Piala Dunia Sepak Bola 2018

Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis

| dilihat 507

HUJAN membasahi stadium Luzhniki – Moscow, Russia, Ahad (18/7/18). Benar prediksi Ivan Rikitic, tak mudah bagi Tim Kroasia menaklukkan Prancis, meski melalui perjuangan tak kenal lelah. Prancis memenangkan Piala Dunia FIFA 2018, dan memboyong piala kebanggaan sepakbola dunia itu ke Paris, dengan skor 4-2, di bawah kontrol wasit Nestor Pitana dari Argentina.

4 (empat) gol yang bersarang di gawang Kroasia, dikontribusikan oleh Antoine Griezman di menit ke 38, Paul Pogba di menit ke 59, dan Kylian Mbappe di menit ke 65. Akan halnya gol pertama di menit ke 18, disebabkan oleh kelalaian Mario Mandzukic dari Tim Kroasia, yang melakukan tendangan ‘bunuh diri.’

Ivan Perisic menyarangkan gol ke gawang Prancis pada menit ke 28, dan Mandzukic memberi kontribusi kepada timnya, lantaran kelalaian penjaga gawang Prancis Hugo Lloris yang lalai pada menit ke 69.

Begitu wasit Pitana meniup peluit mengakhiri pertandingan, sukacita merebak di lapangan hijau. Seluruh anggota tim Prancis termasuk pelatih Didier Deschamps.

Sangat wajar bila Deschamps sangat bersukacita menyaksikan sukses anak-anak asuhnya. Lantaran, dengan kemenangan itu, dia menjadi orang ketiga setelah Franz Beckenbauer dari Jerman dan Mario Zagallo dari Brasil, yang terlebat langsung dalam kemenangan Piala Dunia – sebagai pemain dan kemudian pelatih.

Sukacita juga tampak pada wajah Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang segera mendapat pelukan dan kecupan hangat dari Presiden Kroasia, Grabar – Kitarovic yang molek itu. Meski Tim Kroasia kalah, Kitarovic tak menampakkan wajah pilu seperti anggota tim pimpinan Luka Modric. Ia tetap menampakkan wajah ceria.

Bahkan ketika turun dari tribun kehormatan, mengiringi Presiden FIFA Gianni Infantino dan Presiden Russia Vladimir Putin, Kitarovic sempat bergandengan tangan dengan Macron. Ia memberi kesan kemesraan sebagai simbol harmoni dan sportivitas. Bahkan di atas level kehormatan, dia masih sempat menggandeng dan membelai kepala Macron.

Presiden Kroasia yang memberi support penuh kepada timnya, itu memberikan pelukan hangat kepada seluruh tim dan pelatih Kroasia dan Prancis. Pun kepada wasit dan hakim garis. Nampak dia memberi semangat kepada seluruh pemain dan berbincang khas beberapa menit dengan pelatih Kroasia, Zlatko Dalic.

Selebrasi dilakukan oleh tim Prancis keliling lapangan dengan membawa bendera Prancis. Lantas upacara pemberian medali kepada para pemain pun dilakukan. Kylian Mbappe dari Tim Prancis beroleh penghargaan sebagai pemain pencetak gol terbaik, akan halnya Luka Modric terpilih sebagai pemain terbaik sepanjang musim kompetisi Piala Dunia 2018.

Ketika medali untuk pemain diberikan, hujan rinai turun, kemudian lebat. Seluruh orang yang berada di panggung, termasuk Presiden Vladimir Putin, Emmanuel Macron, dan Grabar – Kitarovic basah kuyup. Tapi mereka tak beranjak, sampai Presiden FIFA – Infantino menyerahkan Piala Dunia Sepak Bola 2018 kepada Pemain Prancis. Sebelumnya, Presiden Macron dan Kitarovic mengecup piala yang amat dibanggakan itu.

Hujan turun kian deras. Tim Prancis mengabadikan sukacita di bawah hujan dengan segala polah. Akan halnya tim Kroasia lenyap dari pandangan. Mereka dirundung sesal dan kesal.

PERTANDINGAN final Piala Dunia Prancis versus Kroasia, berlangsung beberapa saat setelah seluruh pemain memasuki lapangan mengikuti langkah Nestor Pitana, para hakim garis, dan asisten wasit video Massimiliano Irrati. Mereka memasuki lapangan melalui terowongan yang terhubung dengan ruang ganti dan rehat pemain.

Tak lama kemudian, lagu kebangsaan masing-masing negara berkumandang. Nampak Kylian Mbappé berseri-seri sambil menggumamkan lagu kebangsaan Prancis.

Wajah ceria pemuda berusia 19 tahun, itu menyertai semangatnya. Pekan ini, dia sempat bicara, "Saya ingin memenangkan Piala Dunia. Aku ingin tidur dengannya (Piala Dunia, itu)."

Pertandingan sama kuat, dan bahkan banyak dikuasai Kroasia dengan serangan pasukan Brown Bear-nya, tampak menguasai lapangan. Kendati isyarat kemenangan Prancis sudah terlihat, ketika menit pertama kick off.

Saat bola bergulir pertama keluar dari garis tengah sentuhan Prancis terasa. Kroasia menyadari betul hal ini. Dua gol pertama milik Prancis, bukan hasil kerja yang menunjukkan kehebatan Prancis. Diperoleh dari gol bunuh diri dan penalti, setelah wasit mengkonfirmasi handsball pemain Kroasia lewat rekaman video yang diputar ulang dengan gerak lambat.

Secara keseluruhan pertandingan final itu, sebenarnya dikuasai Kroasia, dengan semangat menang yang membara (baca: Prancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018). Keajaiban-keajaiban berhasil direbut Prancis dari Kroasia, dan jadi hiburan tersendiri.

Mbappe, Pogba, Antoine Griezmann, Perisic, Modric, Mandzukic, dan Hugo menjadi aktor lapangan yang mewarnai pertandingan di lapangan Pussy Riot itu. Bagi orang Prancis, kemenangan itu punya makna lain, sebagai ‘hadiah’ bagi peringatan hari pembebasan. Karena kemenangan mereka peroleh sehari setelah Hari Bastille.

Meski nyaris tereduksi estetikanya, tim Prancis dan Kroasia sekuat tenaga berhasil menyajikan pertandingan yang mengesankan untuk mempertahankan kualitas pertandingan mereka sebagai pertandingan kelas dunia.

Pertandingan puncak itu, tak hanya menyajikan skor yang  seperti kata Gareth Southgate, mengulang ingatan atas pertandingan Inggris melawan Jerman Barat 4 – 2 di Piala Dunia 1966. Karenanya, ketika Pogma mengusung dan mencium Piala Dunia dengan emas 18 karat, 14-inci, 11lb, itu memang terbayang sukacita Prancis menggondol kembali piala kebanggaan itu setelah berusaha mendapatkannya selama 20 tahun.

Didier Deschamps adalah kapten Prancis kala itu, dan kini, dia adalah pelatih tim Prancis yang karib dengan anak-anak asuhannya yang muda, bersemangat, dan mau menempa diri. Deschamps dan anak-anak asuhnya, memungkinkan Prancis mengambil posisinya lagi di jagad persepakbolaan dunia.  Apalagi dalam turnamen besar yang berlangsung selama 31 hari ini, banyak tim kampiun sepakbola dunia berguguran di awal.  

Tim Kroasia menarik diamati. Meski di tiga pertandingan sebelumnya bergulat dengan perpanjangan waktu, di malam final itu, hampir seluruh pemain nampak segar. Tak terlihat kelelahan mereka di awal pertandingan.

Aksi para pemain terlihat atraktif. Striker Prancis Antoine Griezmann turun dengan ringan dan beroleh peluang tendangan bebas 30 meter dari gawang. Akan halnya striker Kroasia Mario Mandzukic, tak beroleh ruang mendasar baginya untuk berkelit, sehingga secara naluriah saja melirik dan melasakkan bola ke gawangnya sendiri.

Selepas itu, ketika pemain Prancis nampak senang, mereka hampir lengah, membiarkan Kroasia menguasai bola. Akhirnya pemain Prancis sadar, lalu berusaha menguasai bola dari Kroasia, dan memimpin pertandingan pada 18 menit.

Kroasia balik menekan pemain Prancis, memompa lagi kerjasama apik antar mereka, dan lewat tendangan Ivan Perisic yang manis, gawang Prancis yang dijaga Hugo, bobol. Tendangan Perisic membuat N'golo Kante terperangah, kendati delapan menit kemudian, ketika beroleh peluang menjadi hero, Perisic tak bisa memanfaatkannya.

Ada drama kecil, ketika Griezmann melakukan tendangan sudut yang berbahaya ke depan gawang Kroasia. Para pemain Prancis jeli melihat kesalahan tim lawan. Mereka melobi wasit Nestor Pitana bahwa pencetak Perisic telah melakukan pelanggaran di kotak penalti.

Wasit Pitana menghabiskan lima menit untuk meninjau rekaman di layar televisi yang terletak di sisi lapangan dan membalikkan keputusannya. Memberikan hukuman, tendangan bebas untuk Prancis. Griezmann mengecoh Daniel Subasic, dan gawangnya bobol, sehingga Prancis kembali memimpin pertandingan.

Begitulah seterusnya, dari menit ke menit, atraksi dan drama cantik mewarnai situasi di lapangan. Di tribun, Presiden Kroasia dan Presiden Perancis juga meluahkan ekspresi keduanya dengan cara yang menarik ditonton.

Tak keliru memberikan penghargaan kepada Mbeppe sebagai pemain muda berpotensi dan Luka Modric sebagai pemain terbaik dengan trophy emas. Karenanya, wajar juga, ketika pelatih Prancis Didier Deschamps, juga memberikan sambang kehormatan kepada Tim Kroasia.

Deschamps, memang mengalirkan gaya dan kultur sepakbola yang sedikit lebih konservatif kepada Les Bleus yang diasuhnya.

Kemenangan Prancis teresonansi ke negerinya. Champ Elysées riuh oleh sukacita menyambut kemenangan itu. Melebihi sukacita beberapa hari lalu, ketika khalayak memadati lokasi yang sama.

Ekspresi sukacita Prancis menampakkan pesonanya di pusat kota Paris itu. Sukacita yang sama juga terjadi di Lyon dan Bourdeux di Prancis Selatan. Tak hanya kepada Deschamps dan para pemain Tim Nasional Prancis, mereka juga bangga dengan Presiden Emmanuel Macron.

“Merci.. Merci.” Les Blues telah mengembalikan kegempitaan sukacita bagi Paris, yang sejak beberapa waktu terakhir murung karena berbagai serangan teroris. Minggu, 15/7/18 malam sukacita menguburkan rasa was-was yang selama ini sempat menjalar. Les Blues dan Macron menghidupkan lagi gairah baru Prancis | Teaque, Sem

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1715
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 655
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 447
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2805
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 811
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 714
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya