
PARIS, AKARPADINEWS.COM | PARIS terguncang. Sejumlah teroris menyerang ibukota Paris yang kerap dijuluki ibukota mode dunia itu. Jum’at: 13/11/2015) gedung konser De Bataclan - Paris yang sedang menggelar konser musisi rock Amerika Eagles of Death Metal itu, diserang secara mengejutkan oleh sejumlah orang (teroris) yang menggunakan senjata mesin Kalashnikov.
Mereka memuntahkan peluru ke arah penonton, yang seketika terhuyung dan tewas. Tak berapa lama sebuah bom meledak di situ.
Presiden Perancis Francois Hollande yang sedang menonton sepak bola Perancis vs Jerman juga tersentak kaget, ketika dari salah satu sudut Stade de France tempat pertandingan itu berlangsung, sebuah bom meledak. Dikabarkan, bom yang meledak di stadion sepak bola ini, sejenis bom bunuh diri yang biasa dipakai sebagai bom mobil.
Presiden Holande segera bereaksi. Dia memerintahkan polisi, tentara, tenaga medis, dan sejumlah aparatur pemerintahnya segera bergerak cepat mengatasi keadaan. Ketika itu, seperti dikabarkan Paris Match, di gedung teater Bataclan -- malam itu diubah menjadi gedung -- konser yang terletak di Paris 11, 100 orang penonton sudah tewas menjadi korban. Sedangkan di Stadion sekitar 50 orang tewas.
Polisi segera menguasai keadaan. 3 di antara teroris berhasil mereka lumpuhkan dan tewas.
Di Stade de France – tampak Presiden Hollande terus memberi komando dari balkon tempat dia menonton. Sejumlah penonton turun ke lapangan hijau, sisanya keluar melalui pintu-pintu yang tersedia.

SEORANG KORBAN SERANGAN TEROR DI RUE BICHAT
Noel Le Graet – Presiden Federasi Sepakbola Perancis menjelaskan, suara ledakan terdengar ketika babak pertama pertandingan sedang berlangsung. Dia mendengar ledakan itu terdengar berasal dari pintu masuk pintu J. Di pintu masuk, itu tiga orang tewas seketika, dan beberapa lainnya luka-luka. Selebihnya, stadion berhasil segera diamankan dan pengunjung dapat keluar secara normal. Kemudian Presiden Hollande meninggalkan stadion dan langsung melakukan inspeksi di lokasi kejadi di pusat kota.
Informasi yang berkembang, seperti diberitakan Paris Match, Guardian, Le Monde dan beberapa media lainnya ledakan terbesar yang pernah dialami Paris setelah Perang Dunia II, ini dapat diduga terkait dengan ancaman yang terjadi di Lyon – pekan lalu. Ancaman teroris itu menyebut, mereka akan meledakkan stasiun dan memutus jalur transportasi kereta api ke dan dari Lyon.
Sejumlah saksi mata menyebut, senjata api yang dipeterus menyalak dan terdengar santer di Rue Bichat, salah satu jalan tak jauh dari kantor koran Chalie Hebdo – yang pernah diserang beberapa bulan lalu. Di jalan itulah D’ Bataclan berada, berbanjar dengan beberapa resto. Suara letusan beruntun itu terdengar sekitar pukul 21.00 waktu setempat.
Tak hanya menembak para pengunjung konser yang sedang menikmati musik, teroris juga menyandera sekitar 60 orang. Kabar ini, membuat para pengunjung stadion teresonansi. Nampak mereka gusar dan tertekan, dan pergi meninggalkan stadion dengan was-was.
Polisi berhasil mengevakuasi para penonton sepakbola yang berkumpul di lapangan. Lagu kebangsaan Perancis mereka nyanyikan bersama-sama. Polisi Perancis berhasil menguasai situasi di sana. Sedangkan di D’ Bataclan polisi harus mematahkan teroris dengan baku tembak yang cukup lama.

PRESIDEN PERANCIS FRANCOIS HOLANDE. GERAM
Seketika di udara Paris yang temaram, helikopter melintas dan berpuyar. Sirene meraung. Polisi anti teror memenuhi kawasan yang banyak dikunjungi orang muda itu. Melalui pengeras suara, polisi memandu orang-orang di situ untuk meninggalkan tempat kejadian melalui alur yang ditentukan.
Mereka bergerak ke daerah yang biasa disebut Le Petit Cambodge. Sejalan dengan itu saluran televisi Perancis menyiarkan berita dengan gambar yang mengesankan kejadian di Bataclan, laiknya pembantaian. Bakutembak polisi dengan teroris tak lagi bertumpu hanya di Bataclan, tetapi merembet ke beberapa resto di dekatnya, karena teroris bergerak ke arah sana.
Melalui layar televisi juga, Presiden Hollande menyatakan, serangan teroris yang dialami Jum’at malam itu, merupakan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Perancis. Karena itu, dia segera memutuskan, negara Perancis dalam keadaan darurat. Dengan keputusannya, itu Hollande dapat mengerahkan militer untuk memperkuat polisi antiteror dan polisi.
“Saya bersama kalian dan kita akan melawan! “seru Hollande tenang, meski nampak menyimpan geram.
Hollande meyakinkan seluruh rakyat Perancis dan siapapun di negeri itu, bahwa Perancis tak mau ditaklukkan oleh terorisme. Hollande menunjukkan sikap percaya diri, Perancis mampu menghadapi dan melumpuhkan teroris. Sekaligus menunjukkan, Perancis tak mau melakukan bargaining apapun.
Dari penjelasannya di layar televisi, Holande berhasil meyakinkan, bahwa negara melalui pemerintahan yang dipimpinnya ada di tengah rakyat dan sungguh bekerja memberi rasa aman bagi rakyat.

SUASANA DI STADE DE FRANCE. PENGUNJUNG BERGEGAS PULANG.
Hollande mengatakan sebagai Kepala Pemerintahan di sudah "mengerahkan semua kekuatan kita yang bisa dikerahkan seketika untuk menetralisir ancaman dan mengamankan semua hal."
Di lokasi tempat kejadian perkara, apa yang dikemukakan Hollande nampak jelas. Polisi anti teror dan tentara, beserta sejumlah ambulan lalu lalang menyelamatkan korban. Baik di gedung konser yang dipadati 1.500 penikmat musik, maupun di Stade de Francse yang terletak di Saint Denis – luar kota Paris.
Wartawan Goals, Loic Tanzi dari mengabarkan dari stadion, dia keluar bersama penonton sepakbola. “Perasaan kami hancur dan terkejut. Saya keluar dari stadion bersama pengunjung yang menangis,”ujarnya. Dia sempat melihat beberapa teroris yang mengarahkan senapannya ke arah dia. “Mereka akan menembak saya.. Mereka akan menembak saya,” ungkap Tanzi, yang kemudian menyelusup ke arah kerumunan orang yang bergegas keluar.
Manajer Tim Jerman mengaku terkejut dan seketika merasa hancur, begitu tahu leadakan yang didengarnya dilakukan oleh teroris dan telah menewaskan puluhan orang. Dia mengatakan, dalam situasi demikian, urusan sepak bola menjadi urusan belakang, dan dia harus mendahulukan usaha membantu dan menyelamatkan orang-orang dari kepanikan.
Tanzi memperkirakan lebih dari seribu orang yang sangat panik karena berada tak jauh dari lokasi ledakan di Pintu J. Suasana agak membantu, ketika serempak lagu kebangsaan Perancis berkumandang, karena dinyanyikan serempak oleh pengunjung. Tak berapa lama, lagu itu berkumandang dari loudspeaker dan menguasai stadion, sehingga para pengunjung tergugah dan kemudian bergegas meninggalkan stadion.
Tanzi dan pengunjung lainnya merasa lega, ketika polisi mengumumkan, mereka dapat meninggalkan stadion dan menggunakan seluruh saluran transportasi dengan aman. Polisi menjamin keamanan semua pengunjung, termasuk tua tim kesebelasan Perancis dan Jerman.
Ucapan Solidaritas Obama dan Merkel

PRESIDEN AMERIKA SERIKAT BARACK OBAMA
TAK berapa lama dari peristiwa teroris yang mengguncang Paris itu, tersiar pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama dari Gedung Putih – Washington DC. Obama menyampaikan ungkapan simpati, empati, dan solidaritasnya.
“Aksi teror terhadap warga sipil yang tak berdosa adalah keterlaluan. Serangan di Paris itu, tidak hanya serangan kepada Perancis saja, melainkan serangan kepada seluruh umat manusia dan nilai-nilai universal,”ungkap Obama seraya menawarkan bantuan dan ungkapan bela sungkawa.
Loretta Lynch E., Jaksa Agung Amerika Serikat Jaksa Agung, juga menawarkan bantuan. "Kami bersatu dalam solidaritas dengan Perancis, dan kerap bekerjasama sejak masa lalu. Ini merupakan serangan yang menghancurkan nilai-nilai kita bersama dan kami dalam kewenangan yang ada pada kami akan membantu dan bekerjasama dalam kemitraan dengan rekan-rekan kami Perancis untuk menegakkan hukum."
Dari Berlin - Jerman, Kanselir Angela Markel mengemukakan, dia sangat terkejut mendapat kabar dari Paris itu. Aksi teroris itu, menurut Markel tak hanya membuat kematian bagi ratusan orang. Dia menyatakan, dirinya bersama dengan orang-orang yang dicintai dan kehilangan korban teror. Ia juga menyatakan, dirinya bersama semua orang di Paris.

KORBAN DIEVAKUASI OLEH POLISI
Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere, Sabtu telah menawarkan bantuan militer untuk Perancis jika diminta. “Saya telah mengontak mitra saya – Menteri Dalam Negeri Perancis dan menawarkan bantuan melalui pasukan khusus Jerman," kata Mr de Maiziere dalam sebuah pernyataan.
Dari London, Perdana Menteri David Cameron mengemukakan, dirinya terkejut dan segera menyiapkan bantuan untuk menumpas teroris, bila diperlukan Perancis. Pikiran dan doá kami untuk seluruh warga Perancis. “Kami akan melakukan segala yang mungkin untuk membantu Perancis,” tulis dia di akun twitter-nya.
Tak ada yang mengaku bertanggungjawab atas peristiwa kejahatan kemanusiaan yang sangat keji itu. Namun diduga, aksi itu dilakukan oleh para teroris yang dibina ISIS – yang sedang memorak-porandakan Irak dan Suriah. Belakangan hari mereka mengancam akan melakukan aksi untuk peringatan bagi Rusia, Perancis, dan Amerika Serikat.
Laporan terakhir menyebutkan, di D’ Bataclan yang tak jauh dari Palais de la Republique, seperti dilaporkan Telegraph dan oleh Agence France-Presse, polisi telah menahan 6-8 teroris yang ditangkap hidup.
Meskipun pasukan keamanan di batas kota meningkat, seluruh aktivitas keluar masuk Paris, berjalan normal. Bandara Charles de Gaulle tetap beroperasi seperti biasa. Demikian juga halnya dengan transportasi kereta api, berjalan normal – walaupun sempat dihentikan beberapa saat. | JM Fadhillah