Melihat Pemilu Malaysia dari Kaca Mata Tan Sri JJ

| dilihat 2640

TAN Sri Johan Jaaffar (JJ) – wartawan – budayawan – sekaligus eksekutif profesional yang pernah memimpin Media Prima Bhd – Malaysia, menulis kolom menarik tentang Pilihan raya Umum (pemilihan umum) 14 Malaysia, di Harian Star - Senin, 30 April 2018, lalu.

Kolom berbahasa Inggris, itu bertajuk "Know that there is life after GE14." JJ menulis dengan pilihan kosakata dan kalimat yang estetis, untuk mengekspresikan pemikirannya tentang demokrasi di Malaysia. Sepekan sebelumnya di media yang sama, JJ menulis tentang dunia pers di Malaysia.

Kali ini, kolomnya terkait dengan penyelenggaraan Pilihan raya Umum 14 (Pemilihan Umum) yang bakal digelar beberapa ke depan di seluruh Malaysia, baik di Semenanjung maupun di Sarawak dan Sabah yang terletak di Pulau Kalimantan (Borneo).

JJ menulis, PRU yang bakal digelar itu itu, akan menghasilkan pemerintahan baru yang lebih baik atau lebih buruk, bergantung darimana rakyat Malaysia memandangnya. Sebagaimana lazimnya, pemerintahan baru hasil pemilihan umum tidak akan memuaskan semua orang.

“Demokrasi bukan tanpa cacat,” tegas JJ. Bagi yang kalah, hasil pemilihan umum akan diterima dengan ‘rasa masam,’ dan akan selalu menemukan kesalahan dalam penyelenggaraannya.

Mengutip pepatah Melayu, “Kalah jadi abu, menang jadi arang,” JJ mengungkapkan, pepatah itu menggambarkan, bahwa dalam perseteruan habis-habisan, tak ada yang benar-benar menang. “Rasa pedasnya pahit,” tulis JJ, dan terjadilah kekecewaan dari seluruh pihak yang bertikai.

JJ menggambarkan, kehidupan sesudah pemilu: Yang kalah akan menyalahkan segalanya, dan kegembiraan pemenang akan berumur pendek. Mungkin akan ada jeda sebelum badai lain. Siklus ini akan berlanjut - kampanye untuk pemilihan umum berikutnya akan dimulai bahkan sebelum spanduk dibawa pergi.

Artinya, dalam pemilihan umum, terlalu banyak yang dipertaruhkan. Masalahnya terlalu kontroversial. Sejak pemilihan terakhir, tidak pernah ada hari yang membosankan dalam politik Malaysia.

JJ memberikan aksentuasi menarik, “Jika Anda berpikir Julius Caesar Shakespeare menarik, tunggu sampai Anda mempelajari bagaimana politisi Malaysia bermain politik.”

JJ mengingatkan, “Orang-orang berubah seiring perkembangan zaman. Dinamika masyarakat Malaysia sedang berubah. Generasi yang lebih tegas, kritis, dan menuntut. meningkat di tengah-tengah kita. Mereka dirumuskan oleh teknologi dan gadget terbaru. Mereka diinformasikan secara kejam dan menuntut secara intelektual.”

JJ juga mengingatkan, melihat dinamika pemilihan umum, para sesepuh, para senior, dan para veteran, mengawasi semua perilaku politisi. Kadang-kadang dengan kesal dan mengecam etika dan perbuatan kita.

Dalam edisi terbaru majalah Time, yang berfokus pada "100 Orang Paling Berpengaruh," Barack Obama memberi hormat kepada lima pendukung muda dari aksi pengawasan senjata api, di antara korban penembakan Parkland.

Dia mengatakan tentang mereka, “... mereka memiliki kekuatan yang begitu sering melekat pada pemuda: untuk melihat dunia baru; untuk menolak batasan lama, konvensi yang ketinggalan jaman dan kepengecutan yang terlalu sering didandani sebagai kebijaksanaan.”

PRU 14 Malaysia, menurut JJ, juga tentang masa muda kita, untuk masa depan bagi mereka sekarang. “Kami telah memiliki suara kami selama ini, menentukan apa yang kami yakini benar dan mulia. Tetapi anak muda di negara ini harus memutuskan apa yang terbaik bagi mereka,” tulis JJ.

“Kami dulu muda, dengan idealisme sebagai lagu angsa dan api di perut. Kami memiliki kesempatan dan kami telah melakukan bagian kami. Mungkin kita sudah melakukan yang terbaik. Mungkin tidak. Biarkan sejarah menilai kita, karena masa depan bukan untuk kita bagan lagi,” tegasnya.

Yang jelas, JJ mengingatkan, generasi muda mengawasi bagaimana kalangan dewasa, memimpin dirinya dalam pemilihan ini. Pemilihan tak elok.

Tentang istilah ‘musim konyol’ yang dilekatkan pada peristiwa pemilihan umum, JJ mengungkap sikapnya: “Saya benci menggunakan istilah "musim konyol" untuk pemilihan. (Istilah) ini, setidaknya, merendahkan. Pemilihan seharusnya menjadi puncak demokrasi dan kebebasan. Ini menjamin hak bagi semua orang untuk memilih. Satu orang, satu suara.”

Pada bagian lain artikel yang ditulisnya, itu JJ, mengungkapkan, “Tidak ada yang meragukan keganasan dari kampanye saat ini. Media sosial dilalap api kebencian, pembunuhan karakter, sindiran, berita palsu dan semacamnya.”

Selanjutnya, JJ mengekspresikan sikap tegasnya, begini :

Tidak ada yang terhindar. Tidak ada kerangka yang tersisa di lemari dan tidak ada kotoran yang tidak digunakan.

Sepertinya semuanya dapat dieksploitasi, termasuk ras dan agama karena hal-hal ini dapat membantu memenangkan suara.

Jika bagi sebagian orang, ini adalah tentang memenangkan dengan segala cara, kita harus mengambil bagian-bagian itu di tahun-tahun mendatang. Dan orang-orang kita harus menanggung akibat kebencian dan ketakutan untuk waktu yang lama.

Namun, satu hal yang tak boleh dilupa, menurut JJ. Yakni : Ada kehidupan setelah pemilihan. Bagaimana melanjutkan urusan yang belum selesai membangun bangsa yang lebih kuat? Bagaimana cara membawa negara ke tingkat berikutnya?

“Bukankah kita ingin anak-anak muda kita memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan kita dan mereka berkembang dalam masyarakat yang lebih terbuka adil dan setara?” tanyanya.

JJ terusik oleh kalimat dalam spanduk, yang dipasang penduduk dari Bagian 19/3 di Shah Alam, yang disorot oleh surat kabar ini (Harian Star) pada hari Rabu.

Ini memiliki semua logo dari partai politik yang bertikai ditambah frase seperti "Kita Semua Satu Komunitas" "Kekalkan Muafakat" dan "Ini Negara Demokrasi."

Mengakhiri kolomnya, eksekutif profesional yang baru pensiun sebagai Chairman Media Prima Bhd, itu mengungkap : Pesan dalam spanduk itu adalah, warga dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang politik dan pilihan untuk memilih, tetapi ketika debu mengendap, masyarakat harus tetap utuh.

Pesan rakyat yang tercermin dalam spanduk, itu pantas mendapatkan rasa hormat, karena mereka berbicara untuk semua kalangan – rakyat Malaysia.

“Kepada semua pemilih, Selamat Mengundi,” pungkas JJ. Artinya, selamat memilih (kontestan dalam PRU14). | Bang Sem

Editor : sem haesy | Sumber : The Star - Malaysia
 
Humaniora
17 Mei 18, 21:46 WIB | Dilihat : 1132
Ibadah Ramadan di Palestina
17 Mei 18, 10:43 WIB | Dilihat : 1167
Pendekar Inspirasi Ilmu Giri
16 Mei 18, 19:52 WIB | Dilihat : 837
Mengunjungi Ramadan
13 Mei 18, 16:04 WIB | Dilihat : 1230
Jangan Biarkan Peternak Iblis Hidup
Selanjutnya
Seni & Hiburan
05 Mei 18, 09:33 WIB | Dilihat : 2237
Botol Susu di kamar Tidurku
30 Apr 18, 14:31 WIB | Dilihat : 1537
Pesona Persona Kala Pesohor Baca Puisi
25 Apr 18, 12:18 WIB | Dilihat : 1345
Istana Kura-Kura
25 Apr 18, 11:55 WIB | Dilihat : 797
Benar Kata Ibu
Selanjutnya