Orasi Ilmiah Prof. Dr. Zuzy Anna - Universitas Padjadjaran

Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh

| dilihat 1289

BANDUNG, 8 NOPEMBER 2019 | Kebijakan perikanan dapat dikatakan belum berbasis sains yang utuh dan inklusif, dan kurang disadarkan masukan riset yang baik, atau jika ada masukan riset, seringkali tidak multidimensi, cenderung parsial, antara riset biologi dan riset sosial ekonomi.

Pernyataan ini dikemukan oleh Prof. Dr. Zuzy Anna, S.Si,M.Si., dalam orasi ilmiah pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Ekonomi Sumberdaya Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - Universitas Padjadjaran di Bandung, Jum'at, 8 Nopember 2019.

Pernyataan itu mengemuka terkait dengan pandangannya, bahwa penentuan kebijakan pada dasarnya harus berbasiskan riset. Namun, hal ini belum menjadi kultur pengambil kebijakan.

Prof. Zuzy mengawali orasi ilmiahnya bertajuk, "Pemanfaatan Model Bio Ekonomi dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan yang Berkelanjutan" itu, dengan menyajikan paradoks yang kita hadapi dalam pengelolaan sumber daya alam termasuk perikanan di negara-negara berkembang, terutama Indonesia.

Dikemukakannya, paradoks terjadi, manakala kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki tidak dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat. Namun, sebaliknya, bahkan menjadi kutukan, dan menyebabkan kemiskinan di antara pelaku tradisional usaha sumberdaya alam , tak kunjung usai.

Prof. Zuzy dikukuhkan oleh Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE, bersama Prof. Dr. rer.net. Yudi Rosandi, S.SI, M.Si., (dalam bidang ilmu fisika komputasi), di hadapan Dewan Guru Besar Universitas Padjadjaran, yang juga dihadiri oleh sejumlah guru besar dalam bidang ilmu terkait, dari ITB, IPB, dan Surya University. Hadir juga sejumlah ilmuwan dan dosen berbagai disiplin ilmu dari berbagai universitas, pejabat Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, keluarga, mahasiswa, dan undangan lainnya.

Dalam orasi ilmiahnya, itu Prof. Zuzy  menegaskan, luasnya laut, panjangnya pantai, ribuan pulau-pulau kecil yang kita miliki, tidak lantas berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir. Yakni, masyarakat yang notabene, kehidupannya sangat tergantung pada sumberdaya pesisir yang paling potensial, yaitu sumberdaya ikan.

Dikemukakannya, walaupun sampai sekarang belum ada riset spesifik yang menunjukkan kemiskinan pelaku usaha perikanan, seperti nelayan, namun analisis dengan menggunakan data Susenas 2017, menunjukkan adanya kecenderungan tingkat kemiskinan agregat tertinggi nelayan, bila dibandingkan rata-rata perdesaan dan sektor pertanian lainnya.

"Paradok pada perikanan juga dapat kita lihat dari kontribusi sektor ini yang relatif sangat kecil dibandingkan dengan sektor lainnya," ungkap Prof. Zuzy.

Ia mengemukakan, kontribusi Product Domestic Bruto (PDB) dari sektor perikanan hanya berkisar antara 2 - 3 persen dengan laju pertumbuhan bervariasi, antara 2 - 7 persen, dengan produksi aktual perikanan tangkap sebesar potensi 6,04 juta ton dari potensi 12,5 juta ton.

Kendati demikian, Prof. Zuzy mengemukakan, pengelolaan perikanan tidak hanya di negara kita, bahkan secara global, dicirikan dengan kondisi yang suram. "Dimana produksi dilaporkan terus mengalami penurunan, sementara input perikanan terjadi peningkatan secara signifikan," ungkapnya, mengutip data FAO 2018.

Prof. Zuzy menyitir "Sea Around Us," hasil penelitian Tickler dan kawan-kawan, yang diterbitkan Jurnal Science 2018, yang melaporkan, bahwa laju tangkapan ikan per kapal ikan menurun secara drastis sejak tahun 1950.

Dikemukakannya pula, sebagian negara termasuk Indonesia berkutat pada perikanan perairan pesisir di dalam batas negara. Akan halnya Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Spanyol, dan China secara ahresif mensubsidi kapal-kapal mereka untuk beroperasi ribuan kilometer dari wilayah negaranya.

Kondisi suram ini, kata Prof. Zuzy, akibat kegagalan dalam pengelolaan perikanan, karena pemahaman kita akan karakteristik sumber daya perikanan masih sangat rendah.

"Sumberdaya ikan (tangkap) adalah asset alam yang memiliki sifar ferae nature atau wild by nature, yaitu tidak ada yang  berhak mengklaim kepemilikannya sebelum ditangkap," ungkapnya.

Doktrin ekstraksi penangkapan ikan, menurut Prof. Zuzy adalah adalah res nullius, yaitu obyek yang semestinya dapat dimiliki, namun tidak dapat dimiliki oleh individu, karena sifatnya adalah sumberdaya yang bersifat buruan.

Ditegaskannya, perikanan memang kompleks, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, karena sumberdaya ikan yang bersifat buruan tidak dalam kendali kita., dan tidak dapat diobservasi.

Kompleksitas ini juga ditambah dengan kondisi perikanan yang multi-spesies, multi landing area, dan multi alat tangkap.

Pada bagian lain orasinya, Prof. Zuzy mengemukakan, di negara berkembang, apalagi Indonesia, kondisi riset belum optimal dan pada umumnya pengambil kebijakan cenderung berpikir jangka pendek atau myopic.

Prof. Zuzy menegaskan, seluruh isu yang diuraikannya, pada dasarnya berkaitan dengan dimensi sosial peran manusia selaku homoeconomicus dalam mengelola dan mengalokasikan sumberdaya perikanan.

Ikan merupakan entitas di alam yang sangat bersifat independent, sementara ekonomi yang menjadi pendorong perilaku manusia, sangatlah bersifat dependent, terhadap sumberdaya ikan.

Prof. Zuzy yang juga Direktur Eksekutif SDG's Center Universitas Padjadjaran, itu selanjutnya mengemukakan, bahwa perikanan adalah kegiatan ekonomi subsistence atau komersial, sehingga manusia menjadi sentral dalam pengelolaan perikanan.

Dikemukakannya pula, isu yang semakin relevan karena terkait dengan tekanan sosial ekonomi dan bahkan perubahan iklim dalam pengelolalan perikanan adalah keberlanjutan.

Sebagaimana dimandatkan oleh Sustainable Development Goals (SDG's), keberlanjutan mempunyai tiga pilar: People, Planet, dan Prosperity. Dengan demikian, tegasnya, aspek biologi, sosial dan ekonomi, selayaknya memilikimporsi yang seimbang dalam perumusan regulasi dan kebijakan pengelolaan perikanan.

Akhirnya, Prof. Zuzy menegaskan, kebijakan tanpa dasar saintik yang utuh, memang rentan akan kritik, dan akan sulit mempertahankannya secara rasional. | bang sem

Editor : Web Administrator
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 706
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1549
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1250
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
06 Nov 19, 11:12 WIB | Dilihat : 1394
Penguatan Profesionalisme Transformasi BUMN
05 Nov 19, 11:16 WIB | Dilihat : 894
Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region
04 Nov 19, 13:44 WIB | Dilihat : 542
Benahi Hukum dan Prasarana Utama Investasi
Selanjutnya