Peter Seeger Suara Lirih Di Tepian Sungai Hudson

| dilihat 399

Seorang sahabat yang tinggal di pinggiran New York, di luar Bronx, Sabtu (18/5/19) dinihari berkirim email. Bertanya tentang kondisi mutakhir Jakarta dan beberapa kota di Indonesia yang pernah dia kunjungi.

Dia beroleh kabar tentang situasi politik yang memanas, seputar Pemilihan Umum Serentak 2019.

Lantas dia bertanya tentang terlalu lama tak mendapat puisi-puisi saya.

Claire, sahabat saya itu. Perempuan berkulit hitam yang puterinya menjadi penjaga toko busana di Time Square.

Lantas kami berbincang tentang puisi dan musik. Tiba-tiba saya teringat Peter Seeger, penyanyi rakyat Amerika dan aktivis politik, kelahiran New York (3/5/1919) dan wafat di kota kelahirannya, 27 Januari 2014.

Suami Toshi Aline Ohta yang dinikahinya tahun 1943, itu dikenal sebagai penyanyi, penggubah lagu rakyat legendaris yang berkomitmen pada pada perjuangan hak-hak sipil. Ia terkenal karena protes-protesnya lewat lagu ihwal Perang Vietnam. Juga 'teriakan' berirama tentang konservasi sumberdaya alam.

"Kenapa tiba-tiba bicara tentang Seeger?" tanya Claire, saat chating.

"Saya rindu. Di negeriku, di tengah situasi sebagian besar rakyat memperjuangkan hak-hak sipil dan konstitusional mereka, tak saya temukan penyanyi dan penggubah lagu yang menyuarakan aspirasi itu," jawab saya.

Selama masa kampanye, saya sempat mendengar ekspresi musikal Sang Alang dan Ahmad Dhani. Belakangan Ahmad Dhani ditahan, lantaran didakwa melanggar Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), hanya karena sepenggal kata yang dianggap makian oleh lawan politiknya.

Claire juga penggemar Seeger, penyanyi legendaris yang wafat dalam usia lanjut, ini. Saya suka dengan sikap Pete yang bernyanyi dan bermusik karena universalitas sikap dan perjuangan kepada khalayak.

"Saya bernyanyi di hutan hobo, dan saya bernyanyi untuk Rockefeller, dan saya bangga bahwa saya tidak pernah menolak untuk bernyanyi untuk siapa pun." Begitu ucapan Sege yang sangat mashur.

Rockefeller sendiri adalah sosok pengusaha kaya yang tersedar oleh protes masyarakat dan akhirnya mengeluarkan dana dari kekayaannya untuk menghidupkan California University di masa awal. Sejak itulah di Amerika Serikat, philantropi dikenal dan beragam program aksi, seperti corporate social responsibility, corporate community responsibility, dan corporate cultural responsibility dikenal dan menjadi salah satu indikator tanggungjawab sosial pengusaha.

Januari 2009, seperti tulis Robert McTamara, April 2019, pada usianya yang ke 89 tahun, Seeger tampil bersama Bruce Springsteen di konser Lincoln Memorial merayakan pelantikan Presiden Barack Obama.

Seeger yang dihormati sebagai aktivis veteran, itu tampil dengan pesona personanya yang berwibawa. Pengalaman hidupnya memang beragam. Ia pernah mengalami masa pahit dan getir, ketika dipenjara di depan House Un-American Activities Committee.

Seeger datang dari keluarga pemusik. Ayahnya seorang komposer dan konduktor, ibunya seorang pemain biola konser dan guru musik. Kedua orang tuanya mengajar di universitas, Seeger sendiri memilih masuk boarding school.

Karir musiknya bermula kala belia, saat ikut tampil memainkan banyo lima senar di sebuah festival rakyat di Carolina Utara. Sejak saat itu, dia jatuh cinta pada banjo.

Kegiatan bermusik Seeger terus berlanjut, ketika dia menjadi mahasiswa di Harvard University. Dia meninggalkan Harvard untuk mengenali negerinya, Amerika Serikat dengan cara menjadi trubadur dengan kereta barang. Itu dia lakukan sepanjang tahun 1938, sampai kemudian dia bekerja sebagai arsiparis lagu-lagu rakyat di Libraru of Congress, Washington DC pada 1939.

Pada masa itu dia berjumpa dengan Woody Guthrie dan kemudian bersahabat, lalu sering tampil bersama menyajikan lagu dan musik rakyat. Tahun 1941-1942, keduanya berkeliling Amerika Serikat, termasuk bermain musik di lingkungan koomunitas petani migran.

