Catatan Seni 3

Ronggeng dalam Perspektif Endang Caturwati

| dilihat 168

Bang Sém

Mengapa ronggéng? Pertanyaan ini saya ajukan kepada seorang mahasiswi Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, tahun 1978. Mahasiswi itu, Endang Caturwati, yang kini guru besar ilmu seni pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia.

Jawabannya memantik saya untuk kemudian menulis artikel tentang dirinya dan memberinya tajuk, "Ronggéng Intelek."

Pertanyaan itu saya ajukan kepada Endang, karena pada masa itu ronggéng (penari dan penyanyi) sebagai karya seni tradisi yang secara konotatif dipandang minor.

Secara konotatif ronggéng  terdapat pada seni pertunjukan hiburan kalangenan dengan beragam istilah: Ronggéng Melayu, Cokèk, Lènggèr, Dongbrèt, Rongèng, Ee saan, dan Lhakon (Thailand), Robam ploy shuoy (Khmer) setara dengan 'kembang latar,' atau di daerah Sunda dikenal dengan seburan ‘kembang buruan’.

Jawaban itu, begini: ‘pertunjukan Ronggéng’ bukan cuma salah satu jenis kesenian khas tradisional di Asia, khususnya di Indonesia. Sosok Ronggéng adalah salah satu sisi cermin masyarakat kita dengan berbagai masalah yang menyertainya. Saya melihat ‘ronggéng’  sebagai karya seni dan manusia."

Pada masa itu Endang memilih ronggéng (dalam konteks sinden, sangrez, dan penari) sebagai medium ekspresi kesenimanannya sebagai penari dan sekaligus koreografer. Apalagi, sebelumnya, dia studi di Konservatori Karawitan Indonesia - Bandung yang sudah berani melakukan eksperimentasi. Termasuk memasukkan anasir karawitan Jawa dalam karawitan Sunda, yang tercermin dalam lagu ciptaannya Kanya'ah Indung Bapak dan Katineung (1975).

Dua lagu yang dipandang unik  oleh gurunya Nano S, salah satui maestro karawitan Sunda. Karena pilihan laras yang berbeda dengan laras yang dipelajari di sekolahnya. Boleh diduga, keberanian itu terpantik oleh suasana lingkungan di dalam rumah yang terbiasa dengan karawitan Jawa, langsung dari ayahnya, allahyarham Bardjo Hermandidjoyo.

Sinden dan penari, karawitan dan tari tradisional, serta dinamika perkembangan psikologis, sekaligus psikososial yang juga memantik Endang memilih basis tari rakyat, ketika kebanyakan rekan dan lingkup akademisnya justru memilih tarian  ‘menak’  dengan segala atribusi dan simbol penghormatan sosialnya.

Tak hanya itu, bara spirit transformasional di dalam dirinya, terkesan memantik dirinya sebagai penari dan koreografer untuk mengejar karir akademis di bidang tari.

Profesi penari -- apalagi ronggéng--, yang dipandang tidak penting secara historis, dan hanya merupakan profesi paruh waktu dan persisten sampai awal abad ke-20, dalam pandangan Endang, merupakan profesi yang mesti setara dengan profesi lain. Karenanya, asas profesionalitas : kolegialitas, keilmuan, dan tanggungjawab profesi -- mesti diwujudkan dalam kompetensi - kapasitas, kapabilitas, dan aksesibilitas. Terutama karena terdapat ambivalensia budaya di lingkungan masyarakat (khasnya kalangan menak - aristokrasi) yang memandang profesi itu secara terbelah.

Meminjam pandangan Nihal Ötken - Turki Music State Konservatuarõ - Istanbul Technical University, pilihan karir akademik Endang, menunjukkan komitmen personalnya untuk melihat - sekaligus memprediksi seacara visioner -- seni tradisi rakyat berbasis sinden dan penari (ronggéng) sebagai profesi yang ditopang oleh disiplin berkesenian.

Institut Seni Indonesia adalah pilihan awal untuk melanjutkan studi akademik dari ASTI - Bandung, yang sebenarnya baru tahap colloqium - dari ruang hidup nyata ke ruang kelas pendidikan. Ilmu pengetahuan seni tari yang berbuah keterampilan (skill), adalah kriterium yang harus dipenuhi dalam konteks adopsi profesi.

Endang kemudian melanjutkan studinya dan meraih gelar Sarjana Seni Tari (SST) di Institut Seni Indonesia - Jogjakarta, Magister Seni dan Doktor Ilmu Budaya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

Ketika melakukan penelitian tentang ronggéng, dari tesis dan disertasinya, saya melihat Endang menggunakan metode analisis dimensional dan indepth tentang dunia ronggéng. Metode yang tak mudah, dengan kompleksitas masalahnya, ketika penelitian lapangan dilakukan.

Metode penelitian ini tak hanya memandu peneliti untuk menghimpun masalah dan memilahnya dalam suatu senarai, karena mesti mendeskripsikan setiap masalah dengan realitas (presumsi dan fakta) secara berbeda sesuai dengan bobot masalah.

Beberapa tahun kemudian -- dari momen ketika Endang melakukan penelitian -- secara terpisah (non kontekstual)  dua peneliti Brazilia, Tony Barber Sandinha (Pontifícia Universidade Católica de São Paulo) dan Marcia Veirano Pinto  (Universidade Federal de São Paulo) menghimpun beragam pemikiran -- dengan beragam disiplin ilmu -- untuk penerapan metode ini.

Keduanya berpandangan, metode penelitian ini meramu acuan dan pengaturan akademik, wacana sosial yang berkembang di sekitar obyek penelitian, sistem nilai dan sistem budaya, karakter dan struktur sosial, dan berbagai variabel yang membentuk obyek penelitian sebagai suatu fenomena.

Dalam penelitiannya terkait disertasinya (yang diubah menjadi buku Sindén - Penari di Atas dan Di luar Panggung, 2011) yang membidik kehidupan sosial budaya para Sindén - Penari Kliningan - Jaipongan di wilayah Subang - Jawa Barat, terlihat desain korpus obyek penelitiannya yang terkoneksi dengan sosiologi, antropologi, sejarah, ekonomi, politik, dan tradisi keagamaan.

Endang, sebagaimana pandangan Doug Biber (1993) - pelopor metode penelitian analisis multi dimensi, telah menempatkan secara proporsional dan fungsional desain korpus dan keterwakilan sumber sekunder multi plot (dari anak ronggéng,  birokrat desa, pengusaha lokal, sampai Sekretaris Militer Presiden) sebagai bagian dari langkah kunci untuk membangun korpora analisisnya.

Menariknya dia tetap patuh dan konsisten dengan struktur baku metodologi sesuai prosedur akademik untuk analisis dimensional yang belum banyak dipraktekkan di Indonesia - yang masih dipengaruhi oleh banyak pemikiran akademik Belanda. Meski pada dekade ketika penelitiannya tentang ronggéng dilakukan, sudah mulai diterapkan metodologi penelitian Perancis dan Amerika yang lebih efektif.

Dari perumusan, analisis, dan solusi masalah yang dikemukakan dalam disertasinya, Endang menghadirkan deskripsi tentang ronggéng sebagai realitas sosial yang terbuka berinteraksi dengan realitas politik, ekonomi, sosial, dan sejarah.

Kendati dalam realitas pertama kehidupan, sering diseret ke ruang mitos, legenda, bahkan menjadi obyek presumtif masyarakat. Terutama, karena ronggéng yang ditelitinya hidup di tengah masyarakat sinkretik ambivalensis. Masyarakat yang secara sosiologis terbelah: secara fisik sudah berada di abad ke 21 yang melampaui era informasi dan konseptual, tapi pola nalar dan konsepsi logika masih tertambat di era agraris dan industri di abad 17.

Dalam pandangannya,  Endang tak melihat ronggéng sebagai suatu yang tunggal, tetapi berdimensi dengan berbagai variabel dan parameter nilai sosial yang beragam. Hasil analisis dimensionalnya menggambarkan varian transformasi dari pernyataan dan presumsi umum baik atas istilah ronggéng maupun eksistensi ronggéng di tengah ruang sosio budaya masyarakat.

Endang menempatkan ronggéng sebagai seni pertunjukan rakyat bersifat populis modes, yang mengalami pergeseran dari  peran khas (spiritual), pekerja seni, dan penghibur.

Ronggéng dalam perspektif pemikiran Endang, berada pada garis median antara berbagai pandangan, dari penghibur berkonotasi negatif yang identik dengan pelacur (The History of Java - Raffles, 1817); penghibur - sekaligus katarsis orang kebun - Punale Sanctie dan tradisi berpantun orang Melayu (Merantau ke Deli,  Hamka, 1939); dan, penghibur sekaligus simpanan petinggi dan bagian dari kebijakan politik penguasa tentang sosio-budaya (Trilogi Ronggéng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, 1982).

Ronggéng dalam penelitian Endang, tergambar, sebagai bagian dari obyek dalam sistem relasi sosial clientelistic, sejak era eksplorasi dan eksploitasi perkebunan. Clientelism yang menimbulkan pergundikan dan pelacuran.

Endang sampai pada posisi eksistensial Ronggéng sebagai entitas khas masyarakat agraris  dengan posisi client, yang nyaris tak berdimensi. Tetapi perkembangannya, seiring pergerakan teknologi, mulai dari teknologi transistor, sistem pengeras suara, masuknya televisi (dekade 1960-an) berhadapan dengan dinamika sosial yang mulai memisahkan sinkretisma dengan prinsip-prinsip agama.

Dengan format pemikiran dan analisis dimensional yang menggambarkan dengan jelas realitas Ronggéng, dan ide yang berkembang dari lapangan, Endang sampai pada format sosial masyarakat, dan Ronggéng sebagai entitas tidak lagi bersifat komunal seperti masa sebelumnya. Dan, sebagai profesi, Endang meredefinisi pemahaman tentang Ronggéng.

Endang juga merekonstruksi pemikiran tentang profesionalitas dan konstelasi ronggeng dengan tantangan peradaban abad 21, sebagaimana diprediksi James Martin (2007). Khasnya tentang kemiskinan, singularitas, transhumanitas, reorientasi peradaban, format baru struktur sosial, orientasi sosial baru, dan transformasi nilai sosio budaya yang berkaitan langsung dengan era Society 5.0, yang tak sekadar bertalian dengan internet on think dan artificial intelligent.

Secara spesifik, Endang tidak hanya menelisik realitas kehidupan sosio budaya para ronggeng dan kemudian melakukan aksi menggerakkan transformasi sosial - melalui workshop mengubah nasib para ronggeng di lokus penelitiannya. Ia juga mereformat presumsi dan asumsi tentang ronggeng, melalui reposisi ronggeng secara sosiologis, melalui kaderisasi akademik.

Dalam konteks basis seni, Endang secara tanpa henti melakukan proses kreatif merumuskan dan menciptakan berbagai produk seni pertunjukan yang relevan dengan ronggeng, seperti tercermin dalam sejumlah karyanya, seperti: Nasib Nyi RonggéngRonggéng MidangBlantek KipasKélanganAstungkara, dan Munajat untuk Bumi.

Endang konsisten dengan pernyataannya tahun 1978, bagaimana melakukan proses perubahan dramatik (transformasi) sosial, bukan hanya kepada pelaku atau pekerja seni yang berkait dengan ronggeng. Jauh dari itu, juga transformasi bagi masyarakat sebagai ceruk utama seni tradisi rakyat, dan negara dalam merumuskan rancang kebijakan terkait dengan social security dalam pemahaman jaminan sosial menyeluruh.

Tak terkecuali, juga pengembangan konsepsi dasar dan pengembangan corportate social responsibility berbasis community and cultural responsibility bagi korporasi negara dan swasta.

Tanggungjawab kolektif masyarakat untuk pengembangan karya seni dan pelaku seni (senimannya), memang menjadi tanggungjawab negara. Namun, pada perkembangannya, tanggungjawab itu -- sesuai dengan peraturan tentang PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) -- juga menjadi bagian dari tanggungjawab korporasi dengan beragam bentuk dan cara.

Terkait dengan perkembangan (pelestarian dan pengembangan) Ronggeng dan eksistensi ronggeng, kesadaran untuk menggerakkan corporate cultural responsibility dan corporate community responsibility menjadi penting maknanya. Apalagi, bila hendak dipahami dengan seksama, bahwa seni adalah produk masyarakat yang perlu dipelihara, supaya kehidupan sosial tak kering. |  [Bersambung]

Baca Juga : Ronggeng Dulu dan Setelahnya

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
29 Nov 20, 04:03 WIB | Dilihat : 100
Hindari Jabatan Ekstra dan Celah Korupsi
28 Nov 20, 08:04 WIB | Dilihat : 139
Anies Pegas Sang Juara
13 Nov 20, 10:04 WIB | Dilihat : 155
Anies Baswedan dan Kaum Amburadulian
10 Nov 20, 08:35 WIB | Dilihat : 147
Demokrasi Amerika Serikat di Punggung Perempuan
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 183
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 164
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 350
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya