
Bang Sém
Saya sedang rebahan sambil menikmati senja di pelataran hotel yang luas dan asri. Udara lumayan adem. Angin laut Selat Bali yang berembus perlahan tak sempat membuat leyeh-leyeh.
Senja yang sangat singkat antara siang dan malam yang panjang, di ruang terbuka area Pantai Klatak - Banyuwangi selama beberapa jam, lumayan menyegarkan. Tak hanya membuat sukma senantiasa terjaga, juga membantu pemulihan raga saya.
Iqbal, anak muda asal Medan yang bekerja di Surabaya dan beberapa hari menemani saya berkunjung ke Banyuwangi datang menghampiri. Dia duduk di atas rumput hijau, meski ada kursi taman di situ.
"Pak.. ma'af.. Bagaimana cara menilai pasangan calon Presiden - Wakil Presiden, dan calon anggota legislatif yang pantas dan patut kita berikan amanah?" ujarnya sambil senyum.
"Perhatikan baik-baik wajahnya. Baik di baliho, poster, sticker, flyer, dan juga siaraan televisi," jawab saya spontan.
"Wajah-wajah di baliho dan seluruh alat peraga kampanye 'kan bisa dipoles, pak? Ada juga tuh yang mengubah sosok dan wajahnya jadi kartun," respon Iqbal.
Kami saling senyum beberapa saat. "Bal.. kita hanya harus memberikan amanah kepada manusia, bukan tokoh kartun..," ujar saya.
"Jadi?"
"Hapus dan buang dulu wajah tokoh kartun."
"Oke.. hanya wajah para kandidat yang kita nilai?"
"Ya.. wajah mereka, termasuk wajah-wajah tim pemenangan mereka"
"Mengapa wajah?"
"Wajah mereka mencerminkan watak dan kualitas, kapasitas, dan integritas pribadi mereka. Perhatikan mimiknya baik-baik. Mereka yang memoles wajahnya dan memberi pesona persona lewat akting, seperti tersenyum, tertawa, mengernyitkan kening, dan cemberut akan jelas membedakan, mana yang orisinil dan mana juga yang dipatut-patutkan."
"Bagaimana dengan wajah tim pemenangan?"
"Lihat saja wajah juru bicara mereka yang sering muncul di layar televisi. Mana wajah yang senep, menyebalkan, dan memuakkan. Mana pula wajah yang menyenangkan dan punya resonansi kenyamanan ketika kita lihat."
"Mengapa begitu?"
"Tuhan menghimpun dan mengelompokkan manusia sesuai dengan karakter mereka, dan karakter itu tercermin di wajah mereka, seperti saya katakan tadi."
Iqbal nampak tersenyum. Saya biarkan dia mengembara dengan gambaran karakter para kandidat dan tim pemenangannya.
"Manusia bisa menyembunyikan dirinya dengan cara mematut-matutkan diri dan mengatur mimik mereka. Tapi, watak asli mereka tak dapat dikemas sepenuhnya oleh wajah mereka."
"Ada indikator lain?"
"Lihat mimik wajah mereka saat berbicara menyampaikan suatu gagasan dan ide. Perhatikan juga bagaimana aksentuasi dan artikulasi mereka kala bicara."
"Ha.. ha.. ha.. ha.."
"Kenapa kau terbahak, Bal?"
"Saya terbahak karena sudah memasukkan mereka ke dalam benak saya. Yang mimik wajahnya senep dan butek trak bercahaya, selalu cenderung ngotot ketika bicara. Emosional. Bahkan ada juga terkesan gamang dan mendua. Tak sinkron antara apa yang mereka sampaikan."
"Ya.. kamu sudah berhasil memilah, artinya. Mereka yang berwajah senep dan butek, mau mengelola mimik dengan bagaimanapun tak bisa menutupi ketidak-selarasan nalar, naluri, nurani, rasa dan dria mereka."
"Bapak benar. Pesona wajah mereka sinkron dengan aksentuasi, pilihan kata, nada, irama, diksi, kata, serta cara menarasikan ide dan sikap mereka."
"He he he.. Sekarang sudah ada gambaran kau akan menentukan pilihan dan dukungan ke mana?"
"Sudah Pak."
"Tapi, itu baru permulaan Bal. Setelah itu kau harus serius membandingkan antar kandidat melalui visi, misi, program dan rencana kerja mereka. Bandingkan, mana yang sungguh misi, mana pula yang fantacy trap."
"Maksud bapak?"
"Tak semua yang mereka sebut visi sebagai visi, yang dapat kau kenali dari cara mereka menuliskan pernyataan atas visi itu. Mereka yang merumuskan pernyataan visi dengan benar, tercermin dengan kalimat yang menunjukkan perspektif capaian periodik yang akan mereka lakukan. Mereka yang menuliskan pernyataan apa yang mereka sebut visi sebagai hanya kerja reguler periodik, tak menyimpan imajinasi yang terukur. Itulah jebakan fantasi.."
Kepada Iqbal saya sampaikan, mereka yang menulis visi sebagai visi, benar, akan sangat menguasai gagasan yang terekam dalam naskah visi misi mereka. Tentu, juga berani melakukan uji khalayak atas gagasan itu dengan rakyat. Karena mereka yang merumuskan visi sebagai visi dan bukan fantacy trap, akan selalu menempatkan khalayak, rakyat sebagai subyek. Sekaligus sebagai pemegang kedaulatan.
Lewat pernyataan visi, misi, program dan rencana kerja, kandidat yang berkualitas membuka ruang luas sangat terbuka kepada khalayak, rakyat untuk menjadi bagian dari pihak yang menyempurnakan visi, misi, program dan rencana kerja itu.
Sebaliknya yang merumuskan visi namun sesungguhnya hanya jebakan fantasi, tak punya keberanian melakukan uji khalayak atas gagasan mereka. Secara substantif tidak menempatkan khalayak, rakyat sebagai subyek aktif dan kritis, melainkan obyek pasif. Makanya, mereka keukeuh memaksakan ide dan gagasannya sebagai sesuatu yang kudu diterima khalayak, rakyat.
Sikap demikian, tampak pada wajah mereka, termasuk mimik dan (bahkan) gestur.
"Cermati wajah mereka, tilik mimiknya, perhatikan gesturnya, simak pula relasi wajah mereka dengan suara dan performa dalam berinteraksi."
Iqbal tersenyum. Jangan pilih kandidat yang berwajah senep dan nampak dipoles secara instan.
Adzan kumandang. Saya dan Iqbal kembali ke kamar masing-masing. |
Pantai Klatak, Desember 2023