Liga Champions Eropa

Laga Pembuktian Si Rubah

| dilihat 166

AKARPADINEWS.COM | LIGA Champions Eropa musim 2016-2017 memasuki babak 16 besar. Di fase kompetisi sepakbola bergengsi itu, Leicester City, akan melawan salah satu tim dari La Liga Spanyol, Sevilla.

Laga yang akan berlangsung 23 Februari 2017 itu, menjadi laga perdana bagi kedua klub untuk merebut takhta di kompetisi Eropa. Berhadapan dengan Los Rojiblancos, julukan Sevilla, dapat dipastikan tak akan memuluskan langkah Si Rubah menuju fase Liga Champions Eropa selanjutnya. Namun, bila pasukan Claudio Ranieri bisa mengalahkan Sevilla, akan menjadi sejarah baru bagi The Foxes.

Ranieri dipastikan akan mengoptimalkan peran Riyad Mahrez. Pemain asal Aljazair itu menjadi tulang punggung utama Leicester semenjak kepergiaan N’Golo Kante ke Chelsea. Ketika berlaga melawan Sevilla nanti, Mahrez, akan ditempatkan di posisi sayap.

Di posisi itu, Mahrez mampu mengeluarkan seluruh kemampuannya. Pemain berusia 25 tahun itu memiliki kemampuan menggiring bola dan umpan silang yang sempurna. Ranieri juga kemungkinan akan mengandalkan kemampuan Mahrez dalam melancarkan tendangan bola keras ke arah gawang untuk membuyarkan konsentrasi pemain belakang Sevilla.

Kemungkinan pula Ranieri menduetkan Mahrez dengan Jamie Vardy maupun Islam Slimani sebagai penyerang. Di posisi ini, kelebihan pemain bernomor punggung 26 itu akan mengambil peran penyerang bayangan untuk membuka peluang agar Vardy maupun Slimani mampu memposisikan diri di posisi yang tepat untuk menembakkan bola.

"Keliaran" Mahrez di lapangan hijau, pastinya akan memaksa pertahanan Sevilla yang dijaga Nico Pareja dan Timothee Kolodziejczak, kerja keras. Mereka akan membayangi Mahrez.

Bila Mahrez diposisikan sebagai penyerang, Jorge Sampaoli, pelatih Sevilla, akan memasang Pareja sebagai pemain belakang yang akan menghentikan alur bolanya. Sebab, pemain asal Argentina itu memiliki naluri menghentikan alur bola lawan. Konsentrasi Pareja dalam menjaga pertahanan juga cukup tinggi. Meski demikian, usianya yang menginjak 32 tahun akan menjadi kendala kala membayangi kelincahan Mahrez.

Jika Pareja tak bisa dimainkan, Sampaoli kemungkinan akan memasang Adil Rami. Pemain asal Perancis ini memiliki kemampuan bertahan cukup tinggi. Totalitasnya menjaga pertahanan akan merepotkan Mahrez maupun penyerang Leicester lainnya.

Namun, Rami memiliki kelemahan. Dia sering melakukan tackling yang kadangkala berbuah hukuman yang merugikan Sevilla. Bila tackling di kotak penalti, maka berbuah tendangan bebas yang bisa dimanfaatkan eksekutor lawan mencetak angka.

Seandainya berada di posisi favoritnya, yakni sayap kanan, Mahrez akan berhadapan dengan Kolodziejczak. Pemain asal Perancis itu merupakan bek sayap kiri yang memiliki kemampuan memotong bola lawan. Selain itu, Kolodziejczak memiliki kecepatan yang bisa menyamai kecepatan Mahrez.

Di posisi inilah Mahrez akan mendapat tantangan terbesarnya. Sebab, bek berusia 25 tahun itu juga memiliki stamina yang prima. Dia juga mampu bergerak cepat membantu penyerangan bila dibutuhkan. Naluri bertahannya juga cukup baik. Bila pertahanan tengah lowong, pemain kelahiran 1 Oktober 1991 itu akan segera bergerak mengisi posisi yang kosong.

Untuk mengecoh Kolodziejczak, Mahrez harus memaksimalkan kemampuan menggiring bolanya. Hal itu dibutuhkan untuk memecah konsentrasi pemain belakang bernomor punggung 5 tersebut. Dengan begitu, Mahrez bisa memberikan peluang bagi koleganya untuk mencetak angka.

Selain Mahrez, Ranieri pastinya mengoptimalkan Vardy dan Slimani sebagai penyerang. Keduanya memiliki naluri menyerang cukup baik. Meski begitu, Vardy dan Slimani memiliki gaya permainan berbeda. Vardy memiliki kemampuan menggiring bola cukup baik dan mampu membaca peluang untuk melakukan tembakan langsung ke gawang lawan. Pemain berusia 29 tahun itu juga mampu berperan sebagai pengumpan bola bila dibutuhkan.

Sedangkan Slimani piawai dalam menyambut bola lambung. Dengan tinggi 188 sentimeter (cm), Slimani mampu menyundul bola ke arah gawang lawan dengan akurat. Dia pun memiliki kemampuan memposisikan diri di tempat yang tepat sehingga mudah bagi teman satu timnya untuk memberikan umpan lambung.

Namun, Vardy juga memiliki kelemahan saat duel di udara. Pemain bernomor punggung 9 itu sering gagal memaksimalkan umpan-umpan lambung yang diarahkan padanya. Selain itu, ketika memberikan umpan pada temannya, Vardy sering blunder yang kemudian dapat ditangkal pemain bertahan lawan dengan sangat mudah.

Untuk Slimani, kelemahan terbesarnya ialah pada mempertahankan bola. Pemain asal Aljzair itu tidak memiliki kemahiran menggiring bola laiknya Mahrez maupun Vardy. Dia juga sering terjebak offside yang dirancang pemain belakang lawan.

Meski kedua pemain itu bukan pemain top, pertahanan Sevilla akan fokus mengawal pergerakannya. Karena, pada kondisi tertentu, kedua pemain itu dapat membahayakan gawang Sevilla bila tak ditempel oleh pemain belakang.

Sementara di kubu Sevilla, kemungkinan besar ancaman terbesar bagi Leicester ialah keberadaan Samir Nasri di posisi gelandang tengah. Pemain asal Perancis itu memiliki kecepatan yang cukup tinggi. Apalagi, sebagai gelandang tengah, Nasri mampu bertukar posisi dengan pemain lainnya saat tengah berlaga. Dia mampu bermain sebagai sayap ataupun sebagai penyerang bayangan.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh mantan pemain Arsenal itu ialah kemampuan menggiring bola. Kepiawaiannya dalam menggiring bola akan menjadi mimpi buruk bagi pemain bertahan Leicester. Sebab, saat menggiring bola, Nasri sulit dihentikan. Dibutuhkan konsentrasi dan ketenangan dalam menghentikan laju pergerakan Nasri.

Pemain bernomor punggung 10 di Sevilla itu juga memiliki naluri mengumpan cukup baik. Dia bisa melepaskan umpan-umpan cantik yang bisa dimanfaatkan oleh penyerang depan. Sebagai pemain tengah dan sayap, Nasri juga memiliki naluri mencetak angka.

Dia bisa saja merangsek masuk di posisi yang tak terprediksi oleh pemain belakang Leicester dan mencetak angka. Kemampuan inilah yang harus diantisipasi bek The Foxes bila tak ingin kebobolan.

Namun, Nasri termasuk pemain individualis. Ketika asyik menggiring bola, pemain yang dipinjamkan Manchester City ke Sevilla awal musim 2016-2017 itu sering mengabaikan posisi kawannya yang tengah kosong. Cara paling ampuh untuk memanfaatkan kelemahan ini ialah mengepung Nasri dari beberapa arah sehingga dia kekurangan ruang geraknya.

Nasri juga lemah dalam melakukan finishing. Saat menerima umpan, dia kerap gagal memaksimalkannya menjadi gol. Setelah mendapat umpan, Nasri menciptakan sedikit ruang gerak sebelum menembakkan bola. Ketika dia dikepung, kemungkinan besar akan kesulitan untuk melakukan one touch shoot ke arah gawang.

Nasri pun lemah saat duel di udara. Pemain dengan tinggi 175 sentimeter (cm) ini sering kalah dalam merebut bola di udara dengan pemain lawan. Pemain belakang Leicester harus memanfaatkan kelemahan tersebut agar mampu menghalau bola yang ditujukan kepada Nasri.

Untuk menghentikan Nasri, pemain belakang Leicester yang tepat ialah Robert Huth ataupun Christian Fuchs. Ketika Nasri berposisi sebagai gelandang tengah, keberadaan Huth akan menyulitkannya. Karena, pemain asal Jerman itu mampu menghadang umpan-umpan lambung yang diarahkan pada Nasri.

Selain itu, Huth mampu membayangi Nasri dengan cukup baik. Dengan badan yang kokoh, pastinya Nasri akan kerepotan untuk melewati Huth. Meski begitu, Huth dapat dipastikan akan kerepotan bila harus mengejar Nasri. Sebab, pemain berusia 32 tahun itu bukan pemain lincah di lapangan.

