- Sodetan Cilieung - KBT Baru 'Groundbreaking"

Menteri Tak Laksanakan Instruksi Presiden, Jakarta Tenggelam

| dilihat 1130

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SETAHUN lebih sepekan. Persisnya 20 Januari 2013. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan untuk turun tangan membantu dan bersinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mencegah banjir Jakarta.

Kala itu, di pinggi kali Ciliwung, persis di kampung Kebon Sayur – Kelurahan Bidara Cina – Jatinegara - Jakarta Timur, Presiden SBY memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto untuk menyodet Kali Ciliwung dan menyalurkan aliran air ke Kanal Banjir Timur (KBT). Presiden menyatakannya sebagai prioritas mendesak.

Prioritas mendesak lainnya adalah memindahkan penduduk yang tinggal di bantaran kali Ciliwung itu.

Di dalam tenda, di halaman Gelanggang Remaja Jakarta Timur – Jalan Oto Iskandar Dinata (Otista), Menteri Pekerjaan Umum mempresentasikan konsep dan desain sodetan itu. Rapat di bawah tentang yang dipimpin langsung Presiden SBY, itu hadir Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Ketua Komisi V DPR-RI Yesti Soepredjo Mokoagow, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Kepala BNPB Syamsul Maarif.

Sesuai laporan yang diterimanya dari Menteri Pekerjaan Umum, Presiden SBY kepada wartawan, Presiden SBY menyatakan, “Telah dilakukan studi, termasuk studi kelayakan dan dihitung anggarannya, berapa lama diperlukan untuk membangun sodetan ini, maka telah ditetapkan ini (sodetan Kali Ciliwung) prioritas pertama.”

Ketika itu dinyatakan, sodetan Kali Ciliwung akan dimulai tahun 2013, dan diharapkan akan selesai pertengahan 2014. Diperlukan biaya Rp 500 miliar. Presiden SBY pun sudah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan, Menteri PU, dan Komisi V DPR-RI untuk memastikan anggaran itu tersedia.

“Kita mulai tahun ini. Kalau kita kerjakan dengan baik, sesuai rencana pertengahan tahun 2014 bisa kita selesaikan,” papar SBY.

Hasilnya? Januari 2014, Jakarta tenggelam lagi oleh Banjir, dan curah hujan di daerah hinterland atau bufferzone disebut lagi oleh Jokowi dan banyak petinggi sebagai penyebabnya. Bahkan, ketika hujan turun di Jakarta, Selasa (27/1/2014) malam, tak ada kiriman air dari Bogor. Tapi, Jakarta tetap banjir dan mandeg!

Ironisnya, tak seorangpun ada yang proyek sodetan Ciliwung – Kanal Banjir Timur itu secara terbuka. Belakangan, satu dua ‘tagihan’ atas janji 2013 itu mengemuka, dan yang kita dapatkan dari Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, hanya kilah! Alasan! Bukan solusi dan cara.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo sudah pindah dari Lapangan Banteng, kantornya sebagai Menteri Keuangan. Kini dia di Jalan Thamrin sebagai Gubernur Bank Indonesia. Mestinya, program dia sudah dilanjutkan oleh Menteri Keuangan Chatib Basri. Tapi, kata Djoko Kirmanto, Chatib (sampai pekan lalu) belum mau menorehkan tanda-tangan persetujuan penggunaan anggaran tahun jamak untuk mempercepat sodetan. Mungkin takut mengalami tulah ‘anggaran tahun jamak’ seperti yang terjadi dalam kasus pembangunan sentra pendidikan dan latihan olah raga Hambalang – Jawa Barat yang perlahan-lahan menjadi bengkalai, itu.

Selama setahun waktu berlalu begitu saja, sampai akhirnya Djoko Kirmanto angkat bicara kepada wartawan di Kementerian PU yang megah, itu (Kamis: 19/12/2013), “"Groundbreaking atau peletakan batu pertama akan dilakukan pada 23 Desember."  Baru peletakan batu pertama

Editor : Web Administrator | Sumber : Berbagai sumber dan Catatan Pribadi
 
Energi & Tambang
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 715
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 903
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 249
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 390
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya