Cerita Pendek

Kejujuran

| dilihat 1195

Alonza Ulana

Hujan turun rinai. Ini senja yang romantis. Kaki-kaki hujan yang runcing berpendaran begitu jatuh di daun-daun pohon dan kelopak bunga, di halaman rumah. Dari dalam rumah mengalun suara khas Sitti Nurhaliza, mendendangkan lagu Cindai dengan syair melayu gubahan Pak Ngah yang dahsyat.

Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu

Tique menghampiriku ke beranda sambil membawa secangkir kopi Arabika. Pada tengah hari sampai senja, kami biasa minum kopi jenis ini, yang lebih ringan, dibandingkan dengan kopi jenis Robusta yang selalu kami reguk di pagi hari.

Dia duduk di sebelahku sambil mengangkat pisin dan cangkir kopi. Kutanya padanya, ihwal lagu Cindai yang selalu dia perdengarkan sejak beberapa hari terakhir.

"Ya.. lagu itu memanduku untuk tak henti belajar tentang kita dan semesta," ujarnya.

Angin dingin dari berbukitan Kampung Janda Baik, tempat kami tinggal, terasa membelai wajah. Kopi hangat di senja hari, membuat suasana mesra segera terasa, laksana cindai menaungi kepala. Aku tersenyum.

"Apa yang hendak kau pelajari dari Cindai?" tanyaku.

"Kejujuran," katanya sambil menjeling. "Kita sedang dihadapkan oleh jalan buntu untuk memahami kejujuran dan nyaris selalu gagal mempraktikannya. Kejujuran seolah sesuatu yang mahal dan sulit bagi banyak manusia kini," lanjutnya sambil tersenyum.

Aku diam dan menyimak perkataannya.

"Coba lihat, keindahan cindai kebangsaan seringkali terkoyak, ketika kejujuran tidak menjadi jalinan rentah, sulaman benang kesadaran di dalamnya. Kita menghormati bendera, misalnya, tanpa pernah menyadari, lembaran bendera itu merupakan jalinan rentah yang tersusun rapi dan tersusun karena kejujuran," sambungnya.

Dia memandangku lagi.

"Coba perhatikan, bagaimana demokrasi carut marut karena politisi tak mampu menjadikan kejujuran sebagai landasannya dan sibuk hanya berfikir kalah dan menang. Dan ketika ada yang menggugat tentang kejujuran dan kecurangan melalui lembaga yang berwenang, lalu riuh orang mempersoalkan tuntutan itu."

Saya mengangguk. Sebagai perempuan dari sebuah bangsa yang memelopori demokrasi menyusul revolusi industri, lahir dan dibesarkan dalam tradisi demokrasi khas orang-orang Bourdeux, Perancis, dalam banyak hal Tique selalu risau dengan praktik demokrasi. Pun cara-cara berdemokrasi yang hanya bertumpu pada kompetisi mendulang bilangan. Khasnya karena politisi lebih sibuk bermain pada kalkulasi politik, bukan pada esensi politik sebagai cara mengelola harmoni kebangsaan.

Aku tersenyum. "Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Tique.

"Tiba-tiba aku teringat karya lama Jacques Du Bosc's yang kau hadiahkan kepada anak kita ketika dia menikah."

Tique membalas senyuman dan kemudian tertawa. Mungkin suara tawanya sampai ke kebun durian tak jauh di seberang, dekat sungai. Tique segera ingat buku L’Honnête Femme, ihwal kejujuran perempuan.

Omongan Tique tentang keengganan atau jauhnya jarak politisi, dengan kejujuran inilah yang menyebabkan demokrasi tak lagi dipahami sebagai cara mewujudkan harmoni kebangsaan. Karena politisi, yang sebagian terbesar masih didominasi laki-laki, selalu cenderung berjarak dengan kejujuran. Bahkan termasuk para pemuka agama, meski Allah sudah menurunkan, setidaknya empat rasul-Nya: Musa, Daud, Isa dan Muhammad sebagai teladan mempraktikan kejujuran, tanpa banyak teori, di semua urusan kehidupan. Dan Rasul Muhammad, secara eksplisit berjuluk Al Amin, orang yang sangat terpercaya karena kejujurannya.

Karena hujan sudah reda, Tique pindah duduk ke sebelahkan. Tangannya merangkul punggungku. Bermanja dengan acaranya yang romantik dan selalu hangat. Doa bicara dengan suara halus.

"Mestinya para politisi, di manapun dia berkiprah, berdo'a seperti do'a yang dituliskan Ninon Lenclos."

"Ya.. ya.. do'a yang menggugah," kataku. "Tapi, do'a itu bias gender," kataku.

Tique tertawa. Dia mencium keningku.

"Ya.. do'a yang bias gender.. karena hanya memohon untuk menjadikan lelaki jujur dan tidak menjadikan perempuan jujur. Kamu tahu kenapa?" tanyanya. Belum kujawab dia sudah menjawabnya sendiri. "Karena ketika ruh dihembuskan Tuhan kepada perempuan, bersama ruh itu juga mengalir kejujuran. Dan, para lelaki beroleh pelajaran pertama dan hakekat kejujuran dari ibunya..."

Aku membelai rambut Tique. "Tapi, perempuan juga yang sekali-sekala mengajarkan anaknya bohong.."

Tique memelukku. Lalu menarik tubuhnya. Matanya menatap tajam ke mataku. "Tidak.. tidak begitu.. Naluri perempuan adalah kejujuran.." sergahnya.

