Anies Lolos dari Ujian Pertama Banjir Jakarta

| dilihat 1891

Catatan Alycatt Tique

UJIAN pertama bagi siapa saja yang memimpin DKI Jakarta (sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur) adalah bagaimana menghadapi banjir (apapun sebab musababnya).

Tidak saja karena posisi Jakarta sebagai dataran rendah yang tekanan berat gedung-gedung pencakar langit dan alih fungsi lahan yang sangat dahsyat, serta inkonsistensi terhadap RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) sejak dekade 70-an. Termasuk tidak terintegrasinya konsep dan strategi tata ruang wilayah Jawa, serta pola pembangunan spasial yang kian diperparah oleh otonomi daerah, sejak tahun 1999.

Berbeda dengan para Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta sebelumnya, Anies – Sandi merespon banjir dengan mengubah cara berfikir tentang banjir dan faktor-faktor yang menyertainya.

Anies tidak menempatkan curah hujan yang tinggi pada separuh masa dalam setahun sebagai sumber bencana, melainkan sebagai rahmat Tuhan yang harus dikelola dengan baik. Tetapi, dia sadar terhadap realitas tentang topografi Jakarta dan daerah-daerah hinterland atau bufferzone yang memang sudah rusak, dirampas oleh keserakahan dan beragam kepentingan.

Anies juga nampak sadar, ada kesalahan hari kemarin dalam menanggulangi banjir, yang lebih fokus pada hanya penataan fungsi sungai, anak sungai, dan kanal sebagai saluran kendali air yang melimpah di musim hujan, serta waduk, situ, dan danau sebagai penyimpan air.

Pembenahan bantaran sungai dengan betonisasi yang dilakukan sebelum ini, lebih banyak menambah areal penetrasi yang tidak memberi ruang bagi ‘rumah air.’

Berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah Provinsi Jakarta sebelum ini, juga lebih banyak memberikan tekanan berat pada kondisi eksisting bumi, dan dalam banyak hal mereduksi fungsi sungai, termasuk drainase kota. (baca: Gubernur Anies Ngerobok di Jati Padang)

Dalam situasi demikian, seperti pandangan Nicolas Bauduceau, yang lebih banyak dilakukan pemerintah di daerah-daerah rawan banjir, hanyalah : mempercepat air surut dan mempercepat waktu air menggenangi kota.

Menurut Ludovic Faytre yang pernah memimpin manajemen risiko banjir di Institut Perencanaan dan Pembangunan Ile-de-France, meski membangun tanggul sungai, kanal, waduk, dan drainase yang menyalurkan air ke laut, itu penting. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana menyiapkan strategi besar dan jangka panjang, menabung air di dalam bumi.

Manfaatnya, menurut Faytre, selain masa surut air lebih cepat, deposit air tanah selalu bertambah, dan stabilisasi lapisan tanah lebih terjaga. Faytre memberi amsal bagaimana pemerintah kota Paris menerapkan kebijakan pengendalian banjir bandang sejak 2016.

Pada kasus penanggulangan banjir kota Paris, Selain menguatkan fungsi tanggul di beberapa bagian Sungai Seine dan melakukan pengerukan yang memungkinkan kedalamannya mencapai 8.62 meter, juga diberlakukan kebijakan tentang ‘tabung air’ dan diberlakukan bagi pembangunan gedung-gedung pencakar langit di wilayah-wilayah pinggiran Paris.

Kebijakan itu ditempuh, menurut Carina Furusho-Percot -   spesialis peramalan banjir di IRSTEA (Institute for Research in Science and Technology for the Environment and Agriculture). Karena Paris dan wilayahnya tidak aman dari kerusakan, bila terjadi banjir besar. Karena itu, kebijakan tefokus pada perencanaan dan program antisipasi bila banjir tiba.

Esensinya: mengurangi kecemasan warga di musim hujan atau penghujung musim dingin. Aksi programatiknya adalah memahami, bahwa pembangunan perkotaan berdampak signifikan pada periode musim penghujan untuk mengurangi lama waktu genangan.

Faytre menyebut, langkah penanggulangan banjir yang bisa dilakukan adalah memberikan jaminan kepada warga kota, bahwa Paris memiliki tanggul, yang memperlambat resesi jika terjadi luapan, dan waterproofing tanah yang memperlambat infiltrasi air.

Tapi, langkah preventifnya adalah menyiapkan kebijakan untuk menabung air hujan atau peningkatan volume air di penghujung musim dingin dan musim semi.

Bagi Jakarta yang beriklim tropis dan hanya mengenal musim penghujan dan musim kemarau, mengacu pada kecenderungan besar terjadinya anomali musim dan perubahan suhu bumi, langkah Anies – Sandi sudah benar, mengubah minda tentang tata kelola air dan perencanaan program yang mampu merespon (dan mengantisipasi) banjir.

Beranjak dari cara berfikir Anies tentang hujan sebagai rahmat Tuhan yang mesti dikelola, dan bagaimana menanggulangi banjir, hal pertama yang harus dilakukan adalah menempatkan sungai, anak sungai, kanal, waduk, danau, situ, dan sejenisnya sebagai halaman depan, dan bukan merupakan halaman belakang.

Perubahan minda ini akan mengubah orientasi tentang sungai.

Ketika sungai, kanal, waduk, situ dan lainnya masih diposisikan sebagai halaman belakang, kecenderungan perilaku dan perlakuan buruk terhadap sungai sebagai saluran buangan – termasuk buangan kotoran – akan terus berlangsung. Akibatnya, dari masa ke masa, sampah yang dibuang ke sungai akan terus meningkat volumenya.

Perubahan ini harus diikuti dengan kebijakan, misalnya mewajibkan (melalui syarat perolehan IMB – izin mendirikan bangunan) untuk gedung-gedung tinggi, wajib mempunyai cawan air di atap lantai tertinggi, yang disalurkan ke dalam bumi, menggunakan metode sumur injeksi.

Dalam pandangan pakar Water Technology – ITB, Dr.Ing, Ir. Mohajit, MSc. (2017), air banjir merupakan potensi yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Menurutnya, solusi penanganan banjir selama ini lebih banyak hanya mempercepat mengalirnya air menuju sungai dan laut, sehingga air banjir terbuang percuma.

Upaya-upaya lain yang dilakukan pemerintah selama ini, termasuk membuat sodetan dan waduk, berbiaya mahal, dan selalu terhambat oleh persoalan lain, yakni pembebasan lahan. Padahal, dengan menggunakan sumur injeksi biayanya relatif lebih murah.

Menurut Mohajit, teknologi sumur injeksi ini telah digunakan Pemerintah Jerman untuk mengelolah natural resource menjadi lebih berguna. Pemerintah Jerman mengunakan teknologi ini untuk menjaga kestabilan tanah sehingga bangunan yang ada di atasnya stabil dan tidak bergerak. Selain itu sistem ini juga berfungsi untuk mencegah intrusi air laut kedaratan.

Teknologi sistem injeksi tidak memerlukan lahan yang luas seperti halnya membuat waduk atau sodetan. Cukup pilih area yang selalu banjir, lahan seluas 2 (dua) meter persegi sudah bisa menjadi sebuah sumur injeksi. Begitupun dengan teknologi yang digunakan, tidak memerlukan teknologi mutakhir karena sistem injeksi ini memanfaatkan gaya grativitasi bumi.

Perubahan minda Anies – Sandi memungkinkan ditempuhnya berbagai cara penanggulangan banjir Jakarta dengan memberi tempat bagi air hujan secara proporsional dan tepat. Salah satunya adalah dengan pembuatan reservoir underground, disertai pembangunan system monitoring dan forecasting banjir, seperti yang dikembangkan Dr. Fadli dkk dari BPPT.

Anies – Sandi, agaknya perlu pengundang secara khas para ahli hidrogeologi untuk menyempurnakan strategi mencegah, menanggulangi, dan mengatasi banjir Jakarta dengan cara-cara yang membuat: maju kotanya, bahagia warganya… (baca juga: Aksi Gubernur Anies Membahagiakan Warga Jakarta) |


*) Peminat masalah perkotaan

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber | foto-foto instagram Anies Baswedan
 
Energi & Tambang
14 Des 18, 10:48 WIB | Dilihat : 117
Surya Darma Sahabat Terbarukan
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 329
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 152
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2763
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 407
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 677
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 511
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya