Jembatan Bentang Budaya

| dilihat 276

JEMBATAN dalam konteks peradaban manusia, bukan hanya karya konstruksi teknologis yang menghubungkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Jembatan dipahami sebagai produk kreativitas kultural manusia yang menghubungkan suatu masa dengan masa lainnya. Mempertemukan dimensi waktu dengan dimensi waktu lainnya.

Pada masanya, jembatan dipahami sebagai suatu struktur bangunan rebah yang disangga tiang kokoh untuk menyeberangi rintangan, baik jurang maupun sungai, kanal, dan sejenisnya. Ketika teknologi berkembang, dikenal berkembang pula jembatan yang menghubungkan dua daratan. Jembatan kemudian melintasi selat.

Jembatan dibangun, pada mulanya, agar manusia mampu mengatasi halang rintang. Jembatan dibangun untuk memungkinkan pejalan kaki, pengendara kendaraan bermotor dan kereta api melintas tanpa hambatan. Bahkan, pada perkembangan peradaban manusia modern, dimensi jembatan menjadi sedemikian luas. Mengubah dan mengganti fungsi berbagai sarana penghubung antar dimensi alam tempat manusia hidup dengan sarana yang dipandang lebih efektif dan efisien.

Perahu, kapal laut, dan ferry yang pada mulanya menjadi sarana penghubung manusia antar pulau, kemudian digantikan dengan jembatan. Setidaknya, itulah yang kita saksikan di seluruh dunia, baik di Eropa, Amerika, dan kemudian di Asia.

Di Indonesia sendiri yang menjadi negara kepulauan dan bahari, berkembang kecenderungan dan hasrat untuk menjadikan jembatan sebagai sarana utama penghubung antar pulau, menggantikan sarana lain.

Apa yang bisa kita saksikan dengan keberadaan jembatan Suramadu yang menghubungan Surabaya (Pulau Jawa) dan Bangkalan (Pulau Madura) adalah realitas yang nyata di depan mata.

Pernah juga berkembang pemikiran dan wacana membangun jembatan Selat Sunda dan Jembatan antara Melaka di Malaysia dengan Dumai di Indonesia. Agaknya rencana itu tak kesampaian.

Kelak, jembatan tak hanya mewadahi dinamika mobilitas manusia dalam melakukan migrasi. Melainkan, jauh dari itu, juga memungkinkan terjadinya percepatan akulturasi dan pembebasan manusia dari batas-batas geografisnya.

Dari dimensi rancang bangunnya, jembatan pun mengalami berbagai pengembangan. Ada jembatan yang sangat sederhana dan hanya bersandar pada daya (kekuatan) ‘memikul’ beban, seperti jembatan bailey.

Ada pula jembatan yang dibuat lebih tinggi dari yang diperlukan untuk memperoleh efek dan refleksi tertentu yang disebut moon bridge. Termasuk jembatan-jembatan khas yang dibangun hanya untuk kepentingan memenuhi privasi penguasa di istana-istana, seperti jembatan yang berlaku di kota terlarang (Forbidden City) di era dinasti Puyi, Beijing – Cina.

Dari ragam bahan (row material) pembangunannya, jembatan mengikuti perkembangan teknologi sebagai bagian perkembangan budaya dan peradaban manusia.

Pada masanya, ketika manusia masih sangat dipengaruhi oleh budaya pertanian yang mengandalkan kesederhanaan dalam kearifan budayanya, jembatan dibuat dari batang pohon kayu. Inilah yang kita kenal sebagai log bridge.  Sangat sederhana, karena jembatan ini dibuat dengan cara menggelontorkan batang kayu yang tumbang, lalu membanjarkannya begitu saja.

Ketika unsur logam dipergunakan sebagai bahan bentangan tertentu, kita kemudian mengenal aneka jembatan. Mulai jembatan gantung yang memadu-padankan bentangan besi dengan hamparan papan kayu, sampai jembatan bailey yang memadukan unsur besi, batu, pasir, semen, kapur, dan aspal.

Akan halnya jembatan kereta api memadu-padankan bentangan rel baja dengan bantalan kayu, disangga besi dan semen.

Belakangan, ketika berkembang pemikiran tentang harmoni artistika dan estetika dengan kekuatan rekayasa teknologi (engineering), kita mulai mengenal beragam jembatan sebagai karya instalasi.

Itulah antara lain yang kita saksikan pada jembatan Sungai Nil, Sheine, Reine, Golden Bridge, George Washington Bridge, Robert F Kennedy Bridge, Brooklyn Bridge, Williamsburg Bridge, dan sebagainya di berbagai belahan dunia. Termasuk pola arsitektur jembatan yang kita temukan di Jembatan Penang, Jembatan Suramadu, Jembatan Barelang, dan jembatan-jembatan lainnya.

Bagaimanapun, akhirnya jembatan merupakan bentang budaya dan peradaban manusia. | Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
05 Jan 17, 21:34 WIB | Dilihat : 455
Hidup Sejahtera di Permukiman Terapung Kampong Ayer
02 Jan 17, 15:50 WIB | Dilihat : 276
Merawat Cinta di Bali
28 Des 16, 14:15 WIB | Dilihat : 313
Surga di Jayapura
23 Des 16, 18:26 WIB | Dilihat : 467
Cisomang Bergeser, Cipularang Terganggu
Selanjutnya
Budaya
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1250
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
13 Jan 17, 23:30 WIB | Dilihat : 151
Diplomasi Lewat Seni Budaya
01 Jan 17, 18:24 WIB | Dilihat : 277
Jembatan Bentang Budaya
20 Des 16, 23:56 WIB | Dilihat : 662
Merajut Budaya Indonesia-New Zealand di Auckland
Selanjutnya