
N. Syamsuddin Ch. Haesy
JALAN itu sangat sunyi. Melintas di tengah belantara hutan tropis. Bau tanah dan dedaunan melesat merasuk ke sela hidung, selepas hujan membasuh. Meski lelah terus merambah sekujur tubuh yang mulai basah, kaki harus terus diayunkan, langkah harus terus dilakukan. Gelap harus diterabas, karena masih jauh puncak harus dicapai.
Pada bahu bukit, ketika terlihat dalam remang, dataran agak rata, kami berhenti sesaat, memasang tenda. Meski tak bisa istirah, paling tidak bisa berselonjor sejenak, memberikan rehat bagi kaki dan seluruh otot yang meregang.
Pendakian ini sudah hampir sampai di tujuan. Mentari bersinar bersama pagi. Puncak gunung sudah nampak. Tinggal beberapa depa lagi. Ketika sujud dilakukan di alas basah ketika subuh, telah pula dilambungkan harap kepada Sang Pemilik daya, agar kaki bisa terus diayunkan untuk mencapai puncak hari ini.
Pendakian yang kami lakukan memang bukan ke Mount Everest, tidak juga ke puncak gunung Kilimanjaro. Hanya sekadar puncak gunung Dola Koya-Koya di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Dari puncaknya, nampak hampar laut Banda yang membiru dengan segala keindahan dan kekayaan yang disimpan Tuhan di dalamnya. Tapi, bukan gunung itu benar yang ingin diekspresikan. Melainkan proses pendakian.
Bagi para pendaki gunung dan penempuh rimba, proses pendakian adalah kerja multi dimensi. Memerlukan proses organizment dengan segala standard operating procedures-nya. Perlu perencanaan dan manajemen, termasuk perencanaan turun ketika puncak sudah terdaki dan berada di telapak kaki, walaupun dalam aktualisasinya tidak seluruh rencana itu terpatuhi.
Perlu road map untuk memilih jalan paling efektif dan paling efisien mencapai puncak. Paling tidak untuk mengitung hambatan, tantangan, dan strategi yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

Setiap insan yang hendak memasukkan dirinya sebagai ‘sebaik-baik insan,’ tentu akan merasa dirinya diciptakan Tuhan sebagai pendaki. Hidup itu sendiri adalah proses pendakian. Untuk itu Tuhan memberikan alat kelengkapan yang sempurna: akal pikiran, naluri, rasa, dan indria. Harmoni keseluruhan alat kelengkapan itu menjadi daya bagi manusia dalam melakukan pendakian, terutama pendakian puncak karir yang hendak dituju.
Bagi sebagian orang yang tak merasa tertakdirkan sebagai pendaki, hidup memang bukan pendakian. Kalaupun merasa harus meniti jalan mendaki, dilakukan hanya karena regulasi yang mengaturnya. Oleh karena itu, begitu tiba di bagian pinggang bukit yang datar, dan berada dalam tenda, ia akan merasa nyaman berada di situ, dan berasyik masyuk di dalam tenda.
Selepas itu, mereka akan segara turun kembali. Mereka disebut campers. Para pendaki bukan yang semacam ini. Mereka adalah para hickers. Mereka mempunyai personal road map dalam keseluruhan konteks carrier planning untuk dirinya. Tentu disertai time line, karena hidup manusia dibatasi oleh usia.
Di lingkungan sosial kita sehari-hari, terutama di lingkungan executive profesional, selalu ada pendaki. Merekalah orang-orang yang terus menempa diri untuk menempatkan dirinya sebagai hicker. Mereka tak terpuaskan oleh kerja serampangan, apalagi kerja sekadar kerja. Mereka tak pernah berhenti mengelola intuitive reason untuk menentukan proses visioneering dengan menciptakan berbagai prestasi, yang tanpa direkayasa pasti akan memberikan prestige.
Proses visioneering selalu memberikan mereka cara dan bukan alasan untuk menghasilkan kerja paling berkualitas. Sekurang-kurangnya kontribusi yang bisa diberikan melalui posisi yang dicapai dan amanah yang diberikan kepadanya. Karenanya, para pendaki merupakan orang yang paling berhak berada di puncak. Mungkin, Anda termasuk salah satu pendaki di gunung karir. Pendakian Anda, sampai ke puncak karir, yang banyak diidamkan orang, namun hanya sedikit saja yang bisa mencapainya dengan aman, nyaman, dan selamat duniawi – ukhrawi. |