
AKARPADINEWS.COM | RAKYAT India menundukan kepala dan membungkukan badannya. Demikian pula para pemimpinnya. Presiden Pranab Mukherjee, Wakil Presiden Hamid Ansari, Perdana Menteri Narendra Modi, Menteri Persatuan M Venkaiah Naidu, Ketua Kongres Sonia Gandhi dan beberapa pemimpin lainnya melakukan hal serupa. Mereka berdoa, memberi penghormatan, dan meletakan karangan bunga di tempat prosesi kremasi Mohandas Karamchand Gandhi (Mahatma Gandhi) di New Dehli. Ritual yang digelar 2 Oktober 2015 itu untuk mengenang hari lahir Gandhi ke-146 tahun.
Gandhi sangat dihormati. Rakyat India menganugerahi gelar padanya sebagai bapak bangsa (father of the nation). "Penghormatan yang tulus kepada bapak bangsa," tulis Modi lewat akun twitternya. Gandhi dikenang sebagai pemimpin nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Gandhi juga dikenang sebagai sosok humanis yang menginginkan rakyat India hidup tanpa diskriminasi.
Sosok Gandhi tidak hanya melekat di memori rakyat India. Namun, namanya juga dikenang di seantero dunia. Pasalnya, pengaruh Gandhi bagi terciptanya perdamaian di dunia sangat besar. Masyarakat internasional mengenangnya sebagai inisiator gerakan perlawanan terhadap penindasan, tanpa menggunakan kekerasan.
Model gerakan yang dilakukan Gandhi menginsipirasi gerakan masyarakat sipil internasional yang menuntut penghormatan hak asasi manusia dengan cara-cara damai. Karenanya, persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), yang pada tahun 2007 lalu, mengukuhkan tanggal kelahiran Gandhi, 2 Oktober sebagai Hari Tanpa Kekerasan Internasional. Gandhi lahir tanggal 2 Oktober 1889, di Porbandar, Gujarat, India.
Gandhi, memang bukan pencetus gerakan perlawanan tanpa kekerasan. Namun, dia adalah aktor yang kali pertama menerapkannya dalam mendorong perubahan sosial dan politik dalam skala besar. Pejuang anti apartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, terinspirasi oleh Gandhi, termasuk Khan Abdul Ghaffar Khan, Steve Biko, dan Aung San Suu Kyi. Mandela adalah seorang pengagum filosofi perlawanan tanpa kekerasan Gandhi.
Gandhi yang pernah menetap di Afrika Selatan dan turut terlibat dalam gerakan sosial yang menentang diskriminasi di sana, mengilhami munculnya generasi penerus di Afrika Selatan untuk mengakhiri kekuasaan kulit Putih. Mandela melanjutkan warisan Gandhi hingga akhirnya mengubah Afrika Selatan menjadi bangsa yang merdeka.
Gerakan Gandhi yang menginspirasi dunia itu juga diapresiasi sejumlah tokoh dan pemimpin dunia. Ilmuwan terkemuka, Albert Einstein, di tahun 1931, pernah berkirim surat ke Gandhi. Dalam suratnya, penemu teori relativitas itu menyebut Gandhi sebagai panutan generasi yang akan datang. Musisi legendaris asal Inggris John Lennon menyebut Gandhi ketika mengungkap pandangannya tentang isu-isu perdamaian. Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berpidato Parlemen India tahun 2010 menyadari jika dirinya tidak mungkin berdiri di hadapan parlemen India sebagai Presiden AS, tanpa Gandhi.

Bagi Obama, Gandhi menebar pesan kepada negaranya dan dunia. Gandhi, melakukan banyak hal dan mengubah dunia hanya dengan kekuatan etika. Obama menyatakan, sepanjang hidupnya, dia selalu menemukan inspirasi dalam kehidupan Gandhi yang mengajarkan tentang kesederhanaan, melakukan perubahan yang diharapkan manusia di dunia. Sementara seniman Kenya asal India, Kirti Mandir, di Edinburgh, Skotlandia, mendidikasikan karyanya untuk menghormati Gandhi dengan membuat Patung Gandhi yang dinamakannya Apostle of Non Violence (Rasul Non Kekerasan).
Sikap, perilaku dan ajaran-ajaran Gandhi memang menginspirasi masyarakat dunia. Dia menjadi mentor bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ide-ide pencerahan. Gandhi menciptakan instrumen atau pendekatan baru dan manusiawi dalam mendorong pembebasan bangsa-bangsa yang tertindas. Dia mengutamakan kekuatan moral, menyadarkan manusia agar menggunakan akal dan pikirannya secara beradab dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan, dibandingkan cara-cara brutal yang mewarisi dendam berkepanjangan.
Dalam otobiografinya, The Story of My Experiments With Truth (Mahadev Desai, 2009), Gandhi menyadari jika tidak mudah melakukan cara-cara tanpa kekerasan dalam melakukan perjuangan karena membutuhkan kekuatan iman yang luar biasa dan keberanian, yang tidak semua orang memilikinya. Karena itu, ia pun berpendapat, setiap orang tidak perlu mempertahankan cara-cara antikekerasan, apalagi karena jiwa pengecutnya. Gandhi menegaskan, jika ada pilihan antara pengecut dan kekerasan, ia akan memilih kekerasan.
Pemikiran dan perjuangan Gandhi dipengaruhi para pemimpin pergerakan hak-hak sipil seperti Martin Luther King, James Lawson, dan James Bevel, dan sebagainya. Gandhi juga mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad. Dia menyakini, bukan pedang yang menyebabkan kebesaran Islam pada masanya. Tapi, Islam datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad beserta sahabatnya, tekad, keberanian dan keyakinan pada Tuhan dan tugasnya.
Tragis memang. Gandhi yang menyuarakan memperjuangkan penindasan dengan cara-cara manusiawi, justru tewas akibat kekerasan. 30 Januari 1948, Gandhi menghembuskan nafas terakhir lantaran ditembak seorang ekstrimis Hindu yang menentang cara-cara kompromistis ketika kondisi negara berada dalam pusaran perang saudara. Gandhi dianggap terlalu lunak tatkala menghadapi kelompok separatis Islam yang menuntut pisah dari India, membentuk negara sendiri: Pakistan.

Gandhi sejatinya tidak ingin India terbelah. Karenanya, dia hadir sebagai juru damai. Gandhi menolak diam tatkala menyaksikan tindakan barbar yang dilakukan sekelompok warganya terhadap warganya yang lain. Dia turun ke jalan, menggalang dukungan massa, dan menggelar aksi simpati. Dia bersedia berpuasa hingga mati untuk menghentikan pertumpahan darah dan air mata.
Meski sebagai pemimpin religis Hindu, Gandhi menentang perlakuan diskriminatif, akibat dominasi mayoritas Hindu terhadap warganya yang beragama Islam, termasuk Kristen, Budha, Shikh, atau Zaratrustha.
Gandhi menjamin keselamatan dan hak-hak warga muslim yang merupakan kelompok minoritas di negaranya. Asalkan, mereka tidak memisahkan diri dari India. Gandhi mencoba untuk menyakinkan Muhammad Ali Jinnah, pemimpin Liga Muslim India, jika umat Islam di India tidak akan mengalami diskriminasi akibat dominasi warga Hindu yang merupakan mayoritas.
Gandhi ingin India menjadi negara yang menaungi dua agama besar: Hindu dan Islam. Dua agama itu, dinilai Gandhi, sebagai satu kesatuan yang berasal dari peradaban yang sama. Karenanya, Gandhi tidak menyetujui partisi (pemisahan) India-Pakistan. Namun, Jinnah khawatir keselamatan umat Islam di Hindia terancam jika Gandhi telah tiada. Maka, berdirilah Republik Islam Pakistan dan menjadikan Jinnah sebagai Perdana Menteri pertama. Perpecahan itu sangat disesalkan Gandhi.
Gandhi juga menentang perbedaan status sosial yang menghinakan manusia. Karenanya, dia ingin kaum Paria, yang derajatnya dihinakan, dipulihkan dan dimuliakan. Kala itu, ada sekitar 50 juta kaum Paria di India atau sekitar seperlima dari penduduk di kawasan tersebut. Sikap Gandhi itu ditentang kaum Ahmedabad, yang merasa statusnya lebih tinggi dari kaum Paria. Intimidasi pun dilancarkan. Namun, Gandhi tak gentar. Dia tetap dengan sikapnya: menuntut kesetaraan hak kaum Paria. Baginya, perbedaan status itu mengotori nilai-nilai agama. Gandhi menyuarakan persamaan derajat sebagai tujuan religisnya.
Kepemimpinan Gandhi tidak terlepas dari ajaran brahmacharya, styagraha dan ahimsa. Baginya, manusia yang menjalani hidup tanpa mengaktualisasikan brahmacharya, laksana binatang. Manusia menjadi kejam, liar, lantaran tidak memiliki pengendalian diri (self control). "Seorang brahmachari sejati, tidak akan bermimpi akan pemuasan nafsu jasmani," kata Gandhi.
Sejak tahun 1900, Gandhi setia dengan brahmacharya. Karenanya, untuk menghindari rasa takut kepada siapapun, Gandhi rela hidup miskin dan tidak mengenakan pakaian yang diimpor dari Inggris. Kesederhanaan Gandhi itu juga tidak terlepas dari kepatuhannya melaksanakan ajaran ibunya, Putlibai, wanita saleh yang mengadopsi ajaran Pranami.

Ibunya mengajarkan untuk hidup sederhana dengan berpuasa sesuai ajaran agama yang dianutnya. Seringkali dalam dua atau tiga hari di kala musim hujan, Putlibai tidak berbuka. Puasa itu bertujuan agar manusia mampu mengendalikan diri, sekaligus menyucikan diri. Putlibai juga melarang anaknya makan makanan sebelum berdoa. Sementara ajaran satyagraha menekankan pada konsistensi dalam memperjuangkan kebenaran dengan tetap berpegang teguh pada ajaran Tuhan. Satyagraha menjadikan Gandhi sebagai sosok yang tidak akan mundur tatkala memperjuangkan kebenaran.
Dia pun menolak kompromi demi memperjuangkan kebenaran. Ajaran itu dilakoni Gandhi tatkala memperjuangkan hak-hak warga India di Afrika Selatan yang mengalami diskriminasi. Gandhi menyerukan agar dilakukan cara-cara non kooperatif untuk melawannya. Sedangkan ajaran Ahimsa menekankan penyelesaian masalah tanpa kekerasan. Dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan melawan segala bentuk diskriminasi, agitasi yang digalang Gandhi, selalu menekankan upaya tanpa kekerasan. Namun, bukan berarti Gandhi takut mati. Baginya, kematian bukanlah teror.
Dalam sebuah tulisan di Harijan pada tahun 1938, tatkala menyikapi tindakan antikemanusiaan yang dilakukan Nazi Jerman terhadap warganya yang keturunan Yahudi, Gandhi menyatakan, apabila ada perang yang dapat dibenarkan atas nama kemanusiaan, perang melawan Nazi untuk mencegah penyiksaan tidak bermoral dan tanpa alasan kepada seluruh ras, bisa dibenarkan.

Gandhi berasal dari keluarga pedagang yang menghuni kawasan pesisir Gujarat, India barat. Dia lahir dalam kamar yang gelap di Kota Porbandar. Gandhi kecil digambarkan oleh adiknya Raliat dalam buku Gandhi before India karya Ramanchandra Guha (2015) sebagai anak yang gelisah. Dia menyukai cerita tradisional Shravana dan Raja Harishchandra. Cerita itu berdampak besar pada pembentukan karakternya. Gandhi mengakui, tokoh-tokoh itu meninggalkan kesan yang tak terhapuskan dalam pikirannya. "Ini menghantui saya dan saya harus bertindak seperti Harishchandra untuk diri saya sendiri...."
Gandhi besar dalam keluarga yang berlatarbelakang agama yang kuat. Ayahnya, Karamchand beragama Hindu, dan dibesarkan dengan ajaran Vaishnavi, salah satu sekte di Hindu. Para penganutnya menyembah Dewa Vishnu atau Krishna. Pada tahun 1874, Karamchand meninggalkan Porbandar, menuju negara bagian Rajkot. 21 Januari 1879, Gandhi sekolah di Rajkot. Ia siswa yang rajin, meski nilai pelajarannya tidak begitu istimewa. Di sekolah, Gandhi berinteraksi dengan teman-temannya yang berasal dari suku dan agama yang berbeda, termasuk di antaranya adalah dari Parsi (Parsia) dan muslim.
Seorang temannya, Sheikh Mehtab, pernah merayu Gandhi yang vegetarian agar memakan daging untuk meningkatkan staminanya. Dia juga pernah mengajak Gandhi ke rumah bordil suatu hari, tanpa direncanakan. Gandhi yang mengaku hampir mati di kandang dosa itu, menolak untuk berzina dengan pelacur. "Yang Maha Pengampun telah melindungi saya," ucap Gandhi. Dia menyakini jika Yang Maha Kuasa acap menjadi perantara dan menyelamatkan manusia itu sendiri.
Bujukan agar memakan daging dan larut dalam kesenangan duniawi itu, hanya membuat penderitaan mental bagi Gandhi. Karenanya, dia meninggalkan hal itu, termasuk menjauhi Mehtab, meskipun Gandhi mempertahankan hubungan dengan Mehtab, selama bertahun-tahun sesudahnya.
Pada Mei 1883, Gandhi yang berusia 13 tahun, menikah dengan Kasturbai (Kasturba Gandhi), yang usianya, 14 tahun. Karena menikah di usia muda, Gandhi kehilangan satu tahun masa sekolahnya. Di hari pernikahannya, Gandhi tidak begitu tahu makna pernikahan. Kala itu, pernikahan dianggapnya hanya mengenakan baju baru, memakan makanan yang enak, dan bersuka cita dengan kerabat. Beberapa tahun kemudian, Gandhi baru mengekspresikan penyesalan pernikahan mudanya.
Di akhir 1885, Karamchand meninggal dunia yang membuat Gandhi merasa berdosa. Pasalnya, dia tidak bisa selalu merawat ayahnya. Tatkala ayahnya sakit, Kasturba memang tengah hamil anak pertama dan melahirkan. Gandhi merasakan penyesalan karena tak mampu melayani ayahnya di kala kritis. Pengalaman itu menjadi noda yang menghantui hidupnya. Sebelumnya, Gandhi seringkali merawat ayahnya, membasuh kakinya, meremas, memijat kaki dan tungkai ayahnya hingga tertidur.
Dalam keluarganya, Gandhi diyakini mampu mengangkat derajat keluarganya. Karenanya, dia harus melanjutkan studinya. Mavji Dave, imam Brahmana, menyarankan Gandhi melanjutkan studi ilmu hukum di London dan menjadi pengacara. Gandhi tertarik. Namun, Putlibai awalnya tidak ingin putra bungsunya itu meninggalkan India. Paman Gandhi, Tulsidas juga menghalangi. Gandhi terpaksa harus bersumpah kepada ibunya di hadapan seorang biarawan, untuk tidak akan memakan daging dan meminum alkohol selama di London. Putlibai pun luluh.

Dia merestui Gandhi menempuh studi ilmu hukum di London. Saat meninggalkan Porbandar menuju Bombay, setiba di pelabuhan, Gandhi bertemu dengan sesepuh Modh Bania, yang dikenal keluarganya. Setelah mengetahui rencana Gandhi itu, para sesepuh memperingatkan Gandhi jika dirinya akan dikucilkan jika tidak tetap di India. Namun, Gandhi tetap dengan keinginannya. Gandhi pun menjadi orang buangan.
Gandhi masuk di Fakultas Hukum di Universitas College di London. Umurnya kala itu 18 tahun. Inilah petualangan Gandhi menyusuri peradaban baru. Gandhi belajar bahasa Inggris dengan tekun dengan cara membaca surat kabar seperti Daily News, Daily Telegraph dan Pall mall Gazette. Dia juga belajar beradaptasi, dengan mempelajari etika dan perilaku masyarakat Inggris. Gandhi tinggal di negara yang menjajah negaranya itu, selama tiga tahun. Dia menetap di Holborn, lalu pindah ke Bayswater.
Selama di London, ia memegang teguh sumpahnya kepada ibunya. Misalnya, tidak akan memakan daging. Gandhi terpaksa mengonsumsi makanan vegetarian yang hambar rasanya sehingga dirinya sering merasa lapar. Beruntung, ia menemukan salah satu restoran vegetarian, Central Restaurant, di jalan Farringdon di London.
Di restauran itulah Gandhi terinspirasi pergerakan kaum vegatarian. Gandhi bertemu dengan pemimpin-pemimpin gerakan seperti Henry Salt, Howard William, dan Josiah Oldfield. Di Central Restaurant ini juga berkumpul penyair dan pemikir lainnya seperti Shelley, Thoreau, dan Ruskin. Dari semangat yang terinspirasi dari Vegetarian ia akhirnya membentuk sebuah perkumpulan di lingkungannya Bayswater.
Desember 1890, Gandhi menempuh ujian dan lulus. Kemudian, Juni 1891, Gandhi meninggalkan London, kembali ke India, di mana ibunya telah meninggal dunia. Gandhi sedih lantaran kerabatnya tidak mengabarkan kabar duka itu. Cita-citanya untuk membuka praktek pengacara di Bombay juga gagal. Ia lalu kembali ke Rajkot dengan hidup yang sederhana, sekaligus menangani beberapa perkara. Namun, dia merasa, jika bertahan di India, karirnya tidak akan berkembang.

Gandhi lalu mencoba peruntungan di Afrika Selatan dengan bergabung di perusahaan besar yang tengah mengalami perkara di pengadilan dengan tuntutan 40.000 poundsterling. Perusahaan itu membutuhkan karyawan yang berlatar belakang ilmu hukum. Gandhi pun bergabung. Namun, dia merasa apa yang dilakukannya di perusahaan itu layaknya petugas adminstrasi dan tukang catat dalam bahasa Inggris saja. Bukan sebagai pengacara.
Dia kemudian terjun ke dunia sosial. Tahun 1900, tatkala Perang Boer meletus, Gandhi secara sukarela membentuk kelompok relawan yang bertugas mengemudi ambulans. Gandhi juga merekrut ribuan relawan India. Mereka mendapatkan pelatihan medis agar dapat melakukan pertolongan terhadap korban perang.
Pada tahun 1906, ketika Inggris menyatakan perang terhadap Kerajaan Zulu di Natal, Gandhi mendorong Inggris untuk merekrut relawan India. Pemerintah Inggris menerima usulan Gandhi itu, dengan mengizinkan satu korps penolong yang terdiri 20 relawan India diberdayakan, untuk mengobati tentara Inggris yang terluka. Korps ini diperintahkan Gandhi dan beroperasi kurang dari dua bulan.
Gandhi lalu mengubah haluan menjadi pengacara publik. Nuraninya memberontak tatkala mendapatkan perlakuan diskriminatif. Di Afrika Selatan, dia pernah terlempar dari kereta api di Pietermaritzburg lantaran menolak untuk pindah gerbong. Dia protes lantaran dipindahkan dari gerbong yang khusus untuk penumpang Eropa. Akibatnya, ia dipukuli petugas. Ia pun dilarang menginap di beberapa hotel. Dalam insiden lain, hakim pengadilan Durban memerintahkan Gandhi untuk menghapus sorban. Namun, perintah hakim itu ditolaknya.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik kehidupan Gandhi. Semangatnya menjadi aktivis sosial yang melawan ketidakadilan, membara. Setelah menyaksikan rasisme, prasangka dan ketidakadilan terhadap warga India di Afrika Selatan, Gandhi pun menuntut tempat baginya dan rakyatnya agar tinggal di negara-negara jajahan Inggris.

Di Afrika Selatan, Gandhi pertama kali melakukan pembangkangan sipil, tanpa menggunakan kekerasan saat menjadi pengacara yang memperjuangkan hak-hak sipil masyarakat di sana. Gandhi memulai debutnya sebagai pengacara tatkala melawan Pemerintah Transval yang menerbitkan Undang-Undang Kependudukan, untuk menghalangi datangnya kembali orang-orang India yang telah meninggalkan Afrika Selatan selama Perang Broer.
Pemerintah setempat mengambil sidik jari warga India untuk diregistrasi. Cara-cara itu seakan menempatkan warga India sebagai pelaku kriminal. Gandhi protes. Dia menggalang demonstrasi besar-besaran pada 11 September 1906 di Johannesburg untuk menentang peraturan yang diskriminatif tersebut. Gandhi menyerukan warga India di Afrika Selatan untuk melakukan penolakan. Akibatnya, lebih dari 1500 orang dijebloskan ke penjara di Afrika Selatan karena dianggap melakukan perlawanan.
Pada 6 November 1913, Gandhi memimpin demonstrasi sekitar 5000 orang-orang India, yang kebanyakan bekerja sebagai buruh kontrak di tambang-tambang batubara yang dikuasai orang Eropa. Demonstrasi dilakukan sebagai bentuk penentangan atas pemberlakuan kebijakan yang tidak adil. Gandhi memimpin gerakan itu secara damai. Namun, dia kembali merasakan pengapnya penjara lantaran dituduh menghasut buruh untuk meninggalkan Natal. Hakim memvonisnya sembilan bulan penjara atau membayar denda sebesar enam puluh poundsterling. Gandhi memilih di penjara sambil menyusun gerakan dan pasukan satyagraha yang dipimpinnya.
Pengaruhnya yang makin meluas, mendorong Gandhi untuk berpolitik, dengan tetap mengacu pada nilai-nilai humanis yang diperjuangkannya. Atas permintaan tokoh kunci Partai Kongres India, Gopal Krishna Gokhale, Gandhi kembali ke India pada tahun 1915. Gandhi membawa reputasi internasional sebagai nasionalis India, beserta teori terkemukanya dalam memecahkan persoalan konflik lewat jalur damai. Gokhale dikenal seorang moderat. Karenanya, Gandhi bersedia bergabung dengan Kongres Nasional India, dan mengambil pendekatan liberal Gokhale yang didasarkan pada tradisi Whiggish dari Inggris dan mengubahnya agar terlihat bercorak India.
April 1918, di akhir Perang Dunia I, Viceroy mengundang Gandhi menghadiri Konferensi Perang di Delhi. Gandhi setuju untuk aktif merekrut relawan India untuk berperang. Berbeda dengan Perang Zulu 1906 dan pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914, ketika ia merekrut relawan untuk Ambulance Corps, kali ini Gandhi berusaha merekrut pejuang.
Juni 1918, Gandhi menulis dan menyebarkan selebaran yang isinya menyerukan untuk bergabung. Ia menyerukan agar rakyat India memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri, kemampuan untuk memanggul senjata dan menggunakannya. Meski demikian, dalam suratnya kepada Viceroy, Gandhi secara pribadi menegaskan, tidak akan membunuh atau melukai siapa pun. Kampanye Gandhi merekrut pejuang itu dipertanyakan. Gandhi dianggap tidak konsisten pada perjuangan non-kekerasan (Ahimsa).
Prestasi besar pertama Gandhi datang pada tahun 1918 dengan melakukan agitasi Champaran dan Kheda. Agitasinya di Champaran memobilisasi kekuatan petani lokal untuk melawan tuan tanah yang sebagian besar warga Inggris yang didukung pemerintah daerah. Gandhi protes lantaran petani dipaksa memproduksi tanaman yang diminta pasar Inggris. Gandhi menentang penerapan sistem Tinkathia (kewajiban petani untuk menanam nila pada tiga petak dari 20 tanah miliknya). Akibat mobilisasi itu, produksi menurun lebih dari dua dekade. Petani menolak dipaksa menjual hasil panen perkebunan dengan harga yang murah. Gandhi menghimbau petani melakukan protes tanpa kekerasan, dan memenangkan konsesi dari pemerintah.

Pada tahun 1918, Kheda dilanda banjir dan kelaparan. Kaum tani pun menuntut keringan pajak. Gandhi kemudian memimpin pergerakan, dengan tetap konsisten menggunakan pendekatan non-kerjasama sebagai teknik. Dan, Gandhi memulai kampanyenya dengan meminta dukungan masyarakat lewat tanda tangan, di mana petani tidak akan membayar pajak dari pendapatan, meski di bawah ancaman penyitaan tanah.
Gandhi bekerja keras untuk memenangkan dukungan publik atas upayanya melakukan agitasi di seluruh negeri. Selama lima bulan, tututan itu ditolak pemerintah. Namun, pada akhir Mei 1918, pemerintah memberi jalan dengan melahirkan peraturan penting, meringankan pembayaran pajak pendapatan hingga kelaparan berakhir.
Di tahun 1919, kepemimpinan Gandhi mulai menonjol dengan menggerakan rakyat India untuk melakukan Hartal (pembersihan diri dan puasa) sebagai upaya menentang Rencana Undang-Undang Rowlatt, RUU tentang Kewarganegaraan. Hartal merupakan persiapan satyagraha, di mana rakyat diajak untuk melakukan perlawan tanpa kekerasan dalam wujud pembangkangan sipil. Sayang, gerakan ini gagal karena kerusuhan meletus di Ahmedabad. Gandhi menangguhkannya hingga rakyat menangkap makna damai, suatu makna yang hanya bisa dipahami bila rakyat sudah dapat bertindak sejalan dengan Ahimsa.
Kala itu, Gandhi juga berupaya merangkul dukungan dari warga Muslim, yang menggalang gerakan Khilafat. Sebagian besar umat Muslim takut akan keselamatannya dan penghancuran terhadap tempat-tempat ibada mereka. Meski Gandhi tidak menjadi bagian dari Konngres persatuan muslim se-India, dia memiliki andil yang sangat besar dalam memediasi. Gandhi menjadi juru bicara paling menonjol dan mampu menarik basis yang kuat konstituen Muslim di semua basis Muslim di India.
Pada tahun 1920, Gandhi menjadi seorang pemimpin besar di Kongres. Ketokohannya tidak tertandingi dengan tokho lain seperti Bal Gangadhar Tilak, Bipin Chandra Pal dan Mohammad Ali Jinna. Gandhi tak henti memerangi kekerasan komunalisme bermuatan politis di India.
Gerakan satyagraha pun dicetuskannya di tahun 1921 untuk menentang reformasi konstitusi di bawah The Montaqu-Chelmsford. Dalam gerakan itu, secara hati-hati Gandhi menolak keterlibatan tentara dan polisi untuk menghindari terjadinya kekerasan. Dia mendesak agar transfer kekuasaan dilakukan dengan tindakan non kooperasi. Namun, gerakan itu gagal. Ia pun tidak bisa membalikkan pertumbuhan yang cepat komunalisme setelah tahun 1922. Kerusuhan agama pun pecah di berbagai kota. Proporsi Muslim di antara delegasi di Kongres pun turun tajam, dari 11 persen pada tahun 1921 menjadi di bawah empat persen pada tahun 1923. Di tahun 1922, Gandhi pun dijebloskan ke penjara.
Di bawah kepemimpinannya. Kongres direorganisasi dengan konstitusi baru, dengan tujuan Swaraj. Keanggotaan dalam partai dibuka untuk siapa pun. Hirarki komite pun dibentuk untuk meningkatkan disiplin, serta mengubah partai dari organisasi elit ke massa. Gandhi memperluas platform non-kekerasan yang kemudian dimasukannya ke kebijakan, the swadeshi, boikot barang buatan luar negeri, terutama dari Inggris.
Selain memboikot produk Inggris, Gandhi mendesak orang-orang untuk memboikot lembaga pendidikan Inggris dan pengadilan, dan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai abdi pemerintah demi kehormatan. Pendekatan non kooperasi itu mampu menyedot simpatik khalayak luas dan sukses menggalang dukungan, meningkatkan partisipasi dari semua strata di India. Namun, gerakan itu berakhir tiba-tiba sebagai akibat bentrokan di kota Chauri Chaura, Uttar Pradesh, pada Februari 1922. Khawatir akan memunculkan kekerasan, Gandhi membatalkan kampanye pembangkangan sipil secara massal.
Dia kembali berpolitik di tahun 1929, dengan menyerukan kemerdekaan dari Inggris, dan tetap mengorbarkan gerakan satyagraha untuk menentang UU garam yang dimonopoli pemerintah. Gandhi berhasil mengajak rakyat untuk pergi ke laut dan membuat garam sendiri.

Sampai tanggal 26 Januari 1930, Kongres Nasional India menyatakan kemerdekaan India. Inggris menolaknya, tapi negosiasi terus dilakukan dengan Kongres. Gandhi dan Kongres pun menarik dukungan terhadap Inggris ketika Pemerintahan Viceroy menyatakan perang terhadap Jerman pada September 1939, tanpa konsultasi. Ketegangan meningkat sampai Gandhi menuntut kemerdekaan pada tahun 1942 dan Inggris menanggapi dengan memenjarakan Gandhi beserta pemimpin Kongres India. Penjara tak mampu menghentikan upaya Gandhi memperjuangkan kebenaran, dengan cara-cara non kerjasama dan tanpa kekerasan.
M. Yamin Panca Setia