Delegasi SDIC dan Forhati Nasional Menimba Ilmu Dr. Wan Azizah Ismail

| dilihat 407

Kuala Lumpur, Akarpadinews | Sejumlah peserta Sekolah Demokrasi Insan Cita (SDIC) Forum Alumni HMI-wati (Forhati) dan pengurus Majelis Nasional Forhati, dipimpin Hanifah Husein, Koordinator Presidium, Senin (1/10) beranjangsana kepada Datuk Seri Dr. Wan Azizah Wan Ismail, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat.

Perempuan kuat Malaysia yang juga isteri mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, itu menerima kunjungan tersebut di kantor Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat di Putera Jaya.

Kunjungan itu, menurut Hanifah Husein, untuk belajar sekaligus menimba pengetahuan dan pengalaman dari dokter ahli mata yang memimpin Partai Keadilan Rakyat (PKR) dan sangat terkenal sebagai pemimpin politik bersahaja yang sangat setia kepada suami, dan mendidik langsung anak-anaknya.

Hanifah, didampingi salah seorang penasehat MN Forhati, Ida Ismail Nasution, memperkenalkan sejumlah calon anggota legislatif yang terlibat langsung dalam SDIC di Jakarta (26-29 September 2018) dan pengurus MN Forhati, serta sejumlah senior.

Hanifah memperkenalkan Dian Islamiati Fatwa – caleg DPR RI dari PAN (Partai Amanat Nasional) yang sebaya dengan puteri sulung Wan Azizah, Nurul Izzah yang juga anggota parlemen (Dewan Rakyat) Malaysia. Selain itu, Suryani – caleg perempuan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) untuk DPRD Kabupaten Nunukan di daerah pemilihan Sebatik – Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan wilayah negara Malaysia.

Terlihat pula, Difa Amalia Dude – caleg PKS (Partai Keadilan Sejahtera) untuk DPRD Kabupaten Gorontalo; Fadilah Mahmud caleg Partai Nasdem untuk DPRD Halmahera Selatan, Layli Demianti – juga caleg dari Partai Nasdem untuk DPRD Provinsi Maluku Utara yang pernah menjadi anggota KPUD di provinsi itu, serta sejumlah senior Forhati yang berkiprah dalam pemberdayaan perempuan, family counseling, pendidik (dosen dan kepala sekolah lembaga pendidikan khas), notaris, psikolog, dan aktivis perempuan lainnya di Indonesia.

Anjangsana itu, merupakan rangkaian pendidikan caleg perempuan alumni HMI yang sudah berlangsung di Jakarta, 26 - 29 September 2018, dalam panduan Inna Mukadas (Kepala Sekolah) dan Jumrana Salikki (Sekjend MN Forhati).

“Kita kunjungi beliau (Wan Azizah), karena beliau amat layak dan patut kita jadikan teladan dan kita gali pengetahuan dan pengalamannya. Baik bagaimana beliau melakukan personal convert dari seorang dokter spesialis mata, lalu menjadi isteri menteri, isteri wakil perdana menteri, kemudian melanjutkan perjuangan suaminya, Anwar Ibrahim ketika dipenjara, memimpin gerakan reformasi Malaysia bersama puterinya, dengan tetap mewujudkan fungsi utamanya sebagai ibu,” jelas Hanifah.

Anjangsana ini relevan dengan komitmen Hanifah menggerakkan Forhati – melalui SDIC – sebagai ajang bagi anggota Forhati di seluruh Indonesia, menempa diri, sungguh sebagai wakil rakyat.

“Bukan sekadar untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan di parlemen, melainkan anggota parlemen yang punya kapasitas dan kompeten. Kita tak mau dengar lagi ada istilah, perempuan anggota parlemen hanya sebagai cheerleader,” tegas Hanifah.

Dr. Wan Azizah yang biasa dipanggil Kak Wan, ini pertama kali terjun ke dunia politik setelah suaminya, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dipecat sebagai wakil perdana menteri dan dipenjara pada tahun 1998. Dia kemudian memimpin sebuah front oposisi dan memobilisasi dukungan untuk pembebasannya. 

Dia berhasil memenangkan suara terbanyak di basis perjuangan suaminya, Permatang Pauh. Sedangkan puterinya, Nurul Izzah memenangkan kursi parlemen di Lembah Pantai, dari tangan Syahrizad yang ketika itu menjabat Menteri Pembangunan Wanita, Keluarga dan Masyarakat.

Wan Azizah mundur dari parlemen, begitu suaminya memperoleh kembali hak politiknya, selepas PRU (Pilihan Raya Umum) 12. Anwar Ibrahim, suaminya bertarung di Permatang Pauh dan menghantarnya ‘kembali’ ke parlemen. Wan Azizah juga menyerahkan kepemimpinan PKR – sekaligus menyerahkan kepemimpinan koalisi pembangkang (oposisi) yang beranggota DAP (Democratic Action Party) dan PAS (Parti Al-islam Sa-Malaysia).

Anwar Ibrahim terpental lagi dari kursi parlemen dan menghuni penjara Sungai Buloh. Wan Azizah – atas nasihat suaminya, mengajak serta kaum pembangkang, khasnya Lim Kit Siang (DAP) dan Mat Sabu (Parti Amanah) berkolaborasi dengan Tun Dr. M (Mahathir Mohammad) yang mendirikan Parti Melayu Bersatu – setelah keluar dari UMNO – Barisan Nasional. Lantas membentuk koalisi Pakatan Harapan (PH) yang pada PRU14, memenangkan pilihan raya umum. PAS melenggang sendiri, tak berkoalisi dengan sesiapapun.

Berkampanye pada platform reformasi, Kak Wan dan koalisi pembangkang menyapu jajak pendapat 9 Mei yang bersejarah, dengan mengusung isu utama perubahan pemerintahan pertama sejak Malaysia memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1957.

Politikus yang berbicara lembut itu menegaskan prioritasnya mencakup penguatan legislasi untuk melindungi perempuan dari pelecehan sosial, termasuk pelecehan seksual. Termasuk menempak keluarga rakyat Malaysia sebagai basis pertahanan dan penggerak perubahan.

Bersama Tun Mahathir, Kak Wan di detik-detik kritis menjelang pemungutan suara (karena DAP dibekukan, Bersatu dan Amanah tak diberikan izin) mengambil inisiatif, menggunakan nama dan logo PKR sebagai logo Pakatan Harapan.

Sejak kecil, Kak Wan bercita-cita menjadi dokter dan menyembuhkan penyakit. Cita-cita itu tercapai, dan kemudian arah baru jalan hidupnya sebagai politisi bermula, ketika dia pulang selesai studi, tahun 1967. Anwar Ibrahim kemudian meminangnya, dan keduanya menikah.

Sekarang dia adalah politisi perempuan Malaysia yang paling kuat, dia mengatakan misinya untuk meningkatkan hak-hak perempuan. "Saya manusia biasa. Saya diuji (oleh Allah) dengan mempunyai seorang suami yang sangat aktif," jelasnya. Kak Wan juga bercerita, bertemu dengan ayahnya Dian, almarhum AM Fatwa di kediamannya. Di mata Kak Wan, Almarhum AM Fatwa seorang pejuang.

Kak Wan yang kini berusia 65 tahun, itu memecahkan sejarah kenegaraan Malaysia, sebagai perempuan pertama Malaysia sebagai wakil perdana menteri Malaysia. Dia juga salah satu dari hanya segelintir politisi perempuan Asia Tenggara di pentas politik kekuasaan.

Kak Wan berjanji mendorong hak-hak perempuan yang lebih besar di negara di mana representasi perempuan di badan legislatif nasional termasuk yang terendah di dunia.

"Orang-orang mencari dan berkata, 'Ya, kami memiliki harapan,” ungkap Kak Wan suatu ketika, dalam wawancara pertama dengan  Thomson Reuters Foundation pada hari Senin (28 Mei), beberapa saat setelah dilantik sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia.

"Perempuan sekarang melihat bahwa Anda dapat memecahkan hambatan, itu bisa terjadi - dengan sedikit ketekunan, komitmen dan keyakinan bahwa Anda benar-benar dapat melakukannya," katanya di kantor Timbalan Perdana Menteri, di ibukota administratif Malaysia, Putrajaya.

Tun Mahathir menugaskannya, memikul pula tanggungjawab memimpin Kementerian Pembangunan Wanita, Keluarga, dan Masyarakat.  

Dengan tanggungjawab itu, Kak Wan mesti all out menggerakkan seluruh ikhtiar mengubah keadaan. Karena, meskipun Malaysia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga di Asia Tenggara dan kaum perempuannya terus memimpin kehidupan modern, tetapi Malaysia masih menduduki peringkat 104 dari 144 negara pada Indeks Kesenjangan Gender 2017 yang dilansir World Economic Forum.  

Kepada tetamunya yang dipimpin Hanifah Husein, Senin pagi, Kak Wan menjelaskan ikhtiar perubahan yang dilakukan Malaysia. Antara lain, perubahan beberapa undang-undang sesuai dengan misi reformasi, anti-pelecehan, dan anti kekerasan dalam rumah tangga.

Wakil perdana menteri itu menuturkan, pemerintah Malaysia, juga akan mencari kebijakan untuk membantu perempuan di tempat kerja, terutama ibu, dengan meningkatkan fasilitas penitipan anak.

Soal keterwakilan perempuan, Kak Wan mengemukakan, bukan lagi soal kuota. “Kami harus mengisi posisi dan menghantarkan perempuan-perempuan berkualitas untuk posisi-posisi tertentu,” ungkapnya. Pemerintah, tegasnya, tetap berkomitmen memenuhi target, mengisi 30 persen dari seluruh komposisi jawatan (baca: jabatan) dalam politik dan pemerintahan Malaysia.

Malaysia dalam The Inter-Parliamentary Union baru menempati 155 dari 188 negara dilihat dari representasi perempuannya di lembaga legislatif nasional.

Isyarat lain dikemukakan Kak Wan yang sangat berakhlak, itu, dia akan melanjutkan pekerjaannya untuk memecahkan hambatan budaya dan meningkatkan kesetaraan gender. Meski, kelak, suaminya Anwar Ibrahim kembali ke Parlemen mewakili Permatang Pauh. | aishah, arlina, kkasimm

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto khas jamilah
 
Budaya
Energi & Tambang
14 Des 18, 10:48 WIB | Dilihat : 88
Surya Darma Sahabat Terbarukan
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 329
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 151
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2763
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
Selanjutnya