Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa

| dilihat 940

SAYA bukan pemain golf. Sahabat saya, Ade Adam Noch, mantan aktivis mahasiswa yang pensiun sebagai salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Tenaga Kerja, juga begitu.

Ade menyebut kami berdua, pemain kasti. Sejak masa kanak-kanak sampai mahasiswa, olahraga saya memang tak jauh dari itu: kasti, hocky, lawn tennis, badminton. Di luar itu adalah silat (sekali-sekala, tinju).

Ketika hidup di tengah komunitas pertelevisian, pernah diajak teman latihan memukul bola golf di golf driving range, tapi tak serius seperti teman-teman yang lain. Lantas, belakangan hari, lupa sama sekali.

Boleh jadi, saya lebih karib dengan golok, katimbang stick golf.

Beberapa pekan terakhir, saya harus mendalami hal ihwal tentang golf, karena didapuk beberapa sahabat, menjadi penasihat dalam turnamen golf yang akan digelar November 2017 mendatang.

Sepekan lalu, saya kunjungi sahabat lama, ketika sama merantau ke Eropa. Di bawah rindang pepohonan besar yang rindang di bilangan Lembang - Bandung, persis di tepi mini golf range halaman rumahnya, saya berbincang tentang golf.

Mulanya dia heran dan terbahak merespon minat saya yang tiba-tiba.

“Tumben nanya-nanya soal golf, bukannya dulu kamu bilang para pegolf itu orang-orang yang sibuk dengan dirinya?”ujar sahabat yang tetap cantik, meski sudah berusia di atas kepala enam, itu.

Sahabat saya itu lantas ngoceh – seperti biasa – dan merasa perlu mengajukan banyak pertanyaan, ihwal minat saya tentang golf yang serba sontak.

“Gue kuatir lu jadi pegolf nanti.. Udah ah, nikmati aja hari tua... Mending kita ngomong soal lain.. Soal kesendirian kita masing-masing,”godanya. Hadeuh.

Sahabat itu, lalu bercerita tentang Judi Hoetmer, perempuan pegolf  Juara Intercollegiate tahun 1961, yang dulu sempat menjadi pemicu debat kami tak berkesudahan.

Suatu ketika, Judi ditanya oleh sahabatnya, Mrs Anne soal golf. Karena antusiasnya Anne, Judi juga antusias menjelaskan hal ihwal golf.

“Golf adalah olahraga yang puncak, setelah kuikuti seluruh cabang olahraga,”jelas Judi. Kala itu, Judi sudah menjadi anggota asosiasi Pacific Northwest Golf (PNG) yang telah menempanya sebagai pegolf secara luarbiasa.

Lewat asosiasi PNG itu, Judi masuk ke dalam ajang kompetisi golf paling kompetitif, dan kemudian kerap tampil sebagai juara. Karenanya, Judi mengarahkan anak-anaknya (Joanne Gunderson, Karen Ford, serta adik-adiknya) bergabung dalam asosiasi golf berkelas itu.

Mengutip Judi, sahabat saya cerita, golf telah memungkinkan dia memahami obyek secara multidimensi, karena fokus dan teliti pada bola golf dan titik sasaran yang harus dicapai. Stick golf menghubungkan obyek dengan goal.

Tak hanya itu, katanya, permainan golf memandunya untuk menghitung dengan cermat suatu tindakan (mengayunkan stick golf) dengan ukuran daya yang pas, sehingga bola dapat diarahkan sesuai dengan tujuan.

“Letak bola tidak selamanya dalam posisi baik dan sesuai dengan keinginan kita. Itu adalah tantangan untuk tetap menguasai masalah, lalu mengeksekusi ayunan stick untuk mengubah sesuatu yang bermasalah menjadi bergerak maju di jalur yang kita kehendaki atau kita imajinasikan,”ungkapnya.

Dengan mata berbinar dia berujar, “Bayangkan.., bola berdiameter setengah inchi, berada di satu tempat dengan kesulitan yang rumit, harus dilambungkan hingga delapan ribu mil..”

Intinya adalah : pegolf melatih diri menemukan solusi, serumit apapun masalah yang dihadapi.

Sahabat saya itu terus bicara. Lagi, mengutip Judi, dia katakan, dalam realitas pertama kehidupan kita, objek golf bisa dipahami sebagai rencana program atau rencana aksi di berbagai lapangan kehidupan, termasuk rencana bisnis.

Untuk mewujudkan rencana itu sesuai dengan rencana, diperlukan teknik dan langkah teknis (mengayun stick dan memukulnya) dengan parameter. Di situ hakekat sains dan teknologi menjadi instrumen.

“Pegolf kayak gue, memadupadan sains, teknologi, dan olahrasa ke dalam tindakan teknis memukul bola.. Bayangkan.., keren kan?”godanya.

Saya hanya bisa tersenyum, karena tak cukup bisa merasakan.

Sahabat saya terbahak. Nampak barisan giginya yang putih, meski beberapa di antaranya adalah gigi palsu. Dia masih nampak cantik, meski sudah menjadi oma atas empat orang cucu.

Saya tatap matanya, ketika dia melanjutkan cerita. “Golf itu olah raga dan olahrasa yang menyenangkan, memaduharmoni olahraga dan olahrasa secara alamiah.

Itu sebabnya, pegolf tak boleh berlatih secara persisten, tetapi harus konsisten. Bermain golf itu, belajar seumur hidup, melatih diri kita untuk selalu fokus melakukan aksi, menuju tujuan yang kita tetapkan.

Inilah daya tarik golf yang berbeda dengan olahraga lain, seperti kasti, baseball, lawn tennis, dan lainnya.. “Makanya, latihan golf deh.. tua bukan halangan..,”cetusnya sambil terbahak.. | catatan Sem Haesy - bersambung

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 615
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 837
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya
Humaniora
23 Nov 17, 20:26 WIB | Dilihat : 53
Mengintip Mappasitinaja di Munas KAHMI dan FORHATI
17 Nov 17, 08:48 WIB | Dilihat : 496
DOA ISTERI
17 Nov 17, 06:31 WIB | Dilihat : 243
Ambisius
10 Nov 17, 21:21 WIB | Dilihat : 1954
Balas Dendam Deddy Mizwar Berbuah 3 Gelar Akademik
Selanjutnya