Dalam Bidikan Militan ISIS

| dilihat 2260

AKARPADINEWS.COM | KELOMPOK radikal Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS) makin melebarkan sayapnya. ISIS yang bermetamorfosis menjadi Islam State (IS) memanfaatkan jaringannya di sejumlah negara untuk menebar teror sebagai strategi menancapkan pengaruhnya di negara-negara yang menjadi targetnya.

Serangan yang terjadi di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1) lalu, menunjukan militan ISIS merambah ke Indonesia dan siap mati demi mengukuhkan eksistensinya. Militan itu hadir di tengah keramaian dan memperlihatkan aksi nekatnya: membunuh dan melukai korban, dan rela terbunuh atau membunuh dirinya sendiri dengan mengatasnamakan jihad.

Keterlibatan ISIS dalam serangan itu diperkuat oleh klaimnya yang mengaku bertanggungjawab atas serangan itu. Dalam pernyataannya, ISIS menegaskan, sekelompok militan "khalifah" di Indonesia, Jakarta, menargetkan aparat keamanan yang melawan ISIS, dengan menanam perangkat peledak, yang meledakan aparat keamanan, dan menggunakan senjata ringan.

Dalam serangan pertama ISIS terhadap Indonesia itu, lima pelaku dan dua warga sipil tewas. Belasan korban lainnya terluka. IS rupanya ingin Indonesia yang dihuni penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi pusat kepemimpinan "khilafah" di Asia. Kepolisian Daerah Metro Jaya mengidentifikasi pentolan ISIS yang mendalangi penyerangan itu bernama Bahrun Naim.

Bahrun pernah ditangkap aparat kepolisian tahun 2011 karena kepemilikan senjata ilegal dan dipenjara selama tiga tahun. Polisi kala itu menyebut dirinya sebagai tokoh kunci dalam jaringan militan di Solo dan di sekitar Jawa Tengah. Tahun lalu, Bahrun diketahui berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan militan ISIS.

Reuters pernah berkomunikasi via telegram dengan Bahrun pada 24 November lalu. Dia memberikan penjelasan tentang rencana serangan yang diberikan salah satu kenalannya. Bahrun menyebut, ada pendukung IS dengan jumlah mencukupi untuk melakukan serangan di Indonesia. "Tinggal menunggu waktu yang tepat," jelas Bahrun.

Lelaki yang pernah menjalankan bisnis warung internet di Solo, Jawa Tengah itu mengaku menikmati kehidupan di Suriah dan tidak punya rencana untuk kembali ke Indonesia. "Saya bergerak, tergantung perintah. Di Suriah, baik. Ada listrik, akomodasi, air, gratis. Layanan yang diberikan mereka baik, lebih murah daripada di Indonesia," katanya. Namun, usai serangan di Sarinah, Bahrun tidak bisa dihubungi untuk memberikan pernyataan.

Serangan di Jakarta diduga telah lama dipersiapkan. Intelijen Amerika Serikat (AS) sudah mencium informasi jika serangan akan terjadi dalam waktu dekat. Pejabat kontra-terorisme, percaya ada sedikitnya 1.000 militan radikal yang tersebar di Indonesia.

Mereka pernah merencanakan serangan pada perayaan Natal dan Tahun Baru. Beruntung, rencana mereka digagalkan aparat kepolisian. Belasan orang yang dicurigai merencanakan serangan itu ditangkap. Para terduga teroris itu ditangkap oleh Densus 88 Polri di Cilacap (Jawa Tengah), Tasikmalaya (Jawa Barat), Sukoharjo (Jawa Tengah), Mojokerto dan Gersik (Jawa Timur).

Polisi menemukan bahan untuk membuat bom, rompi bunuh diri, dan modul-modul jihad di lokasi penggerebekan. Beberapa dari mereka yang ditangkap mengaku menerima dana dari Bahrun, yang ingin Indonesia diatur secara ketat dengan syariat Islam. Menurut Kepala Kepolisian Daerah Jakarta, Inspektur Jenderal Polisi, Tito Karnavian, Bahrun berambisi menjadi "pemimpin" ISIS di Asia Tenggara.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton CH juga menjelaskan, polisi menemukan bendera ISIS di rumah salah satu tersangka penyerangan Sarinah. "Di salah satu rumah tersangka yang sudah kami geledah, didapatkan bendera ISIS," kata Anton saat meninjau lokasi pengeboman, Jumat (14/1).

Dia menambahkan, serangan di Sarinah ada kaitannya dengan jaringan lama dan masih dalam penyelidikan Polri. "Jaringan mereka itu seperti sel, artinya kadang hidup kadang mati," ujar Anton seraya menambahkan Polri telah bergerak dan mengejar kelompok dan aktor intelektual di balik penyerangan tersebut.

Sidney Jones, pengamat terorisme yang berbasis di Jakarta pada pertengahan November lalu telah memperingatkan akan adanya serangan ISIS. Dalam sebuah posting blog berjudul "Pelajaran dari Serangan Paris," Bahrun juga memperingatkan militan ISIS untuk mempelajari perencanaan, penargetan, waktu, koordinasi, keamanan dan keberanian seperti militan yang melakukan serangan di Paris.

Setelah serangan yang terorganisir di Paris, Perancis, November 2015 lalu, militan IS mempublikasikan blog yang memberikan penjelasan kepada para pengikutnya untuk melakukan jihad lewat "perang gerilya" di hutan khatulistiwa di Indonesia.

Serangan di Jakarta, memang tidak menimbulkan banyak korban dibandingkan serangan di Paris. Itu karena militan menggunakan senjata yang tidak canggih dan jumlah peluru yang sedikit, serta tanpa pelatihan. Namun, serangan itu menunjukan kenekatan militan. Mereka berani tampil di tengah keramaian. Pola serangan yang berubah. Sebelumnya, dengan cara-cara meledakan diri dan bergerak sendiri.

Munculnya IS mengingatkan kembali aktivitas kelompok radikal di Indonesia. Ratusan orang Indonesia diyakini telah bergabung dengan kelompok IS di Suriah selama dua tahun terakhir. Di sana, mereka bergabung dengan militan dari Malaysia untuk membentuk unit-unit di negaranya. Puluhan kelompok asal Indonesia itu berjanji untuk setia kepada IS.

Sebelumnya, otoritas Turki menahan 16 warga negara Indonesia (WNI) lantaran diduga akan bergabung dengan IS. Laporan Polri juga menyebut nama-nama WNI yang ditahan itu antara lain: Ririn Andrian Sawir, Qorin Munadiyatul Haq, Nayla Syahidah, Jauza Firdaus Nuzula, Ikrimah Waliturohman, Alya Nur Islam, Agha Rustam Rohmatullah dan Abdurahman Umarov. Lalu, Tiara Nurmayanti Marlekan, Syifa Hidayah Kalashnikova, Daeng Stanzah, Ifah Syarifah, Ishaq, Asiyah Mujahidah, Aisyahnaz Yazmin, dan Muhammad Ihsan Rais.

Polri juga merilis nama-nama WNI yang belum diketahui keberadaannya di Turki antara lain: Usman Mustofamahdani, Sakinah Syawemitafsir, Hapid Umar Babher, Utsman Hafid, Atikah Hapid, Tsabita Utsman Mahdamy dan Salim Muhammad Atamim. Kemudian, Fauzi Umarsalim, Jusman Army, Ulan Isnuri, Hamara Hafshan, Aura Kardova, Dayyan Akhtar, Hamzah Hafiz, Sorayah Cholid, dan Urayana Afra. Mereka diketahui melakukan perjalanan wisata ke Istanbul, dengan menggunakan agen perjalanan Smailing Tour. Setibanya di Istanbul, 24 Februari 2015, mereka memisahkan diri.

Indonesia pernah mengalami serentetan pengeboman yang dilakukan militan yang terkait jaringan al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah (JI). Serangan paling tragis terjadi di Bali tahun 2002, yang menewaskan lebih dari 200 orang. Sementara sebagian besar pemimpin tertinggi JI telah tewas dan ditangkap. Namun, beberapa kelompok sempalannya diyakini masih ada, bahkan ada pemimpinnya yang masih di penjara.

Abu Bakar Ba'asyir disebut-sebut terkait dengan JI. Ulama radikal itu membentuk Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) tahun 2008. Kelompok ini mendukung penerapan syariah Islam di Indonesia. Pada 2012, kelompok JAT ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS.

Ba'asyir terbukti bersalah mendanai pelatihan militan di Provinsi Aceh pada tahun 2011, dan divonis 15 tahun penjara. Dia berjanji setia kepada IS pada Juli 2014, tapi menarik dukungannya pada tahun 2016, dan mengklaim salah dalam memahami gerakan IS.

Lalu, ada pula Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), kelompok sempalan JAT, yang dibentuk pada Agustus 2014 oleh anak Abu Bakar Ba'asyir. Kelompok ini juga berusaha penerapan hukum Islam di Indonesia dan mengklaim memiliki 2.000 anggota yang tersebar di seluruh Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Sumatera.

Ada lagi Mujahidin Indonesia Timur (MIT), yang beroperasi di kawasan hutan dan perbukitan di Poso, Sulawesi Tengah. Pemimpin kelompok itu, Abu Wardah alias Santoso, telah membangun basis dan sering menggelar pelatihan bagi para militan, memproduksi bom rakitan, dan menargetkan polisi. Dia adalah mantan pemimpin JAT cabang Poso. Jum'at (14/1), aksi baku tembak terjadi antara aparat kepolisian dengan kelompok teroris Poso. Insiden itu terjadi di Pegunungan Tinobe, Desa Taunca, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Seorang teroris tewas di lokasi kejadian. Kapolres Poso, AKBP Rony Suseno, yang dihubungi wartawan di Poso, mengatakan, kontak senjata itu terjadi sekitar pukul 07.30-10.30 WITA dan berlangsung selama sekitar tiga jam. "Ada satu orang tewas dari kelompok sipil bersenjata dan jenazahnya sedang dievakuasi," kata Suseno.

Sebelumnya, polisi dan aparat militer melancarkan operasi bersama untuk menangkap Santoso. Namun, Santoso berhasil lolos dari penangkapan. Sementara wakilnya, Daeng Koro, disersi dari anggota Polri, ditembak mati. Anggota kelompok itu merilis sebuah video pada November lalu yang menyebut dirinya sebagai "tentara Negara Islam" dan mengancam akan menyerang polisi dan pemerintah.

Pada Desember lalu, Densus 88 Polri mengklaim, menemukan markas kelompok Poso. Di sana juga ditemukan beberapa bom, peralatan memasak, dan tubuh yang membusuk. Polisi mengkaitkan kelompok itu dengan jaringan al-Qaeda. Namun, metode teror yang dilakukan MIT dengan memutilasi korban hampir sama dengan cara-cara yang dilakukan militan IS.

Serangan di Sarinah, termasuk di Istanbul, Turki, dan Paris, Perancis kembali memancing kemarahan dunia internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon mengutuk aksi brutal di Sarinah. Lewat juru bicaranya, Ban Ki-moon menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada para korban dan mendoakan korban yang terluka segera sembuh. Ban juga menyerukan solidaritas kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Dia menegaskan, tidak ada pembenaran apa pun bagi aksi terorisme dan berharap agar pelaku serangan dapat segera diseret ke pengadilan.

ISIS yang awalnya bergerak dan memiliki jaringan di lingkup lokal memang telah bermetamorfosis menjadi gerakan radikal global. Cikal bakal ISIS awalnya merupakan organisasi bersenjata kelompok Sunni Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ) yang dideklarasikan tahun 2003 lalu. Kelompok radikal itu tujuannya melakukan perlawanan terhadap invasi militer AS terhadap Irak.

Di tahun 2006, JJASJ bermetamorfosis menjadi Islamic State of Iraq (ISI) yang dipimpin Abu Umar al-Baghdadi yang meninggal tahun 2010 dan dilanjutkan Abu Bakar al-Baghdadi. Organisasi itu juga bertujuan mengusir militer AS. Setelah AS mengakhiri invasi di Irak, ISI kemudian mengarahkan perjuangan dengan melakukan perlawanan terhadap pasukan penguasa Suriah, Bashar al-Assad. Karenanya, ISI bermetamorfosis menjadi ISIS.

Kini, gerakan radikal ISIS diduga akan makin memperluas serangan-serangan militernya, bukan hanya di Irak dan Suriah, sehingga mulai bermetamorfosisi menjadi  Islamic State (IS).

Jumlah anggotanya meningkat, mencapai puluhan ribu militan, yang direkrut dari berbagai negara. Direktur Central Intelligence Agency (CIA), John Brennan menyebut, ISIS memiliki jaringan di 90 negara. ISIS diyakininya menjadi ancaman serius, tidak hanya untuk Suriah dan Irak, tetapi juga ancaman bagi AS dan negara-negara lain, khususnya yang menjadi mitra AS.

IS juga sebelumnya mengklaim memiliki banyak militan dari Inggris, Prancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya, termasuk AS, Jazirah Arab, dan 36 wilayah dari kawasan Asia dan Pasifik.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Reuters/BBC/Antara
 
Humaniora
21 Okt 26, 22:16 WIB | Dilihat : 110
Hamdan Zoelva Gugah Kesadaran Kebangsaan
10 Okt 26, 19:36 WIB | Dilihat : 256
Pertamina Bantu Perajin Desa Adat Sade
09 Okt 26, 17:53 WIB | Dilihat : 315
Anne Carson Raih Nobel Sastra 2026
Selanjutnya
Lingkungan
05 Sep 26, 11:26 WIB | Dilihat : 623
Hutan Kalimantan Membara Jerebu Kepung Sarawak
24 Agt 26, 19:51 WIB | Dilihat : 523
Angin Selatan Hantar Jerebu ke Serawak dan Brunei
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 830
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 881
Jakarta Baur Budaya
Selanjutnya