
BIRSTALL, AKARPADINEWS.COM | KEBENCIAN begitu menggumpal dalam benak Tommy Mair terhadap Helen Joanne "Jo" Cox. Mair menuduh Jo sebagai penghianat negara. Entah apa pasal tudingan itu menancap di benak Mair hingga tega membunuh Jo.
Saat hakim Pengadilan Westminster, Inggris, menanyakan namanya, Mair menjawab, "Nama saya adalah kematian untuk pengkhianat, kebebasan bagi Inggris." Tudingan itu tiada lain diarahkannya kepada Jo. Mendengar jawaban itu, hakim rada mengerutkan dahinya, lalu bertanya pada pengacara untuk mengonfirmasi nama lengkap terdakwa, Tommy Mair. Lelaki berusia 52 tahun, harus mempertanggungjawabkan dosanya di hadapan pengadilan lantaran telah membunuh Jo, anggota parlemen dari Partai Buruh Inggris.
Hakim pengadilan Emma Arbuthnot memerintahkan jaksa untuk menjebloskan Mair ke tahanan sampai persidangan di Old Bailey yang digelar Senin (21/6), seraya meminta dilakukan pemeriksaan kejiwaan Mair. "Dia (Mair) harus diperiksa psikiater," kata Arbuthnot. The Daily Telegraph, mengutip pengakuan keluarga Mair yang menyebut Mair memiliki pengalaman penyakit mental. Tetangganya juga menyebut Mair sering menyendiri.

16 Juni 2016 lalu, dengan buasnya, Mair menghabisi nyawa politisi perempuan yang lahir 22 Juni 1974 di Batley, West Yorkshire. Mair menembak Jo dan menikamnya berkali-kali dengan menggunakan senjata tajam.
Kala itu, Jo baru saja keluar dari perpustakaan di Birstall. Rencananya, dari perpustakaan itu, Jo ingin menemui konstituennya setelah sebelumnya berkunjung ke sebuah sekolah dasar.
Bernard Kenny, 77 tahun, saksi mata, melihat begitu brutalnya Mair. Kenny yang kala itu berada di luar perpustakaan, menunggu isterinya, berupaya menyelamatkan Jo dari laku brutal Mair.
Namun, Kenny yang usianya tua, tak kuasa menghadapi Mair. Kenny justru ditikam Mair sehingga mengalami cedera di bagian perut. Kenny pun memilih berlindung di sebuah ruko di dekat lokasi kejadian.
Menurut Kenny, Jo ditembak tiga kali di bagian kepalanya, lalu ditikam dengan senjata tajam berkali-kali oleh Mair. Dalam keadaan tidak terkendali, Mair lalu meneriakan "Britain First".

Seruan itu menandakan Mair bagian dari Britain First, kelompok ekstrimis sayap kanan yang dikenal rasis, provokatif, dan brutal. Anggotanya yang menyebut "Patroli Kristen" sering menyerang dan memasuki masjid-masjid, lalu membagikan selebaran ajaran Kristen kepada warga Inggris yang beragama Islam. Mair, seperti diakui saksi, pernah terlibat dalam gerakan nasionalisme kaum kulit putih itu.
Tewasnya Jo menuai perhatian khalayak Inggris. Jo menjadi martil melawan kebencian rasisme. Dari hasil penyelidikan sementara yang dilakukan Kepolisian West Yorkshire, Jo diduga menjadi target ekstrimis sayap kanan lantaran gencar mengkampanye hak-hak minoritas dan pluralisme. Pihak sayap kanan langsung beraksi, menyangkal terlibat dan mendorong Mair membunuh Jo.
Perdana Menteri David Cameron mengenang Jo sebagai bintang, baik untuk konstituennya maupun di parlemen. Menurut dia, Jo dikenal di Westminster sebagai anggota parlemen yang brilian dan menjadi juru kampanye.
"Dia (Jo) memiliki prinsip, energik, dia sangat bersemangat. Dia peduli tentang konstituennya. Dia peduli tentang negara kita. Dan, dia sangat peduli tentang nasib orang-orang yang menderita di seluruh dunia. Kami akan merindukannya, dan kami berdoa untuk keluarga dan teman-teman."

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang menelepon Brendan Cox, suami Jo, mengucapkan belasungkawa. Obama, lewat pernyataan yang disampaikan Gedung Putih menyatakan, tidak ada pembenaran untuk melakukan kejahatan keji, merampok keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Pemimpin Partai Buruh Inggris, Jeremy Corbyn, menggambarkan Jo sebagai sosok yang mendedikasikan dirinya untuk kepentingan negara berkembang dan memperkuat hak asasi manusia (HAM).
Jo menjadi anggota parlemen yang dibunuh setelah tahun 1990, Ian Gow, politisi dari kubu konservatif menjadi korban bom mobil yang dilancarkan Tentara Republik Irlandia. Anggota parlemen Stephen Timms juga pernah ditikam oleh Roshonara Choudhry, dalam upaya percobaan pembunuhan di tahun 2010.

Sebelum ajal menjemput, salah satu anggota parlemen mengaku Jo bersama rekan-rekannya berbicara kepada perdana menteri tentang kekhawatiran akan meningkatkan agresi terhadap anggota parlemen perempuan.
Pejuang HAM Minoritas Islam
Jo melakoni perannya sebagai anggota parlemen hanya selama 13 bulan. Sebelumnya, dia adalah aktivis kemanusiaan. Dia pernah bekerja di organisasi kemanusiaan internasional, Oxfam, sejak 2002. Di tahun 2005, Jo dipercaya sebagai kepala kebijakan dan advokasi Oxfam.
Jo yang merupakan jebolan University of Cambridge tahun 1995 bekerja juga pernah menjadi asisten politik. Dia juga menjadi penasihat mantan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown dan membantu Sarah Brown, istri Gordon, yang gencar mengkampanye kesehatan ibu hamil dan anak.

Latar belakang sebagai aktivis itu yang kemudian menjadikan dirinya sebagai pejuang HAM lewat jalur politik. Dalam pidatonya di House of Commons, 3 Juni 2015 lalu, Jo menyebut, kemenangannya sebagai kemenangan keragaman etnis. Dia juga menyoroti tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat dan mendesak pemerintah untuk memikirkan kembali pendekatan ekonomi untuk kepentingan generasi yang akan datang.
Di parlemen, Jo dikenal sebagai politisi yang gencar memperjuangkan kepentingan kaum minioritas, khususnya Islam. Jo juga dipercaya menjadi juru kampanye Partai Buruh, yang fokus pada isu-isu yang berkaitan dengan imigran muslim dan perang saudara di Suriah. Di parlemen, dia menginisiasi para politisi agar bergabung dalam gerakan mendukung warga sipil yang menjadi korban peperangan di Suriah.

Jo menyatakan, dirinya diamanatkan Partai Buruh di parlemen untuk melindungi warga sipil di Suriah. Karenanya, dia tak henti mendesak pemerintah melakukan upaya untuk membantu warga sipil yang menjadi korban peperangan di negara itu.
Jo juga mendesak Pemerintah Inggris menggunakan pengaruhnya di tingkat internasional untuk mengakhiri konflik Suriah dan lebih intensif memberikan bantuan via udara ke masyarakat Suriah yang terkepung, terperangkap, dan kelaparan. "Saya ingin pemerintah membantu warga sipil Suriah yang putus asa," tulis Jo di akun facebook-nya.
Konflik Suriah adalah salah satu isu utama yang diusung Jo saat berkampanye pada pemilihan umum 2015 lalu. Oktober 2015 lalu, dia pernah menulis di sebuah artikel di The Observer yang mengulas soal Suriah. Dalam artikelnya, Jo menyatakan, pasukan militer Inggris bisa menawarkan solusi etis untuk menyelesaikan konflik di Suriah, termasuk menciptakan rasa aman bagi warga sipil di Suriah.

Dalam beberapa bulan ini, Jo juga meluncurkan All Party Parliamentary Friends Suriah, dan menjadi ketuanya. Sementara terkait persetujuan intervensi militer Inggris untuk mengempur militan ISIS di Suriah, Jo bersama empat anggota parlemen dari Partai Buruh lainnya, memilih abstain. Alasannya, cara-cara itu bukan solusi komprehensif yang efektif mengatasi konflik Suriah, termasuk berurusan dengan Presiden Bashar al-Assad.

Andrew Grice dari The Independent menulis, Jo adalah politisi yang kuat dalam mempertahankan pendapatnya, khususnya dalam mendesak Pemerintah Inggris agar membantu korban sipil dan menggunakan pengaruhnya di luar negeri untuk mengakhiri konflik Suriah.
Jo juga gencar memperjuang nasib Palestina dan negara Timur Tengah lainnya. Dia menyerukan pencabutan blokade atas Jalur Gaza. Dia juga menentang upaya pemerintah melakukan boikot, divestasi, dan sanksi terhadap negara lain.
Terkait dengan pelaksanaan referendum, Jo menyatakan dukungannya untuk mempertahankan keanggotaan Inggris di Uni Eropa (UE). Lewat akun facebook-nya, Jo menilai, meninggalkan UE akan menjadi lompatan menuju kegelapan, yang membawa ketidakpastian bagi perekonomian Inggris. "Kami percaya Inggris lebih kuat, lebih aman, dan lebih baik di UE," tulis Jo.
Sementara Cameron menyatakan, referendum harus dilakukan. Inggris akan menggelar referendum tanggal 23 Juni, untuk menentukan keluar atau bertahan di UE. Cameron menyatakan, Inggris kini berdiri di persimpangan jalan. "Kami menghadapi pilihan eksistensial. Negara ini memiliki keputusan besar dan ada begitu banyak yang dipertaruhkan."

Saat ini, Cameron menjelaskan, perekonomian Inggris sangat tergantung pada keseimbangan. Dia mengklaim pertumbuhan ekonomi Inggris lebih cepat tahun ini daripada ekonomi maju negara lainnya, kecuali Amerika Serikat. "Kami terbuka, dinamis, bangsa perdagangan. Memang, pasar tunggal kita adalah UE. Hanya akal sehat jika kami meninggalkan UE, perdagangan akan rusak, dan investasi di Inggris akan menderita karena bisnis tidak lagi dapat mengakses UE," terangnya.
Namun, Cameron menambahkan, banyak perdebatan tentang dampak yang dirasakan saat ini. "Apakah kita akan menderita resesi ringan setelah meninggalkan, atau akan menjadi kejutan, jauh lebih parah."
Dia pun mengarui sudah banyak pembahasan tentang berapa banyak pengangguran dan kemiskinan akan naik di Inggris dalam jangka panjang. Menurut Cameron, Jo telah menunjukkan secara efektif selama beberapa bulan terakhir terkait sikapnya yang menolak Inggris keluar dari UE.
Ekstrimis Kanan yang Membenci Islam
Sikap politik Jo yang lebih mengutamakan kepentingan warga negara lain, yang kemungkinan memicu kebrutalan Mair. Lelaki berusia 52 tahun itu kabarnya terkait dengan National Alliance (NA), gerakan ekstrimis sayap kanan yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan disebut-sebut sebagai kelompok neo-Nazi. NA didirikan William Luther Pierce, seorang professor fisika pada tahun 1974.

Pierce pernah menulis novel rasis berjudul The Turner Diaries, dengan menggunakan nama samaran "Andrew Macdonald". Novel itu menggambarkan revolusi di Amerika Serikat yang mengarah pada upaya penggulingan pemerintahan federal, perang nuklir, dan, pada akhirnya perang ras. Dalam novel itu, Pierce menentang orang-orang Yahudi, dan gay. Warga non kulit putih pun dibasmi.
Di tahun 2002, keanggotaan NA diperkirakan mencapai 2.500 dengan pendapatan tahunan sebesar US$1 juta. Kelompok ini berhenti beroperasi pada tahun 2013 karena rasis.
Mair diduga terpengaruh doktrin NA lantaran diketahui membeli buku panduan tentang NA di tahun 1999 yang mencakup petunjuk tentang cara penggunaan senjata. Mair, yang tinggal di Birstall, diketahui mengirim lebih dari US$ 620 ke NA untuk membeli buku yang diterbitkan NA. Salah satu buku yang dibeli Mair berjudul "Chemistry of Powder and Explosives" yang menjelaskan cara membuat pistol. Di Bagian III, buku itu rinci menjelaskan cara membuat pipa pistol untuk 0,38 kaliber dari komponen yang dapat mudah dibeli di pasar.

The Daily Telegraph juga melaporkan jika Mair berlangganan majalah SA Patriot, yang diterbitkan Putih Rhino Club, kelompok pendukung apartheid, yang menentang multikulturalisme dan ekspansionis Islam.
Britain First yang diucapkannya saat menghabisi nyawa Jo menunjukan jika Mair terinsiprasi gerakan kelompok nasionalis sayap kanan yang rasis itu. Dia menargetkan Jo lantaran gencar memperjuangkan keanekaragaman, khususnya kepentingan minoritas muslim.

Gerakan Britain First dikenal gencar menebar provokasi dan retorika antipluralisme. Cara-cara yang kontraproduktif itu yang kemudian memicu resistensi khalayak luas. Gerakan itu hanya aktif selama lima tahun lantaran reputasinya buruk.
Namun, pada November 2015 lalu, Britain First mengklaim jika halaman Facebook resminya mendapatkan tanda "like" dari lebih satu juta pengguna facebook. Jumlah itu diklaimnya melebihi kebanyakan politisi Inggris, termasuk Perdana Menteri Inggris, David Cameron.
Dengan menebar slogan, "Merebut kembali negara kita" kubu sayap kanan Kristen itu mengklaim berkomitmen untuk menjaga kedaulatan, kebebasan, dan kemerdekaan Inggris.
Namun, secara khusus, lewat akun facebook-nya, Britain First menargetkan Islam dan secara terbuka menyatakan "melarang" Islam berada di tanah Inggris. Lewat media sosial, Britain First juga kerap menebar konten-konten provokatif dan negatif tentang Islam.

Britain First dibentuk tahun 2011 oleh mantan politisi Partai Nasionalis Inggris (BNP) Jim Dowson dan dipimpin rekan separtainya, Paul Golding. Kedua gencar melancarkan kampanye anti imigran dan multikulturalisme. Alasannya, untuk menghalau upaya Islamisasi di Inggris. Cara-cara yang dilakukan kelompok itu telah dikecam semua denominasi Kristen di Inggris. Motif gerakan itu juga berorientasi politik agar dapat bersaing dalam pemilihan umum, tetapi gagal.
Jim Dowson, awalnya mengelola sebuah call center yang dibentuk BNP, di Dundonald, Belfast bagian timur. Namun, hubungan Dowson dengan BNP mengalami keretakan pada Oktober 2010 lantaran Dowson diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang aktivis perempuan.
Dowson dikenal sebagai fundamentalis Kristen Skotlandia. Dia pernah memimpin gerakan anti-aborsi. Sementara Golding pernah menjadi anggota dewan di Sevenoaks, 2009, mewakili BNP. Golding juga menjabat Officer Komunikasi BNP.

Britain First diluncurkan melalui website pada Mei 2011. Peluncuran itu juga melibatkan mantan organizer dari BNP South East, Andy McBride dan Kevin Edwards, mantan anggota dewan BNP dan organizer di Wales.
Pada November 2011, Britain First mendaftarkan diri sebagai partai politik. Namun, komisi pemilihan menilai Britain First hampir sama dengan BNP, sehingga tidak jelas apakah BNP keberadaan terpisah dengan organisasi itu. Dalam websitenya, Britain First pun menyatakan, berhak mengajukan wakilnya untuk duduk di Komite Tetap.
Dowson dan Golding juga meluncurkan partai politik baru di Irlandia Utara pada April 2013 lalu. Dowson terdaftar dalam komisi pemilihan sebagai pemimpin Koalisi Protestan dan Golding sebagai bendaharanya. Keduanya telah membangun basis di Irlandia Utara.
Golding pernah menuju Belfast pada Desember 2012, untuk mengkoordinir aksi-aksi protes atas keputusan Dewan Kota Belfast yang membatasi pengibaran bendera Union. Dowson juga kerap memimpin protes. Namun, pada saat peluncuran, dia juga menunggu sidang pelanggaran ketertiban umum yang juga menjerat pendiri Koalisi Kristen, Willie Frazer.
Pada Juli 2014, Dowson meninggalkan Britain First. Alasannya, The Daily Mirror dan The Independent menulis, Dowson kecewa dengan cara-cara melakukan "invasi ke masjid-masjid", yang dianggap "provokatif dan kontraproduktif" serta tidak mencerminkan nilai-nilai Kristiani. Golding pun bereaksi dan menyatakan, Britain First sejauh ini terus bergerak sebagai organisasi yang relatif terbebas dari skandal. Britain First juga membantah pemberitaan The Mirror dan menyebut media itu sebagai surat kabar komunis dan pecinta segala sesuatu yang anti-Inggris.
Bersahabat dan Menginspirasi Politisi
Jo, yang lahir di Batley, West Yorkshire, dan dibesarkan di Heckmondwike, terpilih sebagai anggota parlemen untuk daerah pemilihan Batley dan Spen, setelah Mike Wood, memutuskan tidak maju lagi pada Pemilihan 2015 lalu. Jo berhasil mempertahankan kursi Partai Buruh, dengan perolehan suara mayoritas yang mencapai 6.057 suara.

Jo adalah salah satu dari 36 anggota parlemen Partai Buruh yang mencalonkan Jeremy Corbyn sebagai pemimpin Partai Buruh tahun 2015. Karenanya, Jo dinominasikan oleh Partai Buruh untuk pemilihan di Batley dan Spen. Konstituen di Batley dan Spen umumnya adalah buruh.
Kabar kematian Jo sangat menyengat keluarga dan khalayak luas. Apalagi, Jo dibunuh lantaran dipicu kebencian yang diluapkan pemuja rasialisme. Suami Jo, Brendan, pun menyerukan khalayak agar melawan kebencian yang memicu pembunuhan. Brenden menikahi Jo kala menjabat sebagai penasihat pembangunan internasional Gordon Brown. Mereka memiliki dua anak, yang kini berusia tiga dan lima tahun.
Pesan-pesan kebencian terhadap asing atau orang-orang dengan agama-agama yang berbeda, memang semakin lantang di Inggris dan AS. Misalnya, sentimen bernada rasis yang kerap dilontarkan calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump.

Kim Leadbeater, saudara perempuan Jo mencoba tersenyum, meski hatinya pedih atas kematian Jo. Bersama orang tuanya, Jean Leadbeater dan suaminya, terlihat tabah. Di hadapan puluhan orang, Leadbeater merasa terhibur karena putrinya tidak tidak sendirian ketika meninggal dunia.

Keluarga Jo juga memuji orang-orang yang mencoba untuk menyelamatkan Jo. Kim berterima kasih Bernard Kenny, yang mencoba melawan Mair. "Kami ingin berterima kasih kepada pria gagah berani yang membantunya di saat dibutuhkan," katanya. Keluarga Jo pun disambut baik warga dengan lautan karangan bunga.
Nicola Sturgeon, pemimpin Partai Nasional Skotlandia yang menjabat menteri pertama, yang hadir dalam peringatan berkabung atas kematian Jo di Edinburgh, menyampaikan bela sungkawa mendalam, meksi dirinya tidak begitu mengenai Jo.
"Saya tidak tahu Jo secara pribadi, tetapi mengingat semua yang saya baca selama 24 jam terakhir, saya sangat menyesal bahwa saya tidak memiliki kesempatan untuk tahu karena dia jelas merupakan inspirasi untuk semua orang, yang hidupnya menyentuh," katanya.

Acara di Edinburgh itu juga dihadiri pemimpin Konservatif Skotlandia Ruth Davidson dan anggota parlemen Buruh, Ian Murray. Baroness Sayeeda Warsi, politisi wanita keturunan Pakistan juga berbicara tentang nostalgia yang hangat bersama Jo. Warsi pernah membujuk Jo pada Pemilu 2015 untuk turut dalam aksi menentang Islamophobia.
"Dia mengingatkan kita, mengapa kita masuk politik. Dia memungkinkan kita untuk percaya bahwa kita bisa mengatasi perbedaan dan bisa mengubah sesuatu," kata Warsi.

Stuart Andrew, anggota parlemen dari kubu Konservatif menilai, Jo telah membangun persahabatan lintas partai. Dia terkesima dengan Jo yang hangat dan bersahabat. "Saya pertama kali bertemu Jo setelah pemilihan umum. Kami berdua diminta untuk tampil di acara Sunday Politics. Saya dibawa BBC (produsen program), ke ruang make up. Dia (Jo) langsung tersenyum pada saya. Dia begitu hangat dan begitu baik," katanya. Sejak pertemuan itu, Andrew menambahkan, setiap kali bertemu, dia bersama Jo, selalu menebar senyum.

Berbagai perwakilan dari komunitas muslim lokal juga merasakan kehilangan Jo. Iqbal Bhana, wakil ketua Al Hickmah, mengenang Jo yang selalu memberikan pelukan. "Istri saya, bahkan tidak biasanya melakukan itu."
Naz Shah, anggota parlemen mengaku, tak kuasa menahan air mata saat mengetahui kematian Jo. "Dia adalah salah satu wanita yang seharusnya membuat sejarah," kata Shah. "Dia memiliki energi yang luar biasa, dan dedikasinya menakjubkan, tidak hanya untuk konstituen, tapi untuk anak-anaknya," katanya.

Jo bersama suami dan dua anaknya tinggal di Wapping, dekat Tower Bridge London. Dia membagi waktunya antara keluarga dengan konstituennya di Batley dan Spen. Shah teringat pertemuan yang menyenangkan bersama Jo dan politisi baru, Stephen Kinnock. Jo kala itu membawa dua anaknya. Dalam kesempatan itu, Jo mencoba berbicara serius tentang politik, sementara dua anaknya, berjalan di antara kedua kakinya.
Ratusan orang juga berdesakan di sebuah pusat komunitas Muslim di Batley pada Jumat malam, untuk mengucapkan belasungkawa atas kematian Jo. Mereka larut dalam keheningan doa yang dipimpin pendeta, Rev Mark Umpleby. Jo, dibunuh lantaran membela kaum minoritas muslim. Dia menjadi martir untuk melawan rasisme.
M. Yamin Panca Setia