Transformasi Liga Champions Eropa

| dilihat 2556

AKARPADINEWS.COM| Klub-klub elit Eropa agaknya jenuh dengan sistem penyelenggaraan Liga Champions Eropa. Mereka menginginkan adanya transformasi di laga bergengsi di benua biru itu. 

Untuk itu, Asosiasi Klub Sepakbola Eropa (ECA) mengharapkan adanya diskusi mendalam bersama Asosiasi Sepakbola Uni Eropa (UEFA) untuk membahas persoalan turnamen sepakbola klub paling bergengsi di dunia itu. Dengan mereformasi sistem penyelenggaraannya, ECA yakin akan memberikan dampak positif pada pelaksanaan Liga Champions Eropa.

Dampak yang akan dirasakan ialah penambahan jumlah sponsor dan penonton di tiap laga yang terselenggara. Reformasi itu juga akan meningkatkan level kompetisi antar klub agar lebih kompetitif.

Karl-Heinz Rummenigge, Presiden ECA, meyakini ECA dan UEFA memiliki pandangan yang sama perihal upaya mengevaluasi penyelenggaraan turnamen Liga Champions Eropa agar tidak monoton. “ECA dan UEFA pasti berpandangan yang sama menuju evolusi sepakbola. Stagnansi (turnamen) sama saja dengan kemunduran (sepakbola),” ungkapnya.

Rummenigge, yang juga Presiden Bayern Munich berpendapat, demi kemajuan kompetisi sepakbola di Eropa, maka ECA dan UEFA haruslah bekerjasama untuk mengembangkannya. “Ini (pengembangan kompetisi sepakbola Eropa) amat penting untuk dapat memberikan solusi yang baik dan berimbang kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya,” pungkas pria berusia 60 tahun tersebut.

Senada dengan Rummenigge, Wakil Presiden Senior ECA Umberto Gandini mengatakan, pihaknya kini tengah memantau pelaksanaan Liga Champions Eropa musim ini agar dapat menemukan cara transformasi pelaksanaan turnamen sepakbola bergengsi di tanah Eropa tersebut.

“Kami sekarang tengah melakukan mengevaluasi proses pelaksanaan Liga Champions Eropa bekerjasama dengan UEFA untuk melihat pada segi apa kami bisa memberikan pengembangan agar terwujud produk sepakbola paling atraktif,” ujar Gandini yang juga Manajer Olahraga di klub asal Itali, AC Milan.

Gandini menjelaskan, proses evaluasi oleh pihaknya akan dilakukan selama enam hingga sembilan bulan untuk menelisik segala lini pelaksanaan kompetisi tersebut. “Prosesnya akan memakan waktu enam hingga sembilan bulan maksimum dengan memperhatikan segala aspek (pada Liga Champions Eropa) agar dapat menjadi lebih atraktif dari pelaksanaannya kini,” ungkap pria berusia 81 tahun tersebut.

Meski berupaya mentransformasi penyelenggaraan Liga Champions Eropa, Gandini mengatakan, bukan berarti ECA berkeinginan mengganti begitu saja sistem yang sudah dilaksanakan di Liga Champions Eropa. “Kami tidak akan begitu saja ingin mengganti Liga Champions Eropa. Karena itu, kami akan mendengarkan aktor-aktor yang terlibat dalam kompetisi itu dan juga pandangan UEFA agar dapat menemukan formula yang lebih bagus untuk kompetisi ini,” ungkapnya.

Perihal akan terjadinya perubahan yang signifikan, Gandini tidak menapik kemungkinan itu. Menurutnya, setelah proses evaluasi dilakukan akan muncul kemungkinan untuk mengubah sebagian aspek ataupun bahkan keseluruhan aspek dari pelaksanaan Liga Champions Eropa. “Mungkin saja akan terjadi perubahan besar soal siapa yang layak masuk dalam kompetisi tersebut atau banyak aspek lainnya yang akan diubah dan disesuaikan untuk bertransformasi,” paparnya.

Perubahan yang diinginkan oleh ECA sebenarnya upaya untuk mempertahankan gengsi kompetisi Liga Champions Eropa sebagai salah satu kompetisi olahraga elit di dunia. Jumlah pecinta sepakbola yang menanti-nanti kompetisi tempat bertarungnya klub-klub elit Eropa itu mencapai 1,6 miliar orang.

Sebenarnya, format yang sudah dijalankan saat ini sudah merupakan bentuk berbeda dari format awal kompetisi bergengsi tersebut. Pada awal dilaksanakannya, Liga Champions Eropa bernama European Champion Clubs Cup atau Piala Juara Klub Eropa menerapkan kompetisi dengan sistem gugur dua babak. Kompetisi yang diawali pada musim 1955/56 tersebut dikuti oleh para juara klub dari liga-liga tertinggi yang ada di Eropa.

Setiap peserta harus melakukan kompetisi melawan tim lawan dua kali, laga kandang dan laga tandang. Untuk menentukan tim mana yang berhak maju ke babak selanjutnya dinilai berdasarkan skor rata-rata tertinggi pada setiap laga.

Format kompetisi mulai berubah pada musim 1992-1993 dan masih diterapkan hingga kini. Kompetisi dilakukan dengan tiga babak kualifikasi, satu babak kompetisi grup, dan empat babak semi final dengan sistem gugur. Keseluruhan babak tersebut dilakukan dengan sistem kandang dan tandang.

Selama pelaksanaan Liga Champions Eropa, dari musim 1955-1956 hingga kini sudah mencetak banyak juara. Juara terbanyak dipegang oleh klub asal Spanyol, Real Madrid dengan merengkuh piala sebanyak 10 kali. Posisi kedua diduduki AC Milan dengan perolehan piala sebanyak tujuh kali. Posisi ketiga diduduki oleh Barcelona, Bayern Munich, dan Liverpol dengan masing-masing pernah menjuarai kompetisi tersebut sebanyak lima kali.

Memenangi kompetisi Liga Champions Eropa memang memberikan benefit luar biasa pada klub yang memenanginya. Kompetisi itu tak hanya memberikan keuntungan pada pundi-pundi harta klub yang menjuarainya, namun juga memberikan ketenaran hingga keseluruhan penjuru dunia.

Ketenaran yang didapatkan dari menjuarai Liga Champions Eropa akan berdampak pada penjualan segala atribut klubnya, mulai dari baju replika tim hingga pernak-pernik berlambangkan logo klub. Selain itu, klub akan mendapat kesempatan untuk memperoleh sponsor yang lebih besar dari berbagai perusahaan internasional. Keuntungan itu lebih menarik perhatian klub untuk menjuarai Liga Champions Eropa.

Namun, harus diakui, dalam beberapa musim belakangan, Liga Champions Eropa dirasa kurang menarik. Pasalnya, kompetisi itu seakan-akan menjadi panggung yang dikhususkan untuk klub-klub besar Eropa dari negara-negara besar, seperti Spanyol, Inggris, Italia, dan Jerman. Bahkan, untuk dua musim belakangan, Liga Champions Eropa seakan-akan hanya menjadi panggung untuk dua klub besar Spanyol, Barcelona dan Real Madrid.

Kiranya, evaluasi Liga Champions Eropa harus bisa mengedepankan kompetisi yang lebih atraktif dan tidak melulu didominasi oleh klub-klub dari negara besar. Selain itu, pengembangan sistem pertandingan harus memperhatikan kemajuan teknologi sehingga jalannya pertandingan lebih kompeten.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Daily Mail/The Independent/BBC/Goal
 
Humaniora
30 Mar 21, 13:09 WIB | Dilihat : 271
Wawan Wanisar Tak Sekadar Aktor
10 Mar 21, 14:47 WIB | Dilihat : 337
Peta Jalan Keselamatan
Selanjutnya
Sporta
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 547
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1460
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 2342
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
Selanjutnya