Bincang Sela

Jangan Putuskan Sendiri

| dilihat 1757

HARGA minyak dunia yang unpredictable ke masa depan, dan boleh dibilang akan sampai pada kondisi break a way, menggelisahkan Yuli. Perempuan molek yang sedang meniti pengalaman di bisnis minyak dan gas bumi,  itu  punya kepekaan tertentu untuk menyikapi keadaan. Kepada para manajernya dia bilang, bangsa ini dalam waktu yang tidak lama, akan sampai pada kondisi top oil condition.

Kondisi minyak bumi bersumber fosil akan mencapai batas. Karenanya, ketika kini begitu banyak pihak yang mengeksploitasi batubara dengan cara-cara yang kurang bijak dan bahkan tidak profesional, migrasi penggunaan energi berbasis batubara, juga akan menghadapi persoalan. Apalagi, karena sedemikian ketat berlomba dengan waktu, sejumlah negara dan bangsa, sedang sibuk menemukan teknologi pengolah energi berbasis batubara muda dengan kadar rendah.

Ketika pikiran yang sama dilontarkan Yuli kepada Nuki, sobat lamanya yang juga bergerak di bisnis energi dan sumberdaya mineral, perempuan molek itu agak terperangah. Persisnya, ketika Nuki bilang, dalam situasi semacam ini, pemerintah bersama seluruh stakesholder di bisnis ini, mesti duduk bersama. Merumuskan kepedulian kolektif untuk memperpanjang masa penggunaan bahan baku energi alternatif dengan segenap teknologi baru yang memungkinkan terjaminnya masa depan lebih baik. Tentu, dengan kesadaran kolektif, bagaimana mengelola sumberdaya alam secara tepat dan benar. Tak terkecuali, merumuskan bersama strategi nasional pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam.

Percakapan senja di salah satu sudut executive club, itu terasa getarnya, ketika sepasang sahabat ini kian berbagi fikiran dan hati. Terutama, saat Yuli sepakat untuk mengatakan, pemerintah tak lagi harus menentukan strategi nasional itu sendiri. Seluruh stakesholder mesti dilibatkan dalam dimensi ekuitas dan ekualitas. Termasuk di dalamnya, strategi dasar dari aspek perniagaannya.

“Kita paham, untuk menjamin neraca keuangan negara yang stabil dan berdimensi kemakmuran rakyat, perlu keseimbangan kebijakan foreign dircet investment dan ekspor. Negara memerlukan neraca yang positif, agar seluruh program pembangunan berlangsung sebagaimana mestinya”, ujar Yuli.

Dalam konteks itu, dia berpendapat, seluruh pihak yang berada di wilayah politik praktis (khususnya DPR RI), mesti memahami benar bagaimana mesti merumuskan budget, legislasi, dan kontrol sosial berdasarkan kepentingan nasional bangsa. Bukan berdasarkan kepentingan partai politik dan golongan. Karena itu, sejak kini prtai politik mesti merekrut dan memilih benar, siapa yang sangat patut dan layak berada di wilayah komisi sumberdaya energi dan mineral. “Termasuk menempatkan orang yang sangat tepat untuk membantu Presiden di sektor ini”, seru Yuli. Mulai dari Menteri, Komisaris dan Direksi BUMN, sampai pemimpin lembaga yang berurusan dengan bisnis ini.

Nuki sependapat. Namun, dia melihat sisi lain. Yakni, pentingnya melibatkan lembaga-lembaga riset dan pengembangan teknologi. Lembaga-lembaga yang menjadi rujukan bagi badan penelitian dan pengembangan di lingkungan departemen. Termasuk menjadi rujukan DPR RI untuk mengambil berbagai pertimbangan dalam menguatkan industri di sektor energi dan mineral. Tanpa demikian, kita akan dihadapkan oleh krisis asasi yang – dari pengalaman historis – akan berkembang menjadi krisis politik dan multidimensional.

Yuli berpandangan, pemerintah untuk dan atas nama negara jelas harus mempunyai neraca energi dan mineral yang komprehensif. Pemerintah juga harus mempunyai grand strategy yang jelas dan berdimensi jangka panjang untuk mengelola potensi energi dan sumberdaya mineral yang sudah diberikan Tuhan kepada bangsa ini. Tanpa demikian, ujar Yuli, kita akan terus mengais-kais untuk mempertahankan hidup memasuki masa depan.

Ketika Nuki bertanya tentang kemumpunian menciptakan kondisi yang paling favourable dalam mewujudkan gagasan-gagasan itu, Yuli bilang, pemerintah mesti kian menguatkan perannya dalam memfasilitasi dan mengatalisasi seluruh potensi bangsa di sektor ini. Termasuk memberikan peran terhadap lembaga-lembaga pendidikan tinggi melakukan pendampingan terhadap dunia bisnis di sektor ini. Mulai dari melakukan riset, sampai menyediakan sumberdaya manusia yang visioner yang mampu melihat dimensi bisnis di sektor energi dan mineral sebagai bagian integral dan strategis penyelenggaraan pembangunan ekonomi berbasis sumberdaya alam.

“Kita tak boleh lagi terjebak oleh hanya pertimbangan-pertimbangan politik dan ekonomi praktis semata. Universitas dan lembaga pendidikan tinggi yang merupakan salah satu kekuatan pendorong bangsa dalam mengelola potensi sumberdaya alam, boleh jadi mempunyai gagasan dan pemikiran segar dan baru”, serunya.

Kita, ujar Yuli, jangan hanya berkutat kepada hal-hal yang sebenarnya telah menjadi bagian tanggungjawab reguler pemerintah. Karena begitu banyak tanggungjawab kolektif yang mesti diusung bersama. Termasuk oleh kalangan praktis bisnis dan pendidikan tinggi. Yuli yakin, bila tanggungjawab kolektif itu terjadi, maka berbagai policy di sektor ini, kelak, akan lebih maju. Karenanya, profesionalitas dan integritas itu menjadi penting. Khususnya integritas bangsa.l Bang Sem

Editor : Web Administrator | Sumber : EKSPLO
 
Humaniora
29 Jul 20, 14:08 WIB | Dilihat : 110
Mencandai Masa Depan
29 Jul 20, 09:29 WIB | Dilihat : 92
Mengembalikan Pendidikan Pada Arahnya
22 Jul 20, 14:31 WIB | Dilihat : 223
Sultan Arief yang Arif itu Sahaja dalam Kemuliaan
Selanjutnya
Lingkungan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 202
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
11 Jul 20, 20:32 WIB | Dilihat : 364
Nikmati Ancol, Cocol yang Ngocol
21 Jun 20, 12:43 WIB | Dilihat : 302
Jangan Lelah Mewujudkan Jakarta Tangguh
04 Apr 20, 21:16 WIB | Dilihat : 434
Gubernur Anies Serukan Warga Pakai Masker
Selanjutnya