Memetik Hikmah Perhimpunan Aman & Lomba Debat Pelajar

Cari Cara Berdebat dan Bertikai Orang Timur

| dilihat 1288

Catatan Haèdar Muhammad

Kuala Lumpur cerah, ketika ramai orang mengekspresikan aspirasinya melalui unjuk rasa (perhimpunan, demonstrasi) di seputaran Dataran Merdeka, Sabtu (26/7/25).  Polisi Diraja Malaysia (PDRM) dan berbagai petugas lain  berjaga-jaga, mulai dari beberapa titik kumpul.

Para pembangkang (oposan) di Dewan Rakyat, nampak berada di kendaraan yang diubah suai menjadi panggung meluahkan aspirasi mereka. Nampak Perdana Menteri (PM) ke 4 dan ke 7, Tun Dr. Mahathir Muhammad yang berusia lebih seabad, juga PM ke 8 Tan Sri Mahiadin (Muhyiddin) Yasin yang juga anggota Dewan Rakyat dari wilayah parlemen Pagoh.

Nampak juga Ketua Pembangkang, Dato' Seri Hamzah Zainudin (Larut). Nampak pula beberapa anggota Dewan Rakyat dari Perikatan Nasional (PN), seperti Datuk Takiyuddin bin Hassan (Kota Bharu), Dr. Radzi Jidin (Puterajaya), Wan Ahmad Fayhsal bin Wan Ahmad Kamal (Machang). Pula, anggota Dewan Undangan Negeri (DUN) Selangor Dato' Seri Mohamed Azmin bin Ali (Hulu Kelang), Mukhriz Mahathir (Pejuang) dan lain-lain.

Tajuk utama demonstrasi yang melibatkan rakyat secara massif ini adalah "Rakyat Bangkit, Anwar Turun." Gugatan dan tuntutan dengan beragam langgam retorika yang menghendaki Anwar Ibrahim turun (dari) atau meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri (PM) X Malaysia.

Banyak hal yang disoal, disamping apa yang sudah disuarakan dalam perdebatan di ruang sidang Dewan Rakyat, ihwal biaya hidup (kos sara hidup) dan berbagai harga barang pokok sehari-hari yang naik dan menjerat rakyat.

Mengemuka dalam orasi Mukhriz Mahathir, antara lain ihwal harga telur, daging ayam, telur, minyak masak, petrol (bahan bakar minyak), tanpa kecuali harga ikan kembung yang sempat mengemuka dalam debat di Dewan Rakyat, dan lain-lain. 

Dari orasi tokoh lain, dalam orasinya antara lain mengemuka soal nepotisma dan perkoncoan, yang merujuk pada berbagai aspirasi yang mengemuka dalam demonstrasi yang dilakukan para advokat. Juga perihal tata kelola pemerintahan sesuai dengan laporan Jabatan (kantor) Audit Negara.

Melampaui Otoritas

Tun Mahathir (Tun M) menilai Anwar Ibrahim telah melampaui batas kuasanya sebagai PM, seolah-olah sudah mengambil porsi kuasa kehakiman dan pendakwa raya. Undang-undang tidak mengatur Perdana Menteri sebagai hakim dan pendakwa raya (jaksa agung).

PM ke 4 dan ke 7 Malaysia tersebut menyoal ihwal pernyataan PM X Anwar Ibrahim tentang kaitan Tun M dengan lepasnya pulau Batu Puteh saat menjawab pertanyaan dari pembangkang kepadanya.

Anwar menyatakan, "Salahkah Tun Mahathir? Dia salah !" Namun, mengingat usia Tun M yang sudah 100 tahun lebih, pemerintahannya tak akan mempersoalkan hal tersebut ke mahkamah.

Tun M terusik dengan pernyataan, itu sehingga dalam kesempatan berorasi di demonstrasi besar, hal itu dia ungkap kembali. Sebelumnya, Tun M sudah pula menyinggung soal itu saat bicara dalam rapat umum di Kedah.

Menurut Tun M, dia akan hadapi mahkamah. Tun M menyatakan, "Kata dia saya berumur seratus tahun, itulah sebabnya saya tidak dituntut, kendati saya bersalah. Ini berarti saya mendapatkan kekebalan. Saya tidak menginginkan kekebalan. Jika Anda menuduh saya bersalah, bawa saya ke mahkamah dan buktikan saya bersalah."

Lewat akun media sosialnya (Chedet) Tiun M menyatakan, "Saya tahu saya tidak bersalah dan saya ingin membuktikannya."

Kemudian Tun M mengemukakan tindakan melampaui otoritas PM yang dilakukan Anwar Ibrahim terhadap Tun Daim Zainuddin, mantan Menteri Keuangan II, dengan sangkaan ruswah. Tun Daim wafat (11/11/2024) lalu dan sampai kini rekening banknya masih dibekukan oleh negara.

Kebebasan Bersuara

Pendek kata, dalam berbagai orasi dalam demonstrasi rakyat dalam skala besar itu, berbagai sisi Anwar Ibrahim diungkap kembali oleh para orator. Khasnya oleh politisi senior. Para orator itu juga mencècèh apa yang dilakukan Anwar Ibrahim sebagai PM X yang 'menyampaikan kabar gembira' (Kamis, 24/7/25).

Secara resmi, atas nama pemerintah Madani yang dipimpinnya, Anwar Ibrahim mengumumkan penurunan harga petron RON 95 menjadi RM1,99 seliter; Memberikan bantuan langsung tunai sebesar RM100 kepada rakyat melalui program SARA; Menunda kenaikan tarif tol, dan berbagai program lainnya.

Para pemimpin demonstran menganggap, kebijakan pemerintah Madani yang terkesan pro rakyat itu dipandang sebagai salah satu cara Anwar untuk mencegah sebagian orang bergabung dalam demonstrasi besar itu.

Tun M sendiri menyindir kebijakan tersebut tak mustahil akan dilakukan lagi menjelang Pilihan Raya Umum ke 16 kelak, disambut gelak demonstran yang menyimak orasinya.

Kendati di berbagai titik terjadi sekatan - roadblock - sehingga banyak rakyat yang mau bergabung ke dalam demonstrasi itu terhambat, Anwar Ibrahim dengan santai menyatakan dirinya konsisten dan konsekuen untuk menyelenggarakan demokrasi. Ia tak menghambat kegiatan tersebut dan menjunjung prinsip kebebasan bersuara dan menyatakan kritik secara aman dan tertib.

Karenanya, ia mengucapkan terima kasih kepada PDRM (Polis di Raja Malaysia), pasukan Bomba (pemadam kebakaran), dan petugas kesehatan yang mengawal demonstrasi 'Rakyat Bangkit Turun Anwar,' itu.

Lewat akun facebook-nya (Sabtu, 26/7/25), Anwar Ibrahim mengungkapkan,"Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh personel keamanan, mulai dari kepolisian, pemadam kebakaran, tim medis, hingga relawan yang telah bekerja dengan penuh kelincahan, disiplin, dan dedikasi tinggi untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat serta memastikan kelancaran jalannya aksi hari ini."

Kepada para demonstran yang hadir, baik yang menyampaikan aspirasi, bersolidaritas, maupun yang datang dari jauh, ia menyatakan, "Saya doakan agar kalian dapat kembali dengan selamat ke tujuan masing-masing. Semoga perjalanan kalian dimudahkan dan dilindungi," ungkapnya.

Belajar dari Para Pelajar

Pada waktu yang bersamaan, bersama Menteri Pendidikan dan beberapa kalangan dekatnya, PM X Anwar Ibrahim berada di acara final lomba debat yang diselenggarakan di Puterajaya International Convention Centre (PICC). Lomba tersebut mengambil tajuk, “Pengintegrasian Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dalam Sistem Pendidikan Menjadi Cabaran Bagi Memperkukuh Reformasi Pendidikan Selaras Dengan Revolusi Industri 5.0” memperebutkan Piala Perdana Menteri.

Di awal sambutannya, Anwar Ibrahim melontar narasi yang mengundang senyuman, karena ironis. "Tadi saya renung sebentar. Apa salahnya kalau anggota DPR belajar dari siswa-siswa ini untuk berdebat? Kita harus menguasai ilmu mencerna, mengolah, membuat sketsa, lalu mempresentasikan. Anak-anak kelas tiga, empat, tunjukkan contoh dan tingkatan debat yang hebat," ungkapnya.

Lantas Anwar Ibrahim menyatakan, "Debat atau perdebatan ini bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi kemampuan menguasai, menganalisis, mencerna, dan menyampaikan pendapat. Ya. Itulah sebabnya saya rasa itu faktor pertama yang harus dipelajari oleh Bapak-bapak kita di Dewan Rakyat yang sedang (dalam masa) bersidang ."

Kemudian Anwar Ibrahim mengemukakan, "Yang kedua terkait dengan debat, yaitu menjaga bahasa dan budaya yang santun, tegas tapi santun. Tidak menghina, tidak mengumpat. Apalagi maki hamun.  Inilah yang disebut tata krama dan moral. Dan ini ditunjukkan oleh anak-anak yang berdebat tadi, yang harus dipelajari oleh anggota DPR Malaysia."

Para peserta merespon pernyataan itu dengan tepuk tangan dan tawa secara sukacita.  "Artinya, kita boleh berbeda pendapat dan bersikap tegas dalam perbedaan pendapat, serta tegas dalam mengemukakan argumen dan mengemukakan gagasan. Namun, hal ini bukan menjadi cara untuk menghina, mempermalukan, dan sekedar berdebat," ungkapnya lagi menggaris bawahi ucapannya.

Cari Cara Berdebat

Lantas Anwar meminta RTM (Radio Talivisyen Malaysia) yang menayangkan acara tersebut secara langsung, "mungkin RTM dapat mengulang beberapa aspek dari debat tersebut, dan saya akan meminta pembawa acara untuk menyampaikannya secara khusus kepada para anggota parlemen yang sedang bersidang."

Bila hendak direnungkan dan dikaji, apa yang tampak di perhimpunan aman (demonstrasi) rakyat secara massif yang digelar kalangan pembangkang, dan apa yang tampak di ruang sidang utama PICC Putrajaya, pun apa yang kerap nampak di persidangan Dewan Rakyat memberi isyarat kepada para politisi, terutama anggora parlemen untuk sama merenung sekejap.

Khasnya, ihwal bagaimana melakukan perdebatan yang berbudaya, mempunyai nilai, patuh pada norma (manner) yang berlaku di dalam masyarakat dengan tamaddun yang mulia. Tamaddun masyarakat negara bangsa yang berbudaya dengan segala adat resamnya dan islam yang ditunjang tauhid - aqidah, syar'i - kaidah, dan akhlak, karena politik merupakan bagian integral dari mu'amalah.

Landasan prinsipnya, "sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah" yang menghantarkan kesadaran budaya masyarakat maju dan modern bertapak kesadara dan antusiasme untuk menghidupkan sekaligus merawat mutual respek.

Politik yang sungguh siyasah mulia -- memberikan cara mendapatkan solusi dalam memecahkan masalah -- yang dikemas dengan mendahulukan prinsip 'bil hikmah wal mauidzah hasanah.' Di dalamnya mengalir simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta.

Dari perhimpunan 'Rakyat Bangkit Turun Anwar' dan lomba debat pelajar, tak salah bila Tun M, PM X Anwar Ibrahim, Zahid Hamidi, Haji Fadhilah Yusof, Hamzah Zainudin, para pemimpin parti yang berkoalisi sebagai penguasa dan pembangkang, ambil masa keluar sekejap.

Melakukan musyawarah dan muzakarah, mencari dan merumuskan cara berdebat dan bertikai yang mampu menggerakkan semangat rakyat memaknai hakikat demokrasi sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan. Demokrasi khas orang Timur. |

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1059
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3172
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Energi & Tambang