- Cermin Demokrasi

Beppe Grillo, Komedian Paten di Panggung Politik Italia

| dilihat 1376

Catatan Bang Sem

MUSIM dingin baru berlalu di Ancona, Italia. Karena perubahan musim yang sering tak tentu, April 2013, itu merupakan momen menarik untuk menyelisik Italia. Dari Milano saya bergegas. Beberapa teman berbisik tentang fenomena politik Italia yang menarik kala itu. Perdana Menteri, Silvio Berlusconi – raja entertainment yang membangun industri perfilman, hanya menjalani tugasnya sebagai Perdana Menteri, empat hari dalam sepekan. Dua hari sebagai terdakwa beragam kasus di pengadilan, sehari libur.

Di tengah situasi politik yang begitu macam, di tengah krisis ekonomi Eropa yang sedang melanda, muncullah Beppe Grillo, seorang komedian di kancah politik Itali yang begitu ketat dibekap para mafioso.

Kala itu, isu tentang kebangkrutan Greek sedang menghambur. Sejumlah imigran dari Eropa Timur, Rumania, Greek, dan Maroko (Afrika) bagai gelombang laut merasuk ke Italia. Antara lain, ngendon di Milano, kota dagang dan fashion yang populer.

Dari Ancona, Grillo meneriakkan pesan khas saat memainkan satu repertoar stand up commedy. Katanya, “Satu Italia adalah kekasih Latin. Dua yang berantakan: tiga dari empat orang Itali sibuk membentuk partai politik.” Grillo sedang berkilah, karena empat tahun sebelumnya dia terjun ke kancah politik Itali. Ia mendirikan suatu gerakan politik anti kemapanan. Pada Pemilu 2013, gerakannya yang berubah menjadi partai yang tiba-tiba melesat dan memperoleh suara lumayan besar. Februari itu, Grillo mencatat sejarah: seorang komedian memengaruhi perpolitikan Italia.

Suara yang diperoleh Grillo signifikan, sangat jauh dibanding suara yang pernah diperoleh Alona, bintang film porno yang terpilih sebagai anggota parlemen pada Pemilu beberapa tahun sebelumnya. Partai Five Stars yang digerakkan Grillo dipilih rakyat kebanyakan Italia, itu melambung, ketika komedian dengan konsep black commedy sarkastik, ini terpilih masuk parlemen.

Rakyat menghendaki Grillo dan partainya berlari lebih kencang masuk ke dalam parlemen untuk membersihkan politik praktis Italia yang dianggap sudah kusam dan kotor. Janji politik Grillo dan Five Stars yang sederhana, terfokus isu pemberantasan korupsi dan penguatan inklusi ekonomi untuk memperkuat akses rakyat terhadap modal dan pasar.

Grillo dan partai Five Stars yang didirikannya, memperoleh sokongan lapisan akarpadi (grass root). Lapisan rakyat ini sudah muak dengan kondisi yang diciptakan politisi Italia pimpinan Silvio Berlusconi yang gemar pesta dan melarut-malam dengan gadis-gadis seksi. Grillo konsisten meneriakkan aspirasi mereka: mengangkat Itali dari resesi yang memerosokkan negeri religiotainment, itu.

Grillo lewat aksi stand up komedi dan berbagai repertoar para pelawak lainnya, menawarkan gagasan praktis dan executable untuk melakukan efisiensi anggaran dan mencabut kemewahan dari partai-partai yang berkuasa di negara itu. Hmm.. Grillo dan partainya berhasil merebut 163 kursi parlemen dan menyebut diri sebagai “Grillini.”

“Jangan sebut mereka sebagai wakil partai. Begitu masuk di parlemen, mereka adalah pembawa suara rakyat yang saya suarakan tanpa henti selama empat tahun terakhir,” seru Grillo. Mereka akan berjuang di Majelis Tinggi dan Majelis Rendah parlemen mengubah aspirasi rakyat menjadi aksi politik dan kenegaraan.

“Cukuplah Silvio Berlusconi menjadi momok menyeramkan bagi rakyat Italia. Dengan pesona persona “bunga-bunga partai” yang busuk mereka sudah hancurkan kehidupan rakyat Itali,” ujar Grillo. Lantas dia bilang, “terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepada kami. “Di tangan komedian, bunga-bunga Italia akan berkembang dan membuat hidup gembira,” serunya.

Sayang, koalisi politik Grillo kalah suara dalam pemilihan Perdana Menteri. Bila tidak, kini komedian itulah yang menjabat Perdana Menteri Italia menggantikan Silvio Berlusconi.  Kini Italia dipimpin Perdana Menteri “balita” (dibawah lima puluh tahun) Enrico Letta dari Partai Demokrat. Ia lahir di Pisa, Itali pada 20 Agustus 1966.

Suami dari Gianni Fregonora lulusan University of Pisa, itu tak pernah henti dikritisi Grillo. “Jangan main-main dengan komedian,” seru Grillo yang membuktikan, komedian punya tempat terhormat. Saya memandang Grillo dengan sukacita, saat dia bercanda, “Di negeri Anda, terlalu banyak komedian di panggung politik dan sedikit politisi di panggung komedi.” |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1286
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 985
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 984
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya