Prosesi Kematian dan Pemakaman Shireen Abu Akleh

Penghormatan Mulia Atas Srikandi Jurnalis Pejuang

| dilihat 238

PROSESI pemakaman jurnalis senior Al Jazeera, Shireen Abu Akleh yang tewas dibunuh serdadu Israel di Jenin, Tepi Barat - Palestina,  sungguh menggetarkan.

Siaran langsung Al Jazeera Arabic, Kamis (12/5/22) memperlihatkan, bagaimana Shireen sungguh seorang pahlawan bagi bangsa Palestina, tak pandang muslim atau kristen.

Boleh jadi, Shireen merupakan wartawan yang tak hanya menjadi martir dalam perjuangan kemerdekaan bangsanya. Prosesi penghormatan kematian dan pemakamannya diperlakukan sebagai srikandi pejuang sekaligus pahlawan bangsanya. Dilakukan dengan serangkaian upacara kenegaraan.

Sejak jenazahnya dibawa dari Jenin, tempat dia ditembak oleh sniper secara biadab saat meliput penyerbuan serdadu zionis Israel ke wilayah pemukiman warga pengungsi Palestina di Jenin.

Dalam kabar terakhir yang dikirimnya ke kantor pusat Al Jazeera, pada Rabu (11/5/22) pukul 06:13 waktu setempat, Shireen menulis, 'Pasukan pendudukan menyerbu Jenin dan mengepung sebuah rumah di lingkungan Jabriyat. Dalam perjalanan ke sana, saya akan membawakan Anda berita segera setelah gambarannya menjadi jelas.’

Redaksi Al Jazeera mengemukakan, "Kami dan pemirsa tidak tahu bahwa berita yang dia kirimkan ini adalah berita kemartirannya.”

Saksi mata, termasuk wartawan Al Jazeera, membenarkan bahwa Abu Akleh dibunuh oleh pasukan Israel.

Pihak Israel berusaha membantah, dan mengklaim, bahwa Shireen tertembak milisi Palestina, seperti dikemukakan Menteri Naftali Bennett. Namun, video yang dijadikan pembenaran klaimnya, setelah diverifikasi, ternyata berbeda dengan lokasi dalam video asli tewasnya Shireen.

Bahkan, kemudian, Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Aviv Kochavi, kini mengatakan bahwa tidak jelas siapa yang menembak Abu Akleh.

Ali al-Samoudi, seorang jurnalis Al Jazeera yang juga tertembak, mengatakan pasukan Israel telah menembaki Abu Akleh.

Para jurnalis di Ramallah menolak klaim awal Israel. Mereka berkesaksian, bahwa Israel yang harus bertanggung jawab atas kematian Shireen Abu Akleh, yang gugur masuh mengenakan rompi biru bertuliskan PRESS.

Warga Palestina berkabung, mulai kalangan orang dewasa, sampai anak-anak, yang menyambut tiba jenazahnya yang bergerak dari rumah sakit Istishari di Ramallah.

Lautan manusia menyambut kedatangan jenazahnya, juga mengelu-elukannya sepanjang melintas jalan-jalan kota Ramallah, sampai ke lokasi upacara kenegaraan -- kompleks Kepresidenan Ramallah -- yang dipimpin langsung oleh Presiden Palestina, Mahmoud Abbas. Tanpa kecuali para pemuka agama Islam, kristen ortodox, dan kristen. Hanya pada Rabi Yahudi, tak nampak dalam liputan siaran langsung tersebut.

Nampak, Presiden Mahmoud Abbas berduka, mengiringi dan melepas jenazah Shireen dalam penghormatan yang tinggi, dalam prosesi kenegaraan secara militer. Garda Nasional Palestina, nampak mengurus jenazah Shireen, dibantu oleh sejumlah pimpinan dan staf Al Jazeera, dan kalangan jurnalis yang selama ini meliput keganasan zionis Israel di lapangan.

"Israel harus bertanggungjawab penuh atas kematian Shireen Abu Akkeh," serunya, aksentuatif.

“Kami menolak penyelidikan bersama dengan Israel atas pembunuhan Abu Akleh,” kata Abbas kemudian, seraya menambahkan bahwa, para pejabat Palestina akan membawa kasis kematian Shireen ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk mencari keadilan.

Pembunuhan Shireen Abu Akleh telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh Palestina, dunia Arab, dan menghentak dunia.

Ia adalah srikandi jurnalisme dunia berusia 51 tahun, yang masih menjalankan tugas jurnalistik sebagai koresponden veteran untuk televisi Arab Al Jazeera. Sebelumnyaa, Shireen memang jurnalis Al Jazeera, sejak setahun statsiun televisi global itu beroperasi (1997).  

Al Jazeera mengungkapkan, ramai orang di Palestina mengingat Shireen, karena liputannya tentang invasi besar-besaran tentara Israel ke kota-kota besar Tepi Barat selama Intifada Kedua, atau pemberontakan (2000-2005).

“Berita kemartirannya seperti tamparan di wajah setiap warga Palestina,” kata Azhar Khalaf, mahasiswa jurnalisme Universitas Birzeit berusia 22 tahun. Azhar mengemukakan, Shireen adalah model sekaligus ikon media babgi perjuangan Palestina.

“Dia ada di setiap rumah, dia merasakan rasa sakit setiap orang Palestina dan menyampaikan rasa sakit mereka,” kata Khalaf kepada Al Jazeera. “Dia adalah suara kebenaran dan keadilan.”

Al Jazeera juga mewartakan, setelah pembunuhannya, foto-foto besar ksosoknya terpampang di berbagai layar lebar sepputar Al-Manara Square, pusat kota Ramallah.

Hazem Abu Helal, aktivis sosial dan poliitik berusia 37 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera, “Shereen dekat dengan rakyat."

“Semua orang mengenalnya, tidak hanya karena pekerjaannya tetapi juga keterlibatannya dalam masyarakat. Dia adalah bagian dari banyak inisiatif, pada berbagai acara dan organisasi sosial dan budaya,” kata Abu Helal selanjutnya, yang menggambarkan, Sheeran sebagai tokoh yang baik dan profesional.

Pada Kamis pagi, sejak pukul 10:00, berbagai kalangan, antara lain wartawan, kolega, sahabat, famili, dan teman-temannya pergi berduyun-duyun ke Rumah Sakit Istishari, di mana jenazahnya dipulasarkan.

Sejumlah kalangan dekat Shireen diizinkan masuk ke kamar jenazah di rumah sakit. Air mata bersimbah, tangisan meraung, luka dan marah terekspresikan di wajah mereka.  

Lantas, jenazahnya dibawa keluar dan didoakan sebelum dibawa ke kendaraan garda nasional PA, sebelum membawanya ke kompleks kepresidenan.

Setelah upacara di kompleks kepresidenan, jenazah Shireen Abu Akleh dibawa dengan ambulans dan konvoi ke pos pemeriksaan Qalandia antara Ramallah dan Yerusalem. Lalu dipindahkan ke Rumah Sakit St Louis French di Sheikh Jarrah, di Yerusalem Timur yang diduduki, Israel tempat keluarganya tinggal.

Esok, Jum'at (13/5/22), jenazahnya akan dikebumikan di Kota Tua. Di sinilah, seluruh prosesi kematian pahlawan hati bangsa Palestina, ini akan berakhir.

Kemarin, setelah kematiannya, jenazah Shireen mendapatkan penghormatan di Jenin, tempat dia dibunuh, Nablus, dan Ramallah. Sebagai pahlawan hati rakyat Palestina, Shireen memang patut mendapat penghormatan, itu. "Shireen Abu Akleh adalah tokoh nasional dan 'Kejora Palestina," ungkap Mohammed Shtayyeh, perdana menteri Palestina.

"Dia bukan hanya seorang jurnalis yang melaporkan berbagai kasus dan peristiwa, karena ia juga melaporkan setiap detail kehidupan sehari-hari Palestina,"ungkap Shtayyeh.

"Dia mengakar kuat di Yerussalem dan keluarganya. Saya telah melihat Shireen Abu Akleh hampir di mana-mana – di rumah duka, dalam perayaan, dalam demonstrasi dan dalam aksi duduk,” sambung Shtayyeh.

Rakyat Palestina tak akan melupakan keberanian, kebaikan hati, dan derai tawa yang menularkan optimisme bagi rakyat biasa Palestina dengan segala reportase audio visual dan tulisannya yang menggugah selama tiga dekade. Ia meninggalkan saudara laki-lakinya, Tony Abu Akleh.

Rekan kerjanya di Al Jazeera Biro Ramallah, Nida Ibrahim menyatakan,“Kematiannya adalah kerugian sangat besar bagi kami." Nida menegaskan sambil bersedih. “Dia sosok yang baik, berdedikasi dan berbakti. Dia tahu menghadirkan pemberitaannya terus secara menerus dan dia mengerti nuansanya. Dia membawa banyak informasi yang menggugah dalam liputannya.”

Sambil menggambarkan situasi schock dan berduka di salah satu ruang kantornya, Nida Ibrahim mengatakan, Shireen manusia “unik” yang “sangat terkenal, tetapi sederhana” dan sangat berkomitmen pada profesinya.

Nida Ibrahim juga menyatakan, “Dia bukan hanya seorang jurnalis veteran, yang telah berada di sini meliput peristiwa selama bertahun-tahun, tetapi juga seseorang yang ingin terus belajar dan terus menggunakan cara baru dalam liputannnya.”

Digambarkan, pada saat kematiannya, Shireen Abu Akleh telah belajar bahasa Ibrani untuk membaca dan memahami narasi media Israel dengan lebih baik, dan baru saja menyelesaikan diploma di media digital.

Shireen yang lahir di Yerusalem pada tahun 1971, seorang poenganut Kristen yang mendahulukan eksistensinya sebagai bangsa Palestina.

Kesadarannya berjuang untuk Palestina sudah terasa, sejak menjadi mahasiswa arsitektur sebelum beralih ke jurnalistik di Universitas Yarmouk di Yordania.

Setelah lulus, Shireen kembali ke Palestina dan bekerja di beberapa media, termasuk Radio Suara Palestina dan Saluran Satelit Amman.

“Saya memilih jurnalistik untuk dekat dengan rakyat,” kata Shireen Abu Akleh dalam salah satu video pribadinya. “Mungkin tidak mudah untuk mengubah kenyataan, tapi setidaknya saya bisa membawa suara mereka ke dunia,” tegasnya dalam video itu.

Sebagai jurnalis televisi, Shireen Abu Akleh meliput berbagai peristiwa besar dan kecil, dari perang Gaza tahun 2008, 2009, 2012, 2014 dan 2021 hingga pembobolan penjara dengan keamanan maksimum di Israel Utara, yang dilakukan enam warga Palestina, September lalu

Dia juga meliput berita regional, termasuk perang di Lebanon pada 2006. “Shireen adalah pelopor, inspirasi bagi kita semua,” kata teman dekatnya, Dalia Hatuqa, sesama jurnalis Al Jazeera.   “Kehadirannya menjadi identik dengan Al Jazeera.”

Hatuqa mengingat, selama puncak Intifadah kedua, tentara Israel berkeliling kota Ramallah Palestina. Shireen meneriaki dengan pengeras suara, dan menutup dengan kalimat yang terkenal: Shireen Abu Akleh, Al Jazeera, Ramallah”.

Hatuqa bercerita, “Shireen kehilangan ibu dan ayahnya ketika masih muda dan melihat begitu banyak kekejaman di dunia, terutama di Palestina, tetapi semua itu tidak pernah menghentikannya untuk menghargai dan menikmati hidup.”

Menurut Hatuqa,“Suaranya sangat indah, bahkan ketika dia menceritakan kisah-kisah yang memilukan.”

Zena Al Tahhan menulis,   Jaringan Media Al Jazeera menyebut pembunuhan Shireen Abu Akleh sebagai "pembunuhan terang -terangan" dan "kejahatan keji." Secara resmi, Al Jazeera menuduh pasukan Israel sengaja menargetkan jurnalis veteran dengan tembakan langsung dan membunuhnya dengan "darah dingin".

Tamer Al-Meshal, yang bekerja dengan Shireen Abu Akleh pada saat pembunuhannya, menyebutnya sebagai “model” jurnalis Palestina dan Arab.

“Sampai detik terakhir, dia profesional dan gigih dalam pekerjaannya,” katanya. | Jeehan, Dien.

Editor : delanova | Sumber : Al Jazeera, AP, AFP dan berbagai sumber
 
Polhukam
Lingkungan