
AKARPADINEWS.COM | POLISI baru saja menangkap seorang germo, anak muda berusia 25 tahun. Pelacur yang menjadi obyek germo muda itu, seorang model majalah dewasa berinitial A-A, yang konon seorang artis pemain film kusut bertema mistik. Sang germo memasang tarif yang membuat mendelik orang-orang miskin. Hidung belang yang akan ‘menikmati’ sang artis, harus merogoh kocel antara sampai 200 juta rupiah.
Ini bukan cerita baru. Sejak lebih sedasawarsa lalu, praktik begini, dengan format dan moda yang lain, sudah berlangsung. Beberapa artis dalam film-film kusut dan buram, melakukan praktik prostusi terselubung untuk kalangan tertentu. Dan, lelaki hidung belang yang menjadi konsumennya, boleh diduga bukan mereka yang memperoleh hartanya dengan cara yang halal.
Sejak idealisme komersialistik menjalar dan berkembang di paruh era ‘ekonomi sebagai panglima’ dekade 70-an, dan hedonisme menghempas masyarakat dengan kehidupan serba benda, hal-hal semacam ini terjadi. Pangkalnya adalah proses reduksi nilai agama dan budaya yang sedemikian parah.
Ketika dunia politik dirasuki oleh praktik machiavellism, dunia ekonomi diremuk-redamkan oleh arus besar komersialisme, dan ideologi politik dibekuk begitu rupa oleh sekadar perburuan kekuasaan sebagai cara untuk menguasai sumberdaya ekonomi, maka: idiom primitif : tahta, harta, dan penistaan perempuan berlaku.
Celakanya, hal-hal semacam itu dianggap biasa, dan kemudian dianggap lumrah. Termasuk kedurhakaan (anak) yang secara sengaja mengontaminasi dunia artis terhadap ibunya. Kesemua itu akhirnya berkorelasi dengan cara-cara memperoleh tahta dengan prinsip transaksional, memperoleh harta dengan cara korupsi, dan penistaan perempuan dengan cara membeli impian mereka secara khayawani.
Secara kasad mata, semua itu tali temali dengan proses penghancuran generasi muda melalui penyalahgunaan narkoba dan zat psikotropika. Penggunaan sarana massa telekomunikasi untuk kepentingan penipuan dan aksi kejahatan lain. Dalam situasi demikian, media lebih sibuk mengejar kecepatan informasi dibanding ketepatan berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Secara budaya (kalau tidak mau mendekati secara agama), realitas brutal yang sedang kita hadapi sebagai fenomena sosial, itu sesungguhnya tak hanya terkait dengan dunia artis. Fenomena itu bahkan merambah dan merusak ke mana-mana. Termasuk mencemari kehidupan sosial masyarakat dari kalangan keluarga biasa.
Situasi demikian terjadi berbarengan dengan persteruan politik praktis yang tak berkesudahan, penistaan nilai melalui proses reduksi budaya yang intensif, dan polarisasi pemahaman keagamaan dengan cara pandang yang ektrem.
Para pemimpin umat yang seharusnya melakukan guidence and counseling terhadap umat, berkutat dengan pertentangan dan perseteruan mazhab. Mengikhlaskan leher mereka diseret ke kiri dan kanan untuk akhirnya berkutat dalam friksi sosial. Lantas mengabaikan peran dan tugas utama sebagai pemandu umat. Para penegak hukum, juga sibuk berebut wewenang dan wibawa, sehingga tak jelas lagi, bagaimana rakyatr (umat) mesti memahami law enforcement. Apalagi, ketika penjara penuh, dan pemerintah tak punya cara bagaimana mesti menampung pelaku kejahatan yang kian meningkat jumlahnya.
Ironi bangsa, kebebalan pemimpin, dan ketakberdayaan orang tua menghadapi arus besar deformasi dan dekonstruksi hudaya, lalu terjadi dengan membiarkan diri terjebak dalam polarisasi yang tak perlu. Dan di antara kita yang sangat banyak menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga hanya untuk berkonflik untuk urusan-urusan sepele.
Di tengah ironi bangsa, mari kita jeda sejenak. Renungkan: apa sungguh yang harus kita lakukan dalam situasi seperti ini? Apa kontribusi kita untuk mengurai sumbatan masalah pada sociocultural bottleneck yang sedang membekuk kita. Saatnya kita kembali ke fungsi masing-masing.
Ulama, intelektual, uruslah kembali ummat dan rakyat, hindari diri dari pertentangan mazhab yang tak perlu (karena hanya Allah saja Sumber Kebenaran) dan bergeraklah ke arah pembinaan akhlak dan muamalah berbasis akidah universal. Para budayawan, kembalilah menjadi budayawan dan penggerak peradaban.
Para petinggi negeri dan penyelenggara negara, fokuslah pada pelayanan terhadap rakyat, jangan berkutat dengan hal-hal sepele soal kekuasaan dan sikap saling menghancurkan. Para pemilik media, pengendali media, praktisi media, kembalilah ke jalan yang benar. Jalan pencerahan. Termasuk para facebooker dan tweeps.
Para ayah dan ibu, urus anak dan keluarga secara benar: lindungi dirimu dan keluargamu dari petaka. Berikan sedikit saja kontribusi, untuk perubahan lebih baik.. | Bang Sem