Nyantong Kemisan

| dilihat 256

Catatan Toknye Jav Mudhriq

Mulanya adalah tradisi sedekah hari Kamis para Sultan di Jawa - yang lantas dikenal dengan istilah 'sedekah Kemisan.' Tradisi ini, lantas diikuti para pedagang dan orang-orang kaya.

Lalu, kaum miskin dan jelata menjadikan hari udik-udik (berderma) itu sebagai hari nyantong.  Hari menunggu pemberian sedekah dengan beragam rupa aksi.

Ada yang menengadahkan tangan sambil menggumam permintaan bernada rintihan, mentransfer duka lara dan nestapa, menggugah rasa iba siapa saja.

Aksi semacam ini, bisa ditemukan di mana saja -- tempat ramai orang berkumpul --, di halaman masjid, halaman sekolah, pasar, dan lain-lain.

Aksi nyantong kemudian berubah dari pasif menjadi aktif, bergerak ke lingkungan perumahan di pinggiran dan pusat kota.

Ketika saya kecil, mereka dijuluki Paring-Paring. Ada juga yang menyebutnya Persaban.

Mereka yang beroperasi pada hari Jum'at pagi, ada juga yang disebut Gonian, karena datang ke rumah-rumah membawa kantung goni bekas terigu untuk menampung sedekah beras. Meski tak menolak ketika diberi uang.

Mereka umumnya kaum miskin kultural, sekaligus struktural.

 

Pada dekade 70 - 80-an, ketika gerakan pembangunan ekonomi sedang bergerak dinamis, berkembang pemikiran untuk melakukan perubahan nasib kaum miskin secara sistemik. Mengacu pada konstitusi, ihwal tanggung jawab negara terhadap rakyat miskin.

Beragam program Inpres (Instruksi Presiden) dilakukan. Mulai dari infrastruktur (jalan, jembatan, saluran irigasi, gedung sekolah, pusat kesehatan masyarakat - puskesmas, sampai jamban) dilakukan, sampai suprastruktur, kelembagaan sosial ekonomi. Koperasi Unit Desa (KUD) dibangun serempak dan serentak, inpres saprodi (sarana produksi) bagi petani dan nelayan, pun dilakukan.

Tak berhenti di situ. Berbagai pemikiran untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, juga diseminasikan. Termasuk pemikiran awal tentang Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK) yang dimulai dengan penyelenggaraan yayasan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan bagi kaum buruh.

Tapi kemiskinan strktural tak bisa juga diatasi, karena persoalan kemiskinan kultural yang, antara lain, ditandai oleh nyantong kemisan, alias mengemis, tak juga surut.

Ketimpangan laju pertumbuhan penduduk dan lapangan kerja, alih fungsi lahan, dan berbagai kebijakan ekonomi yang tidak bertumpu pada keadilan, menyebabkan berkembangnya pengangguran.

Mereka yang gagal bersaing dalam kompetisi kreatif, dan umumnya kaum terdidik, merambah ke berbagai sektor, termasuk sektor sosial politik.

Larangan orang tua untuk tidak nyantong, terabaikan. Meski ragamnya berbeda, termasuk pengemis berpantalon dan berdasi, yang gemar merancang berbagai kegiatan sosial dan rajin memproduksi proposal sumbangan.

George Soros seorang pengusaha kaya, memelopori gerakan philantropi bisnis untuk mengatasi kesenjangan dan kemiskinan, selepas robohnya tembok Berlin.

Philantropi merupakan aksi mewujudkan niat baik antar sesama manusia, dari yang berpunya kepada mereka yang tak berpunya, miskin. Tujuan obyektifnya adalah memajukan kesejahteraan manusia, seiring dengan perkembangan demokrasi berorientasi kesejahteraan. Suatu perubahan bentuk aksi karitas yang lebih sistemik.

Sejumlah pengusaha kaya dunia, membentuk organisasi yang mendistribusikan oleh dana pebisnis dan industrialis, yang disisihkan dari keuntungan mereka, untuk tujuan kemanusiaan.

Belakangan, aksi ini menjadi berubah menjadi penguasaan kaum (termasuk negara) miskin oleh pengusaha kaya yang dengan uang mereka, 'membeli kekuasaan' dalam bentuk oligarki. Persisnya, sejak Soros melontar gagasan tentang pilantropi politik.

Lewat tanggung jawab sosial korporat (corporate social responsibility - CSR) pengusaha penguasa melakukan politik a la kultuur stelsel yang pernah berlaku di era kolonial, dengan format dan formulanya yang berbeda.

Melamahnya daya dukung alam, terjadinya berbagai perubahan kebijakan negara, termasuk salah urus pemerintahan, tak membuat kemiskinan kian surut. Bahkan terus bergerak dinamis dalam katastrop di persimpangan era post modernisme dan post industrial society.

Kapitalisme global, tak memutus mata rantai kemiskinan, bahkan membuat negara-negara miskin dan berkembang sangat bergantung pada dinamika kapitalisme global. Terutama, ketika sosialisme mondial nyaris tak mampu menghadapi kompetisi keras di dunia.

Dunia pendidikan di negara-negara miskin dan berkembang, tak pernah henti dioprak-oprek sistemnya, karena tak mampu melepas ketergantungan dari arus besar pada Global Education Reform Movement (GERM) alias gerakan reformasi pendidikan global.

Gerakan ini berusaha melakukan standarisasi pendidikan, sehingga semua anak didik lulus melalui kurikulum standar yang tak lain adalah mesin homogenisasi yang tidak lagi kontekstual dengan akar budaya suatu masyarakat, bangsa, di mana pikiran perubahan pendidikan itu diterapkan.

 

Kita rasakan sendiri, jarak budaya antara sistem pendidikan yang hendak diterapkan dalam Sistem Pendidikan Nasional dengan nilai dasar yang pernah ditanamkan oleh para pendiri bangsa, seperti H. Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, Ki Hadjar Dewantara, KH Achmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari,  dan lainnya.

Pendidikan yang bukan hanya sekedar suatu proses pengajaran secara formal yang dilakukan di sekolah. Pendidikan yang berpijak pada kesadaran tentang berbagi dan menyalurkan berbagai kemampuan yang dimiliki masing-masing individu, dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu baru. Pendidikan sebagai suatu proses timbal balik, bukan suatu proses yang bersifat satu arah, melainkan . Tjokro menegasdkan, yang diperlukan untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran adalah kemauan dalam diri setiap individu itu sendiri.

Selaras dengan pemikiran para guru utama bangsa tersebut, pemikir revolusioner The Oxford University - James Martin (2013) melihat konteks pendidikan untuk membalik kemiskinan (reverse -- sekaligus turning -- poverty), bukan pemahaman rancu tentang pengentasan kemiskinan (alleviating poverty).

Khasnya ketika dilihat korelasinya dengan kondisi daya dukung alam yang terus melemah (mulai dari kondisi bumi yang mengisyaratkan problematika akut ekologi) yang mempengaruhi ekosistem manusia. Dalam pandangan Jared Diamond, pemahaman keliru tengan politik sumberdaya alam dan pemahaman tentang kemiskinan, terus menerus menyuburkan dutch desease di negara-negara berbasis sumberdaya alam.  Negara kaya sumberdaya, penduduknya miskin persisten.

Situasi gamang semacam ini, yang lantas dimanfaatkan segelintir kalangan, antara lain dengan menggunakan bahasa agama dan praktik 'berbisnis dengan Tuhan,' menggalang dana khalayak - memanfaatkan tradisi derma a la sedekah kemis, yang menguji kejujuran (social honesty) dan kepercayaan (social trust).

Banyak yang konsisten dan konsekuen mengemban amanah derma khalayak (umat), tak sedikit juga yang khianat, 'merompak berkah' di ladang sadaqah. Tak mampu melawan syahwat koruptif dan manipulatif yang jahat!

Kemunafikan stadium empat, sukacita mengembat duit umat !

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
02 Okt 22, 12:46 WIB | Dilihat : 269
Tragedi Kemanusiaan di Kanjuruhan
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 465
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
Selanjutnya
Polhukam