupan, selalu terjadi proses reduksi kualitas manusia dan nilai kemanusiaan, yang nampak dalam proses kontestasi dan kompetisi di pentas realitas pertama.

Di pentas-pentas kompetisi, khasnya organisasi sosial - ekonomi - politik, amat terasa kompetisi para boneka yang dikendalikan oleh kontestasi para zombie dengan segala daya di belakangnya.

Nilai-nilai agama dan budaya (termasuk tradisi kebajikan) dengan segala dimensi keadabannya, rontok. Asumsi Machiavelli yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang buruk, jahat, egois, egois dan bejat, seperti yang dikemukakan iblis kepada Tuhan sebelum Adam tercipta menjadi realitas nyata.

Pandangan Machiavelli, menjadi sesuatu yang oleh para 'zoon politiconis' Aristotelian dipandang wajar, bahwa keinginan manusia tidak memiliki batasan tertentu, mereka serakah, makhluk sensual, bejat dan dia bahkan melanjutkan dengan mengatakan bahwa manusia hanya peduli pada dirinya sendiri, keluarga mereka dan harta benda mereka.

Untuk itu, sebagian besar manusia selalu siap melakukan apa saja, menghalalkan segala cara, termasuk bekerjasama dengan musuh yang akan menghancurkan kaum dan bangsanya. Bahkan, menurut Machiavelli, untuk melindungi prioritas mereka, bahkan memaafkan dan menerima sepenuh hati 'pembunuh ayah dan ibu mereka,' asal memenuhi hasrat sesaat mereka.

Di kancah sosial, ekonomi, dan politik, situasi seperti yang digambarkan Machiavelli menjadi kenyataan. Terutama ketika sebagian terbesar manusia hanya fokus dan berkonsentrasi pada tercapainya kepentingan-kepentingan sesaat mereka, tanpa harus mempersoalkan, kepentingan itu sesat dan menyesatkan.

Pusaran arus perubahan yang terjadi kini, mendorong tumbuh kembangnya peradaban undur-undur. Mereka tak peduli dengan realitas ironik, bahwa ketika mulut mereka bicara tentang kemajuan dan lompatan ke masa depan, sesungguhnya mereka sedang membawa komunitas, masyarakat dan bangsanya bergerak mundur.

Ketika mereka menyerukan reformasi, yang sesungguhnya terjadi adalah langkah menuju deformasi, kala mereka sebut diksi tentang peradaban, sesungguhnya mereka sedang melangkah tegap menuju kebiadaban.

Sekularisasi yang mengalir di dalam naluri dan dria mereka, memblokade kesadaran nalar, naluri, dan rasa untuk menerima isyarat Ilahiah, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Peradaban undur-undur yang sedang mempengaruhi banyak manusia di seantero jagad, akan terus bergerak dan berkembang, karena kehidupan kian kehilangan orang-orang bijak - wise man's. Peradaban yang kian lasak, laksana manusia melangkah tanpa pijakan yang kokoh. Peradaban yang menjauhkan jarak manusia dengan Tuhan dan tak lagi karib dengan semesta, sehingga isyarat alam dianggap hanya keniscayaan tanpa makna.

Peradaban undur-undur akan selalu memisahkan manusia dengan Tuhan dan semesta, bahkan manusia tak akan pernah menyadari ketika peradaban undur-undur terus menerus mencipta kondisi dehumanitas.

Dengan cara ini, komunitas, organisasi, dan bangsa akan alpa merancang peradaban baru yang akan lebih mengkaribkan manusia dengan semesta dan Tuhan. Peradaban undur-undur akan terus bergerak, menggulung siapa saja, kembali ke titik nadir kebiadaban.. |

[rumahkreatif akarpadi 22.03.21]

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
30 Mar 21, 13:09 WIB | Dilihat : 271
Wawan Wanisar Tak Sekadar Aktor
10 Mar 21, 14:47 WIB | Dilihat : 337
Peta Jalan Keselamatan
Selanjutnya
Lingkungan
04 Feb 21, 08:23 WIB | Dilihat : 270
Dahsyatnya Ular Betina
02 Feb 21, 09:26 WIB | Dilihat : 287
Anjing
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 277
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
Selanjutnya