Ketika Nasri berada di posisi sayap kanan, maka lawan sepadan ialah Fuchs. Pemain asal Austria yang berposisi sebagai bek sayap kiri, mampu menghadang laju Nasri. Fuchs juga memiliki naluri bertahan cukup baik.

Dia diperkirakan mampu menghadang bola yang ditujukan pada Nasri. Bahkan, bila berhasil merebut bola dari Nasri, Fuchs akan membawa bola tersebut langsung ke depan. Dia memiliki naluri melancarkan serangan balik dengan umpan jarak jauh yang cukup baik.

Kendati begitu, kelemahan Fuchs ialah sering melakukan tackling. Hal yang merugikan Leicester bila tackling di posisi yang rawan. Oleh sebab itu, pemain bernomor punggung 28 ini harus fokus dalam membayangi Nasri di sektor sayap dan menghindari tackling yang dapat berbuah hukuman.

Soal lini depan, Sampaoli kemungkinan besar akan mempercayakannya pada Franco Vazquez maupun Wissam Ben Yedder. Vazquez memiliki kemampuan menggiring bola dan mencari celah agar dapat masuk ke jantung pertahanan lawan. Dia juga tipe penyerang bayangan yang mumpuni.

Pemain asal Italia ini juga memiliki kemampuan tembakan langsung dari luar kotak penalti. Kemampuan itu biasanya kerap membuat buyar konsentrasi pemain belakang lawan.

Dia juga mampu mengeksekusi tendangan bebas dengan sangat baik. Bila di posisi yang pas, bukan tidak mungkin Vazquez mampu mencetak gol dari tendangan bebasnya.

Kelemahan utamanya ialah bukan penyerang murni sehingga Vazquez kurang agresif saat berada di depan mulut gawang. Pemain bernomor punggung 22 di Sevilla itu juga sering mundur ke belakang untuk membantu pertahanan.

Maklum, posisi Vazquez sebenarnya adalah gelandang serang. Ketika dia mundur ke belakang, maka posisi depan akan kosong sehingga menyulitkan Sevilla bila melakukan serangan balik.

Untuk Yedder, kelebihan utamanya ialah melakukan finishing. Pemain asal Perancis itu mampu mengeksekusi bola secara langsung saat mendapatkan umpan. Ketika posisinya tidak memungkinkan untuk langsung menembak, Yedder akan menggiring bola dengan ciamik hingga berada di posisi yang tepat.

Kemahirannya menggiring bola sering dimanfaatkannya untuk memecah konsentrasi pemain belakang lawan. Saat menggiring bola, pemain berusia 26 tahun itu akan sulit dihentikan.

Untuk mengatasinya, pemain belakang Leicester bisa menerapkan strategi perangkap offside. Sebab, Yedder seringkali terjebak perangkap offside. Kelemahan lain yang bisa diantisipasi ialah kala duel udara. Yedder sangat lemah dalam berduel udara dengan pemain belakang lawan. Dia sering kalah dan gagal memaksimalkan umpan-umpan lambung yang ditujukan padanya.

Dari prediksi tersebut, dapat dikatakan bahwa potensi kemenangan Leicester akan Sevilla masih terbuka. Meski begitu, Si Rubah akan susah payah untuk dapat menang. Apalagi, pada leg pertama nanti, Leicester akan bermain di Ramon Sanchez Pizjuan Stadium, kandang Sevilla.

Akan lebih baik bila di leg pertama tersebut, Leicester mampu mencuri angka terlebih dahulu. Hal itu akan menjadi modal yang apik untuk mengamankan posisi saat mereka menjamu Sevilla di King Power Stadium.

Pertandingan antara Leicester City lawan Sevilla jauh lebih menarik ketimbang laga lainnya. Sebab, bukan tidak mungkin Dewi Fortuna akan kembali memihak Ranieri dan timnya untuk dapat mencetak sejarah baru di Liga Champions Eropa. | Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Who Scored/UEFE
 
Ekonomi & Bisnis
01 Nov 17, 17:04 WIB | Dilihat : 1037
Jalan Panjang Pengaturan Transportasi Online di Indonesia
06 Okt 17, 14:55 WIB | Dilihat : 1169
Sistem dan Keunggulan
16 Jan 17, 22:32 WIB | Dilihat : 763
Samsung Dililit Krisis Lagi
08 Jan 17, 12:51 WIB | Dilihat : 475
Pramugari Vera dan Kemuliaan Melayani
Selanjutnya
Energi & Tambang
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 615
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 837
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya