Berharap Indonesia Meraih Piala Thomas

| dilihat 1658

KUNSHAN, AKARPADINEWS.COM | RASA bangga disampaikan Angga Pratama. Dia bangga karena bersama pasangannya, Ricky Karanda Suwardi, mengantarkan Tim Indonesia melaju ke babak final Piala Thomas yang digelar di Kunshan, Tiongkok.

Angga-Ricky berhasil mengalahkan pasangan dari Korea Selatan, Kim Gi Jung dan Kim Sa Rang, dua set langsung, dengan skor 21-15 dan 21-18. “Kami senang sekali bisa menjadi penentu kemenangan Indonesia.  Kami bersyukur bisa menang dan menyumbang angka,” kata Angga.

Tim Garuda berhasil mengalahkan Tim Negeri Gingseng dengan skor 3-1. Tim Bulutangkis Indonesia diharapkan bisa kembali meraih Piala Thomas setelah sekian lama diraih China.

Terakhir, Indonesia memasuki laga final Piala Thomas tahun 2010 lalu di Kuala Lumpur, Malaysia. Kala itu, Indonesia harus mengakui kedigjayaan tim bulutangkis Republik Rakyat Tiongkok. Negeri Tirai Bambu mengalahkan Indonesia dengan skor 3-0.

Angga dan Ricky mampu bermain dengan tenang hingga berhasil memenangkan dua babak sekaligus. Keduanya tidak terjebak dalam ritme permainan keras dan cepat yang dilakoni lawannya. "Kami tidak memikirkan soal menang atau kalah, yang penting konsentrasi dan jaga fokus," terang Angga.

Menurut Angga, dari tiga kali pertemuan sebelumnya dengan pasangan Kim-Kim, bersama Ricky, dirinya sudah tahu kekurangan dan kelebihan pasangan Korea Selatan itu. Jelang berhadapan dengan pasangan Kim-Kim, Angga menegaskan, dia bersama Ricky lebih siap dari lawan. “Kami bermain lebih baik dibanding dua pertandingan sebelumnya," jelas Angga.

Pemin bulutangkis Indonesia lainnya, Anthony Sinisuka Ginting berhasil menyumbangkan poin untuk tim Indonesia setelah menundukkan Lee Dong Keun dari Korea Selatan. Anthony menang dua pertandingan langsung, dengan skor 21-18, 21-18.

Pasangan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan juga berhasil mengalahkan pasangan Korea Selatan lainnya, Lee Yong Dae dan Yoo Yeon Seong. Korea sempat mencuri kemenangan di partai pertama dari Son Wan Ho yang mengalahkan Jonatan Christie.

“Tetap mengontrol diri, jangan terlalu menggebu-gebu, jangan tidak semangat. Intinya lebih mengatur pikiran dan mental,” jawab Anthony ketika ditanya kunci tampil begitu tenang.

Meskipun melawan pemain yang memiliki peringkat lebih tinggi, Anthony mampu mengimbangi perlawanan Lee. Skor terus imbang sampai kedudukan 14-14. Sebuah permainan cerdik diterapkan Anthony di game pertama dengan menempatkan bola tipis di depan net yang kemudian disambar dengan smash silang ke arah backhand Lee.

Smash ke arah kiri yang lagi-lagi gagal dikembalikan Lee kembali menjadi sumber poin bagi Anthony saat kedudukan game point 20-18. Game pertama dimiliki Anthony. Kesalahan-kesalahan sendiri yang dibuat Anthony di awal game kedua membuatnya ketinggalan 2-5. Antisipasi Anthony di game kedua memang berkurang, smash-nya banyak melebar ke samping lapangan lawan. Namun, pemain kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 20 Oktober 1996 ini tak putus asa. Pelan-pelan ia mengumpulkan poin dan balik unggul di akhir game.

“Saya tidak terlalu memikirkan mau nyumbang poin banget, nanti jadinya bumerang buat saya, jadinya saya tegang. Kemenangan Hendra/Ahsan membuat saya termotivasi untuk menunjukkan yang terbaik di lapangan,” kata Anthony.

Sebelum bertanding, Anthony menjelaskan, dirinya menonton pertandingan Korea Selatan-Tiongkok. Dia belum pernah bertemu Lee, tetapi sudah mempelajari permainannya. "Waktu lawan Lin Dan semalam, permainan Lee tidak terlalu keluar, jadi saya pelajari permainan dia waktu melawan Iskandar (Malaysia). Dari situ saya tahu di mana kelebihan dan kekurangannya, sehingga saya bisa memperbaiki diri,” jelas Anthony.

Sementara Jonatan Christie belum berhasil menyumbang angka pertama untuk tim Thomas Indonesia. Jonatan dikalah Son Wan Ho dari Korea Selatan dengan skor 21-10 dan 21-16. Jonatan tak tampil pada permainan terbaiknya di babak pertama. Penampilan Jonatan begitu berbeda dibanding penampilan-penampilan sebelumnya, di mana ia begitu percaya diri dengan serangan-serangan tajamnya. Pada pertandingan yang berlangsung siang ini di Kunshan Sport Center, Jonatan banyak ragu-ragu, bahkan pukulan yang seharusnya tak sulit dikembalikan, gagal dikembalikan dengan baik.

“Saya minta maaf karena saya belum bisa menyumbang poin untuk tim Indonesia," katanya. Dia mengakui, melawan pemain top 10 dunia tidak mudah. "Nggak gampang dimatiin dan mereka nggak gampang buat salah sendiri. Mungkin Son lebih percaya diri karena kemarin bisa mengalahkan Chen Long (Tiongkok),” ujar Jonatan setelah laga.

Jonatan mengakui jika dirinya kalah dari segi kematangan dan ketenangan. "Saya akui masih kalah jauh dari Son. Jadi tunggal pertama sebetulnya nggak bikin tegang, saya sudah merencanakan untuk bermain sabar, tapi di lapangan malah beda hasilnya, malah buru-buru ingin mematikan lawan,” jelas Jonatan.

Di babak kedua, Jonatan mencoba untuk bangkit. Ia bermain lebih sabar dan mengurangi kesalahan seperti yang banyak dilakukannya di babak pertama. Son yang lebih berpengalaman pun bisa meladeni permainan Jonatan. Begitu ada kesempatan, Son langsung menghujamkan smash kerasnya ke arah Jonatan.

Kalah 1-0 dari Korea Selatan, tak memupuskan semangat tim Merah Putih. Giliran pasangan Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan yang memukul Lee Yong Dae-Yoo Yeon Seong. Hendra-Ahsan, sempat dikalahkan pasangan Or Chin Chung-Tang Chun Man dari Hongkong.

Namun, pasangan rangking dua dunia ini membuktikan, hanya mereka yang mampu menaklukkan Lee-Yoo yang tak pernah kalah sepanjang Piala Thomas 2016. Hendra-Ahsan mengalahkan Lee0-Yoo dalam dua pertandingan langsung, 21-15 dan 21-12.

“Kami bersyukur bisa memenangkan pertandingan hari ini dan menyumbang poin untuk tim Thomas Indonesia. Kami yakin akan meraih dua poin lagi, pertandingan belum usai, kami berdoa semoga bisa menang dari Korea dan melaju ke final,” ujar Ahsan setelah pertandingan.

Hendra menjelaskan, ada strategi khusus dalam menghadapi Lee-Yoo. Salah satunya dengan banyak dropshot ke arah mereka. "Kami tak mau mengingat kekalahan kemarin saat melawan wakil Hong Kong, kami hanya fokus untuk pertandingan hari ini dan bagaimana caranya menang,” jelas Hendra.

Dalam pertandingan itu, Hendra-Ahsan bermain tenang, tak mau ikut irama permainan Lee-Yoo yang cepat dan diwarnai smash-smash keras. Dalam pertandingan itu, Hendra-Ahsan yang lebih mengatur tempo permainan. Lee-Yoo tampaknya kurang suka dengan pola permainan ini. Akhirnya, mereka terus tertinggal dari Hendra/Ahsan hingga 10-15.

Di permainan kedua, Lee-Yoo mencoba mengalahkan Hendra-Ahsan. Lee-Yoo sempat memimpin dengan skor 5-3. Namun Hendra-Ahsan kali ini betul-betul cerdik. Mereka tak mau mengikuti permainan cepat yang menjadi andalan Lee-Yoo.

Sebagai pemain kelas dunia, Hendra-Ahsan membuktikan kualitasnya dan membuat Lee-Yoo tak berkutik. Berulang kali dropshot halus dari Ahsan mampu membobol pertahanan Lee-Yoo yang terkenal rapat. Lee-Yoo mengira Ahsan akan melakukan smash keras yang menjadi andalannya.

“Pertandingan malam tadi melawan Tiongkok cukup menguras tenaga kami, recovery kami kurang bagus,” ujar Yoo. “Kami mengakui bahwa Hendra-Ahsan kali ini bermain lebih baik dari kami,” tambah Lee.

Sayang, prestasi yang diukir tim Thomas Indonesia tidak diikuti tim Uber Indonesia lantaran ditaklukan Korea Selatan dengan skor 3-0. Fitriani yang turun di partai ketiga dikalahkan Bae Yeon Ju dalam tiga set 13-21, 21-14, dan 15-21. Kalah di babak pertama, dengan skor 13-21, Fitriani membuktikan keuletan dengan bermain reli, bola pendek depan net serta dropshot.

Fitri unggul 7-3, 9-4 hingga menang 21-14 pada permainan kedua. "Saya selalu ketinggalan langkah dengan lawan yang sudah siap menyerang. Saya juga terburu-buru ingin menang sehingga variasi serangan kurang banyak dan kurang tajam," kata atlet asal Garut itu.

Pemain berusia 17 tahun itu telah menunjukkan permainan bertahan pada game ketiga saat tertinggal 1-5, 5-10 dan 6-11. Hanya, pengembalian bola Fitriani tidak mampu melewati net dan justru menguntungkan lawan. Fitri kalah 15-21 yang mengantarkan tim Uber Korea Selatan melaju ke final.

Tim Uber Indonesia lainnya, Maria Febe Kusumastuti juga kalah dari Sung Ji Hyun, 13-21 dan 12-21. Kemudian pada partai ganda, pasangan Greysia Polii-Anggia Shitta Awanda takluk pada pasangan Jung Kyung Eun-Shin Seung Chan dengan skor 13-21, 19-21.

"Pemain-pemain muda dalam tim kami perlu menambah keberanian dan kepercayaan diri. Mental tanding mereka perlu diperkuat," kata Greysia sebagai kapten tim Uber Indonesia.

M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Badminton Indonesia/Antara
 
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 375
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 811
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1632
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2541
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 564
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 390
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 505
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 638
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya