Bisnis

Harga Cabai di Jakarta Meroket, Omzet Restoran Padang Turun

| dilihat 2596
 
JAKARTA, AKARPADINEWS.Com - Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Jakarta mengalami lonjakan hingga 150 persen. Dampaknya sejumlah pengusaha restoran Padang mengaku omzetnya keuntungannya turun seiring meroketnya harga cabai,
 
Di Pasar Cengkareng Jaya, Jakarta Barat, misalnya, harga cabai rawit merah yang semula berada di kisaran Rp20.000-an per kilogram, kini melonjak menjadi Rp50.000 per kilogram atau naik 150 persen.
 
"Harga cabai rawit merah naik dari Rp20.000 jadi Rp50.000 per kilogram, kalau cabai besar lebih jauh lagi naiknya, dari Rp20.000 jadi Rp60.000 per kilogram," kata Samanhudi (28) di Jakarta, Rabu, dikutip Antara.
 
Pedagang cabai lain di pasar yang sama, Sukmayanti (20), mengatakan harga cabai merah besar adalah yang termahal, Rp65.000 per kilogramnya.
 
Harga cabai di pasar Gang Kancil Jakarta Barat pun tak berbeda jauh. Di kios Aminah (43), cabai rawit juga mencapai Rp50.000 per kilogramnya.
 
Dari kedua pasar tersebut, para pedagang kompak mengatakan kenaikan dimulai sejak sekitar dua pekan lalu.
 
"Kenaikan sudah sejak dua minggu lalu lah kira-kira, bertahap dulu sih naiknya, awalnya cabai rawit naik jadi Rp38.000, eh sekarang melonjak jadi Rp50.000," kata Samanhudi.
 
Berbagai alasan dikemukakan para pedagang terkait penyebab naiknya harga cabai.
 
Aminah mengira kenaikan disebabkan adanya spekulasi akan wacana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM)."Katanya sih gara-gara Pak Jokowi mau naikin harga bensin, jadi semua pada dinaikin," kata nenek lima cucu itu.
 
Sementara Samanhudi mengatakan kenaikan harga dipicu kurangnya pasokan dari daerah penghasil cabai.
 
"Pasokan di Pasar Induk (Keramat Jati) kurang. Katanya sih dari Jawa-nya kurang, sebabnya tidak tahu, tapi kami beli bebas kok tidak dibatasi, sekuat uangnya saja beli berapa," kata Samanhudi yang sehari paling banyak mampu menjual 15 kilogram cabai itu.
 
Di Pasar Senen, Jakarta Pusat, harga cabai juga ikut merangkak naik, di kios Yati, misalnya, harga cabai rawit merah yang semula seharga Rp18.000 per kilogram naik menjadi Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
 
"Sekarang cabai yang kualitasnya buruk pun ada yang mau beli, yang agak busuk, harganya kita kasih Rp25.000, Rp30.000 per kilogram," kata Yati Rahayu (30), pedagang di Pasar Senen.
 
Yati sendiri mengaku mendapat kabar penyebab kenaikan harga cabai diakibatkan oleh rencana kebaikan BBM.
 
"Biasa kalau mau naik BBM harga-harga pada naik, tapi biasanya dua-tiga bulanan setelah itu stabil kembali," kata Yati yang mengaku tak menimbun cabai karena dibatasi pembeliannya oleh agen di pasar Induk.
 
Meski harga bahan-bahan kebutuhan pokok mengalami kenaikan namun suasana di beberapa pasar tradisional di DKI Jakarta sendiri masih ramai.
 
"Paling kalau pun ada yang kurang ya yang biasanya beli satu kilo jadi setengah kilo, tak ada perubahan drastis apalagi pembeli sampai mogok belanja cabai," kata Samanhudi.
 
Restoran Padang Terkena Imbas
Meroketnya harga cabai berimbas pada sejumlah rumah makan Padang di Jakarta. Para pengusaha restoran Padang seperti dilaporkan Antara mengaku, lonjakan harga cabai yang terjadi sepekan terakhir signifikan mengurangi keuntungan penjualan mereka.
 
"Kami tidak mengurangi porsi cabai pada masakan padang kami. Tapi, risikonya keuntungan jadi berkurang," kata salah satu pemilik Rumah Makan Padang, Dewi.
 
Dewi mengatakan, tidak mungkin mengurangi penggunaan porsi cabai pada masakannya, terlebih menaikkan harga jual makanan per porsi, karena ia khawatir para pelanggan akan pergi.
 
Setiap harinya, RM Padang milik Dewi tersebut menghabiskan 3kg cabai keriting merah, cabai hijau dan cabai rawit merah untuk menyajikan masakan padang yang sarat akan cabai.
 
Menurut Dewi, keuntungan yang diraihnya berkurang sekitar 10 persen jika dibandingkan dengan ketika harga cabai pada kondisi normal.
 
"Jadi yang bisa kami lakukan ya menunggu sampai harga cabai turun. Semoga pemerintah bisa mengatasi hal ini secepatnya," ujar Dewi.
 
Sementara itu, pemilik RM Padang lain di Jakarta, Rizal mengatakan bahwa lonjakan harga cabai mempengaruhi usahanya, sehingga ia perlu menyiasati penggunaannya.
 
"Biasanya saya keluarkan banyak cabai di makanan yang disajikan, agar menarik pelanggan, tapi sekarang ya saya kurangi," ujar Rizal.
 
Menurut Rizal, hanya hal itu yang dapat ia lakukan untuk menyiasati melambungnya harga cabai tersebut, karena ia enggan menaikkan harga makanan yang dijual.
 
Editor : Nur Baety Rofiq
 
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1224
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3377
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya
Budaya
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 301
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 744
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 700
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 649
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
Selanjutnya