Penghargaan Akademi Jakarta 2021

Remy Sylado Bianglala Kebudayaan Indonesia

| dilihat 136

Remy Sylado, seniman - budayawan ulung multi talenta, dan Masyarakat Adat Kinipan - Lamandau, Kalimantan Tengah, yang gigih melindungi hutan hujan tropis Indonesia, akan menerima Penghargaan Akademi Jakarta 2021, Senin - 28 Juni 2021, petang secara daring dan disiarkan langsung melalui saluran YouTube Dewan Kesenian Jakarta.

Ketua Akademi Jakarta 2020 - 2025, Seno Gumira Ajidarma mengemukakan, penghargaan tersebut adalah tradisi penghargaan kebudayaan, yang sempat terhenti pelaksanaannya tahun 2020.

Penghargaan Akademi Jakarta 2021, menurut Seno, merupakan debut perdana Akademi Jakarta (AJ) Periode 2020 - 2025. Berbeda dengan Penghargaan tahun-tahun sebelumnya,  mulai tahun ini, tak lagi hanya diberikan kepada seorang seniman. Tetapi diberikan juga kepada kelompok masyarakat penggiat kebudayaan dalam makna yang luas.

Proses seleksi atas beberapa kandidat dan pengambilan keputusan dilakukan oleh seluruh anggota Akademi Jakarta, sejak bulan November 2020.

Menurut Seno, Penerima Penghargaan AJ dalam kategori pribadi (individu) dinilai dari kalangan seniman yang konsisten mengembangkan gagasannya secara khas, yang dalam keadaan apapun tanpa henti melahirkan karya-karya kreatif dan inovatif.

Sikap tersebut terbukti mampu menghidupkan karya seni dan sastra, sebagai medium ekspresi kemanusiaan yang berorientasi keadilan.

Sedangkan untuk kategori masyarakat penggiat kebudayaan dinilai dari kalangan masyarakat yang konsisten dan gigih memperjuangkan hak-hak dasar manusia, lingkungan hidup - alam dan sosial -  untuk kepentingan kemanusiaan dan keadilan yang lebih luas sebagai tanggung jawab terhadap generasi baru di masa depan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, seleksi penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2021 diberikan kepada perseorangan dan komunitas.

Proses seleksi atas beberapa kandidat dan pengambilan keputusan dilakukan oleh seluruh anggota Akademi Jakarta, sejak bulan November 2020.

Tahun ini, Remy Silado terpilih dari beberapa kandidat, menurut pertimbangan AJ,  karena ia merupakan 'Bianglala Kebudayaan Indonesia,' seperti yang dikemukakan anggota AJ Karlina Supelli,

Akan halnya masyarakat Kinipan, sebagai penerima penghargaan hadir lengkap dari desanya di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, bersama ketua dan pimpinan adat lainnya. Pertimbangan pemilihan atas mereka disampaikan anggota Akademi Jakarta, I. Sandyawan.

Para penerima Penghargaan Akademi Jakarta 2021 mendapatkan piala karya Dolorosa Sinaga, salah seorang anggota Akademi Jakarta disertai hadiah berbentuk natura, dan piagam.

Piala karya Dolorosa Sinaga berbentuk patung mini yang melambangkan sosok manusia mendekati sempurna, mengungkap kesempurnaan penciptaan Sang Khalik. Tangan menunjuk ke bumi mengandung makna pembumian kepedulian, gagasan, dan kreativitas yang bermanfaat bagi manusia. Tangan menunjuk ke atas, menegaskan kedudukan manusia sebagai bagian dari alam semesta. Sedangkan lingkaran tempat berpijaknya adalah bumi dengan segala isinya, tempat kehidupan sesama manusia.   

Berikut Pertimbangan Akademi Jakarta memilih Remy Sylado yang disampaikan Karlina Supelli, bertajuk Remy Sylado Bianglala Kebudayaan :

Lahir di Makassar, 12 Juli 1945, Yapi Panda Abdiel Tambayong bercita-cita menjadi petani. Karena tak punya tanah, cita-cita tak kesampaian; begitu Remy Sylado pernah berkisah. Lahirlah karya-karya unggul dalam ladang sastra, teater, seni rupa, musik, drama.

Ia juga seorang munsyi. Dalam ungkapan Remy Sylado sendiri: seseorang yang terpanggil untuk menguasai bahasa karena kesukacitaan berbahasa, dan tertantang untuk menghasilkan bentuk bahasa tulis yang kreatif dalam idealitas kepujanggaan di atas sifat-sifat kedibyaan budaya (Bahasa menunjukkan Bangsa).

Ada masa Remy Sylado mengejutkan dunia sastra Indonesia karena mendobrak kekeramatan pandangan estetika bahwa bahasa puisi harus tertib dan terpilih. Ia menegakkan ragamnya sendiri melalui gerakan Puisi Mbeling. ‘Gerakan’ karena gagasannya tidak sekadar hadir, tetapi menimbulkan perubahan yang berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan di Indonesia.

Mbeling berarti “nakal tapi sembodo,” kata Remy Sylado dalam orasi sastra di Dewan Kesenian Jakarta (2013). Nakal, susah diatur, memberontak, tapi ada imbangannya.

Imbangannya adalah ketangkasan permainan kata dan gagasan yang disertai kelakar, sindiran, dan olok-olok. Permainan tidak sama dengan main-main. Untuk semua karya sastra, Remy menaruh syarat yang serius, yaitu kekayaan intelektual dan kekayaan spiritual.

Mbeling bagi Remy Sylado hanya satu sikap untuk “berkisah tentang kejujuran dunia,” apa adanya (‘Dua Jembatan: Mirebau & Asemka’). Dalam kejujuran itu, karya-karya Remy Sylado membuat kita tergelak sekaligus merasa seperti ada sebilah pedang menembus benak.

Orang Perancis/berpikir/maka mereka ada // Orang Indonesia/tidak berpikir/namun terus ada (‘Teks atas Descartes’).

Puluhan tahun kemudian ia “membajukan hal-hal telanjang” di fase puisi mbeling-nya. Namun, nuansa mbeling tidak redup. Ia tetap memprotes ketidakadilan, keangkuhan penguasa, penyesatan nalar, budaya “cangkeman,” “prasangka kebangsaan yang konyol” – memakai ungkapan Remy Sylado sendiri (123 Ayat Tentang Seni), dan banyak lagi.

Ia, misalnya, sengaja tidak setia kepada selera bahasa “yang baik dan benar” serta memilih yang “indah dan tepat.” Alasannya,

Dengan kata “indah” maka di dalamnya hendak diejawantahkan dorongan-dorongan estetik, dan dengan kata “tepat” maka di dalamnya hendak diwujudkan pandangan-pandangan tentang akal-budi yang tidak mungkin dieksplorasi secara tuntas, melainkan harus diekspresikan dengan semaksimal mungkin.

Pilihan itu kita jumpai dalam karya-karya yang menghibur, sekaligus memaksa orang berpikir ulang, melatih akalbudi; kadang sambil tersenyum, atau mungkin ada pula yang tersinggung.

Ambil contoh gugatannya dalam Perempuan bernama Arjuna 2,

Selama ini pun, manakala saya termenung, setelah menyimak dengan nalar akan susunan kata-kata dalam lirik lagu kebangsaan itu, memang saya sendiri merasa terganjel, atau bilanglah terusik kesadaran intelektual saya … . Urusannya adalah kata yang dipakai dalam lirik lagu kebangsaan itu berbunyi “di sanalah” dan mengapa bukan “di sinilah”. Dengan begitu, jangan prasangkai saya kalau saya merasa lebih kena dan lebih afdal menyanyikan Indonesia Raya di Belanda, ketimbang di Indonesia.

Begini:  Di sanalah aku berdiri/jadi pandu ibuku

Nah! Aneh binti ajaib memang, kok di dalam negeri sini orang Indonesia mengatakan tempatnya berdiri adalah “di sanalah”, bukan “di sinilah”… . Gerutu saya, masak orang Indonesia di Tarutung lah, di Payakumbuh lah … di Soasiu lah … di Fakfak lah, …, mengatakan lingkaran tempatnya berdiri sebagai “di sanalah” … . Samasekali itu bukanlah masalah dasar licentia poetica yang biasa dijadikan perisai untuk menunjukkan kebebasan imajinasi dan kretivitas bahasa seni … memang soal kesalahkaprahan memanfaatkan bahasa kebangsaan yang dipakai tanpa mengindahkan nalar menyangkut ukuran normatif atas bentuk abstrak dalam wilayah jarak.

Pola serupa dalam karya-karya Remy Sylado memperlihatkan bagaimana karya kreatif dan artistik dapat berjalin dengan kedalaman intelektual, ketertiban berpikir, kesinambungan sukacita berbahasa dengan logika, tanpa membuat imajinasi kehilangan kekebasannya.

Remy Sylado mengoreksi pemahaman tentang kebudayaan, jauh melampaui pengertian sempit yang kerap muncul dalam pidato para pejabat, seakan-akan kebudayaan nasional identik dengan tarian daerah.

Melalui ketekunan menggali kekayaan yang mengakar dalam pengetahuan lintas-bahasa, lintas-bangsa, lintas-budaya, Remy Sylado menjadikan tulisan-tulisannya tentang sastra, teater, seni rupa, musik, drama, film sebagai telaah peradaban hingga jauh ke masa silam.

Mari kita simak Perempuan bernama Arjuna 6,

Sunda Kelapa? Berarti dulu di situ banyak kelapanya,” kata Jean-Claude van Damme.

Bukan ‘kelapa’, tapi ‘kalapa’. Setahu aku, dalam bahasa Sunda lama, yang dulu dipakai untuk nama Jakarta, sebagai pelabuhan utama kerajaan Sunda di Bogor, yaitu Pakuan Pajajaran, adalah kata kalapa berarti ‘bandar’ atau ‘pelabuhan’. Jadi Sunda Kalapa, maksudnya adalah bandar atau pelabuhan dari kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran …

Kelupaan pada sejarah sampai-sampai membuat wikipedia menyertakan terjemahan “Coconut of Sunda” bagi tempat di Jakarta Utara itu, yang pada mulanya tak tersangkut paut dengan buah kelapa.

Lima puluh tahun lalu, Remy Sylado membuat para pujangga ‘mapan’ jengkel karena mengatakan “seni harus diletakkan di telapak kaki.” Namun, ia tentu bukan sedang merendahkan seni. Ia berpegang teguh pada keyakinan bahwa “manusia lahir untuk menjadi manusia. Hidup berada di atas junjungan kepalanya. Bukan seni yang harus dijunjungnya” (Aktuil, 1974). Pembelaan Remy Sylado bagi hidup dan kemanusiaan tidak pernah luruh.

Remy Sylado tidak saja telah membuka jendela dunia sastra Indonesia untuk berkembang di luar batas-batas keangkeran horison kemapanan. Melalui karya-karyanya, ia juga mengangkat beragam masalah di sekitar kita mulai dari yang lokal sampai global, mulai dari kekeliruan memahami kebudayaan nasional, hibriditas bahasa Indonesia yang diperdebatkan, sampai tegangan antara “kebangsaan yang sempit dan universalisme yang tidak berkerangka,” keyakinan bahwa realitas ini majemuk dan sikap fanatik primordial yang mau menciutkannya ke paham hingga berisiko membawa serta kekerasan.

Dengan keberanian menciptakan ekspresi baru, Remy Sylado mengajak kita terlibat dengan itu semua. Ia menawarkan bianglala kebudayaan sebagai titian untuk mengatasi aneka tegangan dan perbedaan.

Kebudayaanlah yang menjadikan manusia adalah manusia – makhluk yang beberapa ratus ribu tahun lalu menemukan bahasa untuk berkomunikasi secara beradab. | delanova / haedar muhammad


INFORMASI TERKONEKSI : Penghargaan Akademi Jakarta 2021 bagi Remy Sylado dan Masyarakat Adat Kinipan

Editor : eCatri | Sumber : Akademi Jakarta dan YouTube DKJ
 
Humaniora
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 178
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 499
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
17 Agt 21, 15:10 WIB | Dilihat : 133
Merdeka sebagai Badui dan Cara Menyelesaikan Masalah
13 Agt 21, 12:59 WIB | Dilihat : 177
Adzan Pilu di Tengah Coronastrope
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 324
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1171
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1424
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya