MU Pecat Louis van Gaal

Inilah Kegagalan van Gaal

| dilihat 1937

AKARPADINEWS.COM | MANAJEMEN Manchester United (MU) akhirnya memecat Louis van Gaal. Keputusan itu menjadi pil pahit bagi pelatih asal Belanda itu setelah dirinya berhasil mempersembahkan Piala FA, Sabtu (21/5) lalu. Sebagai penggantinya, MU telah menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih barunya (baca: Persembahan Terakhir Sang Meneer?).

Keputusan manajemen MU memecat van Gaal merupakan keputusan tepat. Karena, sejak dipercaya membidani MU tahun 2014, van Gaal gagal mendongkrak performa MU menjadi lebih baik. Seharusnya, dengan portofolio yang cukup baik, yakni pernah menukangi beberapa klub elit eropa seperti Ajax Amesterdam dan Barcelona, dan Tim Nasional Belanda, van Gaal tidak membuat MU gagal dan bisa membawa perubahan signifikan di tubuh MU yang tersungkur sejak ditinggalkan Sir Alex Ferguson.

Nyatanya, selama bersama pelatih berusia 64 tahun itu, MU memasuki masa terkelam kedua pasca dipegang David Moyes. Di atas kertas, sejatinya presentasi kemenangan MU di Liga Premier Inggris tidak terlalu buruk. Setidaknya, persentase kemenangan MU bersama van Gaal mencapai 51,3 persen. Meski demikian, persentase itu lebih rendah dibandingkan saat MU diracik Alex Ferguson, yakni 60,4 persen.

Lalu, di Liga Premier Inggris musim 2015-2016, MU hanya menempati posisi kelima dengan perolehan poin 66. Total poin itu dihasilkan dari 19 kemenangan, 9 seri, dan 10 kali kalah. Padahal, di awal musimnya bersama MU, mantan pelatih Ajax Amsterdam ini mampu membawa MU berada di posisi kelima dengan perolehan poin 70 dengan rincian 20 kemenangan, 10 seri, dan 8 kali kalah. Penurunan prestasi ini sungguh mengecewakan bagi pelatih sekelas van Gaal.

Tak hanya jumlah poin yang menurun. Di musim 2015-2016 ini, MU hanya mencatat 49 gol ke gawang lawan. Sedangkan, di musim 2014-2015, tim berjuluk Setan Merah itu berhasil mengantongi 62 gol. Statistik ini menunjukkan, skuad MU di musim ini tidak produktif dibandingkan musim sebelumnya. Bahkan, perolehan gol di musim ini termiskin sejak musim 2004-2005 dengan torehan 58 gol.

Di musim ini, van Gaal juga gagal memperoleh nilai penuh kala menghadapi klub-klub yang notabene memiliki kualitas di bawah MU. MU Pertama kali kalah di musim saat berhadapan dengan Swansea City, 30 Agustus 2015 lalu. Pada laga itu, Swansea memenangi laga dengan skor 2-1. Padahal, dari segi kualitas, MU lebih baik dari Swansea.

Kekalahan kedua terhadap klub kecil lainnya adalah kala MU bertandang ke markas Bournemouth pada 12 Desember 2015. Pada laga itu, Setan Merah takluk 2-1 atas tuan rumah. Dua laga setelah itu, MU terus mengalami kekalahan.

Ketika menjamu Norwich City pada 19 Desember 2015, MU juga kalah dengan skor 1-2. Kekalahan ini sungguh memalukan karena merupakan kekalahan pertama yang disaksikan fans MU di markasnya sendiri di musim 2015-2016. Nasib MU tak kunjung membaik. Pada 26 Desember 2015, MU kalah di kandang Stoke City dengan skor 2-0.

Desember memang menjadi bulan kelam bagi MU di musim ini. Selain kekalahan beruntun, MU tidak memperoleh kemenangan sama sekali. Kala menghadapi West Ham United pada 5 Desember 2015 dan Chelsea pada 28 Desember 2015, MU hanya bisa menahan seri.

Di musim ini, MU mengalami dua kekalahan besar. Kekalahan besar pertama kala bertandang ke kandang Arsenal pada 4 Oktober 2015. Pada laga itu, Arsenal menaklukkan MU dengan skor 3-0. Lalu, kekalahan kala berhadapan dengan Tottenham Hotspur pada 10 April 2016. Laga yang berlangsung di White Hart Lane, kandang Tottenham, MU takluk dengan skor 3-0.

Torehan buruk itu semakin diperburuk ketika MU tidak berhasil memperoleh nilai kala berhadapan dengan Leicester City. Pada laga pertama di kandang Leicester 28 November 2015 dan laga kedua tertanggal 1 Mei 2016, MU harus puas dengan hasil seri.

Padahal, dari segi kedalaman skuad, seharusnya MU bisa memperoleh nilai penuh. Meski demikian, kegemilangan permainan The Foxes juga tidak bisa dikesampingkan. Klub dari kota Leicester itu memang tengah bersinar di musim ini.

Selain soal performa tim, kesalahan van Gaal selama membesut MU ialah pada kebijakan transfernya. Selama dua musim ini, sang meneer telah menghabiskan kurang lebih US$378 juta atau setara dengan Rp5 triliun. Pembelian termahal van Gaal ialah Angel Di Maria dengan banderol harga US$86 juta atau setara dengan Rp.1,1 triliun.

Sayangnya, pemain termahal MU di bawah kepelatihan van Gaal itu hanya bertahan semusim. Setelah itu, MU menjualnya ke Paris Saint Germain dengan harga lebih murah, yakni US$64 juta atau setara dengan Rp870 juta. Kebijakan transfer ini sungguh merugikan dan sebuah pemborosan untuk keuangan MU.

Meski demikian, ada beberapa pembelian MU yang kiranya cukup tepat. Pembelian Anthony Martial dari AS Monaco dengan banderol US$52 juta atau setara dengan RP707 miliar memberikan dampak positif. Pasalnya, pemain muda asal Perancis itu mampu berkontribusi maksimal selama musim ini.

Martial mempersembahkan 11 gol untuk MU di musim ini. Untuk usianya yang masih 20, torehan itu cukup menjanjikan dia akan menjadi bintang baru di Liga Premier Inggris.

Persoalan lain yang membuat van Gaal gagal di MU ialah ketidakberdayaannya untuk merangkul para fans Setan Merah. Meneer tidak dapat merangkul seluruh fans MU di tanah Inggris. Beberapa kali dia terlibat percekcokan secara tak langsung dengan para fans. Kala MU menang atas Bournemouth 17 Mei lalu, dia dengan terang-terangan mengkritik fans MU yang selalu mencemoohnya kala bertanding.

Karenanya, keputusan manajemen MU memecat van Gaal amat melegakan fans. Apalagi, pelatih yang ditunjuk untuk menggantikannya cukup tepat. The Special One dikenal sebagai pelatih yang mampu mentransformasi sebuah klub menjadi jauh lebih baik.

Dengan gaji sebesar US$21 juta atau setara dengan Rp.285 miliar pertahun, kiranya dapat menjadi investasi berarti MU untuk kembali merengkuh kejayaan di tanah Inggris. Meski demikian, Mou akan menghadapi kompetisi yang sulit di musim depan. Karena, dia akan kembali berhadapan dengan Josep ‘Pep’ Guardiola yang menjadi pelatih rival sekota MU, yakni Manchester City.

Walau berat, setidaknya pengetahuan Mou akan Liga Premier Inggris akan menjadi modal terbesarnya. Karena, kompetisi Liga Premier Inggris dikenal sebagai kompetisi dengan tempo permainan cepat. Sedangkan, Guardiola dikenal sebagai pelatih yang lebih senang mengusung pola permainan lambat terukur.

Sepertinya, untuk musim depan, Mou memiliki kesempatan besar untuk menaikan kembali pamor MU di mata publik sepakbola dunia. Bila mampu tampil konsisten, mungkin saja Mou bisa membawa kembali kejayaan MU seperti ketika masih diasuh oleh Ferguson.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 564
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 390
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 505
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 638
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya
Seni & Hiburan
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 228
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 778
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 744
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
12 Agt 19, 22:43 WIB | Dilihat : 462
Pesona Lipet Gandes dan Topeng Jantuk
Selanjutnya