Program wajib militer, mendorong Seeger bergabung di unit penghibur Angkatan darat AS selama Perang Dunia II. Dia bertugas di kamp-kamp militer Amerika Serikat di Pasifik Selatan.

Tahun 1943, Seeger menikahi Toshi Aline, kala sedang cuti dan hidup bersama selama tujuh dasawarsa, sampai Aline wafat pada tahun 2013.

Selepas masa itu, tahun 1948, Seeger membantuk menemukan kuartet rakyat, The Weavers yang kerap tampil di klub bergengsi New York, Carnegie Hall. Kwartet ini merekam "Goodnight Irene" yang menjadi hit nomor satu pada tahun 1950. Mereka juga merekam lagu "If I Had a Hammer," yang ditulis bersama Seeger, yang kemudian sering dinyanyikan sebagai 'lagu wajib' Gerakan Hak Sipil pada 1960-an.

Seeger kian melambung dalam popularitas dan karya-karyanya berjuluk sebagai Power of Song Peter Seeger. Tapi mengalami masa surut yang pahit sebagai pemain banjo solo, yang 'ngamen' ke berbagai wilayah negeri. Dia beroleh nafkah dengan merekam sejumlah album untuk label rekaman kecil, antara lain, Folkways.

Seeger nyaris bertahan di New York sepanjang hidupnya. Dia tinggal di tepian sungai Hudson, di utara New York, sejak 1940 dan menjadi saksi mata pencemaran industri atas sungai itu. Khasnya limbah kimia yang tak diolah lagi dari pabrik kertas.

Pada awal 1960-an Seeger menulis lagu, "My Dirty Stream" yang kemudian menjadi semacam manifesto yang memikat dalam aksi-aksi lingkungan. Di bagian refrain, lagu itu, Seeger bernyanyi:

"Sailing down my dirty stream / Still I love it and I'll keep the dream / That some day, though maybe not this year / My Hudson River will once again run clear." (Berlayar di arus kotor saya / Saya masih menyukainya dan akan menyimpan mimpi itu / Suatu hari, meski tak tahun ini / Sungai Hudson saya akan mengalir jernih sekali)

Segeer tak hanya bernyanyi. Tahun 1966, dia mengumumkan rencananya, membangun kapal yang akan mengarungi sungai untuk kampanye membantu meningkatkan kesadaran akan krisis polusi. Ketika itu, hamparan Sungai Hudson telah 'mati,' karena pembuangan bahan kimia, limbah, dan sampah, sehingga tidak ada ikan yang bisa hidup di airnya.

Seeger diintip oleh orang-orang komunis yang berusaha mendekati dan mempengaruhinya, dan memanfaatkannya sebagai bagian dari gerakan radikal mereka dalam menentang kebijakan pemerintah kapitalistik Amerika Serikat.

Ia sempat terpeleset ke dalam pusaran komunisme dan mesti berjuang keras untuk keluar dari pusaran itu. Seeger membebaskan diri dari pengaruh politik jahat, itu. Lantas dia membebaskan diri dari pengaruh politik, dari partai apapun. Dia berjuang sendiri. Menyuarakan aspirasi rakyat yang diserapnya dalam interaksi yang kental, sampai akhir hayatnya.

Peter Seeger lantas menjadi simbol suara lirih perjuangan rakyat melalui syair dan musik khas dibalik denting dawai banjo lima senar.| Hanggawangsa

Editor : Web Administrator | Sumber : ThoughCo
 
Polhukam
21 Agt 19, 07:58 WIB | Dilihat : 393
50 sampai 100 Juta Akun Medsos Duplikat dan Palsu
16 Agt 19, 10:37 WIB | Dilihat : 793
Reorientasi Politik Bangsa Melayu Bukan Rasisme
16 Agt 19, 00:14 WIB | Dilihat : 613
Bersatulah Bangsa Melayu
15 Agt 19, 11:18 WIB | Dilihat : 663
Belajarlah Becermin Sebelum Buli Anies
Selanjutnya
Humaniora
24 Agt 19, 09:12 WIB | Dilihat : 15
Melanesia Destinasi Perburuan Kepentingan Masa Depan
23 Agt 19, 16:41 WIB | Dilihat : 109
Segarkan Pertemanan
12 Agt 19, 11:00 WIB | Dilihat : 384
Umrah Digital
11 Agt 19, 13:59 WIB | Dilihat : 325
Bertemu Cinta Sesungguh Cinta di Arafah
Selanjutnya