Ketika dia bicara begitu, nampak kecantikan dan kecerdasan Tique menyatu, jelma jadi cahaya dan mencerahkan. Dia senang, ketika kukutip kalimat Antoine Furetière yang memvalidasi kejujuran perempuan.

"Kejujuran wanita adalah kemurnian akhlak, kesopanan, kesopanan, pengekangan, kejujuran laki-laki adalah cara bertindak yang adil, tulus, penuh keikhlasan, sopan, sopan, sopan, sopan, dan sopan,"  menurut Furetière.

Tapi, kataku, dalam soal kejujuran, aku lebih suka pandangan Noemi Hepp, di era perubahan, ketika kaum moralis tidak lagi menggambarkan perempuan setara dalam kebajikan, kehormatan, dan keberanian untuk memandang perbedaan yang dirasakan mereka, dan saling melengkapi dengan laki-laki.

"Tetapi, laki-laki sering tak jujur dan sering membohongi perempuan," cetus Tique sambil tersenyum. "Ya.. kan? Setiap bulan, berapa kali kau bohongi aku.. jawab sejujurnya..," dengan tatapan mata tajam. Aku tersenyum, sambil tersipu.

"Ah.. terlalu banyak perempuan senang dibohongi para lelaki," jawabku sesuka hati. Tique meninju pangkal lenganku.

Tique beramsal. Perempuan itu ibarat rakyat kebanyakan. Memandang kejujuran dan kecurangan sebagai ukuran baik dan buruk dalam kehidupan, tak terkecuali dalam berdemokrasi. Sebaliknya, laki-laki seperti kebanyakan petinggi dan politisi memandang kejujuran dan kecurangan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.

"Kita kehilangan ideologi kejujuran. Terlalu banyak pemberontakan rakyat terjadi di berbagai negara dan bangsa, hanya karena para politisi yang mereka pilih menjadi pemimpin tidak menghargai kejujuran rakyatnya saat memilih mereka. Pemberontakan terjadi karena penghianatan dan kebohongan," katanya.

Aku diam seketika. Terlintas para pemikiran ideologi kejujuran, seperti Antoine Gombaud, Chevalier de Méré, bahwa kecurangan, dan kebohongan selalu bermain-main dalam pelajaran mereka tentang politik praktis, yang disebut taktik dan strategi. Politisi dan penguasa,selalu cenderung mengatakan, "satu kembali ke yang lain" acap bicara kejujuran. Seperti kata La Bruyère, dalam Les Caractères, rakyat ibarat perempuan yang menyatakan hasrat untuk selalu mengambil bagian dalam asosiasi positif dari kejujuran dan selalu lupa dibohongi berulang-ulang sebelum menentukan pilihan akhir, menyalurkan pilihan mereka.

Tique menarik tubuhnya. Dia beringsut. Duduk di atas teras. Memandangiku serius. Dia berkata, "Perempuan terus jujur dalam arti moral, dari kata sepanjang abad tentang sesuatu yang duniawi dan ukhrawi. Namun, seperti rakyat, dalam sejarah, partisipasi mereka tidak terjaga dalam mewujudkan cita-cita politik kebangsaan yang jujur."

Sementara rakyat menuntut kejujuran politisi dan pemimpin yang mereka pilih. Mereka berharap kejujuran menjelma dalam kebajikan dan kebijakan melayani, karena kesadaran bahwa rakyatlah subyek yang harus dilayani dengan jujur. Tapi, politisi selalu mengkhianati, mereka menempatkan rakyat sebagai obyek, dan dirinya adalah penguasa yang  merasa bisa berbuat apa saja.

"Para politisi dan pemimpin yang lancung dan lencong akan terdesak ke batas kuldesak pada saatnya. Di sana sejarah akan memperlihatkan, siapa yang dimuliakan Tuhan, siapa pula yang dihinakan," ujar Tique sambil mendekat. Matanya memberi isyarat harapan untuk konsisten pada kejujuran dan tak henti memperjuangkannya.

Aku berdiri. Tique memelukku hangat, sambil memandang jerebu yang turun perlahan. Dia berbisik. "Ketika politisi semakin jauh dari kejujuran, meski dari mulutnya mengalir lancar ayat-ayat Tuhan tentang kebenaran, lalu menghianati rakyat yang memilih mereka, tinggal lagi hakim, wakil Tuhan di bumi yang mesti menjaganya. Bila hakim tak mampu memikulnya, hidup ini akan berkabut, seperti kebun durian di selimuti jerebu," ujarnya sambil menunjuk ke kebun durian milik tetangga.

Dari ruang keluarga, masih terdengar alunan suara Sitti Nurhaliza mendendang Cindai yang berputar-berulang.

Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi

Ketidakjujuran akan membawa suatu bangsa, ibarat biduk lilin berlayar kertas yang hendak merenangi lautan berapi. Rakyat yang marah tak kan pernah bisa ditumpas dengan senjata dan perangkat apapun yang dibeli dari uang pajak mereka. Karena yang bisa meredamnya hanya kejujuran memikul amanah. Selamatkan bangsa, dahulukan rakyat.

Kumandang adzan maghrib terdengar. Tique memelukku. Kami melangkah masuk ke dalam rumah.. |

 

                                                              Kampung Janda Baik, Pahang, Juni 2019

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 68
Harmoni
11 Des 19, 12:45 WIB | Dilihat : 96
Cermin dari Hughes - Pak Zaenal dan Slamet Rahardjo
03 Des 19, 10:54 WIB | Dilihat : 296
Melihat Anies dari Jendela Hati
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 1252
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
Selanjutnya
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 276
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1394
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya