Para Manula

| dilihat 2311

Hari hari tua sebagai manula adalah hari-hari penuh cerita. Hari-hari ketika perjuangan panjang masa lalu menunjukkan maknanya yang paling hakiki. Menelusuri nasib atau mengubah nasib. Aki Umar yang bertahan hidup sebagai pedagang cendol di Bogor dan berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi, Daeng Hasan petani di Luwuk Timur yang selalu menyisihkan sedikit tabungan bagi anaknya yang berkuliah di Makassar. Bagi Kang Baang yang masih berjuang menjadi kernet Angkot di Cirebon, kerja keras adalah cara terbaik mempertahankan hidup, agar tak membebani anak dan menantu. Kong Toing, terpuruk, dalam ketidak-berdayaan bergerak ke pinggiran jalan menjadi peminta-minta kala macet menjegal Jakarta. Kong Mahmud, tak lagi memikirkan tanah yang hilang tak berbekas karena dijual menantu tak berterima-kasih, untuk menghibur diri sekali-sekali bergerak di pinggiran jalan Pertama Hijau, bekas dulu kebun rambutannya berbuah ranum. Mang Karta terus berusaha melamar kerja, karena dengan cara begitu dia bisa memelihara harapan... Kakek Bakang terus bekerja membersihkan lingkungan di kawasan duku atas.. Bagaimanakah masa depan kita, ketika kelak menjadi manula? | foto dan teks sem haesy

 
Ekonomi & Bisnis
08 Agt 26, 19:08 WIB | Dilihat : 258
Bukan Karena Wangsit
28 Jul 26, 00:07 WIB | Dilihat : 516
Destry Pjs Gubernur BI
22 Jul 26, 23:27 WIB | Dilihat : 459
AirBorneo Kebanggaan Rakyat Negeri Sarawak
Selanjutnya
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1224
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3377
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya