Obituari

Selamat Jalan Alex Aman Chalik

| dilihat 317

Senin (18 Mei 2020) malam. Saya baru usai melaksanakan qiyamul lail, ketika Evie - sekretaris saya ketika menerima amanah sebagai General Manager Operasi Televisi Pendidikan Indonesia -- menelepon.

"Mas Alex wafat, Pak..," serunya.

"Alex Aman Chalik?" tanya saya

"Ya.. Pak.."

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Saya tercekat. Lagi saya kehilangan. Alex adalah satu dari sedikit kreator di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), ketika saya menghadapi begitu banyak tantangan, saat memandu sejumlah insan muda kreatif saat itu, mengubah minda tata kelola siaran TPI kembali ke karakternya sebagai televisi. Bukan sebagai kelas atau sekolah yang dipindahkan ke layar kaca.

Televisi adalah televisi. Medium yang mengemban informasi, edukasi, dan re kreasi (bukan sekadar hiburan) dan mesti difungsikan sebagai enlightenment yang mesti mempertimbangkan banyak aspek. Terutama aspek budaya secara menyeluruh. Terutama berkaitan dengan dimensi artistik, estetik, dan etik.   

Lelaki dengan kepribadian kuat dengan otak kreatif yang konsisten memelihara proses kreatif (sejak mengelola gagasan) sampai eksekusi kreatif. Sebagai produser programa siaran dan pengarah acara, dia punya talenta luar biasa.

Sikapnya sangat terbuka, kritis, berani, dan bertanggungjawab. Leadership soul-nya untuk memimpin suatu proses produksi juga kuat. Karena dia bekerja dengan cinta. Basis akademiknya dari institusi pendidikan tinggi publisistik, memungkinkannya melihat sesuatu multidimensi. Termasuk dalam mempertemukan kepentingan kreatif, misi bisnis korporasi, dan dinamika konsumen media - termasuk dinamika selera.

Beberapa kali allahyarham Syahman Rusdi (Manager Produksi) kala itu, atasannya, mengajukan ke saya untuk menempatkan dia pada posisi struktural, saya mempertahankan dia di jalur fungsional - profesional. Alasannya, posisi struktural akan 'memenjarakan' kreativitasnya.

Belakangan hasil psychometry test yang diselenggarakan manajemen, membuktikan, posisi dia memang semestinya harus berada di ranah kreatif dan jauh dari urusan administrasi.

Manajemen mengirim dia ke Amerika Serikat untuk mengikuti short course sekaligus melihat beberapa varian kreatif antara stasiun televisi berbasis hiburan dan informasi dengan stasiun televisi yang mengemban misi khas pendidikan dan non komersial, seperti PBS (Public Broadcasting System).

Ketika pulang, dia oleh-olehi saya dua buku menarik tentang manajemen kreatif dan media games, yang kemudian sering kami diskusikan, dengan melibatkan Maria Kristawati yang fokus pada marketing.

Ketika Hadi Abdullah dari divisi program menyampaikan hasil observasi lapangan terkait dengan dinamika khalayak pemirsa sebagai konsumen media, kepada Alex saya sampaikan beberapa point of view tentang program, termasuk perspektif perubahan arah yang sekaligus merupakan perubahan konten programa siaran yang mesti mengharmonisasi prinsip 'idealisme komersialistik' dan 'komersialisme idealistik.' Masih juga saya ikat dengan marka, mesti tetap memberi ruang yang lebih besar pada local content.

Untuk kepentingan keseimbangan dalam proses perubahan itu, di divisi program ditempatkan kolega satu angkatan dengan Alex (Osby Vebro) untuk menjadi pelatuk perubahan minda programatik.

Karena situasi dan kondisi perubahan yang tak bisa diterima semua orang, terutama oleh para sepuh yang membuat basic design siaran TPI, khasnya dari kalangan pendidik - termasuk guru besar ilmu teknologi pendidikan, transformasi yang dihadapkan oleh berbagai keterbatasan (organisasi, keuangan, orientasi, dan beat), saya mesti meyakinkan dewan direksi tentang perubahan dramatik (transformasional) di hampir seluruh lini. Khususnya terkait dengan program, produksi, teknik, marketing, dan berbagai hal non korporasional.

Untuk kepentingan dinamika perubahan transformasional itu, saya mesti mengakomodasi dengan ketat keputusan dewan direksi untuk melakukan mutasi di level manajer. Setelah tercapai kesepakatan, akhirnya saya lakukan mutasi, bahkan dengan harus memindahkan mereka yang secara personal sangat dekat dengan saya.

Dalam situasi itu, hubungan saya dengan Alex cumsuis (antara lain Osby Vebro, Hadi Abdullah, Viddy AD, Rubyanto, Oya Uctolseja, Hasan Bisri, dan lain-lain). Kepada mereka diberikan ruang kemerdekaan berkreasi dengan batas-batas tertentu, yang sesuai dengan kondisi obyektif. Termasuk mengakomodasi beberapa pemikiran allahyarham Syahman Rusdi tentang perluasan porsi inhouse production.

Hasil kerja mereka menggembirakan. Baik dalam konteks pengembangan program-program yang sudah ada maupun program-program baru. Pada masa ini, buncah kreatif anak-anak muda yang masih fresh, itu dan sekarakter dengan Alex melahirkan beberapa programa siaran unggulan. Antara lain : Ngelaba - Patrio Grup, Lenong Bocah, Semarak Dangdut, Lhang Lhang Buwana, Anugerah Dangdut, dan lainnya. Alex cumsuis tak pernah lelah melakukan berbagai aksi kreatif - melakukan proses perubahan formula programa siaran musik dangdut.

Hampir setiap malam, saya manfaatkan waktu untuk berdiskusi dengan Alex cumsuis, termasuk mendengarkan berbagai kritik dan saran mereka terkait dengan berbagai kebijakan manajemen.

Karena situasi pemegang saham PT CTPI mengisyaratkan akan terjadi perubahan direksi. Sambil menunggu proses, saya bersama allahyarham Dwi Roosdianto dan Ridwan ditugaskan menjabat mandatori direksi dengan tugas utama menyelesaikan berbagai persoalan krusial, sekaligus menyiapkan kondisi yang memungkinkan direksi baru melakukan proses transformasi lanjut.

Dialog-dialog kreatif saya dengan Alex makin intens. Terutama, karena Alex cumsuis saya lihat berhasil menjaga stamina kreativitas. Karena sesuatu pertimbangan, termasuk kepindahan saya ke jiran, Malaysia saya sampaikan rencana saya mengundurkan diri. Pada saat itu, persiapan Anugerah Dangdut yang diinisiasi kelompok wartawan hiburan - film - televisi, sedang berproses.

Alex keberatan saya keluar tapi memaklumi pertimbangan saya. Harapannya membuncah, ketika saya beritahu, Ishadi SK akan bergabung menjadi direktur operasi.

"Gue jamin, proses kreatif Alex dan anak-anak lain, bakal terjaga. Jadi, teruslah berkarya," ungkap saya, suatu malam di salah satu kafe di bilangan Kebayoran Baru.

Saya keluar. Komunikasi saya dengan Alex tetap terpelihara. Bahkan kemudian, ketika dia mengabarkan perkembangan programa siaran musik dangdut, juga tentang Kontes Dangdut Indonesia (KDI).

Komunikasi saya terputus agak lama, sampai kemudian saya kembali ke Indonesia dan menangani salah satu media di Jakarta. Beberapa kali, Alex cumsuis datang ke kantor. Dan, tetap bicara tentang kreativitas. Saya juga minta bantuan Alex menggelar dangdut cocktail dalam skala kecil di Kelapa Gading.

Ternyata Alex keluar dari TPI, kemudian bergabung dalam manajemen Ikke Nurjanah. Belakangan, beberapa kali saya jumpa dengan Alex. Di pesta pernikahan putera Walikota Jakarta Barat, Rustam dan kemudian pada halal bil halal keluarga besar eks TPI.

Selamat jalan Lex.., selamat mendahului, menjumpai Sang Maha Kreator. Al Khalik, yang nama itu menyertai belakang namamu, sejak lahir. Saya sungguh kehilangan adik yang sangat kreatif dan selalu memelihara akhlaknya, tak pernah memutus silaturrahmi.. Tak akan pernah saya lupa, kalimat allahyarham, "Lu tu abang gue... sebagai apapun!"

Alex wafat karena asam lambung yang menekan jantungnya, sesuai keterangan dokter yang memeriksanya. Ma'afkan saya tidak bisa mengantarkanmu ke peristirahatan terakhir.| Bang Sèm

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1193
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1584
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 775
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1196
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 180
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 209
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 179
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya