Titik Lemah Setan Merah

| dilihat 1366

AKARPADINEWS.COM | MANCHESTER United (MU) belum menunjukan performa terbaiknya di Liga Premier Inggris musim 2016-2017. Dari sembilan laga yang sudah dilakoni, MU hanya merengkuh empat kemenangan. Selebihnya, MU mengalami tiga kekalahan dan dua kali seri.

Padahal, di musim Liga Premier Inggris kali ini, MU dibawah racikan pelatih eksentrik Jose Mourinho, menggantikan Louis van Gaal. Lalu, dua nama pemain beken pun direkrut tim berjuluk Setan Merah itu, yakni Zlatan Ibrahimovic dan Paul Pogba.

Tiga kekalahan MU nampaknya membuat mental para pemain terganggu. Kekalahan pertama dialami MU kala menjamu rival sekotanya, Manchester City. Di laga yang berlangsung di Old Trafford itu, MU dihantam City dengan skor 1-2.

Kekalahan dikandang sendiri itu rupanya berlanjut. Pada laga Liga Premier selanjutnya, MU dibantai Watford dengan skor 3-1. Padahal, Watford bukanlah klub elit. Sejumlah kalangan awalnya memprediksi, MU dapat merengkuh poin penuh kala melawan Watford.

MU sempat bangkit. Itu dibuktikan dengan keberhasilan MU menaklukan juara bertahan, Leicester City, dengan skor telak, 4-1. Namun, laga setelahnya, saat melawan Stoke City 2 Oktober 2016 lalu, MU tak mampu menang. Laga MU-Stoke City berakhir imbang, 1-1. Lalu, laga tanggal 18 Oktober 2016 melawan Liverpool, MU juga harus puas dengan skor kacamata, 0-0.

Dan, pada laga hari Minggu (23/10) melawan Chelsea, MU benar-benar dipermalukan. Chelsea mempecundangi MU dengan 4-0. Sebenarnya, MU memiliki harapan besar untuk menang. Ajang itu rupanya tidak mampu melampiaskan dendam Mou, sapaan Jose Mourinho, yang dipecat Chelsea di akhir tahun lalu.

Mou seakan tampil percaya diri dengan strategi 3-4-2-1. Ibrahimovic dipercaya menjadi ujung tombak. Mou berharap tim asuhannya mencuri angka pertama di menit-menit awal. Sayangnya, rencana The Special One tak berjalan mulus.

Di detik 30, pemain Chelsea, Pedro Rodriguez langsung menjebol gawang De Gea. Ketinggalan angka tersebut membuat pemain MU mengedor pertahanan Chelsea. Namun, beberapa kesempatan emas tak dapat dituntaskan oleh Pogba dan kawan-kawannya.

Naasnya, di menit 21, Chelsea berhasil menambah angka. Gary Cahill menambah skor kemenangan. Dia menyongsong bola liar dari sepak pojok yang dieksekusi oleh Eden Hazard. Ketertinggalan dua angka membuat MU semakin terpuruk.

MU berupaya membalas. Penetrasi ke pertahanan Chelsea terus dilakukan. Namun, MU tak berhasil mencuri angka. Malah, di menit 62, Chelsea kembali menambah angka dari sepakan kaki Hazard. Ketinggalan tiga angka, membuat permainan MU berantakan. Suporter The Red Devil nampak tak senang dengan kekalahan telak itu. Sebagian fans MU menyoraki Mou.

Keadaan semakin buruk kala memasuki menit 70. Pemain anyar Chelsea, N’Golo Kante, menambah keunggulan Chelsea menjadi 4-0 melalui aksi individunya di depan gawang. Gol itu menutup laga tersebut.

Punggawa MU dan Mou benar-benar dipermalukan atas kekalahan itu. Sebab, kekalahan di laga itu merupakan kekalahan terbesar MU sepanjang sembilan laga yang telah dilakoni. Untuk itu, Mou harus putar otak agar mampu membangkitkan kembali kekuatan MU yang telah lama tertidur pasca ditinggal Sir Alex Ferguson.

Bila melihat statistik pertandingan tersebut, Wayne Rooney dan kawan-kawannya tidak tampil jelek. Mereka sebenarnya menguasai penguasaan bola. Hal itu terlihat dari persentase penguasaan bola MU yang mencapai 56 persen. Sementara Chelsea hanya mencapai 44 persen.

Jumlah tembakan yang dilancarkan juga lebih banyak dari Chelsea. MU membubuhkan total 16 tembakan. Sementara Chelsea hanya 14 tembakan. Namun, Chelsea lebih unggul perihal akurasi tendangan, yakni enam tembakan tepat ke arah gawang. Sedangkan MU hanya membubuhkan lima tembakan.

Statistik itu menunjukkan, MU seharusnya setidaknya bisa menyamakan angka, bukan justru dibantai Chelsea. Persoalan itu lantaran MU lemah di lini tengah dan pertahanannya.

Meski telah memiliki Pogba, MU perlu sosok playmaker brilian sekelas Mesut Ozil. Sebab, selepas tak disokong Paul Scholes, lini tengah MU cukup berantakan. Ketika melakukan penyerangan, lini pertahanan begitu longgar.

Sejak pensiunnya Scholes hingga saat ini, tidak ada sosok jenderal lapangan tengah yang brilian di MU. Keberadaan Marouane Fellaini selalu menjadi masalah di lini tengah. Sebab, pemain asal Belgia itu seakan tidak bisa nyetel dengan berbagai skema permainan MU, sejak era David Moyes hingga saat ini.

Pemain bernomor punggung 27 itu kiranya lebih tepat berposisi sebagai gelandang bertahan, bukan tipikal gelandang tengah maupun bertahan. Namun, seringkali ketika merumput, Fellaini kerap maju ke depan dan lelet untuk mundur ke belakang. Posturnya yang terbilang jangkung seharusnya dimaksimalkan untuk membantu pertahanan kala mendapat serangan, baik berupa umpan-umpan lambung dan silang dari musuh.

MU juga memiliki Juan Mata. Pemain asal Spanyol itu memiliki potensi sebagai playmaker. Hanya saja, hingga pergantian era kepelatihan, dia belum dimaksimalkan potensinya.

Bila dipasangkan dengan Pogba, dari kedua pemain tersebut, pemain yang lebih cocok ialah Mata. Karena, Mata bisa mengatur tempo serangan dan mampu mengisi kekosongan lini tengah kala Pogba maju ke depan.

Untuk lini pertahanan, sangat terlihat MU kehilangan sosok bek seperti Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic. Sebab, di lini pertahanan MU saat ini, belum nampak bek yang memiliki naluri kepemimpinan seperti dua pemain tersebut. Adapun, bek paling senior yang dimiliki MU saat ini ialah Antonio Valencia.

Pemain asal Ekuador itu sejatinya merupakan bek sayap multi talenta. Namun, Valencia kurang cocok bila diposisikan sebagai bek tengah. Dia lebih nyaman berposisi di sektor sayap, khususnya sisi kanan.

Absennya bek berjiwa pemimpin dan naluri bertahan tinggi membuat pertahanan MU sering mudah dijebol lawan. Keburukan pertahanan MU itu diperparah dengan performa kiper utama, David de Gea, yang kurang stabil.

Kiper asal Spanyol itu sebenarnya merupakan pemain yang cukup baik. Hanya saja, de Gea jarang menampilkan performa yang stabil. Pemain berusia 25 tahun itu seolah-olah bermain baik ketika mood-nya tengah baik. Selebihnya, dia cenderung bermain dalam level standar.

Catatan khusus juga tertuju pada lini depan. Meski memiliki Ibrahimovic, Rooney, Anthony Martial, dan Marcus Rashford, Mou belum menemukan formula tepat untuk mengkombinasi talenta para penyerangnya itu.

Apalagi, Ibra terkenal sebagai penyerang dominan. Tentunya, keberadaannya di lapangan bisa membantu tim, bahkan merusak kerjasama tim. Mou harus bisa meramu keberadaan tiap penyerangnya dengan baik bila ingin membuat MU menjadi klub menakutkan seperti masa Ferguson dulu.

The Special One masih memiliki waktu panjang di Old Trafford. Liga Premier Inggris musim 2016-2017 pun baru bergulir. Karenanya, kelemahan selama ini harus dibenahi. Fans MU amat berharap klub kesayangannya kembali jaya seperti dahulu. Perlu kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan Mou untuk menutup kelemahan si Setan Merah. | Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Telegraph/Premier League/The Guardian/ESPN/BBC
 
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 181
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 670
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1590
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 329
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 414
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 585
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya