Para Manula

| dilihat 2295

Hari hari tua sebagai manula adalah hari-hari penuh cerita. Hari-hari ketika perjuangan panjang masa lalu menunjukkan maknanya yang paling hakiki. Menelusuri nasib atau mengubah nasib. Aki Umar yang bertahan hidup sebagai pedagang cendol di Bogor dan berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi, Daeng Hasan petani di Luwuk Timur yang selalu menyisihkan sedikit tabungan bagi anaknya yang berkuliah di Makassar. Bagi Kang Baang yang masih berjuang menjadi kernet Angkot di Cirebon, kerja keras adalah cara terbaik mempertahankan hidup, agar tak membebani anak dan menantu. Kong Toing, terpuruk, dalam ketidak-berdayaan bergerak ke pinggiran jalan menjadi peminta-minta kala macet menjegal Jakarta. Kong Mahmud, tak lagi memikirkan tanah yang hilang tak berbekas karena dijual menantu tak berterima-kasih, untuk menghibur diri sekali-sekali bergerak di pinggiran jalan Pertama Hijau, bekas dulu kebun rambutannya berbuah ranum. Mang Karta terus berusaha melamar kerja, karena dengan cara begitu dia bisa memelihara harapan... Kakek Bakang terus bekerja membersihkan lingkungan di kawasan duku atas.. Bagaimanakah masa depan kita, ketika kelak menjadi manula? | foto dan teks sem haesy

 
Humaniora
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 377
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
06 Jul 26, 09:02 WIB | Dilihat : 327
Ragam Gaya Retorika Presiden
25 Jun 26, 00:19 WIB | Dilihat : 398
Duka Ashura
Selanjutnya
Sporta