Euro 2016

Menilai Kekuatan Tim Matador

| dilihat 2090

AKARPADINEWS.COM | TIM Matador, Spanyol, berambisi mempertahankan stratanya sebagai tim sepakbola yang disegani di Eropa. Dengan dihiasi pemain-pemain utama di klub-klub terkemuka di dunia itu, Matador siap menaklukan kebuasan lawan-lawannya.

Di lini tengah, Spanyol memiliki Andres Iniesta, Cesc Fabregas, Thiago Alcantara, David Silva, hingga Koke. Mereka terkenal dengan umpan-umpan cantiknya, yang bisa tiba-tiba disambut penyerangannya, lalu merobek gawang lawan.

Banyaknya pemain lini tengah, membuat sang pelatih, Vicente Del Bosque, lebih cermat menentukan pemainnya. Dan, bila tak pintar atur strategi, bukan mustahil, tim yang dihiasi para bintang itu, menuai kemalangan seperti yang dialami saat Piala Dunia tahun 2014 lalu.

Di antara berbagai pilihan itu, Del Bosque membutuhkan playmaker yang kualitasnya setara dengan Xavi Hernandez yang telah pensiun. Setidaknya, ada dua nama yang bisa menggantikan Xavi, yakni Iniesta dan Silva. Kedua playmaker itu terbukti diandalkan klubnya masing-masing.

Iniesta nampaknya menjadi kandidat utama. Sebab, Iniesta senantiasa menggantikan Xavi kala masih merumput di Barcelona. Keduanya merupakan jantung permainan Barca dan menjadi dua pemain yang diberi tugas khusus oleh Josep ‘Pep’ Guardiolla, kala masih melatih Barca. Mereka menjadi motor penggerak strategi tiki-taka ala Barca.

Ketika Xavi memutuskan untuk pensiun dari Barcelona, maka perannya di Blaugrana digantikan Iniesta. Xavi dan Iniesta memiliki kualitas permaian yang sama. Namun, Iniesta lebih sering maju menyerang, sedangkan Xavi lebih menempatkan diri sebagai pengatur tempo permainan.

Sebagai playmaker, Iniesta memiliki kemampuan mengumpan yang baik. Pemain berusia 32 tahun itu sering menciptakan peluang terciptanya gol dari umpan-umpan terarahnya. Pemain bernomor punggung 8 di Barca itu juga mampu memberikan umpan terobosan yang sulit dibaca lawan.

Bersama klub asal Katalan itu, Iniesta telah membubuhkan statistik 58 umpan sepanjang 398 laga bersama Barca. Meski demikian, tipe permainan Iniesta bukan sebagai pengumpan murni. Karena dia sering maju ke area pertahanan lawan untuk menciptakan angka.

Total 37 gol dia hasilkan di Barca dan sembilan di Tim Nasional Spanyol, termasuk gol kemenangan di Piala Dunia 2010. Keahlian mengumpan dan naluri mencetak golnya itu ditunjang kemahiran dalam menggiring bola yang kadang menyulitkan pemain lawan untuk menghentikannya, tanpa melakukan tekel.

Walau Iniesta adalah gelandang tengah yang handal, dia memiliki beberapa kelemahan utama yang dapat merugikan timnya. Pertama, dia hanya mampu bermain baik di posisi gelandang tengah. Iniesta memang bisa bermain di beberapa posisi, seperti gelandang sayap kiri. Namun, permainannya di posisi lain tidak akan sebersinar kala dia sebagai gelandang tengah.

Kelemahan kedua ialah kemampuan dan naluri bertahannya tidak terlalu bagus. Hal inilah yang menjadi pembeda utama Iniesta dengan Xavi. Bila Xavi mampu bermain bertahan dan menjaga pertahanan di posnya dengan baik maka Iniesta tidak. Terlalu seringnya maju ke depan, Iniesta jarang mundur ke belakang untuk membantu pertahanan.

Lalu, dalam mengumpan, Iniesta tidak terlalu sering melakukan umpan silang. Dia lebih senang melakukan umpan-umpan pendek. Saat dia terpaksa berada di sisi pinggir lapangan, Iniesta lebih sering membawa bola sedikit ke tengah, baru mengoper ke koleganya.

Kelemahan Iniesta lainnya ialah tidak mampu melakukan duel udara. Kala menyambut bola lepas di udara, Iniesta selalu sulit untuk memperolehnya. Itu disebabkan dia tidak terlalu tinggi. Iniesta hanya memiliki tinggi 171 cm. Namun, kelemahan ini bisa dia tutupi dengan kecepatan dan ketangkasan permainannya.

Bagaimana dengan Silva? Pemain Manchester City itu juga memiliki kesamaan dengna Xavi. Dia mampu mengatur tempo serangan, mengatur pertahanan tengah, mengeksekusi bola mati, hingga memberikan umpan-umpan brilian.

Dari 258 laga bersama City, pemain berusia 30 tahun itu telah menghasilkan 77 umpan, termasuk 11 umpan di musim 2015-2016. Di Timnas, Silva telah bermain sebanyak 69 laga dan memberikan 12 umpan.

Di lini tengah, Silva dapat berperan sebagai gelandang sayap, gelandang serang, hingga penyerang tengah. Dia tidak merasa canggung dengan posisi yang dilakoninya. Bahkan, di posisi apapun, Silva mampu menciptakan umpan-umpan cantik kepada koleganya. Mantan pemain Valencia itu merupakan sosok playmaker sejati. Tapi, posisi yang sering dia tempati kala bertanding ialah gelandang tengah.

Soal menggiring bola, Silva cukup piawai. Dia mampu mempertahankan bola dari penguasaannya. Silva juga mampu menerobos lini pertahanan lawan. Dia menggiring bola, menyusuri pinggir lapangan maupun langsung menerjang ke jantung pertahanan lawan.

Saat mengeksekusi bola mati, Silva mampu memberikan bola yang nyaman untuk dijangkau koleganya. Meski cukup apik sebagai playmaker, Silva tidak begitu aktif melakukan penyerangan. Ketika dia merangsek ke pertahanan lawan, lebih kepada menarik pemain bertahan lawan sehingga koleganya dapat memiliki ruang gerak. Walau begitu, Silva mampu berkontribusi mencetak angka. Selama berseragam City, Silva telah membubuhkan 43 gol, termasuk dua gol di musim ini.

Iniesta dan Silva dapat menjadi pilihan Del Bosque sebagai playmaker. Keduanya bisa dimainkan secara bergantian atau dimainkan bersama. Bila dimainkan bersama, perbedaan karakter permainan Iniesta dan Silva bisa saling mengisi satu dengan lainnya.

Bila kedua pemain itu tengah tidak dapat dipasang sebagai gelandang tengah, Del Bosque bisa mengandalkan Koke. Kualitas permainan Koke dapat dikatakan sebagai perpaduan pola permainan Iniesta dan Silva.

Pemain berusia 24 tahun itu mampu berperan sebagai playmaker yang cukup baik. Dia mampu mengumpan cukup baik seperti Silva dan memiliki kemampuan menggiring bola hampir sebaik Iniesta.

Hal itu dapat dilihat dari statistik permainannya bersama Atletico. Dari 238 laga yang telah dilaluinya, Koke menorehkan 59 umpan berbuah gol. Dengan statistik itu, lulusan akademi sepakbola Atletico Madrid itu dapat menjadi aset penting sebagai playmaker bagi Spanyol.

Naluri menyerangnya pun mirip dengan Iniesta. Usianya pun masih muda sehingga dapat meningkatkan daya gedor yang dilakukan Matador di pertahanan lawan. Koke juga memiliki naluri bertahan. Dia mampu berperan sebagai pemain bertahan sehingga ketika dipasang sebagai gelandang tengah, dapat bertukar peran dengan gelandang bertahan untuk mengamankan sektor tengah lapangan. Kekurangan Koke mungkin hanya jam terbang.

Spanyol juga dikenal sebagai tim yang selalu mengoptimalkan posisi gelandang bertahan. Beberapa nama beken yang pernah mengisi posisi itu, seperti Guti dan Xabi alonso. Di Euro kali ini, Del Bosque diberkahi beberapa pilihan gelandang bertahan yang cukup baik, di antaranya Sergio Busquets dan Bruno Soriano.

Busquets dapat menjadi nama pertama untuk menjadi pilihan Del Bosque. Sebab, pemain Barcelona itu memiliki pertahanan yang cukup baik. Dia dapat menjaga kekosongan pos lini tengah bila gelandang lainnya menyerang ke depan gawang.

Sebagai gelandang bertahan, Busquet mampu melancarkan tekel aman nan ampuh untuk menghentikan pergerakan lawan. Dia juga mampu menghadang umpan silang dan lambung lawan karena dia adalah seorang pemain petarung udara yang mahir.

Untuk melewatinya, pemain lawan akan mengalami kesulitan. Sebab, Busquets mampu membayangi lawannya dengan sangat baik sehingga sulit mencari celah untuk bergerak.

Busquets juga mampu memberikan tekanan yang cukup baik yang membuyarkan konsentrasi lawan. Pemain berusia 27 tahun itu juga memiliki kemampuan umpan bola yang cukup baik. Dalam sebuah laga, 86 umpannya berhasil dilakukan dari 88 upaya operan sepanjang pertandingan. Dengan statistik itu, Busquets dapat menjadi pemain yang mengalirkan umpan dengan baik.

Kelemahan Busquets hanya pada kemampuannya membantu penyerangan. Karena, dia merupakan tipe pemain bertahan murni dan dia amat disiplin kala melakukan pertahanan. Sehingga, Busquets jarang sekali meninggalkan posisi bermainnya kala berlaga. Dia juga sering melakukan tekel keras kepada lawan. Karena terlalu sering melakukan tekel keras, lawan pun senang melakukan diving.

Untuk sektor pertahanan, Del Bosque sepertinya tidak terlalu dibuat pusing. Pasalnya, nama-nama yang mengisi sektor pertahanan belakang tidak terlalu banyak perubahan. Jadi, sektor pertahanan tidak akan terlalu banyak perubahan berarti.

Hanya saja, Del Bosque harus berhati-hati untuk memasang Gerrard Pique sebagai starter. Sebab, pemain belakang Barcelona itu sering meninggalkan posnya untuk membantu penyerangan.

Saat harus kembali ke posnya, Pique sering terlambat. Hal itu menyebabkan lawan dapat menyerang lini pertahanannya dengan mudah lewat serangan baliknya. Pique terbukti ampuh menjadi tembok Barca. Dengan tinggi mencapai 193 cm, dia mudah menghalau bola-bola atas.

Untuk sektor penyerangan, sepertinya Del Bosque akan mengambil skema false 9. Pelatih berusia 65 tahun itu akan menempatkan satu penyerang tengah di depan dan diikuti oleh gelandang serang yang bisa bertindak sebagai striker bayangan.

Pemain yang kemungkinan besar menjadi pilihan mantan pelatih Real Madrid sebagai penyerang tengah ialah Alvaro Morata. Sebab, dua penyerang andalan Del Bosque pada dua Euro sebelumnya dan Piala Dunia lalu, yakni David Villa dan Fernando Torres tidak masuk dalam pemain yang didaftarkan pada Euro kali ini.

Sebagai salah satu penyerang andalan Del Bosque, pemain Juventus itu merupakan talenta muda Spanyol yang akan memiliki masa depan cerah. Di usianya yang masih 23 tahun, Morata sudah pernah merasakan bermain di dua klub elit Eropa, Real Madrid dan Juventus, dan membuktikan diri sebagai penyerang handal.

Selama empat musim bersama Madrid, Morata telah bermain sebanyak 42 laga dengan torehan 12 gol dan 3 umpan. Lalu, sejak bergabung bersama Juve di tahun 2014, Morata telah tampil sebanyak 83 laga dan menorehkan 22 gol dan 14 umpan.

Sebagai penyerang, modal yang dimiliki Morata cukup banyak. Pertama, Morata memiliki kecepatan dan ketangkasan dalam pergerakannya di lapangan. Dia dapat bergerak cepat dari satu daerah ke daerah lainnya. Nalurinya mencetak gol pun sangat tajam. Dia juga mahir dalam mengolah bola, yang membuat lawan sulit menghentikannya kala menyerang. Morata sering disandingkan dengan legenda Spanyol, Fernando Morientes.

Kedua, dia mampu memberikan umpan kepada koleganya. Meski tak sebaik Silva ataupun Iniesta, Morata mampu memberikan umpan-umpan cantik yang dapat dimaksimalkan menjadi gol. Hal itu menunjukkan Morata bukan penyerang egois yang hanya bergantung pada suplai bola tanpa menyuplai bola.

Terakhir, Morata merupakan seorang team player yang baik. Hal itu terlihat dari kemauannya berbagi tugas dengan koleganya di Juve. Bahkan, dia tak segan untuk turun ke bawah membantu pertahanan bila diperlukan. Modal dia dalam membantu pertahanan ialah keahliannya untuk merebut bola dengan melancarkan tekel halus yang aman.

Walau dapat diandalkan sebagai penyerang utama, Morata masih memiliki beberapa kelemahan, yakni kemampuannya melakukan finishing dan terlalu mudah melanggar selama pertandingan.

Agar dapat menutupi kelemahan itu, Del Bosque harus menempatkan pemain gelandang serang yang memiliki naluri menyerang. Pilihan itu bisa jatuh kepada Fabregras ataupun Thiago. Selain mengandalkan gelandang serang, kelemahan Morata itu bisa ditutup dengan aksi duet Iniesta dan Silva dalam mengatur tempo serangan Spanyol.

Dengan segala potensinya itu, di atas kertas, Spanyol dapat menjadi tim kuat yang berpotensi menjuarai Euro kali ini. Itu bisa diwujudkan jika Del Bosque dapat memaksimalkan seluruh potensi pemainnya.

Jika Del Bosque gagal memaksimalkan potensi anak asuhannya maka Spanyol akan ditenggelamkan oleh lawan-lawannya di Grup D. Di dalam grup itu, Spanyol harus berhadapan dengan Turki, Korasia, dan Republik Ceko. Lawan-lawannya itu merupakan tim yang tengah berkembang dan tidak dapat dipandang sebelah mata.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : UEFA/The Guardian/Who Scored/Statbunker/Weloba
 
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 309
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 165
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 163
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1929
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2296
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya