Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta

| dilihat 692

Catatan Kecil Sem Haesy

PASAR Seni Ancol – Jakarta Utara, patut dikunjungi warga Jakarta. Di sentra pariwisata Jakarta, itu sejak 14 Juni sampai 17 Agustus 2018 digelar Pameran Toponimi “Wall of Frame” Sejarah Betawi.

Secara umum Toponim dapat dipahami sebagai nama wilayah atau tempat, atau nama yang diturunkan karena hubungannya dengan tempat tertentu. Toponim menimbulkan studi yang menarik dalam linguistik. Secara etimologi toponim dapat ditelusuri hinga ke cerita rakyat, mitologi atau alasan historis ihwal migrasi berbagai budaya dan bahasa.

Kita mengenal beragam jenis Toponim, mulai dari Agronym merujuk pada nama padang rumput, peladangan, pesawahan atau ruang hidup terkait dengan era agraris. Kita juga mengenal Dromonim terkait dengan nama yang diberikan untuk rute jalan atau transportasi. Pun, Drymonym terkait nama yang berhubungan dengan hutan.

Belakangan, berkembang Econym, yang mengacu pada nama kota atau desa sementara dengan sentra kehidupan ekonominya, seperti pasar dan sejenisnya. Selain itu, juga ada Limnonym, terkait nama yang diciptakan untuk telaga atau danau. Demikian pula, dengan Necronym, terkait dengan nama daerah yang terkait dengan tempat pemakaman atau kuburan.

Studi ilmiah tentang Toponimi merupakan cabang dari onomastik yang mengacu pada studi nama pada umumnya. Kata Toponimi yang berasal dari kata Yunani tópos (tempat) dan ónoma (yang diterjemahkan sebagai nama).

Toponimi dalam banyak sisi, mempelajari asal, makna dan penggunaan nama tempat. Untuk pertamakalinya, istilah toponimi digunakan tahun 1876, paruh kedua abad ke 19, dalam bahasa Inggris.

Dari sudut pandang budaya, Toponimi terkait dengan sosio habitus yang membentuk ruang atau wilayah budaya, karena di daerah tertentu dengan nama tertentu tumbuh berkembang produk dan nilai budaya yang khas. Pun, dialek yang membentuk pola komunikasi sosio budaya tertentu.

Akanhalnya Ayatrohaedi menawarkan pemahaman Toponimi sebagai pengetahuan tentang asal usul nama tempat, sebagai bagian dari onomastik. Onomastik itu sendiri meliputi antroponomi, pengetahuan yang mengkaji riwayat atau asal-usul orang atau yang diorangkan, dan Toponimi, terkait dengan pengetahuan yang mengkaji riwayat asal usul nama tempat.

Toponimi Kampung Betawi yang dipamerkan dengan sajian menarik dalam bentuk visual, grafis, dan teks (caption) yang disajikan dalam pameran bertajuk “Wall of Frame,” sangat menarik. Tak hanya memandu kita mengenali asal-usul nama kampung dan tempat di Jakarta, paling tidak sejak 1527. Pun, karena apa yang disajikan apik oleh Betawi Kita, Pustaka Betawi, Taman Impian Jaya Ancol, serta komunitas Betawi lainnya – tak terkecuali institusi Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), mencerminkan kreativitas tangkas anak Betawi. Tabe.

Pameran yang melibatkan arkeolog Candrian Attahiyat, sastrawan Betawi Yahya Andi Saputra, jurnalis berbakat Rachmad Balang Sadeli, dan Asep Setiawan dari komunitas Baca Betawi itu juga merupakan jendela untuk bertanya dan mempertanyakan hal ihwal nama kampung, tempat kita bermukim kini. Bahkan, bagi sebagian besar anak Betawi, tempat mereka dilahirkan, tumbuhkembang, dan mengalami proses perubahan.

Apalagi dalam pameran itu, secara terusrat dan tersirat juga tampak perkembangan pembangunan di DKI Jakarta selama lebih 52 tahun.  Termasuk pemekaran kota dengan beragam perubahan yang menyertainya, termasuk perubahan nama kampung, jalan, dan nama wilayah sub budaya kaum Betawi.

Lewat Pameran Toponimi ini, kita menemukan banyak sekali hal menarik, termasuk perubahan cepat wilayah kampung yang semula diikat kuat dengan sub budaya rural dengan budaya metropolitan. Saya catat misalnya realitas kampung Kelapa Dua – Serengseng - Kebon Jeruk  di Jakarta Barat, atau kampung Kelapa Dua – Serengseng di Jakarta Selatan. Atau perubahan format kampung menjadi kota dan budaya yang menyertainya, seperti Duren Sawit, Duren Tiga, Tanjung Duren, dan sejenisnya. Termasuk Menteng, Bungur, Gambir, Condet, Kwitang, Kemang, Karet, Senayan, Tebet, Pejompongan, Penjaringan, Peninggiran, Penggilingan, Pisangan, Pinangsia, Pecenongan, Mahpar, Tamansari, Krekot, Sunter, Cakung, Kemayoran, Kebayoran, Kuningan, Ragunan, Luar Batang, Sampur, Marunda, dan seterusnya.

Setarikan nafas kita rasakan pula perubahan menarik kala menyebut Mangga Dua, Mangga Besar, Kebon Mangga dan sejenisnya. Pun demikian halnya ketika menyebut Rawa Buaya, Rawa Jati, Rawa Bangke, Rawa Bunga, Rawa Belong, Rawa Kambing, Rawa Kuning, Rawa Bebek, Rawa Jelante, Rawa Kemiri, Kampung Rawa, Kampung Rambutan, dan sejenisnya. Tak terkecuali, Kampung Bali, Kampung Makassar, Kampung Kerendang, Kampung Duku, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Melayu, Kampung Utan, dan sejenisnya.

Pergerakan perubahan itu juga terasa ketika kita menyebut nama daerah Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jum’at, Pasar Minggu, Pasar Baru, Pasar Pagi, Pasar Enjo, Pasar Gaplok, Pasar Rumput, Pasar Ikan, dan sejenisnya. Sebagaimana halnya perubahan itu terasakan ketika kita Menyebut Tanah Abang, Tanah Sereal, Tanah Tinggi, Tanah Rendah, atau Kebon Melati, Kebon Kacang, Kebon Pala, Kebon Sirih, Kebon Kosong, Kebon Baru, Kebon Jati, dan sejenisnya. Tak terhindarkan suasana yang sama juga terasa ketika menyebut Muara Karang, Muara Kamal, Cipinang Muara, Muara Gembong, dan sejenisnya.

Kesemua asal-asal usul nama yang tertinggal dan abadi, karena yang abadi memang suatu perubahan, Toponimi memberikan kita kesadaran pengetahuan tentang asal usul nama yang selalu menarik perhatian. Baik asal usul nama yang bermula dari beragam nama vegetasi, geografi, maupun nama-nama yang berhubungan dengan pola hidup berbasis daerah aliran sungai, serta kebermulaan sesuatu yang ditandai dengan apa yang dilihat, diingat, dan diucapkan.

Adalah arkeolog Candrian yang mengatakan pada saya, pameran yang hanya disiapkan tak lebih dari 45 hari ini, memang belum mewakili seluruh toponimi seluruh wilaha Provinsi DKI Jakarta. Masih perlu penggalian lebih mendalam melalui penelitian lebih mendalam dan terus menerus untuk menyempurnakannya.

Kelak, boleh jadi di tahun depan, ketika pameran ini digelar kembali, akan terjadi perkembangan yang lebih menarik dan kaya. Khasnya dalam melihat konteks nama dengan narasi yang menyertainya, baik yang berhubungan dengan sejarah, mitologi, bahkan ragam cerita yang menyertainya.

Tak hanya itu, bagi saya, pameran ini merupakan ekspresi kreatif anak Betawi, yang sekaligus memberi inspirasi untuk mengali banyak karya kreatif. Termasuk untuk kepentingan alihmedia bagi pengembangan ide cerita untuk produksi film, sinetron, sandiwara radio, serta pengembangan penulisan kreatif bagi pemenuhan keperluan muatan lokal dalam pola kurikulum pendidikan dasar di DKI Jakarta.

Boleh jadi pameran Toponimi ini akan mengilhami lahirnya beragam karya kreatif yang memperkaya literasi Betawi, dalam bentuk lisan maupun tertulis, yang kesemuanya tidak berhenti hanya pada teks, melainkan berkembang pada konteks. Bahkan, dalam kaitan dengan ruang,

Dari beberapa nama kampung, seperti Matraman - Kampung Bali - Jatinegara, misalnya, Toponimi dapat memandu kita memahami secara lebih jelas dan benar, ihwal terminologi yang benar tentang megapolitan. Karena selama ini termonologi megapolitan dipahami secara serampangan saja, sekadar dihubungkaitkan dengan pengembangan wilayah Jabedetabogpunjur (Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor, Puncak, Cianjur).

Padahal, dari toponimi ini kita melihat megapolitan dalam skala yang sebenarnya, meliputi koneksi DKI Jakarta dengan seluruh kota besar di Jawa. Terutama bila hendak dikaitan dengan ambisi gradual van Mook ketika memperluas wilayah ke Jatinegara. Di sisi lain, Toponimi ini, sekaligus mempertegas keyakinan kita, bahwa Ibukota Republik Indonesia hanyalah DKI Jakarta. Pusat pemerintahan di masa depan, boleh ditempat lain, seperti Maja atau Purwakarta.

Pameran Toponimi kampung Betawi yang sedang dipamerkan di Ancol saya pahami sebagai pintu masuk untuk bergandengan tangan, berkontribusi pada manifestasi pembangunan DKI Jakarta sebagai gerakan kebudayaan yang sesungguhnya. Karena di dalam kebudayaan itu, politik, sosial, ekonomi, pemerintahan,dan segala aspek kehidupan manusia, hanyalah bagian kecil saja. |

 

Baca juga : Betawi Kembali ke Laut Arungi Tantangan Masa Depan

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2609
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 643
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1078
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 772
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 536
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 541
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 680
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya