
Jeahan
Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Ayatollah Syed Ali Khamenei (Rabu, 18/6/25) dengan suaranya yang khas berseru, "Perang baru dimulai."
Pernyataan ini terasa hendak menegaskan, setelah melewati masa beberapa dekade berkonflik dengan zionis Israel, musuh bebuyutannya, kini Iran sungguh nyata berperang secara langsung dengan zionis Israel.
Penjahat kemanusiaan pemimpin rezim genosida, Perdana Menteri zionis Israel Benjamin Netanjahu, memerintahkan serdadunya melontarkan rudal ke Iran di persimpangan malam (Jum'at, 13/6/25). Beberapa petinggi militer dan ilmuwan Iran menjadi korban.
Ibukota Iran Teheran, kota damai Shiraz tanah kelahiran begawan Hafez dan kota kerinduan Isfahan dihujani oleh rudal zionis.
Benjamin Netanjahu, boleh jadi berfikir, dengan serangan tiba-tiba itu, Iran gentar. Pemimpin zionis Israel, itu mungkin menganggap Iran dapat dilantakkannya seperti mereka menerjang Gaza, Palestina dengan alasan utama menghentikan perlawanan para pejuang Hamas.
Netanjahu tak menyadari, perintahnya tindakan serdadu zionis Israel, telah melakukan sesuatu yang gegabah. Termasuk dengan kepongahannya, bahwa Iran tak kan mampu melakukan serangan balasan.
Netanjahu memberi tajuk serangan serdadunya 'Rising Lion,' dan teramat yakin, Iran tak kan mampu membalas. Apalagi, selama ini zionis Israel kadung dimitoskan mempunyai sistem pertahanan yang sangat kuat, disertai pelindung iron dome dengan teknologi canggih untuk menangkal serangan udara ke wilayah otoritas dan pendudukannya.

Iran tak Main-main
Kali ini, penjahat perang yang didukung Amerika Serikat (AS), Inggris, Perancis, dan sekutunya, salah membaca dan keliru berpikir.
Iran menyerang balik (Jum'at, 13/6/25) dengan rudal balistik dan misil hipersonik dan drone (pesawat nirawak) yang mampu mengecoh radar dan mampu menembus irone dome.
Bila gelombang serangan udara zionis Israel menghunjam beberapa zona di luar ibukota Teheran, dan kota-kota estetis Isfahan dan Shiraz, Iran menghunjam ibukota Tel Aviv, dan kota-kota Beersheba, Haifa, Bat Yam dan kota-kota pertahanan zionis Israel.
Netanjahu dan para serdadu zionis Israel tak pernah membayangkan, rudal-rudal Iran, termasuk Al Fatah, bisa menggempur kota-kota itu.
Iran tak main-main. Sepekan sudah pasukan Garda Revolusi Iran mengirim rudal balistik dan misil ke berbagai wilayah pendudukan Israel.
Sejumlah infrastruktur, tanpa kecuali Pusat Riset Institute Weizman yang menjadi 'otak' sistem pertahanan nasional berbasis teknologi, berhasil dilumpuhkan. Lembaga riset ini bertalian dengan berbagai sistem pertahanan dan ketahanan zionis Israel.
Netanjahu dan serdadu zionis Israel menggunakan hasil riset dan pengembangannya untuk meluahkan kebengisan genosida, menduduki dan melenyapkan tanah air, bangsa dan negara Palestina. Lalu menjadikan tanah negeri yang diduduki dan dirampoknya itu sebagai wilayah Israel raya.

Spritualitas
Ayatollah Syed Ali Khamenei menyadari hal tersebut, bertegak kepala ketika digertak oleh kepongahan Netanjahu, Donald Trump dan para sekutunya. Ia berseru kepada Garda Revolusi dan rakyat Iran, "Ali sudah kembali dari Khaibar dengan pedang Dzul Faqar.." untuk merawat keberanian dan kecerdasan sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat. Menjadi pembela kaum yang tertindas, yang diperlakukan secara biadab.
Ali yang dimaksudkannya adalah Imam Ali bin Abu Thalib Karamahu Wajhah, yang memenangkan pertempuran dengan kafir Quraisyah di Khaibar. Ali, sosok cendekia yang dipilih Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembawa panji - panji Islam. Panji-panji peradaban yang menyejahterakan dan membahagiakan.
Ali juga pemimpin pejuang Islam yang bertujuan untuk meninggikan tauhid, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menempuh siyasah (untuk membebaskan tekad dan ideologi manusia dari kemusyikan, nir adab, serta mencegah manusia tergelincir jatuh ke tingkat binatang).
Siyasah atau strategi dalam memilih jalan, "hidup mulia atau mati syahid." Pilihan peran cemerlang menjadi sebaik-baik makhluk dan insan mulia. Manusia berkualitas yang tak tak suka perang, namun tak gentar membela diri, mempertahankan hak kemanusiaan dan merebut hak tersebut dari para penjajah berhati iblis, zionis Israel.
Mendengar kalimah, "Ali datang dari Khaibar dengan pedang Dzul Faqar," segera teringat syair Al Sayyid Al Himyari: Demi Allah dan karunia-Nya/Seseorang harus bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya// Sesungguhnya, Ali putra Abu Thalib / kecenderungan alami insan bertaqwa pengabdi (kemanusiaan, kebenaran dan keadilan) / Ketika perang melahap tombak / Ia melangkah ke arah lawan / Di tangannya tergenggam / Pedang tajam berkilap / Laksana singa berjalan di antara anak-anaknya / Siap berburu di rimba / Dialah yang suatu malam / disambut Jibril dan Mikail / bersama seribu malaikat / diikuti serafim / seperti burung dalam kawanan //
Ali memimpin pasukan dan merebut kembali Khaibar yang dirampas dan dikuasai para zionis, para pengkhianat, dan kaum musyrikin. Ia dan pasukannya mengambil kembali hak yang telah dirampas.
Ia memasuki medan perang Khaibar, yang telah menjadi pusat kekuatan kekuatan zionis Yahudi. Ia memilih siyasahnya sendiri, karena sebelumnya, di Khaibar umat Islam dua kali mengalami kegagalan dan kekalahan.

Kisah Ali Menaklukan Khaibar
Rasulullah Muhammad SAW memberikan kepercayaan penuh kepada Ali, penugasan one way ticket. Ia (Ali) tidak akan kembali sebelum Allah memberinya kemenangan! Karenanya, di pundak Ali terletak harapan dan untuk itu para sahabat menyediakan dirinya sebagai insan yang beruntung.
Marhab, komandan pasukan zionis Yahudi menyambut kedatangan Ali dan pasukannya di medan laga Khaibar. Pongah, Marhab berseru kepada Ali, "Orang-orang Khaybar tahu bahwa aku adalah Marhab. Aku bersenjata yang mematikan. Aku petarung yang berpengalaman!."
Imam Ali menghadapinya dengan senyuman, sikap rendah hati, menjawab kepongahan itu : "Ibuku memberiku panggilan, Haydarah / Akulah singa jantan dan gagah berani / buku-buku jariku kuat, leherku lebar / Seperti harimau di hutan, buas dipandang / Aku akan menyerang dengan cara yang dapat menghancurkan sendi-sendimu / Aku biarkan musuh menjadi makanan bagi binatang buas / Seperti pemuda yang terhormat dan kuat / Aku akan gunakan pedangku pada pilar-pilar kalian / dan.. dengan pedangku menewaskan kalian dalam skala besar.//
Kisah Ali menaklukan Khaibar dinukil ulang Ayatollah Khamenei, bak semangat dan darah segar bagi Garda Revolusi Iran. Daya perjuangan merebut kembali seluruh wilayah pendudukan yang dikuasai zioni Israel.
Ini yang tak ada di dalam benak dan hati Netanjahu serta serdadu zionis Israel. Mereka senantiasa memandang enteng Iran. Memandang Iran hanya sebagai pembela komunitas pejuang (terutama Hamas dan Hizbullah). Mereka tak membaca daya tersembunyi yang dimiliki Iran, yakni daya ghirah dan gairah perjuangan.
Gairah dan ghirah Ali serta pasukannya kala membalas serangan kaum kafir dan menaklukan Khaibar, seolah mengalirkan darah segar di seluruh nadi Ayatollah Sayid Ali Khamenei. Pedang Dzul Faqar Ali, seolah 'menjelma' menjadi rudal balistik dan misil canggih.
Spiritualitas Ali Khamenei seolah reinkarnasi spirit Ali yang mengalir ke dalam inisiatif, seruan perang sebagai pembalasan atas serangan mendadak zionis Israel yang gagah. Ledakan rudal dan misil Iran, seolah merupakan reinkarnasi pukulan Imam Ali atas kepala Marhab, yang jatuh terngkur di medan pertempuran Khaibar.

Moralitas dan Integritas
Keberhasilan Iran melantakkan berbagai titik pertahanan zionis Israel di Tel Aviv, Beersheba, Haifa, Bat Yam dan beberapa kota di Israel lainnya dalam perang yang sudah berjalan sepekan ini adalah awal bagi tibanya takdir terbaik, kemenangan dari Allah SWT.
Iran akan bertarung sendiri dulu menghadapi zionis Israel yang terpojok dan mulai meminta bantuan kepada Amerika Serikat. Sikap Ali Khamenei dihormati Vladimir Putin (Rusia). Namun, bersama-sama dengan para pemimpin global, seperti China, Pakistan, Korea Utara dan Venezuela menunggu Rusia siaga membantu Iran.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro berseru: "Kepada pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, Turki, dan kepada pemerintah negara-negara Teluk -- Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait --, dan kepada semua negara di belahan bumi selatan, khususnya negara-negara Muslim, mari kita dukung Republik Islam Iran dalam keinginan dan haknya untuk perdamaian, hak rakyat Iran, dan mari kita hentikan kegilaan ini."
Pemimpiun Tertinggi Revolusi Iran, Ayatullah Syed Ali Khamenei dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian konsisten dan konsekuen dengan apa yang mereka ucapkan. Iran akan terus menyerang, sampai Netanjahu dan serdadu zionis Israel menghentikan serangannya..
Iran mengelola inspirasi dari perjuangan Ali bin Abi Thalib karamahu wajhah, khasnya tentang moralitas dan integritas. Nasihat Ali, prajurit mesti menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan dalam keadaan perang |