Puisi Puisi Ramadan Gus Nas

| dilihat 2709

Gus Nas (Nasrudin Anshary) pemimpin PesantRend Ilmu Giri – Yogyakarta, menulis beberapa puisi khas tentang Ramadan. Lewat laman ini, kita sajikan 10 puisi ramadan yang perlu dibaca menjadi pelengkap tafakkur diri. Silakan..

 

SYAIR PUASA

 

Tuhanku

Engkaukah sejatinya Sang Maha Puasa

Ajari kami memetik cahaya

Untuk santap sahur dan berbuka puasa

 

Jauhkan mulut dan perut kami dari sampah

Dari rasa rakus dan muntah amarah

Dari sikap tamak dan siasat fitnah

 

Puasa ini hanya untukMu

Lapar dan dahaga itu cuma fatamorgana

Sebab hidup sejati bukanlah pencitraan diri

Hidup sejati adalah memberi dan berbagi

 

(Gus Nas Jogja, awal puasa 2018)

 

EMBUN RAMADLAN

 

Embun Ramadlan menetes di dada beku

Mengucap salam kesejukan dalam jiwa dahaga

Mengirim surat cinta di kedalaman kalbu

 

Ramadlan kali ini hanya ada lumpur di sekujur tubuhku

Kehampaan jiwa mendedah raga

Kelumpuhan sukma menyergap kata

Aku terkurung dalam tempurung

 

Pagi ini kupetik embun Ramadlan

Kupungut bulan sabit di langit

Doa-doaku meronta di cakrawala

 

Tuhanku

Pagi ini kukemas luka dalam tempayan cinta

Merawat rasa lapar dan dahaga dengan sekuntum bunga

Sebab apalah makna kemewahan dan kemegahan

Jika membebaskan seorang budak saja tak kuasa

 

Gus Nas Jogja, menjelang Ramadlan 2018

 

HUJAN BULAN RAMADLAN

 

Sesekali hinggaplah di pelupuk mataku

Pada bulan puasa yang terus meronta ini

Hujan mengalir deras dalam derai tadarusku

 

Kuhitung satu persatu helai demi helai rambut dan pori-poriku

Semua telah basah oleh doa yang indah

Rasa syukur akan segala rindu yang kian menggebu

 

Hujan bulan Ramadlan mengguyur deras dalam tadarus kalbu

Lalu kemarau dan kering kerontang di jiwa ini

Menjelma kelam yang terkubur di dasar kolam

 

Dengan dada yang terdedah oleh gelora rindu

Terus kugali akar istighfar dalam takbir dan salam di segala penjuru

Aku berburu indahnya suara langit di semesta sujudku

 

Maafkan aku, Tuhanku

Jika hujan di bulan Ramadlan ini

Telah membakar dan menghanguskan seluruh perih dan luka-luka kasihku

 

(Gus Nas Jogja, embun Ramadlan #5 2018)

 

MAWAR RAMADLAN

 

Mawar Ramadlan kupetik  dengan jemari rindu

Bersama dengung doa jutaan lebah

Kutemukan puasa ini pada kelembutan kalbu

 

Setangkai mawar istighfar

Sekuntum rindu yang memekar dalam tadarus merdu

 

Tuhanku

Pada taman kesabaran yang indah ini

Kusiram desir cinta ini dengan anggur makrifatMu

 

Laparkan aku dengan kemesraan azali

Sebab kekenyangan adalah fatamorgana

Dan kemenangan sejati adalah mengalahkan diri sendiri

 

Di gua pertapaan para Nabi

Ramadlan ini kuziarahi

 

Kepada siapa nikmat dan rahmat Ramadlan ini akan kusunting di kedalaman hati?

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #4 2018)

 

SAJAK PUASA UNTUK INDONESIA

 

Dengan mengucap senyap

Puasa ini kuhaturkan pada Sang Maha Rindu

 

Lapar siapakah ini

Saat kata-kata menjelma luka dan amuk prahara

Ketika ujaran kebencian menjadi jutaan peluru

Dan puisi ini merelakan dirinya memeluk sunyi seorang diri

 

Lapar siapakah semua ini wahai negeri permai bernama Indonesia?

 

Ketika partai-partai saling sibuk membantai

Saat para politisi saling menceraikan dan bukan mencerahkan

Lapar kekuasaan macam apakah ini?

 

Hari ini aku merasakan rindu yang menggelora

 

Tanda imsak sudah lama bergema

Tapi para politisi sibuknya luar biasa menyantap darah daging saudara sendiri sesama bangsa

 

Dari ulat bulu menjadi kupu-kupu memang membutuhkan puasa hingga di kedalaman kalbu

 

Adzan maghrib masih jauh berkumandang

Tapi para kampret dan kelelawar sudah keluar dan bertindak onar

 

Adzan maghrib belum berkumandang

Tapi para yang mulia sudah sibuk menabuh gendang dan saling menendang

 

Apakah agama sudah tak sanggup membuahkan makna?

Apakah puasa tak juga mengajarkan etika?

 

Lapar ini kuserahkan padamu wahai Indonesia

Dahaga ini kupasrahkan untukmu wahai Indonesia

 

Dalam rintih tasbih di zaman perih ini

Aku rindu nasehat Ibu

Perempuan lembut yang mengajarkan ilmu merajut

Agar robek di kalbu dan di negeri ini kembali bertaut

 

Laparku dan laparmu wahai Indonesia

Dahagaku dan dahagamu wahai Ibu Pertiwi yang lama terluka

Hari ini akan hijrah ke cakrawala

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #12 2018)

 

POTRET DIRI

 

Di haribaan waktu aku hanyalah debu

Serpihan cermin yang telah lama kehilangan makna

Sebait puisi yang kehabisan arti

 

Kepada siapa kurayakan senja

Jika keruh dan rapuh rupaku hanya sakit semata?

 

Hari ini kupetik sepi dalam pisau puisiku

Cinta yang tak henti-henti menyala

Adalah sujud syukurku menjelajahi semesta

 

Kekasih,

Beri aku tanya

Tentang biru langit dan harum bunga

 

Tunjukkan padaku kedalaman palung segala luka

Saat banjir rindu menghempaskan sisa-sisa usia

 

Petiklah kilau matahari di ketajaman biru hatimu

Lalu sematkan dalam cincin cinta di jari manisku

Sebab takdir dan takbir akan mengucap segala kata

 

Di haribaan senjakala ini yang masih kumiliki hanya secawan air mata

Sebab anggur rindu dan apel cinta yang telah kukunyah di masa lalu

Adalah saksi abadi dalam kisah resahku yang fana

 

Kekasihku

Sisakan sepatah doa dari getar bibirmu

Jadikan anak panah

Atau lukisan tanpa kanfas

Agar sisa-sisa nafas ini tak juga kandas

Agar bait terakhir puisi ini tak hanya ampas

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #13 2018)

 

ORKESTRA KAUM DZUAFA

 

Di atas tikar istighfar pada bulan purnama ini

Kusujudkan renta jiwaku agar kening memancar cahaya

 

Inikah bulan kilau purnama kaum dzuafa itu?

 

Kusimak dengan seksama kesaksian Kalam Suci

Firman Ilahi yang bertutur kata tentang cinta

 

Purnama di langit ramadlan memancarkan gemerlap cahaya

Menjadi orkestra kaum dzuafa

Para peziarah semesta yang bersabuk lapar pada perutnya

Dan berkalung dahaga pada lehernya

 

Bukankah bermakna dusta jika agama hanya berpihak pada kaum kenyang yang sibuk berpesta?

 

Bukankah jihad sejati itu memerdekakan budak dan bukan menaburkan kebencian pada sesama?

 

Malam ini aku menyelam di dasar samudera

Mencari mutiara di kedalaman imanku

Iman yang menjamin rasa aman bagi sesama

 

Orkestra kaum dzuafa semakin mendedah di dada beku

Meremukkan batu takabur dalam tengkorak kepalaku

 

Bukankah agama akan menjadi indah jika tak dilumuri comberan dusta?

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #15 2018)

 

SELAMAT PAGI, ILMU GIRI

 

Entah sudah berapa resah yang berkisah di bukit ini

Tapi waktu senantiasa menyisakan rindu

 

Selamat pagi Ilmu Giri

Pada jutaan daun jati kusematkan doaku

Walau ranting ada yang kering

Ronta rinduku semakin bening

 

Beratap terik di rimba ini

Suara kalbu mengucapkan salam padamu

 

Di Desa Kebangsaan ini

Yang dimuliakan adalah kemanusiaan

Agar sembah semakin megah

Agar alam tak hanya disemayamkan

 

Selamat pagi Ilmu Giri

Datang dan pergi sudah pasti silih berganti

Tapi iman-ilmu-amal tak akan beranjak pergi dari tempat ini

 

Pagi ini hanya ada embun dan daun jatuh

Dan doa-doa bening yang terus mengalir jauh

Mengukir subuh

Agar hati tak jadi rapuh

Agar kasih kembali menyeluruh

 

 (Gus Nas Jogja, 20 Mei 2018)

 

PENGANTIN RAMADLAN

 

Tuhanku

Jika cinta memekar dengan sempurna

Untuk apa bicara luka

 

Tuhanku

Jika rindu terus menderu di kedalaman kalbu

Seluruh waktu hanya milikMu

 

Sunting aku menjadi pengantinMu

 

Tuhanku

Aku tenggelam dalam lautan madu

Aku tercebur dalam samudera susu

 

Sembah sujudku

Sajadah sembahyangku

Hanyalah Cahaya

 

Sunting aku menjadi pengantinMu

Tepat di Malam Lailatul Qadar yang menggetarkan itu

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #6 2018)

 

MAKRIFAT KEPOMPONG

 

Apa yang akan kugoreskan pada kanfas putih di kefanaan hidup ini

Ketika nafas tinggal seutas

Dan lukisan keabadian harus dibingkai dalam figura kebajikan

 

Jika takdirku hanyalah ulat bulu

Bukankah darah daging doa dalam diriku akan selalu bertanya

Bukankah bulu-bulu tajam dalam tubuhku hanya gatal adanya?

 

Dalam seuntai puasa ini kukisahkan segalanya padamu

Tentang darah daging yang akan membusuk itu

Ketika kain kafan yang menjadi busana terakhir menuju ke alam keabadian

 

Karena itulah hari ini aku berguru pada ulat bulu

Menjadi kepompong

Agar amal kesalehan bukan sekadar omong kosong

Agar hikmah puasa tak cuma arang yang gosong

 

Ramadlan ini menjadi gua pertapaanku

Melepaskan segala busana dunia

Telanjang setelanjang-telanjangnya dari segala syahwat dan nafsu

 

Puasaku adalah lapar langit dan dahaga bumi

Santap sahurku hanyalah cahaya

Hidangan buka puasaku adalah sinar terang di alam baka

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #8 2018)

 

TADARUS EMBUN

 

Apa yang ingin kusapa di fajar yang indah ini?

Tadarus embun mengucap salam padamu

 

Inikah bulan sesejuk telaga?

Ketika jendela surga dibuka

Dan sebutir embun meleleh menjadi kilau cahaya?

 

Pagi ini kusimak dengan seksama

Sayup-sayup suara embun bertadarus

Dan sinar terang bertaburan di dalam dada

 

Inikah surat-surat kemesraan yang diturunkan dari langit itu?

Agar bumi dan penghuninya diberkati

Ketika jelaga dosa diampuni

 

Ramadlan kali ini

Hanya tadarus embun yang menemani

 

(Gus Nas Jogja, embun ramadlan #9 2018)

Editor : sem haesy
 
Budaya
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 407
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 677
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 511
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya