
AKARPADINEWS.COM | “SUN Go Kong itu ingin mati, tapi tidak bisa mati. Dan, itu menakutkan,” tutur Show Ryuzanji, Produser dan Direktur Artistik Ryuzanji Company sebelum pertunjukan berlangsung.
Laki-laki berusia 68 tahun ini seolah ingin menyiratkan makna akan kesendirian dalam keabadian yang menakutkan melalui sosok Sun Go Kong (Goku) melalui pementasan teater Kera Sakti, 11-12 Maret 2016, di Teater Salihara, Jakarta.
Selain di Indonesia, kisah Kera Sakti populer di Jepang. Tengai Amano, selaku penulis naskah dan sutradara, melakukan adaptasi yang sangat berbeda terhadap cerita asli Kera Sakti, Kisah Perjalanan Ke Barat, karya sastrawan besar China Wu Cheng En.
Sun Go Kong yang dikemas dalam panggung teater ini benar-benar memperlihatkan tampilan baru, khas teater musikal Jepang. Sebanyak 12 pemain dari Ryuzanji Company pada malam tersebut, sukses menawarkan kegetiran di atas panggung, dalam balutan komedi gelap.
Sebuah panggung hiburan musikal yang holistik memperlihatkan akting, tari, nyanyian, musik, kabuki, bercampur dengan tata cahaya dan multimedia yang mewah. Dan, memiliki pesan moral pertunjukan yang menggelisahkan penonton.
Goku yang diperankan Munekazu Tani dan Sannsirou Goto merupakan sosok kera sakti yang lahir dari batu dan hidup abadi. Goku dihukum oleh para Dewa selama 500 tahun dan hidup sendiri di bumi karena telah mengacaukan kehidupan di surga. Goku akhirnya dapat bebas dengan syarat menemani Boss, dalam perjalanan ke Barat yang disebut “Tenjiku” untuk mendapatkan sebuah naskah kebenaran semesta.
Perjalanan menuju Tenjiku bersama Boss, Hakkai dan Sagojo, dalam panggung ini serupa perjalanan kehidupan yang terus berulang. Mereka menyeberangi gunung, membelah lembah, melintasi sungai, dan merasakan pergantian musim.

Goku pun berulang kali membunuh para siluman yang akan memakan daging Boss yang dipercaya dapat memperpanjang usia. Boss berulang kali pula mengingatkan untuk tidak membunuh tanpa memahami maksud Goku untuk menyelamatkan dirinya dari incaran siluman.
Panggung teater memang selalu memberikan keajaiban. Hanya di teater, adegan bertarung, membunuh, mati dan hidup kembali, selalu diulang-ulang. Dan, setiap adegan itu berakhir, para tokoh selalu berkata, mereka tidak ingat telah melakukan apapun dan selanjutnya alur pertunjukan kembali mengulang adegan tersebut. Terutama, ketika Goku harus melewati kesulitan terakhir dengan cara mematikan api di Gunung Kaen yang hanya dapat dilakukan oleh kipas sakti, Basho Shen milik siluman.
Kematangan akting, tari, vocal yang prima, ketahanan stamina, dan konsentrasi pemain dalam pertunjukan ini terbilang hebat, ditambah detail akurasi tata cahaya dan multimedia yang berpindah fokus hanya dalam hitungan detik. Dengan mengulang adegan yang sama berulang kali, energi mereka sama sekali tidak surut.
Tengai Amano, menyutradarai alur berulang ini, serupa ingin memberikan simbol terhadap rutinitas keseharian manusia yang juga selalu berulang: bangun, bekerja, mencari kebahagiaan, merasakan kesedihan, dan ingin menjadi orang lain karena tidak mengenal dengan diri sendiri.
“Aku adalah aku, tapi bukan aku” itulah yang selalu dialami manusia dalam hidupnya. Dalam tokoh Goku yang mengerikan adalah ketika keberulangan peristiwa hidup itu tidak ada akhirnya karena ia tak mengenal kematian. Itulah keabadian yang menakutkan sebagai esensi pesan pertunjukan. Sebuah perenungan filosofis yang dalam di balik balutan komedi gelap.
Bagi penonton awam dengan cara berpikir mainstream, pertunjukan ini akan mengerutkan kening, sekaligus meninggalkan pertanyaan yang sulit dijawab. Sejak didirikan pada Juli 1984, kelompok yang dimotori oleh Show Ryujanzi ini selalu menampilkan kisah satir, khas komedi gelap yang berakar pada kelompok-kelompok teater bawah (underground) yang berkembang pada masa tersebut.
Tujuannya, menjadikan teater terlibat langsung dengan masyarakat, membuka jejaring dan berkolaborasi dengan berbagai kelompok seni yang berbeda di luar Jepang. Pertunjukan Kera Sakti misalnya. Selain memasukan dialog-dialog berbahasa Indonesia yang cukup populer di telinga anak muda, pertunjukan itu juga melibatkan bintang tamu, group musik punk Marginal.

Hal serupa akan dilakukan kelompok ini ketika Kera Sakti akan dipentaskan berikutnya di Yogyakarta, Magelang dan Bali, dengan menggunakan bahasa Jawa dan Bali, serta melibatkan seniman di kota-kota tersebut.
Pertunjukan ini kali kedua setelah sebelumnya pada tahun 2011, kelompok ini pernah mementaskan Hanafuda Denki karya Shuji Terayama di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta dan STSI, Bandung. Khas komedi gelap dalam teater musikal ini telah mengantar Ryujanzi Company bermain di panggung-panggung internasional hingga ke Broadway, New York, Amerika Serikat, dan memenangkan berbagai penghargaan, salah satunya penghargaan naskah terbaik di Fringe Festival di Victoria Kanada.
Akhir cerita pertunjukan ini adalah ketika mereka telah mencapai Tenjiku dan berganti layar panggung, menampilkan visual bumi yang manusia huni. Panggung menyerupai dunia yang absurd. Semua tokoh dalam pertunjukan, menari, diiringi hentakan musik dengan irama yang chaos, hingga akhirnya panggung benar-benar gelap dan musik pun hilang.
Sebuah pertunjukan yang tidak ingin memberikan jawaban apapun tentang perjalanan kehidupan dan membebaskan penonton untuk menafsirkannya. “Manusia itu apa? Dunia itu apa? Barat dan Tenjiku itu apa? Mungkin bukan tempat, mungkin surga atau nirvana, tapi apa itu surga? Apa itu hidup?” tutur Ryuzanji. Namun, yang terpenting dari pertunjukan ini seolah ingin berbicara, “Kamu hanya perlu terus hidup saja.”
Ratu Selvi Agnesia