Para Manula

| dilihat 2304

Hari hari tua sebagai manula adalah hari-hari penuh cerita. Hari-hari ketika perjuangan panjang masa lalu menunjukkan maknanya yang paling hakiki. Menelusuri nasib atau mengubah nasib. Aki Umar yang bertahan hidup sebagai pedagang cendol di Bogor dan berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi, Daeng Hasan petani di Luwuk Timur yang selalu menyisihkan sedikit tabungan bagi anaknya yang berkuliah di Makassar. Bagi Kang Baang yang masih berjuang menjadi kernet Angkot di Cirebon, kerja keras adalah cara terbaik mempertahankan hidup, agar tak membebani anak dan menantu. Kong Toing, terpuruk, dalam ketidak-berdayaan bergerak ke pinggiran jalan menjadi peminta-minta kala macet menjegal Jakarta. Kong Mahmud, tak lagi memikirkan tanah yang hilang tak berbekas karena dijual menantu tak berterima-kasih, untuk menghibur diri sekali-sekali bergerak di pinggiran jalan Pertama Hijau, bekas dulu kebun rambutannya berbuah ranum. Mang Karta terus berusaha melamar kerja, karena dengan cara begitu dia bisa memelihara harapan... Kakek Bakang terus bekerja membersihkan lingkungan di kawasan duku atas.. Bagaimanakah masa depan kita, ketika kelak menjadi manula? | foto dan teks sem haesy

 
Lingkungan
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 545
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 651
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 644
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 955
Jangan Pernah Menentang Semesta
Selanjutnya
Budaya
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 718
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 675
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 628
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
Selanjutnya