
PADA kesempatan berbuka puasa bersama beberapa hari lalu, saya jumpa sahabat lama, yang kini hakim di salah satu pengadilan Agama di Jakarta. Saya pandangi wajahnya. “Kau nampak tua,” ujar saya. Dia tersenyum. “Kau juga, tapi lebih nampak ringan..,” balasnya.
Ketika menikmati hidangan berbuka selepas salat maghrib, dia berbisik, “Bagaimana mungkin wajahku tak nampak tua dan berat, setiap hari aku harus berhubungan dengan orang-orang yang mengakhiri sukacitanya dengan air mata dan kemarahan.”
Dia bercerita, rata-rata per hari harus menyelesaikan sengketa rumah tangga untuk sekitar 20 pasangan. Sebagian terbesar adalah pasangan yang baru menikah belum lagi genap lima tahun. Porsinya lebih besar dibandingkan dengan mereka yang sudah melewati pernikahan selama sepuluh tahun atau dua puluh lima tahun.
Umumnya, perceraian itu terjadi akibat pengkhianatan para suami kepada isteri mereka. Ada juga yang bercerai karena persoalan sangat sepele, distorsi komunikasi. Suami berasumsi, isteri berpresumsi. Relatif sedikit yang bercerai hanya karena persoalan ekonomi.
Semuanya berakhir dengan sedih.
Dia tergelak ketika saya kutipkan untuknya omongan Carl Jung, “Even happy life cannot be without a measure of darkness, and the word happy would lose its meaning if it were not balanced by sadness. It is far better take things as they come along with patience and equanimity.”

Hmmm. Ya.. hidup bahagia tak bisa diukur tanpa kegelapan, dan kosakata bahagia kehilangan makna, jika tak terimbangi oleh kesedihan. Mengambil semua itu jauh lebih baik, ketika kesabaran dan ketenangan hati datang bersama.
Ketika keduanya tak datang bersamaan, tak berjalan beriringan, bagi pasangan suami isteri, perceraian adalah jalan pahit yang harus mereka tempuh. Terutama karena perbuatan halal yang dibenci Tuhan itu, selalu menguburkan segala keindahan dengan hal-hal buruk, mengubur sukacita dengan dukacita, menenggelamkan kebahagiaan dengan kesedihan.
Di mata anak-anak yang orang tuanya bercerai, selalu tersimpan impresi yang gelap. Adalah Julian Lennon, putera musisi beken The Beatles, John Lennon yang pernah mengatakan, “Ayah bisa berbicara tentang perdamaian dan cinta dengan suara keras kepada dunia, tapi ia tidak pernah bisa menunjukkan kepada orang-orang yang paling berarti baginya: istri dan anaknya.” Julian bertanya: Bagaimana Anda dapat berbicara tentang perdamaian dan cinta dan memiliki keluarga yang tercerai berai. Tidak ada komunikasi, dan menghadiahkan mereka dengan perceraian? “Anda tak akan bisa melakukan semua itu, bila Anda sungguh mengoreksi diri untuk memperbaiki perkawinan, karena Anda jujur dengan diri sendiri.”
Beberapa hari lalu, saya berkunjung ke Pengadilan Agama tempat sahabat saya selalu menghadapi kisah percekcokan rumah tangga yang dibaluri kepedihan, kemarahan, kesedihan, dan suasana kehidupan yang remang miang. Beberapa ibu yang mengantar anaknya bercerai, nampak menitikkan air mata.
Para suami yang menggugat cerai isterinya, nampak tak mampu membuang sedih. Pun, begitu pula dengan para isteri yang menggugat cerai suaminya. Ironisnya, hal-hal semacam yang saya lihat itu, kini menjadi konsumsi media. Persoalan yang harus tertutup di balik bilik peraduan, kini terbuka ke ruang publik.
Perceraian, bukanlah sesuatu yang indah, meski ada yang meyakininya sebagai jalan untuk meniti cita-cita baru mewujudkan keindahan yang hilang dan terkontaminasi. Tapi, sebaik-baiknya menutup kesedihan dan luka adalah mencegah perceraian.. |