Gegauan Sate Buntel

| dilihat 630

Cerita Pendek Khaidar

SATE itu selalu datang ke rumahku di malam takbiran. Lengkap dengan ketupat, semur, dan sayur kacang bersantan. Aku menyebutnya sate buntel.

Sate dari daging sapi dengan rempah yang kuat, serta rasa masam dan manis yang setara, kegemaranku sejak kecil. Sate ini nikmat sekali.

Sejak kecil saya gemar makan sate ini. Ketika beranjak remaja dan kala telah berkeluarga, saya sengaja sering membelinya di bilangan Tanah Abang, Jakarta.

Tapi, sate yang kerap berkunjung di malam takbir ini berbeda. Ini sate khas.

Ada aroma silaturrahim dan persaudaraan yang kental. Jelang dikirim ke rumah, biasanya saya mendapat pesan singkat melalui SMS atau Whatsapp dari sahabat saya. Askaro, namanya,

“Kyai di rumah?” Begitu selalu pertanyaan dalam pesan singkat yang saya terima, sebelum sate dikirim.

“Jangan ke mana-mana, anak-anak mau ke rumah.. Antar sate masam,” ujar suara di bimbit saya, selepas saya menjawab pesan singkat itu.

Selepas maghrib, bel rumah sudah berbunyi. Seorang belia menggunakan sepeda motor, sudah berada di depan pintu.

“Ini om.. dari mama.. Papa dan mama kirim salam,” ujar belia yang rada gempal dan sehat itu, sambil menyerahkan gegauan yang berada dalam kantung plastik. Khoiry, namanya.

Kemudian khoiry memacu sepeda motornya, sampai punggungnya tak nampak lagi, ketika dia belok keluar kompleks perumahan tempat saya tinggal.

Sambil menikmati sate dengan ketupat dan sayur kacang bersantan itu, selalu terbayang keluarga sahabat saya, pengirim gegauan itu.

“Sate dan sayur ini, diracik sendiri oleh tangan Neneng,” ujar Askaro, suatu ketika, kala saya menikmati sate dan sayur yang biasa dikirim ke rumah saya itu, di rumahnya. “Mudah-mudahan Kyai suka,” sambungnya.

Saya sangat suka. Ketika masih kanak-kanak, ibu saya sendiri yang memasaknya. Sate buntel olahan Neneng, sangat lezat. Kelezatannya selalu mengingatkan saya pada ibu.

Ibu seorang perempuan yang sangat aktif. Dia aktivis politik di masa lalu. Bahkan, menurut cerita ibu, kala saya masih dalam kandungan, ibu tak mengurangi aktivitasnya berkampanye.

Masa itu, usia Republik masih sangat muda. Bung Karno menerapkan demokrasi liberal. Pemerintahan juga jatuh bangun karena kuatnya dinamika politik.

Kendati demikian, ibu tak pernah alpa untuk berada di dapur setiap menjelang akhir bulan Ramadan. Aneka masakan, ibu racik dan olah sendiri.

Ibu suka sate buntel. Juga rendang, dendeng daging rasa bawang, semur, steak, dan aneka masakan lagi. Ibu juga sangat pandai mengolah masakan dari ikan.

Seluruh anak-anaknya, tak peduli lelaki atau perempuan, diajarinya masak, mulai dari memilih bahan masakan. Termasuk memilih bumbu, daging, ikan, bahkan tempe dan tahu.

Banyak masakan saya kuasai, kecuali sate buntel itu.

Sambil menikmati satu buntel buatan Neneng, isteri Askaro, melintas bayangan ibu, ketika sedang membalur aneka rempah dan bumbu lainnya di daging yang akan dijadikan sate buntel itu.

Seketika itu juga, saya seolah mendengar salawat dan istighfar yang biasa ibu gumamkan, sambil mengolah masakan.

Hmmh.. terbayang, bagaimana ibu selalu berwudhu dan salat dua rakaat sebelum masak. Saya tak tahu, salat sunat apa yang ibu lakukan. Tapi, itulah yang selalu beliau lakukan acap akan memasak.

Dan ini.. yang selalu saya dengar digumamkan ibu, acap akan masuk ke dapur, “Rabbanaa aatina mil ladunka rahmat wa hayyiklana min amrinaa rosyadaa..”

Ibu juga biasa membaca bismillah sebelum memegang peralatan dan bahan masakan.

Suatu kali, saya diminta ibu mengaduk masakan yang sedang dimasaknya. Saya mengaduk sesuka hati. Ibu menegur dan memberi contoh, mengaduk masakan berputar dari kanan ke kiri, seperti putaran gerakan tawaf. Lantas bergumam, “Laysa lahaa min duunillahi kaasyifah.”

Selebihnya, ibu terus bersalawan dan mengucapkan istighfar tak henti-henti. Konsentrasinya penuh pada masakan. Dan acap saya ganggu, ibu selalu mengingatkan untuk tidak berisik.

Bayangan wajah ibu dengan senyumnya tampak hadir dalam bayangan benak saya, ketika sate terakhir buatan Neneng, masuk ke mulut.

Sate yang lezat dan kelezatannya tak pernah saya temukan di resto manapun. Saya sangat yakin, sate dan sayur kacang bersantan itu dimasaknya dengan sukacita.

Dan ketika dalam perjalanan, sampai di rumah saya diiringi takbir dan tahmid, dan ketika saya santap perlahan, mengalir keikhlasan persaudaraan yang terasa hangatnya.

Selepas menikmati, saya gumamkan do’a bagi Askaro dan Neneng, serta seluruh anak-anaknya: Semoga Allah tak pernah putus mengalirkan rezeki dan berkah kehidupan baginya.

Malam, ketika tidur, sate buntel itu terbawa dalam mimpi saya... |

 

Gegauan = bingkisan masakan dan makanan yang dikirim oleh sahabat dan kerabat atau sebaliknya;

Laysa lahaa min duunillahi kaasyifah = tak ada yang dapat mengungkap (rahasia) selain Allah

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1667
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 619
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 371
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
02 Jun 18, 20:37 WIB | Dilihat : 2565
Anggur yang Terapung
Selanjutnya
Sporta
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 315
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 337
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 554
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1396
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
Selanjutnya