Catatan Seni 4

Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat

| dilihat 227

Bang Sém

Ronggéng hidup dan berkembang di suatu lingkungan masyarakat agraris, baik yang dipengaruhi oleh river culture dan coastal culture.

Eksistensi ronggéng secara sosiologis berupa komunal yang terikat oleh nilai-nilai budaya lokal di dalam suatu masyarakat yang terikat kuat oleh patronase tertentu. Khasnya dalam relasi - korelasi sosial yang sangat kuat dipengaruhi oleh clientelisme.

Dari perspektif socio anthropologie, keberadaan ronggéng terikat oleh dua arus patronase (patron client relationship dan traditional authority relationship) dalam masyarakat sinkretik (Geertz, 1983). Dari perspektif sosiologi politik, keberadaan ronggéng dipengaruhi juga oleh jenis patron - hubungan klien dan partikularisme (Huntington, 1965) sebagai bagian dari proses panjang modernisasi yang mulai populer pada penghujung dekade 1950-an dan awal 1960-an.

Kondisi itu merupakan efek logis dari proses penjajahan sebelumnya yang sangat panjang, seperti tercermin dalam penelitian Endang Caturwati di Subang yang memperkaya pemahaman etnokoreologi terkait eksistensi ronggéng dan korelasinya dengan dinamika masyarakat yang senang mengalami proses perubahan dari era agraris ke era industri.

Temuan Endang memberikan perspektif lain dalam melihat Ronggéng (seni pertunjukan tradisi) dan ronggéng (penyanyi dan penari) sebagai suatu realitas, yang seringkali untuk kepentingan deskripsi dramatik, dihubungkan dengan mitologi, legenda, dan dinamika sosial secara unik, seperti tercermin dalam trilogi Ronggéng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari, 1982).

Hasil penelitian Endang yang fokus pada para sinden dan penari Kliningan - Jaipongan  di wilayah Subang, Jawa Barat, relevan dengan kajian khas untuk menjawab pertanyaan tentang pengaruh patron klien di tengah masyarakat yang kompleks.

Dari sisi realitas sosio politik, misalnya, penelitian Endang secara neck to neck bertemu dengan persepsi Ahmad Tohari, terutama bila didekati dengan pemahaman teoritis hubungan patron klien yang terus berubah, karena sifatnya yang kontemporer.

Apalagi, terasa dalam penelitiannya, Endang secara sadar memilih jalan tradisi sosiologis - antropologis dengan menyoroti tiga fitur utama dari fenomena relasi korelasi sosialnya (komunikasi personal - sosial, pertukaran sumberdaya secara langsung (terkait dengan loyalitas dinamis antara bajidor dengan sinden atau penari), dan ketidaksetaraan (sosial ekonomi) antara patron dengan klien (bajidor dengan sinden dan penari).

Fitur ini sering dipergunakan dalam penelitian tentang patron klien untuk melihat dinamika perubahan sosio politik masyarakat dan pengaruhnya terhadap dinamika kehidupan sosial keseluruhan dalam komunal khas (  Katz dan Lazarfeld, 1955; Fortes, 1969; Eisendtadt dan Roniger, 1980). Ini yang sering menyeret ronggéng ke dalam lingkar dinamika politik yang berhubungan dengan tiga sumbu yang ditemukan Endang (ronggéng, bajidor, birokrasi).

Sisi menarik penelitian Endang adalah korelasi ronggéng dengan dinamika kehidupan spiritual - religius yang sinkretik dan kepercayaan masyarakat, serta perubahan peran (sekaligus persepsi) ke ranah penghiburan.

Model perubahan sosial dan realitas perubahan ronggéng, itu bisa dipahami, ketika didekati dengan korelasi patron, hubungan klien, dan partikularisma yang disoroti Huntington. Pun, ketika keberadaannya dipandang memainkan peran khas dalam konteks integralisme masyarakat tradisional.

Apalagi, ketika ronggéng dalam beragam jenis dan bentuk perkembangannya (dari cokék, ronggéng blanték, sampai  dangdut pantura, misalnya) hendak dikaitkan dengan modernisasi yang didasarkan pada transisi dari partikularisme ke universalisme (LaPalombara, 1963). Karena perubahan masyarakat kemudian berlangsung dengan idiom-idiom dan anasir-anasir perubahan baru, seperti demokratisasi, pembangunan ekonomi, dan birokratisasi.

Termasuk tantangan gagasan, bahwa hubungan patron-klien hanya dapat ditemukan dalam konteks teritorial kecil atau menengah hingga besar (Shefter 1977).

Pandangan Endang, bahwa "nilai dan norma pada masyarakat yang masih memegang tata cara tradisi tidak lepas dengan semangat komunalitas, partisipasi, dan dedikasi," menunjukkan, bahwa eksistensi Ronggéng secara sosiologis - meski dalam dalam posisi sebagai klien - sumberdaya obyek -- berperan penting. Baik dalam konteks katarsis sosial maupun sebagai sumberdaya ekonomi domestik dan lokal.

Bila dalam penelitian Endang di wilayah pertemuan river culture dan coastal culture terlihat proses perubahan Ronggéng yang sudah sedemikian jauh bergerak ke fungsi katarsis sosial - penghiburan, menurutnya, peran Ronggéng sebagai medium spiritual dalam kegiatan ritual sinkretik masih berlangsung di wilayah river culture dan rural culture pada umumnya, terutama Ronggéng gunung.

Di wilayah river culture dan rural culture yang masih sangat kuat dipengaruhi oleh traditional authority relationship, peran mediasi spiritual dalam kegiatan ritual masyarakat masih berlaku.

Di Kelantan, Malaysia, Ronggéng dalam permainan Puteri atau Puteri Utama, bomoh (dukun) sekaligus mengemban fungsi sebagai penari dan penyanyi. Dengan daya magis yang 'dikuasai'-nya menjalankan aksi yang mirip dengan fungsi psikoterapi, menjadikan individu yang 'sakit' sebagai medium dengan daya astral - non empirik yang menggerakkannya menari di bawah alam sadar, dan kemudian menari dengan iringan pemusik tradisi.

Peran musik dan syair-syair lagu yang sesungguhnya adalah mantra-mantra menjadi bagian dari kerangka konseptual untuk mengeluarkan berbagai hal yang tersimpan di bawah alam sadar -- secara samar-samar, tumpang tindih dan tak beraturan -- keluar dalam racauan.

Aksentuasi katarsis dalam atraksi seni tradisi ini, menjadi simpul kepentingan penghiburan dan psikoterapi . Relatif sama dengan Jathilan, Kuda Kepang, dan Kuda Lumping di Jawa.

Hubungan patron - klien dalam komunal terhubungkan, sehingga Ronggéng dalam atraksi seni tradisi Puteri, menjadi khas.

Akan halnya di Thailand Selatan, khasnya Pattani, Ronggéng yang disebut Rongéng menghadirkan penyanyi dan penari tua dalam usia, ibu-ibu yang sudah mengalami menopause. Syair lagu yang didendangkan berupa pantun.

Berbeda dengan Ronggéng Deli yang menempatkan pantun di 'luar' dan di 'dalam' lagu, pada Rongéng pantun menjadi artikulasi pesan di 'dalam' lagu.

Pada perkembangannya, dalam atraksi Rongéng di Thailand Selatan, relatif sama dengan Ronggéng yang digambarkan dalam penelitian (disertasi) Endang, sebagai seni tradisi yang masuk dalam kategroi folklore.

Tak hanya melibatkan penari dari kalangan penonton - bajidor, penari yang relatif lebih muda, dan bias gender. Karena salah satu atau salah dua penarinya dari kalangan transgender.

Kendati demikian, di tengah transisi masyarakatnya, Rongéng Thailand, termasuk yang sudah dimodifikasi sama dengan bentuk Ronggéng di Jawa, khasnya pada Kliningan - Jaipong yang diteliti Endang, bahkan menjadi pertunjukan di ruang terbuka di kota Bangkok.

Di Malaysia yang merupakan wilayah budaya Melayu, format dan formula Ronggéng Deli berkembang di lima Negeri - Semenanjung dalam format joget (Joget Pahang, Joget Kelate) yang juga berkembang di Selangor, Johor, Trengganu, Ipoh, Kedah, dan Melaka. Di Negeri Sembilan, khasnya Seremban, formatnya lebih tertata dalam gerak.

Dalam banyak hal, perkembangannya di Semenanjung, juga Serawak dan Sabah sangat dipengaruhi kuat oleh Zapin yang di Jawa lebih dikenal dengan Jepen (seperti di Indramayu).

Sebagaimana dikemukakan Endang dalam perbincangan, khas dengannya, perkembangan Ronggéng bergerak cepat mengikuti perkembangan transisi masyarakat dari tradisionalisme ke modernisme, yang dipicu dinamika perkembangan nilai-nilai sosial budaya - ekonomi - poliutik, juga dipacu oleh perkembangan medium ekspresi dan presentasi seni pertunjukan rakyat, folklore - tradition performing arts. |

 

Baca Juga :

Ronggeng dalam Perspektif Endang Caturwati

Ronggeng Dulu dan Setelahnya

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
26 Des 20, 19:59 WIB | Dilihat : 158
Tsunami Dahsyat Menggempur Aceh 1394 dan 2004
05 Des 20, 16:53 WIB | Dilihat : 204
Menghirup Udara Bersih Adalah Hak Asasi Manusia
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 590
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
Selanjutnya
Budaya
09 Jan 21, 00:30 WIB | Dilihat : 465
Berpegang Adab dan Etika Hidupkan Kolaborasi
08 Jan 21, 08:45 WIB | Dilihat : 1396
SONGONG
30 Des 20, 05:57 WIB | Dilihat : 283
Dalam Pusaran Ironi dan Tragedi Kebangsaan
28 Des 20, 15:32 WIB | Dilihat : 261
Aceh dalam Sekeping Memori Hidup Saya
Selanjutnya