
Bang SÉM
JUM'AT petang penuh warna (17/4/26). Aula kampus London School of Public Relation (LSPR) dikunjungi ramai wartawan Indonesia yang berusia 60 tahun ke atas. Di situ, deklarasi organisasi Serikat Wartawan Senior Indonesia 60+ (SW60+) dilakukan.
Kemeriahan dan kehangatan terasa pada pertemuan yang juga dihadiri sejumlah figur prominen dari berbagai kalangan -- petinggi dan mantan petinggi di lingkungan bisnis, birokrasi pemerintahan, politisi, seniman - budayawan dan lainnya.
Dari lagak dan percakapan di antara mereka, usia terasa bukan takaran. Banyak juga dari mereka nampak lebih muda dari bilangan usianya.
Sandangan 'senior' dan 'seniorita' yang disandangkan, seraya melekat pada masing-masing mereka memang terkait dengan usia dan jejak masa profesionalitas yang sesanding dengan pengalaman dan kematangan. Khasnya dalam melakoni praktik profesi jurnalisma (dan lapangan pengabdian lain).
Berada di tengah rekan seprofesi petang itu menyenangkan dan menyegarkan karena mempertemukan lagi rekan seprofesi yang kerap berinteraksi dan berkompetisi di lapangan. Terutama dalam memburu informasi eksklusif. Tanpa kecuali informasi yang mesti diburu dalam kerja jurnalistik investigatif.
Alhasil, pertemuan tersebut menghidupkan kembali gairah dan optimisme sebagai jurnalis yang mulai redup. Membuka lagi ruang fungsional sebagai bagian dari suatu masyarakat - bangsa untuk mentransfer pemikiran, gagasan, dan sikap kritis dalam merespon perubahan zaman.
Di tengah beragam kenangan membuncah, serta canda dan gelak yang memercikan romantisma profesi : dikuntit petugas keamanan negara saat melakukan reportase investigatif, dilirik dan dipandang dengan kecurigaan selepas media tempat bekerja dibredel, dan sejenisnya yang mendebarkan. Atau sebaliknya: diberi peluang wawancara eksklusif oleh sejumlah tokoh prominen terkait isu-isu aktual yang memperluas jaringan relasi antar manusia. Juga, diikutsertakan dalam misi diplomasi pemimpin puncak republik ke berbagai negara, dan lainnya.

Insan yang Telah Teruji
Momen Deklarasi SWSI60+ itu juga mempertemukan hari kemarin dan kini, seraya memantik imajinasi hidup hari esok. Membuka ruang untuk mengenangkan para jurnalis senior dan 'pemandu bakat' dalam berbagai pelatihan dan bengkel kerja. Membuka kembali peluang silaturahmi untuk bersinergi.
Nostalgia aneka kenangan terkait dengan beragam peristiwa hari kemarin boleh jadi memang isyarat senioritas, kendati terselimuti semangat yang tak padam untuk mencapai muru'ah "sebaik-baik manusia adalah yang banyak dan luas manfaatnya bagi sesama."
Saya berterima kasih kepada para inisiator pendiri SW60+ : Abdullah Alamudi, Banjar Chairuddin, Ilham Bintang, Kemal Gani, Don Bosco Salamun, Marah Sakti Siregar, Suryopratomo, Marthen Susanto, Slamet Firdaus Baderi, Husain Abdullah, Toto Irianto, Timbo Siahaan, Hedi Lugito, Rachmi Hidayati, Karni Ilyas, Wahyu Muryadi, dan Budiman Tanuredjo.
Inisiatif dan aksi mereka menggagas pendirian SW60+ sebagai cara menjawab kegelisahan para wartawan senior yang merasa tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya dan menyampaikan gagasan.
Tommy (Suryopratomo) sebagai Ketua Badan Pendiri SW60+ mengemukakan, organisasi ini merupakan bagian dari panggilan, bahwa wartawan tidak pernah berhenti berkarya, "never sleep, never die." Ia pun membuka 'kelopak kesadaran,' melalui SW60+ semua wartawan senior senantiasa berkarya. Tommy benar, karena akhir lini masa berkarya bagi wartawan adalah bibir pusara.
Dengan mulawacana demikian, keberadaan SW60+ --menurut Kemal Gani - Ketua Panitia Deklarasi, Kemal Gani -- merupakan wahana bagi wartawan senior sebagai aset nasional. Insan yang telah teruji oleh waktu dan memiliki kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang -- rerata lebih 25 tahun berinteraksi dengan beragam peristiwa -- untuk terus mendayagunakan pengalaman dirinya sebagai mitra kritis penyelenggara negara.

Menguji Kebenaran Informasi
Pernyataan Kemal menyegarkan, ketika dalam sambutannya menyatakan, para wartawan senior dapat memenuhi keperluan khalayak akan suara jernih dan analisa mendalam -- di tengah arus informasi serba instan -- untuk memberikan arah bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Apalagi, menurut Tommy, "Kita tidak ingin Indonesia menjadi ‘negara tua sebelum kaya’.”
Pernyataan tersebut bertambah nilai, kala Ketua SW60+ Wahyu Muryadi menyatakan, wahana para wartawan senior ini hadir dengan membawa semangat Beyond News, Strategic Insight.
Melalui SW60+ dengan keragaman daya yang dimilikinya, wartawan senior dapat dan mampu memainkan fungsinya sebagai interpelator, kritikus, sekaligus 'problem hunter,' bahkan peran-peran khas di tengah proses transformasi bangsa.
Bahkan peran sebagai 'pembuka mata dan telinga'' bagi siapa saja untuk melihat realitas pertama kehidupan sebagai fakta kebenaran dan membedakannya dengan pembenaran. Di sisi lain, wartawan senior dapat memainkan peran sebagai mitra 'cerewet' yang dapat membantu memberi isyarat - sekaligus menunjukan -- siapa saja untuk tak terantuk sandungan kala mengemban amanah rakyat.
Dalam konteks penyelenggaraan negara dan kebangsaan, pilihan posisi sebagai mitra kritis, SW60+ merupakan pilihan rasional dan realistis.
Bukan hanya karena fungsi kontrol sosial yang melekat pada dirinya, melainkan karena 'tugas profesional' yang melekat pada wartawan adalah 'menguji kebenaran informasi' dan 'menyampaikan informasi yang benar.'
Di sisi lain, secara historis wartawan telah memainkan peran inti dan asasi dalam seluruh proses dinamis perjuangan mencapai, mempertahankan, dan memberi makna Indonesia merdeka. |