Mengatasi Phobia Perubahan

| dilihat 2123

AKARPADINEWS.COM | SETIAP manusia akan mengalami perubahan dalam perjalanan hidupnya. Perubahan adalah kodrati yang tak bisa ditolak. Namun, ada saja pribadi-pribadi yang enggan menerima perubahan. Dia cenderung bertahan di zona nyaman (comfort zone). Orang-orang yang sulit menerima perubahan itu kemungkinan menderita Metathesiophobia.

Phobia tersebut berasal dari bahasa Yunani meta yang berarti berubah dan bahasa Latin thes yang berarti keadaan. Metathesiophobia adalah ketakutan terhadap perubahan yang terjadi, baik pada diri si penderita maupun keadaan di sekitarnya. Phobia ini muncul lantaran kekhawatiran berlebihan akan ketidakmampuannya bertahan dan menghadapi situasi baru yang harus dihadapi.

Ketakutan itu bisa disebabkan peristiwa traumatik yang pernah dialami penderita. Phobia ini dapat pula karena pengalaman sosialnya yang secara sadar atau tak sadar dialaminya. Phobia ini sebenarnya tergolong sebagai phobia sosial. Tetapi, ada beberapa kasus munculnya phobia pada seseorang karena faktor genetika. Hanya saja, kondisi seperti itu sangat langka terjadi.

Metathesiophobia biasanya berpotensi dialami saat fase anak-anak, khususnya anak-anak yang kerap merasakan perpindahan tempat tinggal secara rutin atau stimultan. Dalam situasi demikian, anak-anak memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya, baik keadaan sosial maupun tipografi budaya di lingkungan sekitarnya.

Bila terus berpindah sebelum mampu beradaptasi, maka akan menimbulkan resistensi karena cenderung terpaksa bisa beradaptasi terhadap lingkungan baru. Ketidakmampuan itulah yang kemudian menjadi bibit metathesiophobia pada diri seseorang.

Dengan kata lain, phobia ini kerap muncul pada individu yang memiliki kesulitan beradaptasi. Ketika sudah bisa beradaptasi, penderita biasanya akan enggan meninggalkan zona nyamannya. Ketidakmampuan beradaptasi itu kemudian menjalar ke hal-hal lainnya, seperti tak mampu beradaptasi dengan teknologi baru, keadaan ekonomi, hingga persoalan pribadi. Penderita umumnya menganggap biasa terhadap kekhawatirannya itu.

Namun, phobia tersebut menjadi gangguan dalam berinteraksi. Sementara manusia adalah mahluk sosial, yang perlu beradaptasi dalam keadaan apapun. Penderita metathesiophobia, akan sulit berkembang karena kemampuannya beradaptasi tidak terbentuk dengan baik. Misalnya, saat berpergian. Penderita metathesiophobia cenderung tak nyaman jika diajak berpergian. Apalagi, bila hal harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama.

Dia pun seakan sulit melepaskan rutinitas yang telah membuatnya nyaman. Hal itu tentunya akan menghambat perkembangan karirnya dan pendidikannya bagi penderita yang masih sekolah atau kuliah.

Ada beberapa gejala yang terlihat pada seseorang yang mengidap metathesiophobia. Misalnya, tingkah laku panik dan merasa tidak nyaman kala berada di tempat baru maupun situasi yang tidak biasa dihadapinya. Saat panik, bisa muncul keringat dingin, jantung berdegup kencang, nafasnya cepat dan pendek, gemetar, hingga gagap dalam berbicara. Bahkan, dalam beberapa kasus, penderita phobia akan merasa seperti tercekik, ingin muntah, ketakutan ekstra, hingga berhalusinasi tentang kematian.

Gejala lain yang nampak dalam hubungan sosial adalah memilih untuk menghindar dari sesuatu yang baru. Dia akan menciptakan zona nyamannya sendiri, sesuai keinginannya dan tidak mengikuti alur perubahan di sekitarnya. Dia akan membuat jarak dengan orang-orang di sekitarnya. Jika ini dibiarkan, maka dapat merusak hubungan sosial penderita dengan teman-temannya, bahkan dengan keluarganya. Penderita metathesiophobia akan berbohong, bahkan menghilang dari peredaran, hanya untuk menghindari perubahan.

Sebenarnya, sebagian besar penderita phobia ini telah sadar akan keadaannya. Hanya saja, penderita mengingkari keadaannya dengan beragam alasan. Agar terlepas dari jeratan metathesiophobia, penderita phobia harus mampu keluar dari zona nyamannya. Dia harus dihadapkan dengan berbagai hal yang belum pernah dirasakan atau dilakukannya.

Dengan begitu, dia akan menggali kemampuan adaptasinya. Guna menghindari benturan-benturan perubahan yang tertanam di benaknya, penderita perlu didampingi orang terdekatnya saat menjalani fase dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Setelah itu, penderita harus didorong untuk dapat beradaptasi dengan sendiri, dengan terus mendapat pengawasan.

Pada kasus metathesiophobia kronik, penderita harus melalui fase konseling dengan psikiatri. Ada beberapa metode yang terbukti berhasil mereduksi ketakutan akan perubahan itu. Salah satunya ialah hypnotherapy.

Melalui metode itu, penderita akan dilatih untuk mengatasi kekhawatiran berlebihan dengan memasukkan pikiran-pikiran positif kepada penderita sehingga dapat menghadapi ketakutannya sendiri. Ada juga metode lain yaitu neuro linguistic programming dan terapi perilaku.

Terapi bisa dilakukan secara berkelompok, seperti terapi berbagi cerita dan pengenalan diri. Hal terpenting yang harus diberikan bagi penderita metathesiophobia ialah perhatian penuh dari orang terdekatnya. Sebab, agar dapat mengatasi rasa takutnya, penderita harus mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya, khususnya keluarga. Penderita membutuhkan seseorang yang dapat berbagi cerita seputar pengalaman yang membuatnya gelisah.

Orang-orang terdekat yang mendampinginya, perlu memberikan sugesti dan menyakinkannya jika kegelisahan itu hanya sebtas dibenaknya saja. Yakinkan dirinya, jika mampu mengatasi kegelisahan. Cara itu sangat menolong penderita dalam meringankan beban pikirannya lantaran takut menghadapi perubahan. | Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Fearof/Berkeley Global/Common Phobias/Phobia Source
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 183
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 164
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 350
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Energi & Tambang