M.A.L.I.M.A

| dilihat 1399

BANG SEM

LAPORAN Bawor kepada Dewan Kehormatan Balekawulan, soal ‘upeti’ dan ‘pemerasan’ oknum wakil kawula terhadap sejumlah pengurus Badudes, masih dibincangkan orang. Bahkan sampai ke pelosok desa.

Belakangan, kian ramai dengan isu kunjungan Tetua Balekawulan ke Ngamrik – negeri nun jauh di sana, untuk menemui Dodol Tempe, salah satu kandidat bakal Presiden dari salah satu partai. Sang tetua juga diperiksa Dewan Kehormatan yang berubah nama menjadi Mahkamah Kehormatan Balekawulan. Dia dianggap melanggar etika. Apalagi, Dodol Tempe terkesan melecehkan Ketua Balekawulan yang sebelumnya dikenal sebagai Mas Pedagangan yang ngurusi kedai kopi dan the.

Di kedai Gambuh, Bilung yang sedang menyantap sroto, menyimak percakapan para kawula yang sedang makan di situ. Mban Pedangan pun ikut nimbrung.

“Mas Bilung,.. kabarnya aksi pemerasan dan permintaan upeti kepada Badudes, sudah lama ya?” tanya Mban Pedangan. Bilung mengangguk.

“Sudah puluhan tahun ya?”

Bilung menatap wajah Mban Pedagangan. “Mungkin sudah seratus tahun,” ungkapnya sambil lalu. Jemari tangannya cekatan mengambil mendoan, meski agak jauh dari jangkauan tangannya. “Titisan watak para begal, terus mengalir dari jaman ke jaman,” cetusnya.

“Apa wakil kawula itu tidak tahu, hal itu akan membuat mereka hilang kehormatannya?”

Bilung terkekeh.

“Mereka tahu, Mban.. Sangat tahu. Tapi, mereka ini kan seperti orang yang paham tentang sesuatu, tapi tak mau mengerti tentang sesuatu, itu..” Bilung menjelaskan, aksi meminta ‘upeti’ dan ‘pemerasan’ itu mereka pahami bakal mengurangi kehormatan mereka. Tetapi, mereka acuh dan tak peduli. Bagi mereka, yang penting adalah bagaimana mendapatkan ‘upeti,’ itu. Bila tidak mendapatkan, “Ya.., memeras.”

Kini, giliran Mban Pedangan yang ngikik.

“Lho.. kok, Mban malah ngikik?” cetus kawula yang duduk di sebelah Bilung. Pertanyaan itu membuat Mban Pedangan tersipu.

Kawula itu ngomong, sikap acuh terbangun, karena seleksi terhadap para wakil kawula, tidak cermat dan ketat. Seringkali, mereka yang perangainya tak elok, tapi karena punya hubungan dengan tetua partai, dan punya kepeng, malah dicalonkan menjadi wakil kawula. Dengan kepeng, mereka menggalang dukungan pada saat pemilihan raya. Lalu, terpilihlah mereka.

“Apa mereka tak belajar malima?”

Kawula itu tersenyum. Malima yang disebut Mban Pedangan, dianggap sudah menjadi sesanti kuno, karena budi pekerti sudah tidak diajarkan lagi di sekolah. Juga tidak dipakai lagi di dalam keluarga. “Sekarang, maksiat dianggap perilaku biasa. Makanya, larangan malima dilakoni beramai-ramai,” ujar lelaki itu.

Bilung mengangguk. Ya. Larangan malima: maling (mencuri, begal, memeras, memalak), main (berjudi), madat (menghisap candu, minum-minuman keras), madon (melacur), dan mateni (membunuh),  dilanggar semua. Bahkan, tak sedikit yang bangga melakukannya.

Kata Bilung, kasus demi kasus yang memalukan Bale Kawulan, terus terungkap. Celakanya, semakin diungkap, semakin terus dilakukan. Tak sedikit yang menjadi ‘politisi begal.’ Dari hasil membegal itulah mereka berjudi memburu tahta – kuasa. Lalu madon. Tak sedikit yang ketahuan sedang madon di peraduan aduhai. “Secara politik, mereka juga melacurkan diri, Mban..!?” tukas Bilung, membuat Mban Pedangan berkerut kening.

“Apa ada juga yang mateni? Membunuh?”

Aduhh.., Mban,” sambut Bilung. “Lebih berat dari membunuh raga, Mban!” cetus Bilung. Setiap hari beberapa wakil kawula membunuhi lawan-lawan politik. “Mateni watak, melalui pernyataan-pernyataan mereka. Termasuk menebar fitnah,” lanjutnya. Mban menggaruk keningnya. Mban teringat Tantrayana, ajaran pengendalian hawa nafsu dari kakeknya.

Tapi, para wakil kawula juga terdiri dari penganut prawtthi (aliran kanan), dan penganut niwrtthi (aliran kiri). Mereka berbeda dalam melakoni hidup. Kalangan prawtthi, akan menghindar dari semua hal yang bisa menyeret mereka ke lembah nista. Bagi kalangan niwrtthi, nafsu dapat dikendalikan dengan cara memuaskannya. Mereka, senang ngaji mumpung. “Nah, yang suka meminta ‘upeti’ dan ‘memeras’ Badudes, itu kalangan kiri, Mban,” ungkap Bilung.

Percakapan mereka terhenti, ketika seorang lelaki tua datang. Duduk di sudut kedai, lalu bersuluk: ….. kang ngaji mumpung. Nir waspada rubedane tutut, kakinthilan manggon anggung atut wuri. Tyas riwut ruwet dahuru. Karup sinerung anggoroh. Mereka yang mengamalkan ‘aji mumpung,’ hilang kewaspadaan, (dan kelak) masalah selalu bersamanya, mengikuti terus dari belakang. Hati amat bernafsu, ruwet, tidak tenteram, (karena) tidak setia dan menyimpan dusta.|

 

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
08 Jul 19, 16:21 WIB | Dilihat : 715
BNI Syariah Istiqamah di Jalan Hasanah
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 903
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 249
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 390
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
Selanjutnya
Humaniora
20 Jul 19, 01:26 WIB | Dilihat : 410
Senopati Pamungkas itu Berpulang
18 Jul 19, 13:25 WIB | Dilihat : 322
Hidup Gembira Hidup Bahagia
10 Jul 19, 08:56 WIB | Dilihat : 1152
Hati Bungah Melihat Betawi Mesra
06 Jul 19, 22:27 WIB | Dilihat : 552
Cermin dari Ciswoto dan Evie Tyas
Selanjutnya