Doping Mencoreng Sharapova

| dilihat 2267

AKARPADINEWS.COM | MARIA Sharapova dipastikan tidak akan berlaga pada Australian Open. Pasalnya, jawara tenis asal Rusia itu gagal melalui tes doping dan terbukti menggunakan meldonium. Kabar itu diucapkan langsung oleh Sharapova kepada pers di Los Angeles, Amerika Serikat, Selasa (8/3).

Dengan menggunakan gaun hitam sederhana, Sharapova mengatakan, beberapa hari yang lalu, dirinya mendapatkan surat dari Federasi Tenis Internasional (ITF) yang isinya mengabarkan dirinya gagal lulus dalam tes doping sebagai prasyarat mengikuti Australian Open. “Saya gagal melewati tes tersebut dan saya sangat bertanggung jawab akan hal itu,” ujarnya.

Sharapova menjelaskan, kegagalan dirinya lulus dalam tes doping disebabkan mengkonsumsi obat mildronate, nama lain meldonium. “Selama 10 tahun belakangan, saya tengah diberikan obat oleh dokter pribadi keluarga bernama mildronate. Setelah saya menerima surat dari ITF beberapa hari yang lalu, saya baru mengetahui bahwa obat tersebut mempunyai nama lain bernama meldonium,” terangnya.

Sharapova mengaku, mengkonsumsi obat itu secara legal karena obat tersebut tidak terdapat pada daftar doping dari World Anti-Doping Agency (WADA). “Namun aturan mengenai obat tersebut telah berubah sejak 1 Januari 2016 dan obat tersebut telah masuk ke dalam daftar zat terlarang. Sayangnya saya tidak tahu akan hal itu,” ungkapnya.

Atas kejadian ini, Sharapova mengatakan, dirinya merasa bersalah karena telah mengecewakan seluruh fansnya dan olahraga yang dicintainya. Sharapova, yang pernah menjadi petenis perempuan nomor satu dunia itu, siap menerima konsekuensi atas kesalahannya tersebut. Atas kesalahannya itu, Sharapova memang mendapat sanksi dari ITF berupa masa percobaan pelarangan bermain selama empat tahun yang efektif berlaku pada 12 Maret tahun ini.

“Saya mengerti bahwa saya akan mendapat konsekuensi akan hal ini dan saya tidak mau mengakhiri karir saya dengan kondisi seperti ini. Saya berharap untuk mendapat kesempatan bermain kembali,” pungkasnya.

Selain mendapat larangan untuk bermain tenis pada laga turnamen internasional, Sharapova juga harus rela kehilangan dua sponsor utamanya, Nike dan Tag Heuer. Sudah barang tentu ini menjadi kerugian besar bagi Sharapova, yang memenangkan turnamen Wimbeldon pada tahun 2004.

Meski demikian, kiranya Sharapova masih dapat berharap pada Nike, karena perusahaan aparel olahraga itu masih mau memantau situasi terbaru terkait kasus doping yang menimpa perempuan berusia 28 tahun tersebut. Dengan begitu, Sharapova masih dapat mengamankan kontrak senilai US$70 juta atau setara dengan Rp923 miliar.

Meldonium atau mildronate merupakan obat yang tujukan untuk pengidap iskemia, yang mengalami kekurangan aliran darah ke seluruh bagian tubuh sehingga dapat menyebabkan penyakit serius seperti pada kasus-kasus angina atau gagal jantung. Dengan mengkonsumsi obat ini, penderita iskemia akan merasakan peredaran darahnya menjadi lancar keseluruh tubuhnya.

Obat tersebut diproduksi di Latvia dan hanya didistribusikan di negara-negara Baltik serta Rusia. Meldonium memang tidak mendapat izin oleh otoritas obat dan makanan di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Oleh sebab itu, obat ini kurang diketahui secara luas.

Obat yang mampu melancarkan peredaran darah itu ternyata berdampak meningkatnya metabolisme tubuh sehingga mampu meningkatkan kemampuan fisik seseorang. Berdasarkan hal itu, WADA menetapkan obat tersebut terlarang karena membuat seorang atlet memiliki tambahan tenaga kala bertanding.

Keputusan untuk melarang meldonium sebagai doping melalui serangkaian monitoring dan penelitian terhadap obat tersebut. Pada 16 September 2015, WADA memutuskan untuk memasukkan meldonium ke dalam daftar obat yang merupakan doping dan melarangnya untuk dikonsumsi oleh seorang atlit. Aturan itu kemudian resmi diberlakukan awal tahun 2016.

Mendengar kabar kasus doping Sharapova, Nick Bollotieri, mantan pelatih tenis Sharapova terkejut. Baginya, Sharapova sudah menjadi salah satu atlit tenis papan atas. Meski doping adalah kesalahan besar seorang atlit, Bollotieri mempercayai Sharapova. Karena baginya, kesalahan ini dilakukan dengan tidak sengaja dan mantan atlit besutannya itu sudah mengakui kesalahan yang tak disengajanya itu.

“Dia sudah mengatakan sudah menggunakannya dalam beberapa waktu ke belakang dan tidak membaca nota peringatan (perihal obat doping). Dia juga sudah mengakui dan siap menerima kosekuensinya. Namun, dia masih berharap dan berdoa untuk dapat bermain tenis lagi, apa yang bisa dikatakan lagi? Saya rasa dia tidak akan melakukan hal ini (penggunaan meldonium) bila dia sudah mengetahui bahwa itu salah ,” ujar pelatih asal Amerika Serikat itu.

Bollotieri berharap, otoritas tenis dunia dapat mempertimbangkan ketidaktahuan Sharapova jika meldonium ilegal sehingga dapat meringankan sanksi dan memperbolehkan Sharapova bermain kembali. “Hal ini akan menjadi titik hitam dalam perjalanan hidupnya dan saya rasa dia tidak ingin ada hal seperti ini dalam karir tenisnya,” ungkap pelatih yang juga melatih beberapa nama ternama, seperti Andre Agassi, Jim Courier, Monica Seles, dan Mary Pierce.

Kasus Sharapova menjadi pembelajaran menarik bagi para atlet lainnya. Ketika hendak mendapat pengobatan dari dokter pribadinya, hendaknya mempelajari latar obat yang diberikan, terutama terus mengikuti perkembangan informasi dari otoritas pemantau doping seperti WADA. Dengan begitu, kasus seperti ini tidak akan menimpa seorang atlet

Sharapova merupakan atlet perempuan yang berprestasi. Dia sudah pernah meraih medali perak pada Olimpiade 2012 mewakili Rusia dan memenangi berbagai turnamen tenis dunia. Amat disayangkan catatan prestasinya dicemarkan kasus doping.

Namun, bila Sharapova dapat membuktikan penggunaan meldonium hanya untuk terapi pengobatan, mungkin namanya dapat terpulihkan. Untuk itu, Sharapova harus berkerja keras untuk membersihkan namanya. Karena, nama yang tercoreng dapat menghancurkan segala hal yang sudah diraihnya.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Guardian
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1754
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2124
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1278
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 235
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 402
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 398
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 337
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya