Melawan Fasik dan Kekerasan

Wukuf

| dilihat 2443

Bang Sem

PARA jama’ah, tengah melakukan wukuf di padang Arafah.  Itulah puncak ibadah haji. Al hajj, Arafah! Begitulah Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan. Jadi, tak berhaji seseorang tanpa wukuf di Arafah. Pada saat wukuf itulah, setiap jama’ah haji menginsyafi dirinya, sehingga ia sungguh mengenali dirinya.

Selepas itu, para jama’ah haji bergegas meninggalkan Arafah untuk melakukan mabit (bermalam) di musdhalifah, mengumpulkan kerikil, untuk kemudian keesokan harinya melontar jamarat di Mina. Meneguhkan komitmen ketaqwaan-Nya kepada Allah dan tak bertoleransi dengan segala keburukan yang tak henti ditransformasikan iblis. Mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Lalu berkurban.

Selepas itu, bergegas ke Baitullah untuk melakukan tawaf, masih dalam keadaan berihram. Artinya terikat oleh ketentuan ketat untuk mengendalikan diri tidak melakukan fusuq dan jiddal. Menjaga mulut dan hati untuk tidak menjadikan mulut sebagai sembilu dan tidak menggunakan raga untuk ‘membunuh,’ bahkan terhadap flora dan fauna yang terkecil.

Keseluruhan rangkaian ibadah haji adalah proses keinsyafan diri untuk sungguh mengenali diri dengan segala proses dan prosedur yang telah diatur Allah SWT dan dicontohkan oleh Nabi Ibrahim alaihis salam, dan diteladankan oleh Muhammad Rasulullah SAW.  Ibadah haji adalah paduan ibadah fisik dan spiritual yang terintegrasi, mendorong manusia mempunyai integritas paripurna.

Di Arafah inilah, ketika melaksanakan haji wada’ (perpisahan) di penghujung hayatnya, Rasulullah Muhammad SAW, saat berkhutbah beroleh wahyu Allah SWT: “Pada hari ini, telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai jalan hidup bagimu..” (QS Al Maa’idah:3).

Banyak pelajaran amat berharga dari wukuf di Arafah. Selain melatih manusia untuk jauh dari hasad, hasud, iri, dengki, berkeluh kesah dan berpandangan negatif terhadap orang lain, juga melatih manusia untuk menyadari, bahwa kewajiban asasi manusia merupakan prioritas, yang memungkinkan mereka beroleh hak asasinya.  Di wilayah Arafah ini juga tempat bertemunya Adam dan Hawa di bumi, yang mengajarkan manusia untuk selalu memandang hidup dengan cinta dan kasih sayang.

Bila seluruh hamparan bumi ini adalah Arafah, dan setiap hari adalah momentum wukuf, niscaya kehidupan ini, sangat indah dan damai. Karena setiap hari, melalui salat, di mana saja, manusia membentangkan dosa-dosanya, memupuk rasa malu terhadap dirinya yang terlalu sedikit memberi, terlalu banyak meminta dan menuntut. Terlalu sedikit bersabar karena terlalu banyak berkeluh kesah. Terlalu sedikit bersikap ikhlas, karena selalu tak pernah puas. Sedikit bersyukur, karena terlalu sering kufur nikmat. | 

Editor : Web Administrator
 
Budaya
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 309
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 744
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 700
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 651
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
Selanjutnya
Humaniora
23 Agt 26, 12:57 WIB | Dilihat : 101
Keterbatasan Bukan Penghalang
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 472
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
06 Jul 26, 09:02 WIB | Dilihat : 403
Ragam Gaya Retorika Presiden
Selanjutnya